Dancing Under The Sunset di Pantai Viovio

Dancing Under The Sunset di Pantai Viovio.

MUSIK bertempo beat mengalun lantang dari bar pantai di belakangku. Dari kursi di pantai depan bar itu, saya bersama teman, kak Tari, kak Danan, dan Chairuddin, duduk menikmati pemandangan pasir putih, gradasi air laut tiga warna dengan pantulan sinar matahari yang bersiap terbenam, serta melihat beberapa kapal yang tengah lego jangkar di kejauhan.

Irama musik itu terdengar kuat sekali. Menggema di pantai yang mengubah mood seketika. Saya beranjak dari tempat duduk sembari membawa kaleng bir di tangan, diikuti kak Tari. Kami berdua lantas menari mengikuti lantunan lagu. Sore di hari Minggu itu, saya terhipnotis, menyatu dengan musik, dancing under the sunset di Pantai Viovio.


Saya dan kak Tari menari tanpa beban. Tak peduli puluhan pasang mata yang melihat kami menari lepas dari sekeliling pantai. Kami melompat-lompat di atas pasir putih yang halus sampai alunan musik berganti. Ternyata, satu teman, kak Danan, merekam tarian tak jelas kami itu. hahaha
Aku lupa kita bahas apaan sik di sini kak Tari?

Besties (ki-ka: kak Tari, me, kak Danan, Chairuddin a.k.a Luluk) di Pantai Vio-vio.

Saat kami menari dengan swastamita yang menaungi itu, ternyata sekeluarga yang tengah berjalan ke sebelah kursi kami juga terhipnotis tarian kami. Sang ibu ikut menari ringan dengan senyum lepas. "Ayo lebih semangat lagi," teriaknya, yang saya respon dengan senyuman sambil mengangguk hormat.


Laut, pantai, sunset, sahabat, musik dan tarian. Satu paket komplit yang menjadi momen indahku di Minggu, 5 September 2021 pekan lalu. Setelah sekian lama tak melakukan perjalanan, akhirnya piknik tipis-tipis di hari minggu itu cukup menghibur, sebagai bagian dari pemanasan untuk melaksanakan traveling begitu semua perbatasan negara dibuka di masa mendatang. ----------Sekilas, Oktober 2020 saya berencana melakukan perjalanan keliling Vietnam, sebagai bagian dari my birthday solo trip setiap tahunnya. Perjalanan itu sudah saya rancang sedemikian rupa dari tahun sebelumnya, mulai dari tiket open bus yang dimulai dari Utara ke Selatan. Perjalanan darat. Sudah dua kali saya ke Vietnam. Mengeksplorasi bagian selatan di 2013 dan 2018. Namun, kuliner negara itu sukses membuatku jatuh cinta dan selalu berpikir untuk kembali dan kembali lagi.

Apalagi, Nguyen Tanh Toan, teman sesama Couchsurfer dari Vietnam yang pernah saya temani snorkeling ke Pulau Abang dan island hopping di kota ini merekomendasikan kampung halamannya di Provinsi Ha Giang yang tak kalah indah dari Sapa. "Sapa sudah terlalu touristy. Ada yang tak kalah indah, Ha Giang, kampung halamanku. Kamu ke sana saja. Di sana masih alami," ujarnya sambil mengirimiku aneka gambar keindahan Ha Giang.

"Ok Toan, saya mempertimbangkan ke sana," ujarku kala itu.

Pandemi pun terjadi. Rencana pun batal. Saya berharap, rencana perjalananku ini bisa terealisasi Oktober tahun ini. Namun tidak mungkin mengingat beberapa negara di Asia Tenggara masih punya kebijakan lockdown antar-negara. I hope tahun depan, jika Tuhan berkehendak, saya akan melakukan perjalanan itu, merealisasikan rencana itu, kalau perbatasan negara sudah dibuka secara bebas kembali.  Saya akan menikmati arunika dan swastamita di setiap provinsi yang ada di Vietnam sambil menikmati kuliner cita rasa lokalnya dengan aneka jenis kopi di sana yang selalu kurindukan.----------

 OK, mari kembali ke Pantai Viovio.

