Dari Kota Tua, Belanda, dan Kue Nastar

JAKARTA History Museum. Picture taken by RO Photograhphy
BATAVIA Stadhuis, atau Balai Kota Batavia. Bangunan tua bercat putih dengan pintu tinggi ini menjadi salah satu penanda bahwa Jakarta, ibu kota negeri ini, pernah menjadi pusat pemerintahan Ducth East Indies (Indonesia kini) di masa penjajahan kolonial Belanda mulai tahun 1710. Kala itu, kolonial dipimpin Gubernur Jenderal Joan van Hoorn.

Ini kunjungan kali ke-2 bagiku ke tempat wisata yang kini lebih dikenal dengan sebutan Kota Tua yang terletak di Jakarta Pusat ini, Jumat (6/4) lalu. Kunjungan pertama, jalan bareng nyokap, adek, dan abang. Kami tak masuk ke museumnya karena sudah sudah sore. Cukup menikmati bagian luarnya saja. Nah, kunjungan kedua ini, janjian bersama kenalan baru, Ricky, kami memilih mengeksplorasi bangunan yang kini menjadi Museum Sejarah Jakarta ini.
KAWASAN Kota Tua. Picture taken by me/CatatanTraveler
Masuk melalui pintu samping dengan membayar tiket masuk Rp 5 ribu per orang,  pengunjung diberi kebebasan mengunjungi setiap ruangannya. Dimulai dari ruang persegi yang kerap kali digunakan sebagai atrium pameran, pengunjung akan diajak ke bagian taman tengah di bagian dalam gedung. Dari taman tengah itu, ada berbagai pintu pilihan. Mulai dari pintu teater, jajanan pasar, hingga pintu utama museum yang dibawahnya ada lorong dengan empat ruang penjara bawah tanah.

Bangunan ini sangat luas, terdiri dari puluhan ruangan, mulai dari ruang bawah tanah hingga lantai dua. Pengelola museum masih mempertahankan desain interior dan perabot yang ada di dalamnya.

Memasuki gedung ini, seolah dibawa kembali ke masa lalu, dimana Indonesia dijajah berabad-abad oleh satu negara di daratan Eropa, di bawah pimpinan Ratu Wilhelmina from The Netherlands.

Ada beberapa hal unik yang saya temukan kala memasuki museum ini. Salah satunya, lukisan seorang perempuan bule dengan busana zaman klasik. Di depan lukisan, ada informasi, bahwa perempuan tersebut bernama Petronella Willhelmina van Hoorn. Dia merupakan putri dari Gubernur Batavia, Joan van Hoorn.
Lukisan Petronella Willhelmina van Hoorn di Museum Sejarah Jakarta.

SI CatatanTraveler di salah satu ruang museum. Picture taken by RO Photography.
Kenapa kenangan tentang dia ada dalam museum itu? Karena ia menjadi salah satu yang meletakkan batu pertama pembangunan Stadhuis yang berada persis di samping Museum Wayang, bekas gereja tua Old Dutch Church atau Oude Hollandse Kerk. Pada saat peletakan batu pertama itu, usia Wilhellmina masih delapan tahun. Dan berdirinya bangunan itu hingga sekarang, tak lepas juga dari campur tangannya kala ia kembali ke Belanda, negeri leluhurnya. Kepada pemerintahan Abraham van Riebeeck, ia juga yang turut andil dalam pelestarian bangunan dan taman kawasan Stadhuis ini, dibantu suami keduanya, Lubbert Adolf Torck. _Thanks to her_

Saya nggak akan bahas mendalam mengenai sejarahnya dulu deh, Ntaran aja di postingan selanjutnya, termasuk pengalaman saya yang lagi asyik-asyiknya menikmati setiap abjad dan alfabet berbaris kalimat mengenai informasi sejarah, tiba-tiba si Ricky ngaku indigo. What the....

Bangunan ini dijadikan menjadi tempat wisata, dan museum sejarah Kota Jakarta, pada masa pemerintahan Gubernur almarhum Ali Sadikin pada 1974. Di museum ini, terdata lebih dari 20 ribu barang dipajang, yang berkaitan dengan sejarah Batavia zaman dulu, mulai dari senjata, prasasti, lukisan, sketsa, litografi, mebel, perhiasan pernikahan Betawi, hingga alat cetak kue berbahan kayu.
HASIL peninggalan berupa alat cetak kue satu berbahan kayu.
Oh ya, berbicara mengenai kue, ada satu kue khas yang selalu ada dalam setiap perayaan warga Indonesia. Dan kue itu adalah peninggalan penjajahan Belanda di bumi Indonesia. Mau tahu apa? Kue Nastar.

Kue Nastar. source: country view market.
Yap, kue nastar. Kue lezat, yang selalu ada dalam setiap perayaan, khususnya Natal dan tahun baru bagiku ini berasal dari Belanda. Berasal dari kata Ananas dan Tart, yang artinya kue berbalut nenas alias kue nastar yang kita kenal kini. Dan itulah salah satu pengaruh penjajahan kolonial di bumi Indonesia di bidang kuliner yang masih populer hingga kini. Haha _Ujung-ujungnya lari ke kue_

Meski selalu identik menjadi sajian dalam setiap perayaan Lebaran, Natal, atau tahun baru, tapi kue ini memiliki banyak penikmatnya di hari-hari biasa. Tak heran, kini banyak usaha yang menjual penganan yang masuk ke kelompok kue kering ini. Kue ini terkenal dengan rasa gurih dengan bahan slei nanas yang manis di tengahnya.

Melihat kesukaan masyarakat terhadap kue ini, maka tidak ada salahnya untuk menjadikan jenis kue ini sebagai usaha kuliner. Kakak saya sendiri termasuk pebisnis kue nastar ini. Ia menjualnya dengan harga premium, karena memang bahan-bahan dasarnya ia buat premium. Ini menjadi salah satu usahanya di rumah, sejak ia berhenti dari kantor tempatnya bekerja, dan kini fulltime menjadi ibu rumah tangga dan istri yang baik sambil menjalankan bisnis dari rumah.

Saya ada pertanyaan, Ketika Anda akan membuat usaha untuk menjual kue nastar ini, Apa saja tips yang harus diperhatikan supaya bisnis ini panjang, punya prospek yang cerah? Berikut tipsnya dari kakak saya:
  1. Perhatikan modal yang dibutuhkan, harus sesuai dengan jumlah atau banyaknya paket kue yang akan dijual. Jangan lebih besar modal dari hasil penjualan.
  2. Pelajari pasar untuk cara penjualan. Bisa memilih apakah mulut by mulut atau offline, online by sosial media, platform e-commerce, atau titip katering dan ke berbagai toko kue. Pilih yang menurut Anda nyaman.
  3. Pilih promosi yang tepat. Ketika akan membuka usaha kue ini juga harus memperhatikan promosi yang akan dilakukan. Pilihlah promosi yang terbaik baik itu menggunakan sistem online atau offline. Misalnya berpromosi menggunakan banner, selebaran, atau bisa menggunakan dengan iklan di internet. Sehingga akan mempunyai lebih banyak peminat karena pasar yang lebih luas apabila bisa untuk menggunakan promosi yang tepat.
  4. Perhatikan kekonsistenan kualitas dan rasa kue. Kekonsistenan akan membuat para pelanggan dan penikmat kue nggak akan berpaling.  Kadang masyarakat Indonesia, mentang-mentang laku keras, komposisi bahan dikurangin. Jangan!!! tetaplah pada porsi komposisi adonan untuk mempertahankan cita rasa. Dengan begitu, branding dan kredibilitas usaha Anda mengenai penjualan kue nastar ini akan tetap kuat.
Look out from the inside of Jakarta History Museum.
Dari Kota Tua di Jakarta Pusat, mempelajari langsung perjalanan sejarah penjajahan Belanda di Negeri ini khususnya di Batavia hingga peninggalan kulinernya yang kini bisa kita nikmati dan dapatkan dengan mudah, yakni kue nastar, saya cuma mau bilang: Kalau jalan-jalan ke tempat wisata mana pun, jangan lupa kulineran.  _Teteup ujung-ujungnya makanan mulu.hahaha_

22 comments :

  1. Saya fokus nyari foto si kenalan baru bernama Ricky kak Chay,, #grins ;))
    Makasih tipsnya, ga mesti utk jualan, sekedar bikin nastar utk hari raya penting banget memperhatikan konsistensi ukuran! Soalnya kadang saya kalau dah males bikinnya makin lama sizenya jadi gede2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Annisa,
      Haha.. Rickynya disembunyikan.

