Wat Kaew Korawaram: Refleksi Diri di Kuil Putih Kota Krabi

Pernahkah kamu bepergian, melakukan perjalanan dengan hati yang hancur? Di luar ketawa bahagia dengan teman seperjalanan, tapi di dalam, kamu berjibaku, berkompromi dengan hati sampai dadamu sesak?

Krabi, 2 tahun yang lalu...

WAT Kaew Korawaram itu posisinya lebih tinggi dibanding bangunan lainnya di pusat Kota Krabi di Paknam. Bangunannya megah sekaligus unik. Catnya sebagian besar berwarna putih mutiara, atapnya dari genteng berwarna biru. Wat dalam Bahasa Muang artinya kuil. Jadi, ini Kuil Kaew Korawaram (baca: wat keow), kuil Buddha di puncak Kota Krabi.

Jarak kuil Wat Kaew Korawaram ini hanya sekitar 500 meter dari penginapanku di kawasan Chao Fah Pier. Tak perlu transportasi, cukup jalan kaki menuju arah pasar rakyat Krabi dekat Vogue Shopping Centre. Menyeberang, lalu jalan lurus, mendaki sekitar lima menit, maka tibalah di kuil ini. Saya beserta teman seperjalanan, Zikria masuk melalui pintu samping, asrama para biksu berada.

Pintu Masuk Korawaram
Seorang biksu dengan rambut plontos dan jubah coklat tersampir tengah duduk di kursi semen di bawah pohon besar ketika kami memasuki kawasan kuil. Melihat ada pengunjung yang datang, biksu itu langsung bergegas pergi. Pagi itu, belum terlalu ramai pengunjung di kawasan luarnya. Hanya beberapa biksu yang hilir mudik antara kuil dan rumah tinggalnya.
Tempat bakar dupa.

Ada yang tengah menyapu halaman, sementara burung burung tengah makan biji-bijian di bawah pohon, juga empat ekor ayam jago yang tampak berlarian di kebun di antara pohon dan tanaman- tanaman di sebelah dinding pembatas kuil dan jalan raya.

Bangunan keseluruhan kuil Korawaram.
Dari kawasan tempat duduk biksu itu tadi, saya melihat dengan takjub kuil Wat Kaew ini. Desain eksteriornya sangat dramatis dengan atap biru dibarengi dengan ukiran khas Thailand. Makin megah dengan puluhan tiang-tiang bulat bercat putih bertahtahkan bulatan seperti mutiara di tengah. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama, sekaligus terharu. Dimana, di masa saya tengah menghadapi persoalan pelik dengan hati, ternyata masih mampu melihat keindahan lewat mata. Saya bersyukur untuk itu. Kala itu.

Tak menunggu waktu ramai, saya mengajak Zikria menuju bangunan utamanya. Berjalan ke sebelah kanan, melewati satu panggung yang terpisah dari bangunan utama, berjalan ke bagian tengah, dan menaiki anak tangga. Pintu bangunan utama itu terbuka. Mataku langsung tertuju pada altar dimana di sana, patung Sang Buddha berlapis emas tengah duduk bersila dihiasi aneka bunga-bunga.

Altar utama.
Patung besar itu tak sendiri. Ada juga tiga patung kecil lainnya. Berlapis emas juga. Bersanding dengan patung Buddha, foto sang Raja Bhumibol Adulyadej dikelilingi kain putih dengan ukuran besar dipajang. Di bawahnya ada dupa dan juga aneka bunga. Kala itu, Thailand memang lagi berkabung. Sang raja baru saja mangkat.
Swafoto di ruang altar.
Lantai seluruh altar ini berlapis karpet merah. Di sebelah kirinya terdapat panggung yang terbuat dari kayu. Juga berlapis karpet merah. Melepaskan alas kaki di tangga, saat saya masuk, di sana ada dua pengunjung yang tengah berdua. Satu, pria bule yang tengah khusyuk meditasi dengan cara duduk bersila. Dia duduk di sebelah kanan pintu masuk. Satunya lagi, wanita paruh baya memakai kaus putih duduk bersimpuh sambil melantunkan lagu puja dengan suara sangat kecil. Dia memiringkan kepalanya ke kanan. Sesekali dia diam, lalu dalam posisi kedua tangan bertumpu di depan dada, menunduk ke arah Buddha, lalu menyanyi kecil lagi, begitu berulang hingga beberapa kali.