Proses swastamita sendiri dimulai dari Selat Singapura di kejauhan. Matahari memendarkan sinarnya dari ketinggian yang perlahan menurun ke ufuk barat. Alunan musik pantai yang menggema seolah menyatu dengan pendar sinar jingga itu. Setelah selesai menari, tubuh yang keringat membuatku harus mengikat rambut supaya leher dan kepalaku mampu menerima angin segar.

Tiba-tiba Chairuddin memintaku untuk mempraktikkan yoga di pantai. "Eh kau kan ikut kelas yoga. Coba praktikin yogamu di sini, bagus banget ini sunset jadi latarnya," ungkap pria yang akrab kami sapa si Luluk ini.

Boleh juga saran si Luluk. Akhirnya saya mempraktikkan secara sederhana Surya Namaskar atau pose Sun Salutation. Luluk merekamnya.


Usai gerakan itu, kami berkumpul kembali di kursi pantai. Menikmati bir, air kelapa, nata decoco, serta aneka crackers. Kami menikmati matahari terbenam itu sedikit lebih lama lagi.


*Pantai Viovio

Pantai Viovio. (F catatantraveler/Chaycya)
Pantai Viovio ini merupakan satu dari puluhan pantai dengan keindahan alam tropis khas kepulauan di Pulau Batam. Lokasinya di Desa Sijantung, Pulau Galang. Oh ya, Pulau Batam ini terhubung dengan tiga pulau besar lainnya (BAtam- REmpang-GaLANG) yang dihubungkan dengan enam jembatan yang dikenal dengan Trans-Barelang.

Keenam jembatan itu yakni:

  • Jembatan Tengku Fisabilillah (jembatan utama penghubung Batam dengan Pulau Rempang, paling besar dan panjang diantara yang lainnya atau dikenal dengan jembatan 1 Barelang). 
  • Jembatan Nara Singa (Jembatan II) 
  • Jembatan Raja Ali Haji (Jembatan III) 
  • Jembatan Sultan Zainal Abidin (Jembatan IV) 
  • Jembatan Tuanku Tambusai (Jembatan V) 
  • Jembatan Raja Kecik (Jembatan VI)

Nah, Pantai Viovio ini, berada di Jembatan Lima Barelang. Merujuk ke Google Map, jaraknya sekitar 58,4 kilometer dari Pelabuhan Internasional Batam Center. Dapat ditempuh sekitar 1,5 jam dengan mengendarai mobil pribadi.

Lokasinya di sebelah kanan Jalan Trans-Barelang, setelah simpang Pantai Glory Melur. Begitu masuk simpang Pantai Viovio ini, mohon berhati-hati ya, karena kita akan melewati jalan berbukit dengan akses menurun tajam menuju pantai. Pemandangannya indah sekali dengan perbukitan hijau yang dibelah. Dari puncak jalan itu, pemandangan pantai dengan pasir putih dengan hamparan laut Batam dan Selat Singapura dengan deretan kapal-kapal tanker raksasa di kejauhan.

Tahukah kamu? Pantai Viovio ini luas keseluruhannya 50ha. Pantainya seluas 8ha termasuk kawasan hutan bakau atau mangrove serta kawasan endemi kantong semar.

Menuju laut, mau main-main air.

Ada pun fasilitas di pantai ini sudah terdapat bar, pemondokan untuk pengunjung, kamar mandi dan toilet yang bersih, dan loker penyimpanan barang bagi pengunjung yang memilih menginap di tenda camping, serta parkiran yang sangat luas.

Selain itu, terdapat beberapa pendopo yang bisa disulap untuk aneka pesta, mulai dari pesta barbeque, atau pesta pernikahan ala pantai yang intim bisa di sini. Saat melihat beberapa pendopo dengan aneka tirai putih bersih yang terbang ringan karena angin laut, saya mendadak membayangkan pesta pernikahan private. Hanya hanya dihadiri pendeta, keluarga inti, dan sahabat.  _Dibayangin saja dulu ya kan? Siapa tahu di masa depan bisa jadi nyata. Selama mimpi belum dilarang bukan? hahaha_

Selain itu, pantainya juga sangat tenang dengan pasir putih yang halus. Pengelola menghadirkan ayunan di atas air dan juga tersedia penyewaan banana boat dan layanan kapal keliling pulau sekitar (island hopping) dengan harga yang sangat terjangkau. Cukup bayar Rp 20 ribu per orang yang dibawa langsung oleh warga sekitar pulau.

*Masak Ramen di Pendopo Viovio

Masak sepanci ramen di pantai.

Sebagian besar waktu kami dihabiskan di Pantai Viovio ini. Perjalanan kami dimulai sejak pagi hari, dan tiba siang hari karena terlebih dulu belanja bahan masakan dulu ke pasar dan supermarket dekat rumah kak Tari.

Siang itu kami menikmati makan siang, dengan menu Korean Ramieyon atau ramen Korea yang dimasak langsung di pendopo pantai oleh kak Tari. Kak Tari ini, sahabatku, seorang Food and Beverage Manager di salah satu hotel ternama di kota ini.

Ramen kuah itu dimasak dengan bumbu yang kaya. Sayuran hijau, bawang prei, bakso ikan, bakso sapi, udang, sosis, dan bumbu pewangi seperti bawang merah, bawang putih, cabai, dan telur tidak lupa dong.

Menikmati makan siang dengan menu ramen dengan penuh sukacita. (F kak Danan)

Kami menikmati menu itu dengan penuh sukacita. Memakannya tanpa merasa bersalah. Tidak ada diet hari itu. Pokoknya, eat whatever you want to eat. Kami menikmati makan siang itu dengan candaan, bullyan, dan kesel-keselan dari kak Danan yang tidak terima si Luluk Chairuddin memotret asal-asalan.
Membaca selimut debu.

Usai makan siang itu, kami beristirahat menikmati angin sepoi-sepoi. Saya memilih membaca buku Selimut Debu, novel perjalanan Agustinus Wibowo ke Negeri Afghanistan. Kak Tari memilih menemui mantan teman kerjanya yang kini menjadi manajer di Pantai Viovio itu. Pak Fendi namanya.
Sunset time mocktail pesananku, air kelapa pesanan Chairuddin, beer ice bucket berisi beberapa kaleng bir pesanan kak Tari.

Kak Tari sempat menawariku bir, tapi saya sudah minum sekaleng bir sebelumnya, dan itu cukup bagiku. Saya memilih memilih memesan minuman Sunset Time Mocktail. Ini salah satu dari tiga best signature mocktail di Bar Viovio. Dibuat dari bahan smashing ginger, madu,air perasan lemon, jus jeruk, sirup vanilla dan bir. Saya suka rasanya yang pahit dan wangi serta menyegarkan.

Lantas kemana duo Tom and Jerry, si Luluk and Danan? Mereka mengambil kegiatan masing-masing. Luluk syuting untuk kebutuhan konten Youtubenya. Sedangkan kak Danan melakukan pemotretan produk yang meminta dia endorsement. Yang pada akhirnya, memintaku juga untuk memotret dan memvideokannya.

Main ayunan sama kak Tari. Masa kecil kurang bahagia nampaknya dua orang ini. hahaha

Cuaca panas, wajah terbakar sinar matahari, tapi kutak peduli.

Usai melakukan kegiatan masing-masing, hari sudah sore. Kami berkumpul kembali menunggu sunset, mengabadikan diri lewat foto di beberapa spot di pantai itu, naik ke ayunan, duduk kembali di kursi pantai sambil melihat pengunjung lainnya berenang di kejauhan, lantas menikmati, menari secara lepas di bawah sinar matahari terbenam.
Demi burger ini, rela menunggu lama sampai saya ketiduran.

