Level Up Chapter 36

Foto diambil pada 22 Oktober 2022.

LEVEL Up Chapter 36.Yup, saat aku menuliskan ini, usiaku sudah 36 tahun 19 jam 32 menit. Atau, sekitar 4,5 jam sebelum 27 Oktober 2022 berakhir. Ribet ya aku, pakai acara menghitung segala.

Sudah dewasa banget ternyata. Empat tahun lagi akan menginjak usia 40 tahun. Wait, what??? Pantesan sudah sering backpain alias encok. Wajah sih terlihat masih awet muda usia 17 tahun ya kan. Asli, suka heran sama orang-orang yang menganggap aku masih mahasiswa. Nggak cuma di kota ini deh. Masih ingat saat di Malaysia, penugasan kantor pada September lalu. Saat menghadiri International Journalist and Media Gathering di Johor, Malaysia,  aku dianggap undangan mahasiswa luar negara asal Indonesia. Ya terang saja aku mengiyakan sambil bilang 'Ya, saya student of life' _ Heiiiiii, aku datang ke sini mewakili perusahaan tempatku bekerja, aku bukan pelajar lagi. hahaha_

INTIP INI JUGA:
Level Up Chapter 35


Berbicara usia, aku tak pernah malu mengakuinya. Orang banyak menutupi usia mereka, but i am what i am. Buat apa malu? Itu sebuah pencapaian bukan? Berkat dari Tuhan yang memberikan kepada kita pertambahan umur di dunia. Itu berarti, aku masih diberikan berkat yang selalu baru tiap pagi, nafas kehidupan yang baru, menghirup oksigen gratis, dan menikmati hasil ciptaannya lewat kerja dan menghitung hari-hari. Usia, bagiku menjadi pengingat berkat Tuhan atas lamanya waktu menikmati hidup di dunia ini. Dunia ini fana, usia terbatas, tapi waktunya kapan akan berhenti, itu tak terukur. Seorang manusia atau paramedis pun tak berhak menentukannya. Hanya Tuhan sang Pencipta itu sendiri yang berkuasa. Ya pantas aku harus mengingatnya dan bersyukur untuk itu.

Usia itu hanya angka. Namun dalam bersikap, kedewasaan dalam bertindaklah yang paling penting.

Tangkahan - Leuser National Park, April 2022
Apakah aku sudah selesai dengan diriku di usia sekarang ini? BELUM. Masih banyak cita-cita yang harus kuraih. Menikah, punya anak, dan menjadi ibu rumah tangga dari seorang suami yang luar biasa menjadi salah satu cita-citaku. Aku bercita-cita menjadi seorang ibu yang luar biasa untuk anak-anak, suami, dan keluargaku. Menjadi perempuan yang mencintai dan dicintai, menghargai dan dihargai, mendukung dan didukung, saling terbuka, berjalan beriringan, minimal seperti mamaku memperlakukan bapaku, dan seperti bapaku memperlakukan mamaku sebagai pasangan suami istri.

Aku tak menyebut bapa dan mamaku sebagai pasangan sempurna, tidak. Sebagai anak, aku pernah menghadapi trauma dari seorang ayah penjudi dan pemabuk di masa muda. Pernah menghadapi "hampir" perceraian orangtua di 2009 saat bapaku dikabarkan selingkuh. Kami anak-anak dipaksa memilih ikut siapa. Saat itu, aku marah sama Tuhan. Meninggalkan gereja, dan tidak berdoa sama sekali kepadaNya. Pikirku kala itu "Buat apa aku selalu memuji dan memuliakan namaMu, meminta pertolongan kepadaMu, meminta Engkau menutup bungkus keluargaku dalam kasihMu, tapi nyatanya Engkau memberikan 'cawan' seperti ini untuk kuhadapi?". Aku sempat meninggalkan Tuhan. Namun, tidak lama. Hanya hitungan bulan. Selama marahan sama Tuhan itu, aku terasa hampa. Beban di pundak makin berat. Di situ terpikir "Pantasan anak-anak broken home bisa terjerembab ke jurang narkoba, seks bebas, atau kerusakan lain. Itu untuk pelarian dari pikiran buntu yang sesak seperti yang kualami saat ini".

Bali- Penny Lane Restaurant, Mei 2022.