SIAPA TUHANMU? Kelak saat di pintu penghakiman, dalam keyakinan yang kupegang, malaikat penjaga pintu surga dan pintu maut tidak Kan bertanya "Siapa Tuhanmu?" Atau "siapa yang kamu sembah selama kamu hidup?". Jadi mengapa di kehidupan ini banyak pihak yang mengkotak-kotakkan Tuhan dengan memuji yang diyakini lantas menghujat yang diyakini orang lain? Mengapa?? Keyakinan bertujuan utk menopang, memberi rasa damai, memberi optimis untuk kuat menghadapi berbagai situasi. Tapi mengapa sekarang malah dijadikan sebagai senjata untuk saling menjatuhkan sesama MANUSIA? Tuhan menciptakan manusia, lebih tinggi derajatnya dibanding ciptaan lain karena diberi akal dan pikiran. Masakan manusia sama nalurinya dengan hewan yang juga mahluk ciptaan Tuhan itu, menguasai dan dikuasai? Jadi, siapa tuhanmu selama kamu hidup? dirimu sendirikah atau Dia yang bersemayam dalam hatimu?. #JustSaying #SpreadLovenoHate #ReligionforPeace #Love #BhinnekaTunggalIka
A post shared by Chahaya Oktiberto Simanjuntak (@chaycya) on
Saya pun lantas duduk bersila. Melihat ke altar, bergantian melihat ke foto sang raja. Duduk tenang sambil merefleksikan diri, melihat ke dalam hati. Tiba-tiba sekelebat pertanyaan dari dalam pikiranku muncul ”Siapa Tuhanmu?”.

Dalam posisi diam, saya melirik ke arah si bule tadi yang masih tetap khusyuk berdoa. Ranselnya ada di sebelah kanannya, ia letakkan begitu saja. Saya lirik lagi si ibu yang kini sudah diam, tapi tetap menunduk. Lantas saya merefleksikan diri:

Kelak saat di pintu penghakiman, malaikat penjaga pintu surga dan pintu maut tidak akan bertanya “Apa agamamu”; ”Siapa Tuhanmu?”; Atau ”siapa yang kamu sembah selama kamu hidup?” Jadi mengapa di kehidupan ini banyak pihak yang mengkotak-kotakkan Tuhan dengan memuji yang diyakini lantas menghujat Tuhan yang diyakini orang lain? Mengapa??? Keyakinan bertujuan untuk menopang, memberi rasa damai, memberi harapan dan optimisme untuk kuat menghadapi berbagai situasi. Namun, mengapa sekarang malah dijadikan sebagai senjata untuk saling menjatuhkan sesama? Tuhan menciptakan manusia, lebih tinggi derajatnya dibandingkan ciptaan mahluk yang lain karena diberi akal dan pikiran. Masa manusia sama nalurinya dengan hewan yang juga mahluk ciptaan Tuhan itu, hanya berpikiran menguasai dan dikuasai? Jadi, siapa Tuhanmu selama kamu hidup? Ego dalam dirimu sendirikah atau Dia yang bersemayam dalam hatimu?

Kalau Dia yang bersemayam dalam hatimu, tidaklah kau akan anti ketika memasuki rumah ibadah orang lain. Tidaklah kau akan anti akan agama orang lain. Tidaklah kau melabeli mereka dengan pernyataan seolah derajatmu yang paling layak masuk surga.

Kalau Dia yang bersemayam di hatimu, pasti kamu tahu bagaimana seharusnya kamu memanusiakan manusia yang lainnya.
Kembali saya melihat sekeliling altar itu lantas bersyukur atas pengalaman baru ini. Berada di sana, itu karena kehendakNya. "Jadikan hatiku damai, seperti dua orang di sebelahku ini yang tengah khusyuk berdoa kepadaMu," pintaku mengakhiri.

Saya berdiri, lalu berjalan mundur untuk keluar dari altar tersebut. Hatiku lega. Suasana khidmat yang sebentar saja itu sangat mampu mengubah suasana hati. Hatiku disembuhkan. Saya menitikkan air mata sambil bersyukur. Cepat-cepat kulap air mata itu, jangan sampai pengunjung lainnya melihatku menangis. Ya meskipun itu tangis bahagia bahwa hatiku, jiwaku kini lega. Berbeda dari dari saat saya berangkat ke sini. Saya tertawa di luar, bahagia, tapi dada sesak. Tapi saat itu langsung bebas, lepas.

Pengunjung sudah mulai ramai. Satu keluarga bule dengan anak-anaknya yang masih kecil masuk, lantas mengagumi dinding altar tersebut. “Kecil tapi artistik sekali,” ujar sang ayah lamat-lamat setengah berbisik kepada istrinya.

Dari luar sambil memakai sepatu dengan duduk di tangga, saya sempat memandang kembali altar itu. Menyapukan pandangan ke sekelilingnya. Altar bangunan utama ini tidak terlalu besar, tapi desain interiornya sangat indah sekali. Langit-langit altarnya berlapis kain sutra dengan motif khas Muang. Demikian juga dengan dindingnya yang colorful sekali dengan lukisan terperinci ala mural, yang menggambarkan bagian-bagian kehidupan dan ajaran Buddha di Thailand. Cukup menakjubkan dan membuat kagum.