Burger double meat. Nyam nyam.

Piknik tipis-tipis di minggu itu, kami tutup dengan pamit dari Pantai Viovio, lalu
beranjak ke Underground Coffee Batam di Restoran Kopak Jaya 007 Kelong Seafood untuk menikmati menu burgernya yang fenomenal.

Foto penutup di Underground Coffee saat menunggu pesanan burger yang datangnya lebih dari satu jam kemudian.

Kemana kamu menghabiskan akhir pekanmu? (*)

Ketika kamu mencinta swastamita, alam semesta turut bersukacita. Ketika kamu mampu menari dengan pendar sinar jingga itu, maka jiwamu pun terbebas lepas, bahagia secara utuh.- All love, Chaycya

Kamus:
Swastamita: (Bahasa Indonesia yang artinya: matahari terbenam/sunset)
Arunika: ( Bahasa Indonesia yang artinya: Matahari terbit/sunrise)



18 comments :

  1. Nampak sangat bahagia dikelilingi teman. Dah lama saya tidak ke pantai kerana belum dibenarkan. Saya pingin untuk Travel. Border pun belum dibuka. Harap2 Covid ini cepat la hilang dari bumi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali. Dikelilingi teman yang sefrekuensi selalu bikin bahagia.

      Ya, doa kita bersama.

      Thanks for visiting my blog akak.
      Bless you

      Delete
  2. wah bagus sekali! didoakan agar covid nya cepat terhapus dan mudah-mudahan dapat jejak ke Indonesia lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin.

      Terimakasih telah berkunjung ke blog saya.

      Salam kenal dari Indonesia ya.

      Delete
  3. rindunya jika dapat pergi bercuti seperti ke kawasan pantai... hidup bebas tanpa rasa stress dengan covid

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali. Di kotaku sekarang lockdown sudah dipermudah. Level 3 so, masyarakat sudah mulai bebas liburan ke kawasan publik seperti pantai tapi wajib healt protocol. Tingkat vaksinasi sudah melebihi 70 persen.

      Thankyou for visiting my blog.

      Delete
  4. Rindu betul saya pada angin laut dan ombak pantai. Bila lah boleh travel ni. Semoga covid cepat hilang boleh kita hidup aman kembali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga secepatnya bisa menikmati angin laut dan ombak pantai ya kak.

      Delete
  5. Betul.. kalau dapat pantai dengan suasana tenang gitu, buat Yoga menang best.. tenang ajee rasa.. tak pernah lagi pi, ni baru tau mengenai pantai viovio ni..

    ReplyDelete
  6. Seronoknya tengok berbahagia bersama teman-teman di pantai. Teringin juga bercuti ke pantai tapi masih berjaga-jaga. Terima kasih kongsi. Nanti boleh letak dalam wishlist ke indonesia juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih.

      Semoga punya kesempatan berkunjung dan menikmati pantai di Indonesia ya.

      I'll welcome you with warm heart. Bless you

      Delete
  7. Sudah lama tidak ke pantai. Rindunyaaaa. Cantik betul permandangan. Aman sekali!. Makan-makan di tepi pantai memang best. Dengan anginnya lagi. Nyaman!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener sekali akak Ruby.. senang bisa isi weekend ke pantai bersama teman.

      Delete
  8. I want to enjoy the sea and the sun again, with no worries about the deadly C-19 virus. And true - the world is more beautiful with same minded friends

    ReplyDelete
    Replies
    1. Doa kita bersama ya..
      Yap.. The world is more beautiful with same minded friends.

      Thanks

      Delete
  9. Rindu mau ke Batam lagi nti bolehlah travel ke Pantai Viovio bila keadaan sudah aman dgn Vovid.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Come when everything back to normal.

      Saya terima di Batam dengan senang hati.

      Delete

Designed by catatan traveler | Distributed by catatan traveler