Bali- Tirta Empul Temple. Mei 2022

Nusa Penida-Mei 2022

Aku sempat ingin menato badan sebagai bagian dari pemberontakan. Namun, tangan Tuhan lewat kak Sri Murni Hasibuan, teman kerjaku yang juga sahabatku kala itu memarahiku dan meminta kepada artis tatonya supaya jangan mau menerima permintaanku. "Tato henna saja. Jangan permanen. Jangan bang" ujarnya kepada artis tato. "Gila kau Chay" bentaknya kala itu. Sampai saat ini, aku bersyukur mengingat itu. Kasih yang nyata Tuhan tunjukkan lewat kak Murni supaya aku nggak makin jatuh terperosok atas masalah yang kuhadapi. Benar tato itu adalah seni. Tapi kalau rencana awalnya dibuat sebagai bagian dari pemberontakan, ya nilai seninya akan rusak, pemberontakan akan terkenang selamanya. Iya nggak?

Aku bukan anti tato bukan. Aku bahkan ingin sekali punya tato simbol "Eternity" di tubuhku. Simbol keabadian, kesetiaan yang kekal. Tapi latarbelakang pembuatan tato itu harus jelas menurutku. Sebagai bagian dari seni dan sebagai bagian dari pandangan hidup yang kamu anggap. Saat di Bali, aku berkeinginan membuat tato itu. Tius, adikku sudah menghubungi beberapa seniman tato sahabatnya. Waktu yang mepet, karena besoknya aku harus terbang ke Jakarta, ya tak jadi deh buat tato. Next time, in Bali, aku pasti buat tato itu.

Ok, back to track. Pasangan orangtuaku jauh dari sempurna. Namun, cara didik mereka kepada kami anak-anaknya, terutama terhadapku, aku sangat bersyukur. Bapaku tidak pernah lalu tangan atau KDRT kepada mamaku. Tidak pernah sekalipun, sepanjang aku mulai mengerti akal sampai saat ini. Dan itu dipersaksikan mamaku hingga saat ini. Berantem hebat? Wah pernahlah. Nggak cakapan sampai berhari-hari, mamaku minggat dari rumah, pernah. Namun ada momen mereka berdua rekonsiliasi. Saling mengutarakan pendapat masing-masing lalu berakhir damai.

Kenangan ini membekas bagiku. Tapi lebih ke bagian,ya yang namanya rumah tangga dan keluarga pasti ada warna-warninya, bukan? Aku harus mencontoh kedua orangtuaku untuk ini. Yang baik-baiknya.

Cita-citaku yang lain, ingin mengantar kedua orangtuaku melakukan perjalanan rohani ke Jerusalem, dan aku punya kerinduan, mereka menikmati apa yang selama ini mereka tanam dengan air mata dan doa tak putus kepada Tuhan, bahagia dan berumur panjang di usia mereka. Aku rindu, kedua orangtuaku melihat kami semua anak-anaknya, sukses dan bahagia, berumah tangga, dan mengenal para menantu dan cucu-cucu dari semua anak-anaknya. So help me God.

Gardens by the Bay-Singapura. Agustus 2022.
 
Namun, memasuki usia baru ini, lingkungan dan dunia yang aku hadapi saat ini sedang tidak baik-baik saja. Dimulai dari kebijakan kantor yang membuat karyawan 'tertekan', hingga berbagai berita-berita yang memekakkan telinga dan membuat air mata sering tumpah.

Awal Oktober diawali dengan tragedi Kanjuruhan di Jawa Timur. Memakan korban 127 orang tewas. Derbi Super antara Persebaya dan Arema FC di kandang Arema di Kanjuruhan. kekalahan Arema membuat para fansnya rusuh dan turun ke lapangan. Orang-orang di stadiun berusaha menyelamatkan diri dan saling injak. Belum lagi saat polisi menyiramkan gas air mata. Kerusuhan dan keriuhan terjadi. Orang-orang banyak yang kehilangan oksigen. Sesak nafas, dan berujung kehilangan nyawa. Para korban selamat mengalami gangguan penglihatan. Sangat menyedihkan. Kemudian Pembantaian massal di Thailand yang menyebabkan sekitar 38 orang tewas, 22 diantaranya anak-anak, dengan terduga pelaku, mantan polisi Panya Khamrab.

Oktober ini banyak kejadian tak terduga. Namun, aku kembali merefleksikan diri. Aku bukan hanya hidup di Oktober 2022 saja. Perjalanan waktu dari usia 35 hingga 36 ini aku menjalani berbagai musim. Silih berganti. Namun satu yang pasti, aku mengenal diriku lebih lagi. Mempercayakan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku, apa yang terjadi padaku, apa yang terjadi pada lingkunganku, apa yang kusaksikan selama ini dalam memasuki usia 36, semuanya ada dalam kendali Tuhan.

Oldtown-Singapura, August 2022.
 
Makin dewasa aku, aku makin berserah. Aku tak memaksakan kehendak lagi lewat doa-doa, melainkan meminta kepada Tuhan: JADILAH PADAKU SEPERTI YANG KAU INGINI. BE IT UNTO ME ACCORDING TO YOUR WORD. THY WILL BE DONE.

Tepat di pergantian hari menuju hari peringatan kelahiranku, aku berdoa:


"Bapa kami yang di surga, dalam syukurku di pertambahan usiaku yang ke-36 saat ini,  aku meminta kepadamu, beri aku kekuatan untuk tetap melangkah maju sekalipun kemalasan dan rasa muak membelengguku. Ketika aku merasa lemah, terganggu dan kurang fokus, serta tak ada keberanian untuk melangkah menghadapi apa pun dalam hari-hariku, beri aku gambaran seturut kehendak-Mu. Ketika insecure dan over-thinking mulai menyerangku, baik saat siang hari maupun saat istirahat di malam hari, ingatkan dan ajarkan aku, bahwa aku tenang dan aman dalam-Mu. Aku percaya, hidupku ada dalam tanganMu. Aku percaya segala kerinduanku, segala yang kubutuhkan di masa kini dan di masa yang akan datang, apa pun itu, setiap jawaban Ya atau Tidak dari-Mu adalah yang terbaik bagiku. Be it Unto me God. Jadikan aku garam dan terang bagi orang-orang di sekitarku. Ingatkan aku untuk selalu bersyukur di berbagai musim hidupku. Bersyukur atas rasa bahagia, bersyukur atas rasa sedih. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, aku berdoa. Amen".

- Saat aku mengatakan Amen. Saat itu hatiku dilegakan. Aku seorang Chahaya, anak Tuhan yang bercahaya. Jadilah Padaku seperti mau-MU. Selamat Ulang Tahun Chay!!!. Sampai ketemu di level up selanjutnya sampai 100.-

PS: Tahukah kamu kenapa perayaan ulang tahun identik dengan pemberian kado? Itu sebagai simbol, karena kamu terlahir ke dunia ini adalah KADO terindah. Berkat bagi ibu yang melahirkanmu, bagi ayah yang mengharapkanmu. Tak peduli bagaimana prosesnya pembuatan kamu, apakah kamu diharapkan atau tidak, apakah dari pasangan suami istri yang berbahagia, atau pasangan di luar pernikahan, atau kamu adalah hasil dari korban perkosaan, atau  apa pun itu prosesnya, KAMU ADALAH KADO YANG BERHARGA. Mengapa? Karena Tuhan berkenan kamu hidup di dunia. KAMU SALAH SATU UMAT PILIHANNYA. Nikmati priviledge ini, terima apa adanya kamu dan bersyukurlah. Jangan pandang justifikasi dari dunia dan lindungan, fokuslah akan dirimu, fokus akan tujuanmu, dan berkaryalah. KAMU BERHARGA. Be KIND to this unkind world. BE GOOD DO GOOD. _IMHO_


All love and God bless
Chaycya S




8 comments :

  1. Usia yang sudah matang ini kak, semoga satu persatu harapannya di kabulkan oleh Tuhan, Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Terima kasih mbak.

      Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya.
      Salam,
      Chya

      Delete
  2. Hah beneran sudah 36, koq kelihatan seperti 35. Kikikiiii

    Tapi luar biasa, kisah perjalan manusia penuh liku dan drama. Jalani pasti ada hikmah, menyerah kadang sifat yang manusiawi. Terus belajar dari apapun yg terjadi, maka kita akan jd lebih baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti mau bilang masih seperti usia 25 kan? hahaha
      Iya, setuju mak Asih. Semoga mak Asih diberi kesehatan dan kesembuhan buat penyakitnya ya. Don't lose hope.

      Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya.
      Salam,
      Chya

      Delete
    2. anakku 26 oktober chay. ku suruh baca ini. menikmati kisah dari scorpio yang lain 😄

      Delete
  3. kakak, aku juga udah tua hiks hiks.. TOS KITA!! banyak hal ya kak yang kita pelajari sampai dititik ini, jd makin "EGP", less drama dan lebih suka ketenangan. Circle persahabatan pun makin mengerucut. Semakin lebih menerima hidup. Semoga diusia kakak sekarang, bucket list kakak segera dikabulkan satu per satu. Amiin. #xoxo :)

    ReplyDelete
  4. cerita chaya selalu seru. catatan ini pengingat yang baik untuk daku.

    ReplyDelete
  5. Sudah mayang sangat boru kite nih.... Banyak pengalaman yg wow.. Wow... Terutama pengalaman traveling dan menulisnya. Semoga terus menjadi kebanggaan ortu ya kak...

    ReplyDelete

Designed by catatan traveler | Distributed by catatan traveler