Dinding altar.
Usai dari bangunan utama itu, saya kembali mengelilingi bagian luar kuil hingga ke bagian belakang. Di bagian belakang, ada banyak foto-foto reruntuhan dan proses pembangunan kuil. Namun sayang sekali, keterangannya tertulis hanya dalam Bahasa Thailand. Jadi saya tak mengerti apa isinya.


Sementara itu, di sisi kiri bangunan kuil, terdapat tangga turun ke bawah. Di bawahnya ada pintu kaca. Pintu itu terkunci. Kemungkinan besar, pintu ini jarang dipakai. Mengapa? karena lantainya banyak sampah dan sepertinya sudah lama tak dibersihkan.
Puas berkeliling, saya bersama Zikria pun memilih meninggalkan kuil. Kali ini tidak dari pintu masuk sebelumnya. Melainkan kami memilih dari pintu utama. Menuruni tangga besar yang kedua sisinya diapit patung ular naga bercat emas. Oh ya,pemandangan patung ular naga ini sudah sangat umum ditemui di berbagai kuil di Thailand.




A post shared by Chahaya Oktiberto Simanjuntak (@chaycya) on

Tiba di teras kuil paling bawah, memandang ke atas kuil menjadi keindahan tersendiri. Wat Kaew Korawaram ini menjadi satu kesatuan pemandangan terbaik di puncak tertinggi di pusat Kota Krabi. Dari luar arsitekturnya luar biasa, pun di dalam tak kalah megahnya. Lokasinya pun sangat strategis.Sangat dekat dengan pasar tradisional Krabi, Pelabuhan Chao Fah, bahkan dari patung Kepiting hitam raksasa, yang menjadi lambang Kota Krabi. Keseluruhan tempat wisata ini bisa ditempuh dengan jalan kaki dari kuil putih ini.
Pemandangan Kota Krabi dari tangga kuil Korawaram.

Dari sini, saya dan Zikria pun melanjutkan perjalanan ke pasar rakyat Krabi yang juga mirip seperti pasar tradisional di Indonesia. Kami menikmati makan siang di sana. Sepiring nasi dengan lauk cincang dan seabreg namprig (lalapan sayur mentah khas Thailand) dan sambal tomat super pedas jadi pilihan menuku siang itu. Kami makan di warung milik seorang muslim. Kami tahu dari tulisan warungnya “Moslem’s friendly”. Selama perjalanan itu, saya menghindari makanan yang mengandung unsur babi. Saya menghargai dan mengormati Zikria, teman seperjalanan saya.
Oh ya, Krabi, selain memeluk Buddha, sebagian besar warganya juga memeluk Islam. Jadi untuk para rekan traveler yang muslim, ini bisa menjadi alternatif tempat wajib kunjung di Thailand. Sangat gampang cari makanan halal di sini. (***)

37 comments :

  1. Salah satu daya tarik Thailand ya kuil2 seperti ini yah. Unik dan khas.
    Wah traveler muslim terbantu kalo ke sini yah ut soal makanan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar. Kuil-kuil dan makanannya juga yang bersahabat banget dengan lidah orang Indonesia.

      Delete
  2. Pas awak baca "krabi" awak langsung teringat zikria pernah cerita pergi ke krabi sama kak chay.
    Wah gak nyangka cerita 2 tahun lalu, masih rapi dalam ingatan kakak beserta dengan poto yang cantik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wakakakak.. Iya aku jalannya ama si Zikri. Dia udah cerita belum kami ditelantarkan supir gila di Suratthani? hahah

      Hehe, ini sudah teronggok di draft lama. Baru sempat publish sekarang.

      Delete
  3. Merasa terberkati. Thank infonya 😊

    ReplyDelete
  4. Waktu baca bait2 kalimat diawal, saya langsung bergumam, "wah saya suka gaya tulisannya". Alurnya enak banget kak, ngalir gt aja, buat yg baca betah.

    Btw, itu kayak kota kecil di Thailand gt ya? Kayaknya tenang banget d sana. Nggk cuma jalan2, tp sekaligus bisa merefleksikan diri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah singgah membaca ya.

      Iya benar. Krabi kota kecil di Selatan Thailand.

      Delete
  5. Sawadika. Wuah, keren kali tempatnya. Biasanya saya hanya sering melihat drama Thailand saja. Wuah, keren saya bisa ke sana ya kan. Iya, nih. Kadang dilemanya saya kalau mau traveller ke luar daerah. Bisa dimakan nggak ya kuliner di sana. Terima kasih Mbak infonya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sawadikaaa...
      Phuket, Krabi, dan Phiphi di Thailand nggak susah kok cari makanan halal. Karena di sana warganya, mostly muslim.

      Delete
  6. Kuil Krabi ini kuil Budha Wat krawe korawam di Thailand ya Kak. Now I know about that. Banyak berjalan, banyak melihat semestinya kita semakin bijaksana. Tfs yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Di Krabi lebih tepatnya. Benar, semakin banyak kita tahu, semakin rendah kita di hadapan Sang Maha, dan semakin kita sadar bahwa menghargai sesama manusia adalah yang penting.

      Delete
  7. cakep ya kk kuil-kuilnya. Jadi happy ya di sana, sebagai muslim masih bisa menikmati makanan halal. ^^

    ReplyDelete
  8. Serasa traveling rohani ya kak? Aih, foto-fotonya keren kakak

    ReplyDelete
  9. Ada wak Dika juga ya kak... Hahaha

    Apakah ini perjalanan yang pernah kecopetan bersama si Zikria kak? Semoga bisa ke Thailand tahun depan ya kak... Mau lihat kuil seperti ini juga. Ke Krabi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkaaka bukan kecopetan lagi ditelantarkan kami wkakaka

      Delete
    2. Iya ada wak Dika di blog ini Alfie. Hahaa.
      Bukan kecoptean tapi ditelantarkan dan ditipu di Suratthani pas malam2 juga. Horor banget sik kala itu, tapi lucu kalau diingat.

      Delete
  10. Perjalanan yang menyenangkan bisa hadir di Thailand, saya juga rencana tahun depan jalan bareng Mama kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga traveling ama mamanya taun depan lancar jaya dan penuh berkat yak. Blessings

      Delete
  11. Aih pengen nya kesana,, next time InsyaAllah

    ReplyDelete
  12. tapi ada juga makan hotdog pork wkakaka.. yang malam2 tu.. klo dibolehkan dah terbelik juga hahahahah.. kan jadi rindu hahahh i miss u kakakku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh ada yak? yang mana sik? Bukannya malam-malam kita pas ujan-ujan beli salad seafood yak Zik di Krabi Night Market? wkwkwkwk

      Delete
  13. Gaya aristeknya waw banget!!! Tapi aku lebih terpana dengan gaya penulisanannya. Mirip sastra gimana gtu, bait hingga bait,cakepppp

    ReplyDelete
  14. Wah Krabi, jarang ada yg mau ke Krabi padahal banyak spot wisata asik dan harganya entah kenapa apa pun lebih murah dari wilayah lain di Thailand.

    ReplyDelete
  15. Wahhhh.. Dari dulu kami sudah terpikat dengan desain unik khas Thailand ini mbak. Ditambah lagi dengan adanya kuil yang satu ini, kayaknya keinginan kami untuk berkunjung kesana semakin besar.

    ReplyDelete
  16. Kuil di Thailand unik-unik bagus bgt, kapan ya bisa traveling ke sana. Apalagi disana gampang cari makanan halal jd double pengen ke sana.

    ReplyDelete
  17. Saya belum pernah ke Krabi. Wat Kaew cantik ya. Jadi pengin ke sana. Saya termasuk penggemar kuil dan candi, jadi paling suka jalan-jalan ke tempat-tempat yang ada kuilnya seperti ini.

    ReplyDelete
  18. Wah, megah banget ya kuilnya. Sengaja ya kamu meletakkan gambar utuh dari area kuil di bagian akhir.

    Aku juga suka merenung kok. Merenung TUhan itu satu, tapi kenapa aku dan dia harus dipisahkan oleh sesuatu yang tak berbentuk bernama AGAMA *curhat dikit*

    Kalau lagi ingat TUhan gitu, saya suka banget dengerin lagu "Selidiki aku"

    :)

    ReplyDelete
  19. Wah, ternyata di Krabi ada wisata kuil yang menarik juga ya, kak. Aku akan suka menikmati dan mengabadikan foto Krabi dari tangga kuil.

    ReplyDelete
  20. Arsitektur kuilnya yang menarik dan megah. Cuma penasaran apakah memang di semua kuil selalu ada ornamen naga di setiap pintu masuk atau tangga?

    ReplyDelete
  21. Waktu ke Thai dulu, belum sempet mampir ke kuil2an nih. Arsitekturnya memang unik dan punya warna tersendiri ya mbakk.

    ReplyDelete
  22. Kuilnya kelihatan megah dan besar ya Mbak. Di Thailand ini sepertinya banyak kuil ya. Belum pernah ke Thailand sih . Pengen tapi belum kesampaian terus.

    ReplyDelete

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates