Catatan Traveler: Menginap di Rumah Warga di Pedesaan Bali

Sudut Desa dengan pemandangan indahnya di Karangasem, Bali.

DUA minggu sebelum hari raya Galungan, saya mengunjungi Bali dan berkesempatan menginap di rumah warga di Pedesaan di sana. Desa Tumbu Kelod namanya. Melihat langsung kehidupan warganya, menikmati jamuan hangat tuan rumah menjadi pengalaman tak terlupakan bagiku.

Lima hari sebelum keberangkatan, saya mengontak adikku Tertius. Dia lahir dan besar di Bali. Saya mengutarakan keinginan, ingin berkunjung ke Bali dan ingin traveling dengan melihat langsung bagaimana kehidupan warga Bali yang jauh dari lokasi wisata. "Saya pengin menginap di rumah warga lokal, dan ingin mengunjungi untouristy area," ungkapku.

Perjalanan menuju Desa Tumbu Kelod.

Tius pun menyanggupi. "Aman kak. Nanti saya bawa menginap di rumah temanku. Orang tuanya dan keluarganya dulu dekat dengan keluarga kami, khususnya papa. Nanti saya bawa ke sana ya," balas Tius.

Penerbanganku dari Jakarta ke Pulau Dewata itu sangat mulus. Hari pertama memilih menginap di Kuta karena saya merasa kelelahan sehabis penerbangan non-stop dari Toba-Jakarta-Bali dengan jadwal istirahat yang sangat-sangat kurang.

Hari yang ditunggu pun tiba. Sebelum berangkat ke Desa Tumbu Kelod, saya dan Tius terlebih dulu mengunjungi Gianyar, salah satu kabupaten yang terkenal dengan karya seni ukirnya. Di sana, kami wisata kuliner. Mengunjungi Banjar Pande, desa yang masih alami dikelilingi persawahan, lalu menikmati makanan khas Bali, babi guling di warung Pande Egi.

Menutup kulineran di Gianyar, perjalanan pun berlanjut ke Desa Tumbu Kelod (Kelod= utara). Dibutuhkan waktu dua jam perjalanan naik mobil dari Gianyar ke desa di Kabupaten Karangasem ini.

Desa Tumbu Kelod ini merupakan salah satu desa kuno di Bali. Berusia lebih dari 600 tahun. Namanya tercatat dalam prasasti Tumbu yang dikeluarkan 1635 Masehi. Ada ratusan pura di desa yang masih alami dengan banyak persawahan di lereng pegunungan yang mempunyai beragam pantai ini.

Di desa ini, kami menginap di rumah pasangan suami-istri, I Wayan Gunawan yang akrab dipanggil pak Yan dan istrinya Kadek Seri yang saya panggil mbok Kadek.

Pak Yan dan mbok Kadek memiliki tiga anak. Mereka adalah Putu Ari, Kadek Rina, dan Komang Krisna. Krisna, anak satu-satunya lelaki yag baru duduk di kelas 2 SD.

Perjalanan menuju rumah pak Yan ini sangat menakjubkan. Melewati hamparan persawahan dimana para warga desa selalu saling sapa. Dari atas motor, warga tampak menyapa tetangga yang duduk atau berdiri di depan rumahnya. Persis seperti kehidupan di kebanyakan desa di Indonesia. _Semoga budaya SALING SAPA penuh KERAMAHAN ini selalu terjaga di bumi pertiwi_
 
Gang menuju rumah Pak Yan. Jalan gang sebelah kiri.

Rumah keluarga ini berada di gang Rambutan. Dari jalan raya Tumbu Kelod, masuk ke jalan kecil yang di kiri dan kanannya persawahan. Saya tiba sudah hampir malam. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 18.25 WITA. Di pinggir jalan, simpang gang rumahnya, pak Yan sudah menunggu. "Selamat datang. Bagaimana perjalanan ke sini, Lancar?" tanyanya ramah sambil menyalami.

Pak Yan dulunya bekerja sebagai koki di salah satu hotel bintang lima di kawasan Kuta. Dia menjadi salah satu korban bom Bali yang memutuskan pulang kampung dan kini menjadi sekuriti di salah satu villa di desa tempatnya tinggal. Sementara mbok Kadek, bekerja sebagai pegawai penitipan anak yang bekerja dari pukul 07.00 pagi hingga pukul 16.00 WITA setiap harinya.

Pak Yan pun langsung mengajak kami ke rumahnya. Jaraknya sekitar 50 meter masuk ke dalam dari jalan. Kami melewati pekarangan tetangga memasuki kawasan rumahnya.

Rumah pak Yan berdiri lebih tinggi dibanding rumah tetangga. Menaiki anak tangga dengan pagar gapura khas Bali, rumah ini terdiri dari empat bangunan terpisah. Tidak satu kesatuan. Dan ini yang membuat mayoritas rumah tinggal di Bali sangat unik. Satu pekarangan terdiri dari empat bangunan yang dihuni satu atau lebih keluarga.

Rumah utama peninggalan orang tua pak Yan berada persis di depan pintu masuk. Bangunan kedua di sebelah kanan terdiri dari tiga kamar tidur dengan ruang tamu terbuka. Di ruang tamu itu tikar digelar dan ada satu unit televisi di rak bertingkat. Bangunan ini berhadapan dengan bale-bale atau pendopo dengan pilar di sebelah kiri. Bale-bale ini berfungsi sebagai tempat makan keluarga, tempat diskusi, atau tempat santai. Bale-bale bersisian dengan bangunan dapur.

Sama seperti dapur, bangunan kamar mandi keluarga ini juga terpisah. Berada di belakang bangunan sebelah kanan. Terdapat juga satu pura keluarga. Saat saya datang itu, pura itu lagi direnovasi. "Sebentar lagi Galungan. Keluarga pada pulang ke sini. Biar nanti nyaman dipakai saat sembahyang Galungan dan Kuningan," ujar Pak Yan.

Bagian tengah rumah keluarga ini terdapat halaman yang ditanami tumbuhan hijau dan bunga frangipani. Di situ terdapat juga stupa kecil tempat meletakkan canang dan dupa untuk sembahyang sehari-hari. Sangat natural ala khas tradisional Bali seperti yang saya lihat selama ini di tempat-tempat spa mewah di kotaku tinggal. "Beginilah kehidupan di desa. Semoga berkenan ya," ujar pak Yan dengan ramah.

Pak Yan pun mengajak kami duduk. Berpindah dari ruang keluarga ke bangunan peninggalan orangtuanya. Di sana, mbok Kadek menyuguhi kami teh manis hangat.

Pak Yan lalu bercerita, bangunan ini rumah peninggalan orang tuanya. Di situ tergantung foto-foto keluarga, termasuk foto kedua orang tua pak Yan. "Masa kecil saya dihabiskan di sini. Sekarang, kembali lagi ke sini," ujarnya dengan logat Balinya yang kental.

Dia pun menceritakan saudara-saudaranya, ponakannya, dan juga anak-anaknya. Keluarganya kini berpencar, Ada yang di Denpasar, ada juga yang di Papua, Kalimantan, bahkan Jakarta. " Yang polisi kini bertugas di Papua," ujarnya.

Pak Yan dalam perbincangan hangat itu, sembari menenggak araknya yang sudah habis berbotol-botol, sempat menegur halus Tius. "Kamu sudah berapa tahun nggak ke sini? Bertahun-tahun tak datang akhirnya ke sini lagi. Kalau kamu nggak bawa kakakmu (saya) pasti nggak ke sini," ungkapnya. Saya dan Tius pun tertawa mendengarnya.
 
Pak Yan mengisahkan, saat tinggal bertetangga dengan keluarga Tius di Denpasar, pak Yan dan papa Tius berteman akrab. Meski keluarga Tius Kristen, pak Yan Hindu, mereka saling mengasihi layaknya keluarga. Sewaktu papa Tius meninggal, pak Yan dan keluarganya menjadi salah satu teman rasa kerabat yang merasa kehilangan.

Bahkan, pernah Tius minggat dari rumahnya, berangkat ke desa Tumbu Kelod dan tinggal di rumah ini berbulan-bulan lamanya. Nenek atau ibu dari Pak Yan-lah yang merawatnya saat itu, menyekolahkannya di desa. Biasalah ya, masa-masa kenakalan remaja.

Mbok Kadek di dapur.

Hidangan sederhan namun kaya rasa masakan pak Yan saat menjamu kami.

Di tengah asyiknya saya mendengarkan cerita dari pak Yan dan Tius itu, mbok Kadek mempersiapkan hidangan makan malam. Kami dijamu makan malam di pendopo. Mbok menyajikan dua menu, yakni Betim atau daging babi masak tim kuning dan juga tum atau lauk khas Bali dengan bahan dasar minyak kelapa, cincang daging yang sudah dicampur bumbu, yang dibungkus dengan daun pisang,kemudian dikukus sampai matang. Mirip dengan pepes atau botok. "Silakan dinikmati menu seadanya ini ya," ujar mbok Kadek.


Saya dan Tius pun menikmati menu makan malam sambil berbincang dengan pasangan suami istri itu di bale-bale. Di saat menikmati hidangan di bawah langit malam, mendadak suara gamelan terdengar jelas. Ternyata suara itu berasal dari Pura Dalem, pura besar yang terletak di belakang rumah pak Yan.

"Sebentar lagi mau Galungan dan Kuningan, para bapak di desa ini akan ke pura untuk latihan gamelan. Setiap malam begitu sampai jelang Galungan," jelas mbok Kadek.

Usai makan malam, pak Yan pamit ke pura. Dia akan bergabung dengan lebih dari 30 pria di sana. Latihan gamelan. Sementara kami kembali duduk berbincang di pendopo usai saya mencuci piring dan mbok Kadek merapikan dapur.

Saya berbicara banyak hal dengan mbok Kadek. Sementara Tius memilih merebahkan diri di teras keluarga sambil menonton televisi, juga main ponsel.

Mbok Kadek mengisahkan, Galungan merupakan hari keagamaan Hindu paling besar di Bali. Biasanya, di hari itu, para anggota keluarga akan pulang dari perantauan, mengadakan kumpul dan sembahyang dan makan bersama.

"Para anggota keluarga akan pulang satu atau dua hari sebelum Galungan. Satu hari sebelum Galungan itu, kita ada penampahan atau sembahyang keluarga dan memotong babi, lalu makan bersama," ujarnya.

Kadang, kalau Galungan tiba, warga Tumbu Kelod juga memotong babi atau hewan lainnya untuk dibagi-bagikan ke warga.

"Lalu besoknya Galungan, kita semua akan ke pura mengenakan pakaian tradisional, berwarna putih. Dimulai dari pura keluarga, pura desa, lalu ke pura besar. Kita akan sembahyang seharian saat itu," jelas mbok.

Penampahan galungan atau satu hari sebelum galungan. Umumnya ditandai dengan memotong hewan ternak. Pemotongan ini bukan hanya sekedar untuk dimasak lantas dinikmati, melainkan ini juga bagian dari ibadah khas Hindu Bali yang bertujuan membunuh sifat-sifat kesombongan, keangkuhan, dan keserakahan dalam diri manusia.

Di hari itu, warga Hindu Bali juga melaksanakan upacara, sembahyang menyucikan diri dari gangguan para bhutakala. "Penampahan Galungan itu  hari besar memenangkan pencapaian keseimbangan dan keselarasan dalam diri. Kami kumpul bersama keluarga dan makan bersama. Biasa saja," jelas mbok Kadek lagi.

Jadi ternyata, tidak seperti Natal atau Idul Fitri, tidak ada aneka kue kering yang tersaji saat hari raya galungan dan kuningan (hari ke-10 setelah Galungan) tiba. "Ya masak lauk biasa saja. Tidak ada kue-kue," ujar mbok Kadek lagi.

Lantas, apa saja menu yang dimasak saat Galungan kalau tidak ada kue-kue kering sebagai pendamping tanda hari raya? Umumnya, keluarga Bali akan menyajikan menu-menu tradisionalnya, seperti lawar putih, babi goreng, sambel mbe, hingga sayur ares yang terbuat dari batang pisang muda.

Mbok mengisahkan,setiap Galungan, seluruh Bali khususnya di desa akan dihias dengan penjor, atau tiang bambu yang dihias dengan janur kuning, bunga, dan hasil bumi seperti buah-buahan. Penjor ini dibuat menjulang sepanjang 8 meter. Mengapa dibuat menjulang tinggi? Ada maknanya.  Melambangkan ketinggian Gunung Agung yang melingkupi Bali. Saat memasangnya atau saat Galungan tiba, suara-suara gamelan dari pura akan mengiringi setiap upacara dan sembahyang seharian itu.

"Setiap galungan, kami juga akan membeli aneka buah, bunga beragam warna untuk upakara," jelasnya.  

Mbok Kadek berasal dari Tabanan. Sejak menikah dengan pak Yan, baru sekali ia berkunjung ke kampung halamannya itu. "Waktu nenek meninggal. Kami hanya dua bersaudara. Saya dan kakak. Kami dibesarkan oleh nenek," ungkapnya.

Dia punya kerinduan untuk pulang kampung. Meski jarak Tabanan dan Karangasem hanya 2 jam ditempuh berkendara, tapi saat ia memutuskan menikah dengan pak Yan, maka itu artinya dia akan secara resmi menjadi warga Tumbu Kelod. "Rindu, ya rindu sekali ke kampung halaman apalagi saat hari besar. Tapi sudah tidak ada nenek," ujar mbok senyum.

Tiba-tiba, mbok Kadek menanyaiku. "Ke Bali jalan-jalan?"
"Iya mbok," jawabku.
"Sudah kemana saja kamu jalan-jalan?" tanyanya lagi.
"Di Bali?" responku lagi.
"Bukan. keliling negara atau kota. Kemana saja? tanya mbok penasaran.
"Kemana saja kaki melangkah mbok. Ya ke Singapura, Jepang, kemana sajalah mbok. Nggak jauh-jauh kok," jawabku dengan tawa tersipu.
"Hebat ya kamu. Mbok, Bali saja belum semua dikunjungi. Ke luar kota baru ke Malang. Itu pun puluhan tahun lalu saat masih kerja," ungkapnya.
"Kamu kalau jalan-jalan sendiri?" tanya mbok Kadek lagi.
"Iya mbok. Kadang sama teman seperjalanan. Tapi lebih sering jalan-jalan sendiri," ungkapku.
"Ke Bali sendiri?" mbok bertanya lagi.
"Iya mbok. Lalu di sini dua hari ini ditemani Tius karena dia lagi free dari kerjaannya," jawabku.
"Hebat ya kamu. Sudah ke luar kota, ke luar negeri. Perempuan lagi. Mbok salut. Hebat...berani sekali. Hebat..hebat," responnya.


Sebelum tidur, mbok Kadek dan Tius melihat foto nostalgia di teras rumah.

Pembicaraan itu terus berlanjut hingga malam semakin larut. Sebelum tidur, saya memberikan barang berupa kain sarung motif ulos khas Batak kepada mbok Kadek.
 
Saya pun pamit ke mbok Kadek untuk membersihkan diri sebelum istirahat. Suara gamelan dilengkapi ritme musik khas dari ceng-ceng makin bertalu-talu dan bahkan menjadi pengiring tidur warga desa termasuk saya malam itu.

Saya tidur di kamar ketiga. Sementara Tius memilih tidur di luar. Di teras yang juga berfungsi ruang tamu dan ruang keluarga.

Kamar tempatku tidur di rumah pak Yan dan mbok Kadek. Matur suksma pak Yan, matur suksma mbok Dek.

Kamar tempatku tidur di rumah ini dilengkapi kipas angin, satu tempat tidur dan lemari kayu. Sangat sederhana. Sebelum tertidur, saya melihat langit-langit kamar sembari bersyukur pada Tuhan. 'Bagaimana bisa keluarga ini sangat hangat dan ramah menerimaku, sementara baru pertama sekali bertemu dan tidak saling kenal sebelumnya. Terima kasih Tuhan atas perkenananmu, saya bisa menikmati hari seperti ini. Berkati keluarga pak Yan dan mbok Kadek. Berkati anak-anaknya dan berkati rumah yang mereka tinggali ini,' pintaku dalam doaku.

Keesokan paginya, matahari belum naik, tapi mbok Kadek sudah pergi membelikan kami sarapan. Dia juga menyuguhkan kami teh manis. Hari itu, kami akan melanjutkan perjalanan ke salah satu pura yang sangat dihormati dan dianggap suci lagi terkenal di Bali. Yakni, Pura Penataran Agung di Gunung Lempuyang di Desa Tribuana. Oleh para turis, menyebutnya sebagai Pura Lempuyang atau Lempuyang temple.

Demikian pengalaman menginap di rumah warga di Desa Tumbu Kelod, salah satu pedesaan di Bali ini. Rahajeng Rahina Suci Galungan lan Kuningan kepada seluruh warga Bali yang merayakan di mana pun berada. ***

Isi hidupmu dengan pengalaman. Bukan benda. Memiliki cerita untuk diceritakan, bukan hal untuk ditampilkan. Ingat kebaikan orang, dan berkatilah mereka lewat doamu. Namun, jangan ingat kebaikanmu. Biar Tuhan yang memperhitungkannya.

 

7 comments :

  1. Seru ya kak, mengexplorasi budaya dan keakraban lokal di Bali. Bisa juga dicontoh nih kalo pergi ke daerah2 yang masih asri dan kental akan budaya. Aku pernah stay di Bali selama satu Minggu, dulu pas masih SMA, apakah kak Chaya juga dengar kisah tentang LEAK dari mbok Kadek?

    ReplyDelete
  2. Kesenangan tersendiri ya kak bisa diterima kehadiran kita dirumah penduduk, ngobrol ringan sembari menikmati hidangan yang disediakan. semoga keluarga pak Yan sehat selalu

    ReplyDelete
  3. Asik banget kak Chay bisa nginap di rumah warga. Bisa belajar budaya dan kebiasaan masyarakat setempat juga. Kita bisa dapat ilmu. Sehat selalu untuk Pak Yan.

    ReplyDelete
  4. Asyik nih ya kl jln2 nginap nya di rumah warga setempat jd bs ngerasa lebih dekat dgn daerah yg dikunjungi. Apalagi kl makanan yg disediakan otentik daerah itu, ehmmmm yahud

    ReplyDelete
  5. Cara menikmati belahan bumi Indonesia dengan sisi yg berbeda ya kak.

    Baik banget mbok kadek.
    Sehat2 ya mbok kadek beserta suami

    ReplyDelete
  6. Asyik banget tulisannya kak, aku berasa ada di lokasi..

    ReplyDelete
  7. Pasti seru tuh, nginap di rumah warga. Kebiasaan yang mungkin hampir sama dengan kampung lainnya. Yang terlihat berbeda ada cori khas nya ya Chay. Kirain kasurnya masih kapuk, taunya dah semi modern, pake spring bed 😊

    ReplyDelete

Designed by catatan traveler | Distributed by catatan traveler