Călătorie Chaycya: Dua Jam Terbuang Sia-Sia

Chapter 1

Konter tiket bus limosin di Siem Reap. (F catatan traveler by Chaycya)

Siem Reap, 26 Oktober, Pukul 05.30 GMT+7

Citrapata Călătorie Chaycya - Perempuan itu terbangun dari tidurnya. Takut membangunkan tamu yang lain, dengan perlahan, ia mengendap dari kamar, keluar menuju kamar mandi untuk membasuh diri. Pukul 08.00 dia akan berangkat menuju Saigon atau Ho Chi Minh di Vietnam. Meninggalkan Kota Seribu Candi  di Kamboja.

Dia berbenah. Belly bag tempat paspor dan uang ia pasang kembali. Uang receh dan tiket ia taruh di tas ransel kecil miliknya. Dirasa tak ada yang ketinggalan lagi, sembari mengangkat ransel besar miliknya, ia pun turun ke lobi.

"Good morning," sapanya ramah kepada staf One Stop Hostel. Penginapan bintang dua di pusat Kota Siem Reap yang sangat dekat dengan Pub Street itu, menjadi 'rumahnya' selama tiga hari di sana.

"Morning Chaycya, Check out today?" Si Staf pun membalas sapaannya tak kalah ramah sembari berberes membersihkan meja lobbi dan beberapa meja dan kursi di sana. Lobi penginapan itu, menyatu dengan restoran dengan beberapa deret sofa dan meja.

Ransel besar ia letakkan begitu saja di sudut belakang kursinya. Sementara ransel kecil ia letak di sebelahnya. Ia membukanya, mengambil sebungkus susu sereal untuk ia seduh. "Excuse me, would you mind to give me a glass of hot water, please?" ujarnya kepada si staf hotel.
Sarapan menu sereal. ( F dok CatatanTraveler)

Pagi itu, bukan kopi, melainkan susu sereal menjadi menu sarapan paginya, sebelum petugas bus antar-negara menjemputnya.


Pukul 7.00 GMT, petugas bus pun datang menjemputnya ke penginapan. " Arkoun (Terima kasih) buat tiga hari saya menginap di sini. Good bye, see you when i see you," ujarnya kepada si staf penginapan setelah menyelesaikan proses check out, meminta kembali uang deposit sebesar 8 dolar AS, lalu berlalu.

Tidak langsung berangkat. Dia dibawa terlebih dahulu ke loket bus. Di sana, tidak ada penumpang mancanegara. Semua lokal.

"Lho, ini bus menuju Ho Chi Minh bukan?" ujarnya menegaskan kepada petugas loket.
"Iya benar. Tunggu saja, sebentar lagi akan berangkat," jawab si petugas.
"But wait, bukankah saya harusnya naik bus Mekong Express. Saya sudah membayarnya tiga hari lalu?" tanya si perempuan lagi sembari menunjukkan receipts pembayaran sebesar 23 dolar AS.
"Sama saja. Ini bus 168. Lebih baik dari Mekong Express," jawabnya dengan Bahasa Inggris seadanya dengan wajah mulai tak ramah.

Si perempuan mencoba menerima jawabannya. Waktu masih pagi. Dia tak ingin membuat sinar wajahnya berubah, merusak moodnya dengan hal-hal remeh-temeh seperti itu. Lalu ia biasa saja, memilih duduk bersama calon penumpang lokal lainnya.

Waktu sudah lewat dari pukul 07.30. Tidak ada tanda-tanda keberangkatan.
Tiket bus 168 Siem Reap-Ho Chi Minh. (F Catatantraveler by Chaycya)

Pukul 9.00. Tidak ada tanda-tanda keberangkatan. Hampir sejam setelahnya, barulah para penumpang disuruh masuk bus dan sekitar pukul 9.30, bus pun berangkat. Si perempuan naik ke bus dengan sedikit kesal di hati. Dia membayangkan waktu dua jamnya yang telah terbuang sia-sia.


Bus Limousine ini terlihat bersih. Namun ternyata tidak semua layanan dan fasilitas yang tertera di tiket benar. Tidak ada air mineral gratis yang dibagikan dan tidak ada jaringan internet atau WiFi. Kata si supir rusak. Perempuan itu pun memilih membaca novel yang ia bawa dari Indonesia, sambil sesekali melihat suasana jalanan Siem Reap dari jendela bus.

Bagi dia, ini bukan perjalanan solo pertamanya.Keluar dari Siem Reap, mengunjungi kembali Ho Chi Minh, merupakan keputusan mendadak yang ia pilih. Dia salah berekspektasi tentang hari-hari selanjutnya dalam perjalanan kali ini, tapi setidaknya ia bersyukur, bahwa ia mengalaminya sendiri. Dia tak mengikuti arus layaknya turis yang hanya mengunjungi tempat wisata umum, tapi ia menciptakan arusnya sendiri menjadi bagian dari cerita perjalanannya, bagian dari serpihan atau lembaran hidupnya pribadi.

Perjalanan hari itu menjadi perjalanan yang panjang baginya. Selama 12 jam jalan darat lintas negara. Kali pertama ia lakukan sejak memulai solo traveling 2011. Perempuan itu memang suka tantangan. Dia menyebutnya bagian dari pengembaraan waktu dalam menemukan serpihan-serpihan hidup di tanah baru. Dia menyebutnya penghargaan akan alam dan peradabannya. Menurutnya, planet ini terlalu indah kalau tak dieksplorasi, dikunjungi. Minimal secuil bagian-bagiannya, negara-negaranya... ( bersambung)

Solo travel not only pushes you out of your comfort zone. It also pushes you out of the zone of other's expectations. – Suzy Strutner


Post a Comment

Designed by catatan traveler | Distributed by catatan traveler