      Iya, sama neh. klo jelang2 jam terakhir, makin lama biar cepat kelar, ukuran nastarnya juga aku buat gede2. hahaha mudahan ntar Idul fitri kamu konsisten ya Nis.. hehe

      Delete
  2. Setahun di sana ga pernah ke sini pft
    Seketika merindukan Jakarta :((

    ReplyDelete
  3. oalaahhh serius nastar itu dari belanda ?? baru tau saya loh... kirain itu buatan indonesia..

    dapat 1 pengetahuan lagi deh, makasih ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sarah,
      sama2 mba. senang berbagi pengetahuan baru.

      Delete
  4. waktu ke sini ga sempat kulineran
    katanya ada kafe yang asyik banget
    maklum ke sini cuma singgah sebelum ke bandara
    tp tetap penasaran dan pengin ke sini lagi
    mana tahu ada yg jualan nastar hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ruziana,
      Ada uni.. namanya bangi cafe di bangunan lama.. keren sik.

      Delete
  5. Kalo aku kurang suka kak masuk2 ke museum apalagi ada peninggalan barang2 tua. Serem aja... Kalo nastar mah kue sejuta umat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Chairuddin,
      Oh gitu ya. Saya malah kebalikannya. Suka banget wisata sejarah.

      Delete
  6. Kue favorite pas lebaran... hmmm...
    Baru tau deh kalau kue ini asalnya dari Belanda. Duh kudet banget yaaa aku...

    ReplyDelete
    Replies
    1. whahaha.. sama. saya juga baru tahu kalau nastar itu peninggalan Belanda. memang enak si ananas and tart itu. duh... jadi pengin nyemil itu deh sekarang.

      Delete
    2. Rizka dan Wenny,
      Ssst, sebenarnya saya juga baru tahu. makanya langsung bagi tau.. wkwkwk

      Delete
  7. Baca ini aku sama kayak Amel jasi merindukan Jakarta. Masa muda aku di sana sungguh bahagia loh Chay. Sewaktu putih abu-abu,naik kereta menunu kota tua di Jakarta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lina,
      Naik kereta, pasti turun di stasiun Jakarta Kota kan? hehe

      Delete
  8. bener lho, mirip dengan kota tua di jakarta

    tempat dimana aku pernah nge date di tempat ini

    masa SMU yang teramat manis, menjadi pelipur lara buah bibir pada masa kini

    pengen banget naik becak keliling kota tua

    terima kasih telah mengingatkan aku kepada masa lalu ku

    hehe

    ReplyDelete
  9. Jalan bareng orang indigo itu sesuatu banget ya rasanya.. Serasa ikut uji nyali, hehehe. Kalo tentang kue nastar, aku paling suka nastar keju yang meprulll di lidah. Kalo ketemu nastar yang begitu, setoples dijamin abis ama aku sendiri.. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Dian,
      Iya ih mba. Kita jalan serba salah "Chay jamgan jalan dari kiri deh, agak ke kanan. Awas Chay, jgn ke sana. Eh ntar dia lagi senyum" kuampretttt untung aku ga pipis celana mba Dee wkwk

      Samaaa demen nastar juga

      Delete
  10. Sudah lama tertarik dengan kota tua, lihat foto2nya kok bagus. Tapi belum kesampaian kesana.

    Kue nastar, kue kesukaan kalau lebaran...

    ReplyDelete
  11. Nastar ini memang legend bangets ya dan jujur baru tahu kalau ini salah satu warisan kolonial... hahaha... jadi penasaran, apakah nastar zaman dulu lebih enak atau gemana ya? Ehmmmm kayaknya segelintir orang yang bisa menjawabnya...

    ReplyDelete
  12. Belum pernah kesini.
    Baru tau ternyata ada tiketnya. Dan murah yang ternyta tiketnya.

    Btw baru tau. Nastar itu ada Belanda.
    Hihihi

    ReplyDelete

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates