Latest Posts
BISA ngebayangin nggak gambar yang kamu warnai bisa hidup dan bermain denganmu? Semua ini mungkin hanya dengan menghidupkan imajinasimu bersama Faber-Castel Colour to life.
ZAMAN kini berkembang pesat. Perkembangan teknologi multimedia menjadikan kita terhubung secara global dalam waktu yang bersamaan. Apa informasi yang terjadi di Indonesia saat ini, seketika itu juga menyebar ke berbagai negara. Viral hanya lewat teknologi world wide web atau internet. Dunia menyajikan dan menghidupkan secara cepat apa yang menjadi imajinasi kita.
Mewarnai menggunakan Connector pens dari Faber-Castell
Hal ini mempengaruhi hampir semua lini kehidupan. Tak mengenal batas usia, demikian juga profesi. Misalkan, siapa yang menyangka apa yang saya anggap mustahil di masa kanak-kanak, kini menjadi nyata?
Proses mewarnai Giddy up.
Saat masih kecil, saya hobi menggambar dan mewarnai. Selama masa SD dari kelas satu sampai enam, tidak pernah sekalipun pensil warna dan buku gambar tak ada dalam ransel sekolahku. Selalu saya bawa kapan pun. Kadang, majalah anak-anak di kala itu, yang ada halaman khusus mewarnainya, saya lahap habis. Sudah tak terbilang berapa kotak pensil warna yang sudah ibuku belikan buatku. Ada pensil warna yang saya sebut keleur cair (colour pen), crayon, dan ada pensil warna kayu. Diantara ketiga jenis ini, saya paling suka mewarnai dengan pensil warna kayu Faber-Castell 12 warna dengan kota merah yang panjang. Saya masih ingat, lambang ksatria berkudanya.

Jadi, kalau sudah ada buku gambar, ada pensil warna kayu, ada rautan pensil. Fix, dunia saya akan menjadi sangat indah. Lebih hidup. Saya bisa asyik sendiri. Ya gambar pemandangan, ya menggambar peta, mengikuti pewarnaannya berdasarkan atlas, hingga gambar-gambar lainnya. Saya sangat menyukainya.

Mewarnai bisa membuatku lupa waktu kala itu. Pernah suatu hari ketika masih duduk di kelas empat SD. Oleh ayah, saya mendapat pekerjaan rumah yakni mencuci piring. Pulang sekolah terburu-buru, supaya sempat menonton film kesayangan, Cinta Clarita. Tak ingin terlewatkan satu detik pun bagian dari film ini. Apalagi soundtracknya "Apalagi yang kurang bila kau memiliki matahari dan udara. Apalagi yang kurang kalau yang terindah sudah kau dapatkan.. Cinta Clarita, kasih Clarita...Dalam kegelapan kau adalah sinar yang sembuhkan kepedihanku" adalah lagu anak-anak terbaik menurutku. Kala itu.
Colour to life.
Usai menonton telenovela itu. Bukannya saya langsung beranjak mencuci piring ke dapur, eh ini malah langsung ke kamar, mengeluarkan buku gambar dan pensil warna dari tas sekolah. Kembali ke ruang tamu, lalu mulai menggoreskan pensil menggambarkan taman rumput hijau, matahari, dan langit biru berawan putih dengan jendela list kuning. Saya bayangkan persis seperti pemandangan pada tayangan pembuka dari film itu. Sambil menggambar, saya membayangkan apa jadinya pemandangan yang saya gambar dan warnai itu tiba-tiba nyata di hadapanku. Saya menghidupkan imajinasi.Tapi kan mustahil seperti itu.

Di tengah asyiknya bergelut dengan dunia gambar-menggambarku, tiba-tiba ayah pulang. Saya kaget. Beliau langsung bertanya "Kenapa menggambar tak ganti baju dulu?" Saya tak bisa menjawab. Kalau saya jujur, lupa ganti seragam sekolah karena film kesukaan keburu tayang, waaah bisa bahaya.

"Sudah cuci piring," tanya ayah lagi. "Belum pak," jawabku.

Lalu ayah mulai marah. Beliau lantas menyuruhku untuk segera menyimpan buku gambar dan peralatannya, lalu mengganti seragam sekolah, dan menyuruhku mencuci piring. "Kamu boleh menggambar. Kamu boleh mewarnai, asal jangan melupakan pekerjaan rumah sehabis pulang sekolah," bentaknya.

Itu nostalgiaku dulu seputar menggambar dan mewarnai yang paling berkesan. Kadang, saat mencuci piring sekarang, selalu teringat buku gambar yang baru jendela kuningnya selesai kuwarnai dan wajah marah ayahku. haha.. I love you daddy.

Lantas apa yang paling berkesan di masa sekarang? ketika saya sudah memiliki empat ponakan. Dua ponakan Moses dan Sean sudah duduk di bangku kelas dua dan satu SD, Adriel baru saja masuk TK, sementara Orion baru menginjak dua bulan tepat pada hari ini. Tahun lalu, ketika Moses lulus dari kelas kinder dan masuk primary, saya menghadiahinya berbagai perlengkapan sekolah, seperti sepatu, tas, aneka buku mewarnai, dan paket Faber-Castell Connector Pens isi 30 pcs.
Connector Pens.
Alasan membeli connector Pens ini karena saya berpikir, keren juga ini pensil mewarnai zaman sekarang. Sudah dilengkapi konektor satu sama lain. Berarti akan susah hilang apalagi tercecer dong per satuannya karena sudah dilengkapi penutup yang terkoneksi satu sama lain. Apalagi, mengingat yang memakai anak kelar 1 SD. Moses. Ya sudah saya langsung beli.

Eh ternyata, tak hanya berhenti di situ saja. Faber-Castell, produsen tertua untuk alat tulis, pensil, perlengkapan kantor dan perlengkapan seni asal Jerman ini tidak pernah berhenti berinovasi. Produknya Connector Pens kini disempurnakan dengan menghadirkan buku #colourtolife. Sebuah realisasi yang menghubungkan seni mewarnai konvensional dengan teknologi smartphone dalam proses pekerjaannya di 200 tahun mereka berdiri saat ini.
Menggunakan teknologi augmented reality pada lima tema dari 15 lembar buku mewarnainya. Maka, mewarnai semakin menarik dengan 20 pilihan connector pens. Tak hanya itu, hasil mewarnai ini pun kita bisa realisasikan dalam interaksi dunia digital lewat permainan, atau swafoto bersama.

Lewat connector pens yang bisa didapatkan di Tempat pembelian Produk Colour to Life seperti di Tokopedia, Gramedia atau toko buku terdekat ini juga, teknik mewarnai bisa dilakukan lewat pointilsm, squiggling, shading, hingga contouring, dan patterning. Oh how great!!! kita bisa membangkitkan imajinasi bersama Faber Castel Colour to Life ini dengan berpikir kreatif dan seru kala mewarnainya.

Saya rasa ini menjadi gebrakan besar Faber Castell dalam meredam penggunaan gadget secara berlebihan bagi anak-anak zaman sekarang. Kalau biasanya, anak-anak sering menjadi objek atau korban dari teknologi digital, tapi lewat permainan Colour to Life yang bisa diunduh lewat application store Android dan iOS ini, anak-anak bisa diarahkan menjadi subjek yang mengatur langsung objek dalam tema untuk ia atur dan arahkan mau ke mana. Game ini sangat berfungsi dalam menjaga konsentrasi anak kala fokus pada proses pewarnaan dan permainan, serta menstimulasi otak anak dalam setiap prosesnya.
Tak hanya kepada anak-anak, menghidupkan imajinasi bersama Faber-Castell Colour to Life bisa juga dimainkan orang dewasa. Saya sendiri memainkannya. Ada lima tema mewarnai yang bisa dijadikan permainan digital, yaitu Giddy Up, Pogo Boy, Dress-Up Challenge, Balance your Brain, dan Safe Flight. Saya memilih mewarnai Giddy Up. Ksatria yang mengendarai kuda yang tambun. Saya mewarnainya kala pulang kantor. Rasa lelah yang aturannya harus dibayar dengan istirahat sebentar sesampai di rumah, langsung sirna begitu sudah mulai mewarnai tema Giddy Up ini. Mewarnai itu salah satu bentuk refreshing. Punya keasyikan sendiri. Kembali ke masa anak-anak, saya lupa waktu lagi. haha.


SELFIE bersama tokoh Giddy up Colour to life.
  Pokoknya, Colour to Life dari Faber-Castell ini tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak saja, tapi juga bagi kita orang dewasa dan juga para orang tua. Manfaatnya sangat banyak, selain bisa menciptakan bonding berkualitas antara anak dan orangtua, juga bisa menjadi terapi tersendiri bagi orang dewasa. Good job Faber-Castell. (*)

 
How to Join Colour to Life by Faber-Castell
  • Pilih salah satu dari lima tema pilihan yang ingin kamu warnai dengan 20 jenis warna keren dari connector pens. 
  • Unduh aplikasi Colour to Life lewat smartphone Anda. Sudah tersedia di Google Play Android, atau pun dari Apple Application Store. Atau kalau tak mau ribet, scan aplikasi lewat barcode yang ada di kotak pembelian Faber-Castell Colour to Life Anda. Di sana, Anda juga bisa scanning cara How to use video dalam proses penggunaan dan permainan produk ini. Atau bisa lihat di bawah ini:

  • Berinteraksi dalam format 3D. Objek yang sudah Anda warnai, scan melalui aplikasi yang sudah diunduh. Tips: scannya jangan dekat-dekat ya, minimal 20-30 cm. Berhasil objek yang Anda warnai menjadi hidup, mainkanlah. Atur ukurannya, putar sesuai keinginanmu, dan swafoto bersamalah. Keren ya? Apa yang kamu warnai tiba-tiba hidup. Permainan ini sangat menghidupkan imajinasi.
  • Play games. Untuk bermain game ini, scan objek gambar yang kamu warnai, pilih game, lalu mulailah. Giddy Up membawaku berpetualang menyelesaikan rintangan dalam pelarian menuju bukit nan jauh di sana. Bayangkan Anda sebagai seorang ksatria yang sudah mahir berkuda, mampu melompat kayu, menyingkirkan rintangan batu untuk mencapai kemenangan. Mahir dengan tema yang satu ini, mulai lagi dengan tema yang baru yaaaaa... warnai, scanning lewat aplikasi, berinteraksi, lalu main games lagi deh.. Selamat menikmati dan berimajinasi kreatif tapi seru bersama Colour to Life Faber-Castell ini yaaaaa!!!! ***
     
    PS: Tulisan ini diikutkan dalam lomba review Faber-Castell Colour to Life bersama Kumpulan Emak2 Blogger. *
Ade cantik dari Negeri Waai, Maluku Tengah.
AMBON merupakan ibu kota Provinsi Maluku. Pulau yang terkenal dengan aneka wisata pantai, benteng peninggalan penjajahan Belanda, gereja hingga kawasan bersejarah. Kota teluk yang sangat indah. Dimana apabila dilihat dari udara, seluruh kawasannya, baik perbukitan atau lembahnya dikelilingi laut dengan air yang jernih.

Namun, mari sejenak menjauhkan diri dari wisata pantai dan wisata sejarah Ambon yang tersohor itu. Saya ingin mengajak Anda mengunjungi Negeri Waai di Kelurahan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah. Oh ya, Maluku oleh para warganya disebut dengan Negeri Para Raja-raja. Setiap desa disebut dengan negeri. Provinsi ini tak bisa dilepaskan dariku. Saya dari kekerabatan ayah, berhubungan erat dengan salah satu fam di sana. Tahalele dari Tanah Booi di Saparua tapi sudah sejak lama pindah dan menghuni Kudamati, salah satu kawasan di perbukitan Kota Ambon.

Penerbangan Garuda Indonesia GA 153 membawaku dari Bandara Hang Nadim menuju Ambon, setelah 3,5 jam transit di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta. Tiba di Ambon sudah dini hari. Langsung menuju penginapan di Pacific Hotel di kawasan Sirimau, Kelurahan Rijali, di pusat kota. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 WIT. Batam dan Ambon berada di zona waktu yang berbeda. Batam di GMT +7, sedangkan Ambon di GMT +9. Artinya waktu di Ambon lebih cepat dua jam daripada waktu di Batam (WIB). Jetlag? Tidaklah. Sangat cepat kok menyesuaikan, hitung-hitung latihan sebelum mengunjungi Jepang di akhir bulan nanti.
GONG Perdamaian dunia di pusat Kota Ambon.
Selama di Ambon, sebelum mengunjungi Negeri Waai, terlebih dulu mengelilingi beberapa spot wisata di pusat Kota Ambon. Seperti Monumen Peringatan Gong Perdamaian Dunia dan Taman Ambon Manise yang di sana terdapat patung Thomas Matulessy, sang pahlawan nasional yang dikenal dengan nama Kapiten Pattimura (wajahnya ada dalam cetakan uang Rp 1000 lama). Dan kini, tibalah saatnya menuju Negeri Waai. Ke sini, saya ditemani jong Ogi, kenalan baru selama di sana.
PEMANDANGAN Teluk Ambon dari Bukit Karpan.

Menuju Negeri Waai ini, kami melewati kawasan Pantai Natsepa yang tersohor dengan pantai pasir putih dan rujak pedasnya. Ada juga Pantai Hollywood, dan juga Negeri Tulehu gudangnya para pemain sepakbola Ambon.  Jaraknya, sekitar 34 Km atau dua jam dari Bandara Internasional Pattimura, atau sekitar 23 Km dari pusat Kota Ambon. Saya memutuskan mengunjunginya, karena di desa ini ada sungai Waiselaka yang di sumber mata airnya ada ratusan morea atau belut. Beberapa diantaranya panjangnya di luar pemikiran manusia. Sekitar satu meter sampai tiga meter.

 "Ada yang panjangnya tiga meter. Sebesar batang pohon. Tapi jarang keluar. Dia pu badan keluar kalau dipanggil pawangnya, penjaga tempat ini. Dia ada di situ," ujar Ogi sambil menunjukkan pohon besar yang akarnya tebal dengan sebuah lubang besar berbatu di pinggir kiri akar.

Menurut Ogi, dia sudah beberapa kali melihat belut tersebut di sini. Namun saya sendiri, nggak berhasil melihat the king of morea itu. Saya hanya berhasil melihat morea berukuran hampir satu meter yang berjalan perlahan ke tempat persemayamannya di tumpukan bebatuan dekat sumber air. Mereka bisa kompak keluar, kala warga memberi makan mereka dengan telur lewat pawang yang juga tinggal di rumah sekitar sungai.

Sementara beberapa meter dari pembatas sumber air yang ada jembatan kecil, ada puluhan morea ukuran normal, demikian juga dengan ikan mas dan beberapa jenis ikan sungai lainnya. Mereka menyatu dengan warga yang mencuci kain dan piring atau bahkan mandi di sana.

Di sini, orang menyebutnya sungai atau air Waiselaka. Tapi ukurannya tak seperti sungai. Seperti parit besar saja, yang ditembok kiri-kanan. Airnya pun tak tinggi, hanya hampir sebatas lutut orang dewasa. Kala saya ke sana, di pinggir sungainya, beberapa usi dan nona terlihat mencuci kain. Meski kegiatan mandi-cuci diadakan sebagian besar warga di sini, tapi air sungainya tetap jernih.
JEMBATAN pembatas antara sumber mata air dan sungai Waiselaka kerap dijadikan tempat foto para pendatang, seperti dua turis dari Papua ini.
BETA pu ade sedang mandi e.. haha Siapa sih yang nggak tahan berendam di air sejernih ini.
Can you spot ikan mas here?
Oleh salah seorang usi. Saya lupa namanya. Menyebutkan, cuma Sungai Waiselaka satu-satunya sumber air bersih di desa mereka ini. Dan mengenai belut di Negeri Waai ini,  warga terlarang mengambilnya. Kalau dari sungai atau sumber lainnya, bebas.  Kenapa? karena belut di Waiselaka dianggap keramat karena berhubungan langsung dengan sejarah terbentuknya nama Negeri Waai.

Saat berbincang dengan warga setempat yang tengah asyik mencuci pakaian, salah satu diantara mereka yang kemudian ditimpali yang lainnya, menyebutkan bahwa wai artinya air. Sementara waai artinya sumber air. Jadi, Negeri Waai bisa dikatakan Desa Sumber Air. Dimana Sungai Waiselaka menjadi sumber kehidupan warganya kini.

Dinamakan Negeri Waai, menurut omon Matakupan, karena negeri ini diapit sungai-sungai besar yang bersumber dari pegunungan Salahutu di zaman dulu.

Oh ya, omon (paman) Matakupan ini adalah salah satu yang dituakan di Negeri Waai. Rumahnya seperti istana yang hanya berpagar taman. Paling besar diantara rumah-rumah warga lainnya. Putri omon ini, usi Thresia, mengabdi sebagai seorang dokter di sebuah klinik di Batam. Putrinya inilah yang mempertemukan kami dengan keluarga besarnya.

Morea.

 Berdasarkan cerita omon Matakupan kala menjamu kami makan malam di rumahnya, terbentuknya negeri ini, tak bisa dilepaskan dari penyebaran Agama Kristen saat zaman penjajahan Belanda dulu.

Atas anjuran seorang zending di Salahutu, yang meminta tujuh desa dipindahkan ke kawasan pantai supaya lebih dekat dengan perdagangan, dan pemenuhan kebutuhan hidup lebih cepat didapat para warga. Oleh salah satu pemimpin tujuh negeri, ia melemparkan tombak saktinya untuk memilih negeri dekat pantai yang akan dihuninya bersama warganya kelak.

Tombak yang dilemparkan dari Pegunungan Salahutu menancap di Negeri Waai. Kala tombak itu dicabut oleh pemiliknya, muncul mata air jernih di sana berikut morea. Sejak saat itu hingga kini, morea itu bersemayam di sana, dan yang ukurannya paling besar dipercaya adalah morea pertama yang muncul kala air jernih memancar untuk pertama sekali.

"Kalau mau cerita lengkapnya, bisa baca Buku Sejarah Asal-Usul Terbentuknya Negeri-negeri di Ambon," ujar omon Matakupan.
PLANG wisata air Waiselaka di Negeri Waai, Salahutu, Maluku Tengah.
RUMAH keluarga omon Matakupan di Negeri Waai.
Terlepas benar atau tidaknya cerita tersebut, khususnya mengenai belut yang dianggap keramat, saya tidak terlalu meyakininya. Cerita seperti ini juga ada di daerah kelahiranku, dimana ihan (ikan khas Batak) di salah satu sumber mata air di Sirambe, Bonan Dolok, Kabupaten Tobasa, tidak boleh diambil. Terlarang. Katanya, kalau diambil, dimasak, ihan tersebut tetap akan mentah, dan orang yang mengambilnya pasti meninggal. Apakah benar? Sampai sekarang tidak terbukti sih, hanya saja warga sekitar tidak pernah mau mengambil ihan dari sumber air tersebut. Nah mirip kan?
KELUARGA omon dan tanta Matakupan.
Alam Negeri Waai ini, khususnya Waiselaka sangat rindang. Khas pedesaan di Indonesia umumnya. Di antara sungai tersebut, banyak tumbuh bambu dan pepohonan. Warga di sana juga sangat ramah bagi pengunjung luar Ambon seperti saya ini.

ALIRAN air sungai Waiselaka.
RUMAH warga di Negeri Waai.
Kebanyakan rumah di sana adalah rumah permanen yang terlihat baru saja dibangun. Ternyata, negeri ini beserta Negeri Bagoala di sebelahnya pernah terbakar habis. Kondisinya kala itu mencekam karena saling serang kala kerusuhan Ambon 1999 lalu. Namun beberapa tahun setelah kerusuhan, sebagian besar warga yang saat itu menyelamatkan diri dengan cara mengungsi ke Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi, Papua, Pilippina, dan Timor Leste memilih pulang dan membangun rumah mereka kembali di sana. Baik Negeri Waai maupun Negeri Bagoala kini hidup berdampingan secara damai. Mereka kini menjadi contoh persatuan yang tidak mau lagi dipecah belah, dengan tetap mengumandangkan Katong Samua Basodara yang ditandai dengan monumen Gong Perdamaian Dunia.

Nah, bagi teman-teman yang berkunjung ke Ambon, bisa menjadikan Negeri Waai ini menjadi salah satu destinasi wisatamu.  Selain bisa melihat dan memberi makan morea raksasa di sini, bisa juga mengunjungi Air terjun Waai. ***
BETA pu ade kecapean mandi.. wkwk
ASYIK liat morea. Tapi klo didekati saya kabur juga.
PS: Terimakasih buat omon dan tanta Matakupan atas undangan makan malam khas Amboinanya. Menikmatinya sambil dengar cerita menarik mengenai Ambon sangat bermanfaat bagiku. Thanks juga buat jong Ogi yang menemaniku jalan selama di Ambon. Terimakasih Ambon atas keramahanmu, tetaplah damai dan jadi contoh persatuan yang tidak mau lagi dipecah-belah di negeri ini. Katong samua basodara. God bless us. All love. (*)
HOROR Asia: Haunted house-the haunting of Oiwa. Picture coleccted by RWS
OKTOBER segera tiba. Juli akan berakhir. Tiba di bulan baru, Agustus, September, lalu tibalah di Oktober. Ada apa dengan bulan itu? Bulan kelahiran saya. Selain itu? Itu bulan all saints' eve. Bulan peringatan orang mati. Atau istilah kerennya, oleh orang barat menyebutnya halloween. Nah, memperingatinya, warga negara di seluruh dunia identik merayakannya dengan malam horor, kostum horor, bahkan hingga makanan pun bertema horor.

Tak terkecuali di Singapura. Salah satu taman hiburan negeri ini, Universal Studios Singapore (USS) di Resorts World Sentosa (RWS) akan merayakan malam halloween itu dengan Halloween Horror Nights. Pertunjukan ini akan menjadi acara halloween terbesar dan paling ikonik di sana tahun ini. So, be prepared.

Sebenarnya Halloween Horror Nights ini sudah menjadi edisi ke delapan di USS. Tahun ini, mereka membawakan tema Infinite Fear kepada semua pengunjung. Infinite Fear? Yap. Tak tanggung-tanggung, pertunjukan ini menghadirkan beberapa pilihan yakni lima rumah hantu yang menakutkan, tiga pertunjukan live dan dua scare zone. Menuliskan ini saja saya sudah bergidik. Ah tapi buat Anda pecinta horor ini pasti jadi petualangan seru ya kan. _Nggak usah ajak-ajak saya ya kak, om, tante. Kalian saja deh. Saya mah jaga rumah saja_
HOW dare you are? Kenalin ini nih kuntilanak versi Singapura. Mirip ya ama mba kunti yang di Indonesia. Pictured collected by RWS
Berikut beberapa pertunjukan horor yang akan dihadirkan di USS:
  • Netflix Stranger Things. Ini yang membuat Halloween Horror Nights 8 berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dimana, peringatn halloween tahun ini, USS bekerjasama dengan Netflix, menghidupkan kembali seri populer, Stranger Things menjadi nyata. 
  • Horor Asia dengan nuansa empat rumah hantu. Rumah hantu khas Asia memang selalu lebih menakutkan. Hantunya seram-seram. Para pecinta horor dapat memasuki dunia Killuminati, dunia komunitas rahasia vampir Cina yang telah ada selama berabad-abad. Berhati-hatilah dengan aksi yang belum pernah Anda lihat sebelumnya, serta nantikan banyak trik dan interaktif dimana pengunjung akan berakhir dengan rumah rahasia dengan pertunjukan rahasia juga. Rumah hantu lainnya, adalah rumah pontianak atau kuntilanak dalam bahasa Indonesia. Para pecandu horor perlu berhati-hati melewati Desa Melayu ini. Sebaiknya, persiapkan mental untuk mengikuti alurnya, karena kuntilanak ini sendiri yang mengungkapkan langsung. Hati-hati guys!!! jangan sampai pipis celana plus menangis meraung-raung kaya anak kecil ya.. haha 
  • Western-themed. Di sini, terdapat dua scare zone serta dua pertunjukan live. Be prepared menghadapi kepanikan di zona Apocalypse: Earth. Saat ibu pertiwi melepaskan kekuatannya yang paling mengerikan di Kota New York, dan menguasainya. Para pengunjung dapat menyaksikan secara langsung para Kanibal, suku manusia kuno menyantap jasad para musuh yang tewas.
  • Zombie Laser Tag. Sejak debutnya tahun lalu, banyak permintaan pengunjung, menjadi alasan USS menghadirkan kembali pertunjukan ini. Di sini, para pengunjung dilibatkan dalam misi menahan dan membunuh para zombie lewat tembakan laser. Jangan main-main, pengunjung bisa menghadapi banyak zombie dengan rintangan yang berat.
Pokoknya permainan ini membutuhkan keberanian, mental yang kuat, serta adrenalin yang tinggi. Areanya lebih besar, lebih baik, dan lebih hororrrrrrr!!!
DUUH, serem neh Kampung Melayu. Hati-hati kejedot mba. Picture collected by RWS
Apakah kamu siap dengan pengalaman super seram ini? Yuk beranikan dirimu mulai 27 September hingga 31 Oktober mendatang. Akan ada acara spesial malam hari selama 18 hari untuk memuaskan para pengunjung para pecinta horor. Untuk menikmati semua pertunjukan ini, USS menjual tiket dengan harga SGD 58 (non peak) dan SGD 68 (peak).

Kemahalan?? tenang!!! khusus saudaraku sebangsa dan setanah air, berlaku tiket early bird mulai Rp 605 ribu sejak 1 Juli hingga 12 Agustus mendatang. Yuk cusss buruan beliiii gaessss. ***

HOW to Get There:
 Ada beberapa pilihan menuju area Halloween Horror Nights 8 di Universal Studios Singapore, Resorts World Sentosa ini. Bisa menggunakan moda transportasi publik seperti kereta MRT, taksi, dan atau pun bus.
Kalau menggunakan MRT, dari stasiun mana pun, pilih pemberhentian terakhir Harbour Front Station. Lalu lanjut menggunakan LRT Sentosa Getaway dari lantai tiga Vivo Plaza. Jangan lupa beli tiket masuk RWS seharga SGD 4 dolar ya.

Nah, bagi yang naik bus, pilih naik dari halte Vivo City, naik bus RWS 8. Nanti akan turun di halte basement RWS, dengan pintu masuk dekat Casino. Naik saja melalui eskalator sebelah kanan untuk menuju Halloween Horror Nights 8 ini ya.

Tips dari kakak Catatan Traveler :

Cara menikmati Singapura dengan mudah, bebas akses mau ke mana saja, sebaiknya gunakan kartu transportasi EZ Link. Ada dua pilihan, yakni EZ link tourist card, dan EZ link reguler seperti yang biasa dipakai para Singaporean. Bagi yang nggak terlalu sering berkunjung ke Negeri Singa ini, pakai saja EZ link tourist card. Beli di konter di berbagai stasiun interchange-nya ya. Klo yang sering bepergian mah, beli kartu reguler saja. Nilai dalam kartu nggak akan hangus sepanjang masa. Eh nggak sepanjang masa ding, tujuh tahun. Soalnya kartu lamaku juga sudah ganti awal tahun lalu, karena sudah melebihi tujuh tahun. Eh tapi bukan berarti nilai di dalamnya hangus ya? di top up kembali ke kartu yang baru. Demikianlah penjelasan dari saya. Lebih dan kurangnya, ambil saja. Sekian dan terima gaji. Bye!!! ***
SORE itu, Kamis di minggu pertama Juli, kala saya menjalankan tugas jurnalistik tentang Dampak Depresiasi Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat dari kacamata pengusaha, dengan menjadikan Ketua Kadin Batam yang juga Sekjen PB ISSI,bapak Jadi Rajagukguk di kantornya di kawasan Batamcenter. Di sela-sela wawancara yang seperti bincang-bincang itu, beliau menyebutkan bahwa Batam kembali memproduksi film berkulitas bergenre zaman dulu.
"Buffalo Boys judulnya," ujar pak Jadi sambil menunjukkan link trailer filmnya kepadaku.
Latarnya tak asing. Ada beberapa setting lokasi yang sudah pernah saya kunjungi sebelumnya di kawasan Nongsa. "Oh jelas, karena film itu produksi Kinema Studio dengan Mike Wiluan sebagai sutradara," jelas pak Jadi.
Melihat setting trailernya, saya diingatkan dengan poster film Zorro di masa saya anak-anak. Keren banget!!! Ternyata Batam, Pulau Terluar Indonesia itu sudah mampu memproduksi film dengan kualitas kece badai sekelas Hollywood. _Nggak heran, sudah tahu lama juga_
Jadi, (sekilas lalu saja ya,ntar cerita lengkapnya tonton di bioskop saja) film ini mengisahkan dua saudara yang ingin membalaskan dendam ayah mereka yang seorang sultan setelah bertahun-tahun diasingkan Wild West America.
Demi membalaskan dendam, kedua ningrat itu kembali ke Java (Jawa).
Film ini akan mengajak kita sebagai penonton, traveling ke masa lampau karena mengangkat latar Negara Hindia Belanda (Indonesia) tahun 1800-an. Pengambilan melibatkan beberapa lo
kasi gambar di pulau Jawa dan di kawasan Nongsa, serta Infinite Studios di Batam.Film ini layak tonton. Kenapa? karena menampilkan keindahan alam Indonesia sebagai latar belakangnya, dan alur ceritanya yang juga tak lepas dari kisah hubungan dua anak manusia.
Film ini sendiri, digarap tim produksi dan talenta kreatif dari berbagai negara. Seperti Singapura, Indonesia, Thailand, dan Australia. Dipimpin sutradara Mike Wiluan, Buffalo Boys merupakan suatu kolaborasi perfilman berjiwa Asia Tenggara.
Penasaran dengan film ini? Anda bisa menikmatinya di bioskop di seluruh Indoenesia mulai 19 Juli mendatang.
Bocoran neh: jadi ternyata, Film Buffalo Boys ini telah tayang premier pada 14 Juli kemarin di Festival Film Fantasia di Montreal, Kanada, dan sehari berselang, ditayangkan di Festival Film New York. Sebuah kebanggaan kan? film produksi Batam berjaya di dua negara besar di Amerika Utara.
Prestasi ini, tentu saja tak lepas dari tangan dingin Mike Wiluan selaku sutradara, penulis skenario dan juga bahkan sebagai salah satu cameo di dalam film garapannya tersebut. World premier ini dihadiri juga oleh Mike Wiliam dan co-writer Rayya Makarim. Sedangkan Pevita Pearce menjadi satu-satunya artis pemain yang hadir di world premiere Buffalo Boys, di Fantasia International Film Festival.
Film ini juga, dibintangi oleh Ario Bayu, Zack Lee, Mikha Tambayong, Happy Salma, dan pemain lainnya.
NOTED: Sebagai kota tempat produksi, Batam mendapat kehormatan Screening, Sabtu (21/7) di Mega Mall Batam Centre deh. So, siapkan waktumu pukul 14.00 WIB ya, siapa tahu bisa kesempatan foto bareng ama sutradara nan kece Mike Wiluan dan Zack Lee papanya Mikaila Lee yang juga tak kalah kece. Siapkan pertanyaan seputar film ini deh, tanyakan ke mereka, dannnnn dengar langsung penjelasan para pemainnya tentang behind the scene-nya ya. See you there!!! ***

PERJALANANKU ke Jepang menyimpan banyak kenangan tak terlupakan. Negeri di Timur Matahari ini sukses membuatku terpukau atas keramahan, tata krama, dan serba keteraturannya.

Warganya, saat jam kerja, terlihat serius banget. Ini bisa diperhatikan di berbagai stasiun. Mereka akan antri teratur dengan wajah flat. Ada juga yang menunduk sambil membuka ponsel. Lalu saat kereta datang, dengan tertib mereka masuk, lalu sampai stasiun tujuan, keluar terburu-buru. Mayoritas mereka selalu diburu waktu.
Namun, cobalah menyapa mereka. Wajah flat itu akan berubah ramah kembali menyapa dengan jawaban khas hai'. Ini yang saya perhatikan selama di sana. Belum sekali pun saya failed kala menyapa mereka saat menanyakan alamat atau karena tersesat. Nggak di Tokyo, nggak di Kyoto, atau bahkan di Osaka.

Baca juga: Petualangan Menyaksikan Jurassic World di Universal Studios Singapura
 
Namun, seramah-ramahnya mereka, kita sebagai pendatang perlu juga memperhatikan tata krama yang berlaku di sana kan? Sama seperti kita di Indonesia yang mengenal Di mana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung. Peribahasa ini juga berlaku di Jepang. Atau bahkan di negara mana pun di dunia ini yang kita kunjungi. Budayakan act like a local.








Nah, bagi para rekan traveler yang ada kerinduan mau ke Jepang, perlu perhatikan tata krama ini:
a. Tertib di stasiun. Ini saya alami kala hari kedua di Jepang. Dari stasiun Shinagawa menuju stasiun Shinjuku atau hari ke lima dari Minami Senju menuju Akihabara. Nah turun tangga menuju stasiun, sangat ramai sekali. Sementara tangga di sebelahnya kosong melompong.
"Lha kok ramai begini, kok mau banget sih sesak-sesakan hanya dari satu tangga ini saja, sementara di sebelahnya malah kosong melompong. Kenapa nggak digunakan itu saja untuk mengurai daripada sesak-sesakan begini," pikirku.
Ternyata oh ternyata, jalur turun digunakan semestinya untuk turun, dan tangga di sebelahnya sebagai tangga jalur naik, digunakan semestinya naik. Jadi meski seabreg-abreg pengguna stasiun yang turun, tak satu pun warganya yang azas manfaat turun dari tangga naik. Kalau pun ada, dipastikan itu bukan warga Jepang.
Yakin deh. :) 
Lalu tetiba kebayang dong stasiun Tanah Abang. Yang kalau pagi, saya nggak ngerti mana jalur tangga naik, mau pun jalur tangga turun saking ramainya pengguna. Jalur naik dijadikan jalur turun, demikian sebaliknya, sehingga tubuh yang (walaupun agak) gendut ini jadinya tergencet ke arah dinding stasiun sambil kekeup tas di dada karena takut jadi korban copet juga.
Di setiap stasiun kereta di negaranya babang Shun Oguri ini, boleh dikatakan lebih banyak tangga daripada eskalator. Terus, rute atau line interchange-nya agak jauh meski berada dalam satu stasiun. Pantesan warga Jepang kurus-kurus ya? jarang saya lihat yang gemuk, karena mereka kebanyakan jalan kali ya. _Lirik badan sendiri. Kapan kurusnya ya baiiim_

b. Menunggu Kereta atau bus. Saat menunggu kereta, se-crowded-nya stasiun atau halte, tidak ada yang namanya dorong-dorongan. Para warganya sangat tertib untuk antri di kiri dan kanan pintu masuk kereta. Mereka memberi laluan kepada penumpang yang akan keluar. Kalau di Singapura ada di kasih tanda miring di kiri kanan untuk penumpang antri, nah kalau di Jepang, tak ada seperti itu. Hanya dikasih tanda garis lurus sepanjang batas stasiun ke kereta. Itu pun mereka tertib banget. Jadi nanti kala menunggu kereta di sana, jangan slebor ya manteman, budayakan antri dengan tertib.

c. Cara makan. Jepang sangat menghargai hal sekecil apa pun. Kalau di Indonesia kita makan tanpa bersuara baru dianggap sopan, kalau bisa jangan terdengar kalau kita lagi mengunyah (Apalagi di depan calon mertua). Nah, berbeda dengan di Jepang. Saat kita makan, misalkan ramen, sebaiknya kita menikmatinya dengan cara menyeruput sambil mengeluarkan bunyi. Saat kita menikmatinya dengan bersuara, itu artinya kita menikmati makanan tersebut dan secara langsung menyatakannya enak. Demikian juga saat makan nasi dari mangkok, ada kebiasaan Japanese memegang mangkoknya saat mengambil nasi, sebelum menyuapnya ke mulut. Jadi ternyata, cara ini mereka gunakan baik anak-anak maupun dewasa, tidak ada makna di dalamnya, hanya sekedar supaya mencegah nasi jatuh. See? Mereka sangat menghargai alam dan petani dengan manners seperti itu. Ya memang harusnya begitu ya? nasi atau apapun makanan lainnya jangan dibuang-buang.
Lihat bedanya teman Jepang makan dengan kami wong Indonesia.
Paket soba dingin dan nasi ayam karaage yang saya pesan di salah satu restoran di Fukui.
Demikian juga halnya di restoran pada umumnya. Di sini, mayoritas self-service. Saat kita memesan FnB, pesanan akan diberikan di atas nampan. Lalu kita membawanya ke meja yang telah tersedia, menikmatinya. Selesai, lantas kita sendirilah yang mengembalikan nampan tersebut, membersihkan meja bekas tempat kita makan juga. Kan kebiasan di Indonesia kita dilayani, kalau di Jepang, sebaiknya lupakan kegiatan kita dilayani. Meski kadang, ada beberapa restoran juga yang melayani para tamunya. Tapi umumnya, lebih banyak yang self-service. _Jadi kak, kalau sudah selesai makan, jangan langsung main tinggal ya? Sebaiknya kembalikan itu nampan ke loket khusus atau ke staf penjual makanannya. Jangan malu-maluin kaya rekan senegara yang sudah -sudah. Sudahlah ribut banget, sehabis makan main acara tinggal pula. Hellooooo girls!!! Bener sik turis yang lagi traveling tapi jangan kaya.... ah sudahlah. Maaf hampir kambuh nyinyirku kak_

d. Etika bertamu. Di sini, saya berkesempatan mengunjungi rumah sahabat di Kawasaki. Mereka menjemputku dari penginapan di Tokyo. Menghabiskan sore di Odaiba, Teluk Tokyo sebelum bertolak ke rumahnya. Rumahnya berada di kawasan elit. Saat membuka pintu, Sahabatku yang bersuamikan Jepang itu mempersilakanku masuk. Buka sepatu dong di genkan, lalu meletakkannya. Lalu tiba-tiba, sahabatku itu mengubah letak sepatuku. Yang tadinya ujungnya ke arah pintu masuk, dia mengubahnya mengarah ke pintu ke luar. "Biar nanti kamu pas pulang, bisa langsung pakai sepatu tanpa harus menunduk. Saya juga diajari mertuaku," ujarnya sambil meberikanku sandal kain yang lembut. Rupanya, itu khusus sandal rumah.
"Apakah mayoritas warga Jepang seperti ini San?" tanyaku. "Iya. Kita akan melakukan seperti ini kala bertamu. Khusus sandal, kalau nggak ada, umumnya memakai kaus kaki khusus di rumah," ungkapnya. Lagi-lagi, saya salut.

e. Buang Sampah. Kalau di Indonesia, punya satu keranjang/tong sampah untuk semua. Nah di Jepang beda. Kaget banget pas mau buang sampah di Osaka. Di salah satu taman Umeda Sky Building, berjejer lima tong sampah yang di atasnya dikasih keterangan jenis sampah dengan kartun lucu. Bagi orang Indonesia yang baru pertama kali melihat itu seperti saya ini, menganggapnya seperti keajaiban dong, sambil mikir: coba ini di Indonesia, bisa-bisa hilang ini tong sampah. hahaha. Habisnya keren banget.
Agak mengherankan memang, tempat pembuangan styrofoam beda, tempat buang botol plastik beda, tempat buang botol kaca beda, dannnnnn tempat buang sampah organik, bahkan kertas makanan dan bahkan tissu juga beda. Jadi, sebaiknya, kalau kamu baru perdana ke Jepang, pas mau buang sampah,lihat-lihat gambar di tongnya dulu ya, biar nggak salah buang.

f. Minta bantuan. Sebagai pendatang di negara kanji, kita kerap kesulitan membaca peta, atau bahkan kadang tersesat menuju tujuan. Kita perlu minta bantuan kepada warga lokal. Sebaiknya, saat minta bantuan ini, awali dengan kalimat Sumimasen (maaf, permisi), lalu bertanyalah. Setelah itu, ucapkan Arigatou (terimakasih) sambil membungkuk. Itu menunjukkan ketulusan.

Ketemu duo Japan, Misha-chan dan Akiko-chan yang baik banget nganter saya dari Sumida River menuju penginapan di Fukudaya. Mereka tahu saat itu saya jalan sendiri dan berasal dari Indonesia, mereka bilang 'sugoi' lalu minta selfie bareng. Foto ini saya terima dari Akiko sesampai saya di Indonesia. Kami berteman hingga kini. i thank God.

Demikian halnya juga saat kita minta tolong supaya mereka memotret kita di lokasi wisata. Sebaiknya, tanyakan dengan kalimat yang halus. "Dapatkan Anda memotret saya di sini sebentar saja?" Umumnya, mereka mau . Tapi jangan keterusan. Orang Jepang itu sangat terbiasa mandiri. Sangat beretika, bahkan untuk hal sekecil minta tolong untuk memotret tersebut. Mereka sangat jarang menolak, tapi kita sebagai pendatang, harus tahu batas-batasan ini.

Percayalah, saat minta bantuan, orang Jepang sangat all out membantu. Tapi perlu kita ingat, tahu batasan, dan jangan sampai membuang waktu mereka. Waktu bagi mereka, sangat berharga. ***
Tiranosaurus-rex itu mendadak keluar dari kandang tempat ia diteliti. Suaranya menggelegar berbarengan dengan timbulnya asap dari pintu yang menghalanginya. Kepalanya yang besar dan giginya yang tajam siap menyerang siapa saja. Terasa mengerikan.
Sebelum kekacauan di laboratorium Jurassic World itu terjadi, Elizabeth, perempuan semampai berkacamata yang menjabat Direktur Operasional Jurassic World dengan bangga memperkenalkan keberhasilan penelitian mereka terkait hewan purbakala yang hidup sekitar 230 juta tahun yang lalu tersebut.

"Coba bayangkan hewan purbakala di Zaman Trias bisa kembali hidup di zaman ini, dan kami dengan bangga memperkenalkan taman Jurassic World ini," ujar Elizabeth kepada pengunjung.
Elizabeth and Miles
Tak berapa lama, muncul Miles, Kepala Keamanan Jurassic World ditemani dua asisten berpakaian militer. Di sana, mereka bertugas menjaga kestabilan laboratorium, dan melaporkan berbagai kejadian kepada Elizabeth.

Di saat dengan bangganya Elizabeth memperkenalkan taman terbarunya tersebut dengan keamanan maksimal, dimana para pengunjung yang penasaran akan kehidupan hewan purban ini bisa melihat lebih dekat. Tiba-tiba seorang asisten laboratorium perempuan tak sengaja menekan tombol emergency shutdown. Kekacauan pun terjadi.

Suara auman para hewan seperti velociraptor dan tiranosaurus-rex atau yang lebih dikenal dengan t-rex langsung menggelegar, memekik mengerikan. Laboratorium heboh. Akibat suara auman itu, puluhan Pteranodon, burung zaman purbakala juga turut keluar dan menyerang para petugas laboratorium dan juga para pengunjung yang menyaksikan pertunjukan tersebut.

Untung saja, Miles yang sudah berpengalaman menjinakkan para raptor itu, bisa berhasil mengamankan situasi.

Tenang!!! kejadian yang seolah nyata ini tak lebih dari sebuah pertunjukan live yang saya saksikan di taman terbuka Hollywood Lagoon stage di Universal Studios Singapura (USS). Program Jurassic World: Explore and Roar di Universal Studios Singapura ini pertama sekali dibuka untuk publik mulai Sabtu (2/6) lalu. Berlaku setiap hari pada pukul 13.30, 16.00, dan 18.30 waktu Singapura. Khusus Jumat dan Sabtu, ada jam tambahan pukul 21.00 PM.
Taman hiburan dan bermain terbesar di Asia Tenggara ini memang selalu kreatif menciptakan wahana dan program terbaru untuk memanjakan pengunjungnya dari berbagai negara. Saya sendiri tak pernah bosan mengeksplorasinya. Sampai dua kali berganti paspor, tetap saja saya belum bisa mencoba semua wahana yang ada di Negeri Singa ini saking banyaknya.

Nah, sempena peluncuran film Jurassic World: Fallen Kingdom yang dibintangi Chris Pratt dan Bryce Dallas Howard, Universal Pictures menggandeng Universal Studio menciptakan program permainan seru zaman purbakala yang melibatkan pengunjung. Saya berkesempatan merasakannya bersama ratusan media dan bloggger antar negara terlebih dahulu.

Selain pertunjukan live drama Jurassic World:Roar itu, saya juga menikmati program lainnya, yakni melatih raptor alias mengikuti kelas Raptor Training School di wahana The Lost World. Di sini, saya belajar mengenai bagaimana cara menaklukkan hewan bersejarah ini. Dipertemukan langsung dengan T-rex, setelah terlebih dahulu dimentori sang master trainer, Wyatt yang asyik.
Me as a student raptor training school. Bagaimana bisa menjinakkan hewan purbakala yang buas ini dengan mimik tertawa? Wyatt serius, saya tahan ngakak. Murid apaan begitu? lol. Picture taken by Dejiki.
Oh ya, setiap murid yang mengikuti raptor training ini akan diberikan rompi Jurassic World yang coklat khas seragam Pramuka SMA di Negeri tercinta ini. Selain itu dikasih pula gelang alat pencet seperti counter. Alat itu yang kita pencet untuk memanggil T-rex.

"Gerakkan tanganmu, tekan alat yang saya berikan kala memanggil T-rex mendekat. Do not worry, kamu bisa menjinakkannya. Tekan saja alat ini sekali untuk dia mendekat, tekan tiga kali untuk dia berhenti. Ini cara bagaimana kamu bisa menjinakkan si T-rex dengan tangan. Mari kita mulai," ujar Wyatt dan saya langsung mengikutinya.

Dikarenakan tempat yang terbatas, setiap sesi raptor training school ini sangat dibatasi. Beruntung saya salah tiga dari lima tamu khusus Indonesia yang diundang ikut. Dalam sesi ini, saya training bersama media dan blogger dari Vietnam dan Tiongkok.

Maka jadilah, selama training yang memakan waktu tak kurang dari 20 menit ini, dua tangan difungsikan untuk menjinakkan t-rex yang terkenal garang dan ganas. "Tekan tombol alat yang ada di tangan kananmu sekali, panggil t-rex dengan tangan kirimu. Apabila dia berlari ke arahmu dan mau menerkammu, ambil ancang-ancang, arahkan tangan kirimu, kepal jarimu, putar ke kanan dan ke kiri. Ajak dia relaks," ujar Wyatt mengajariku.
Saya terhadap t-rex: Sini kau? kau pikir aku taku takut? Trus raptornya balas: mentang-mentang ada dekingmu di sebelah.. haha. Picture taken by Dejiki
Semudah itu mengajari salah satu hewan ganas dan berbahaya di periode Jura, sekitar 201 juta tahun lalu ini. Setelah beberapa saat menjinakkan raptor dan dia mulai anteng, akhirnya saya dinyatakan lulus. Yeayyyy!!! hahaa
Para peserta training yang lulus pun diberikan sertifikat. "Congratulations! This card certifies you as an official raptor trainer," ujar Wyatt sambil memberikan sertifikat tersebut.

Tak sembarangan. Sertifikat ini hanya diberikan kepada para peserta sekaligus pecinta Jurassic World yang pemberani. Selain mendapatkan pengalaman unik menaklukkan hewan velociraptor ini, Wyatt menyebutkan, kegiatan ini  diadakan bertujuan mendidik para penggemar muda hewan dinosaurus akan pentingnya komunikasi, rasa hormat, dan penghargaan antara seekor raptor dan pelatihnya. "Mendidik itu butuh keterampilan khusus. Ini edutainment, mendidik sekaligus menghibur," jelasnya.

Mengikuti training ini, jadwal pelatihannya berlangsung setiap Minggu- Kamis mulai pukul 12.00, 14.00, 16.15, 18.00. Sedangkan untuk Jumat dan Sabtu mulai pukul 12.00, 14.00, 16.30, 19.00 waktu Singapura.

Khusus Sabtu, ada sesi tambahan di jam 11.30 dan 19.30 waktu Singapura. Oh ya mengingat raptor training ini, tempatnya terbatas. Jadi peserta wajib mendaftarkan diri terlebih dulu untuk setiap sesi di US Singapura ini.

Selain dua program terbaru yang menyenangkan tersebut,ada juga program Jurassic encounter. Di sini, saya bersama pengunjung lainnya dapat melihat aksi kita sendiri di layar yang bersanding dengan aneka jenis hewan zaman purba seperti t-rex raksasa, triceratop, dan dinosaurus lainnya dari jarak dekat. Kita berdiri di the centre of circle, lalu melihat layar. Di layar itu para hewan purba mulai mendekati kita, nah di the centre of circle itu kita bergerak-gerak, tapi seolah kita sedang terperangkap di jalanan New York yang ramai.

Usai permainan ini, petugas USS akan mengirimkan kita video hasil permainan ini melalui email. Seru banget kann? bisa posting deh di media sosial.

Tak hanya ini saja sik, ada juga  hatched featuring dokter Rodney yang menghadirkan aksi menunggu menetasnya bayi velociraptor. Ini menjadi acara prasejarah pertama yang dihadirkan di US Singapore dan pastinya tidak akan terlupakan. Program ini berlangsung sampai 22 Agustus mendatang guys. Manfaatkan segera deh. Harga tiketnya bisa dilihat di postinganku sebelumnya ya? atau klik link di bawah ini deh.

Promo Harga Menikmati Pertunjukan Jurassic World di Universal Studios Singapura

Dengan harga spesial ini, para pengunjung Indonesia juga sudah bisa menikmati makanan prasejarah seperti T.rex stacker dan Isla nublar's blommers di salah satu restoran ikonik USS.
Seluruh program spesial Jurassic World:Explore & Roar ini sudah termasuk ke dalam tiket masuk. Bagi penggemar wahana adrenalin, bisa melanjutkan petualangannya dengan berbagai atraksi kelas dunia lainnya seperti Jurassic Park Rapids Adventure, Canopy Flyer, Transformers, Galactica, dan lain-lainnya.

Selain menikmati permainan Jurassic World yang baru ini, saya juga ikut dong menaiki wahana Jurassic Park, berpetualang di air sambil menyaksikan kehidupan hewan jura di tamannya, lalu terperangkap di tempat gelap, naik lift hingga dijatuhkan ke air yang bikin tas sama semua basah. Siakul!!! mana nggak bawa baju ganti lagi. Sudah ah!!! bye..
***
USS - Jurassic World Explore & Roar. Pict by RWS Singapore.
JLEB!!! bijimana ceritanya kita bisa melatih dinosaurus? Itu kan binatang di zaman purba. Bagaimana bisa ia hidup di masa sekarang? pakai acara melatihnya pula. Eits tunggu dulu. Bisa dong dia hidup di masa sekarang. Datang saja ke Resort World Sentosa atau RWS di Singapura. Di sini, segala sesuatu menjadi mungkin bisa kita nikmati.

RWS Singapura merupakan pulau buatan dengan lahan seluas 49 hektare. Seluruh lahannya dipakai sebagai objek atau wahana wisata dari berbagai atraksi world class. Sebut saja Universal Studios Singapore dengan bila dunianya yang tersohor itu. Ada juga S.E.A Aquarium, Dolphin island, hingga Adventure cove waterpark. Lewat atraksi besar ini, kawasan ini pun dijadikan sebagai destinasi unggulan di Asia yang sekaligus juga memiliki berbagai resort mewah dengan enam hotel pilihan.

Nah, menyambut libur sekolah dan juga libur lebaran ini, resort yang dimiliki sepenuhnya oleh perusahaan Genting Singapore, grup dari Genting ini menghadirkan program atraksi terbaru mereka untuk seluruh pengunjung.

Ada pun atraksi baru yang akan resmi dibuka Juni mendatang itu yaitu:
  • Jurassic World Explore and Roar. Atraksi ini dibuat sedrama mungkin seolah bumi ini masih dikuasai para mahluk purba mulai 2 Juni hingga 22 Agustus mendatang. Pengunjung akan dibuat mengeksplorasi berbagai jenis hewan zaman purba. Keseruan akan dimulai saat Velociraptor, Pteranodon, dan T-Rex si raksasa lepas dan berlarian secara live di jalanan Hollywood, New York. Selain itu, para pengunjung di sini juga akan mendapat pelatihan cara menghadapi predator zaman purba ini. Siapkah nyalimu? Demi foto instagram cetar, siap tak siap harus siap ya kan.. _Tak cium nanti Dinosaurusnya_  
  • S.E.A. Aquarium - Ocean Fest - Character Dupi and Plastic Pete in Underwater Show. Picture by RWS Singapore.
  •  Ocean Fest di S.E.A Aquarium. Ini tempat favoritnya saya kalau berkunjung ke RWS. Bisa habisin waktu seharian dimari dari mulai petualangan jalur sutra hingga tenggelamnya kapal Laksanama Ceng Ho, dan melihat langsung ribuan satwa laut di dalamnya. Tapi kali ini, di pertengahan 2018 ini, untuk memperingati hari laut se-dunia, pengunjung bisa mengeksplorasi eco-market laut. Ini kali pertama diadakan di Singapura lho guys, dimana selama eco-market ini, kita bisa menemukan instalasi seni mendidik yang menggugah pikiran. dimana para investigator belia bisa melawan tindak kejahatan di laut dengan membekuk penjahat yang menyebabkan polusi laut di Ocean Fest!, S.E.A. Aquarium. Tak hanya itu, kalangan muda dan para pecinta kegiatan outdoor juga bisa bermain air dengan beberapa tantangan game yang menarik di Splash Bash, Adventure Cove Waterpark, sedangkan calon pelaut bisa bertemu penjelajah National Geographic, Erika Bergman di the Maritime Experiential Museum dan terinspirasi oleh beragam ekspedisinya. Seru banget kannnnn.
    Adventure Cove Waterpark's Splash Bash - Flamingo Race. Picture by RWS Singapore.
  •  The Flamingo Race. Kamu termasuk yang kuat? suka bermain air? yuk ikut lomba ini. Kita nanti akan duduk di atas burung flamingo raksasa berwarna pink, lalu mengayuhnya hingga mencapai garis finish. Ah cuma itu doang? gampanglah kalau cuma mencapai garis finish. Eits, kamu mengayuhnya di tengah gelombang Bluwater ray yang siap menghempasmu dengan mantjah ala Syahrini tauuuu. Disarankan sik, ikut racing ini bareng pasangan, atau minimal sahabatlah. Klo toh masih jomblo, ke sana sendiri, ngenes banget. _Sabar ya mblo_
Bagi pecinta wisata atraksi. Nggak ada salahnya berkunjung ke RWS Singapura ini dan menikmati aneka jenis permainan baru demi pengalaman baru. Bayangin kamu bisa melatih dinosaurus, mengatasi kejahatan di laut, menyelam di antara percikannya juga. Selain itu, tak hanya sekedar bermain saja, tapi juga berkonsep pendidikan juga. Ya edutainment gitu deh. Ah pokoknya terbaik deh.

"Saya tertarik. Gimana sik kak untuk mendapatkan tiket ke RWS ini?" Nah, tiket masuknya, khusus pengunjung dari Indonesia, silakan lihat keterangan di bawah ini ya.
Sampai ketemu di sana Juni nanti ya guys. Salam catatan traveler. ***