Tenggelamnya KRI Nanggala-402 dan Kenangan Bertugas di KRI Barakuda-633: Prajurit Patuh dan Taat


Tahun 2013

Tenggelamnya KRI Nanggala-402 dan Kenangan Bertugas di KRI Barakuda-633: Prajurit Patuh dan Taat- DUA minggu setelah kepulanganku dari Vietnam, Koordinator Liputan kantor tempatku bekerja, Bang Muhammad Iqbal menugaskanku liputan luar: Mengawal Rupiah ke Lima Pulau Terdepan (Pulau Terluar) Indonesia. Selama sembilan hari.

Sekretaris Redaksi, kak Umy Kalsum pun mengingatkanku untuk segera melengkapi data pribadi seperti CV, kartu pers, dan data penunjang lainnya. Harus segera dikirim ke tim dari Bank Indonesia (BI) dan juga tim Koarmabar TNI AL. Ya penugasan itu melibatkan BI dan TNI AL yang saat itu menjalankan misi mulia, mengawal mata uang kita ke pulau-pulau terdepan yang sulit terjangkau transportasi dan juga informasi yang masih terbatas.

Selasa, 19 November 2013

Pukul 14.30 WIB, saya sudah tiba di Makolanal, Pelabuhan Batuampar. Di sana, saya bertemu dan berkenalan dengan Fotografer Antara, Joko dan juga jurnalis Pontianak Post, Aris. Menunggu berangkat, kami berbincang-bincang, apalagi saya dan Aris bekerja di bawah satu grup perusahaan, Jawa Pos Group.

Pukul 17.00 WIB, upacara militer untuk melepas misi ini dilaksanakan. Garis besar jadwal kerja selama bertugas pun diberikan. Kami menjalankan misi ini bersama para prajurit TNI Angkatan Laut yang bertugas di KRI Barakuda-633 dan para rekan dari tim BI Batam, Jakarta, dan juga Pontianak.

KRI Barakuda-633 menjadi rumah sementara mengarungi samudera, membelah Laut Tiongkok Selatan. Para prajurit TNI AL dan tim divisi BI serta dua rekan jurnalis menjadi keluargaku selama bertugas.

Penugasan bermula dari Pelabuhan Batuampar, menuju Jemaja di Kepulauan Anambas. Butuh 17 jam untuk tiba di pulau ini. Di sana, BI memberikan pelayanan penukaran uang Rupiah lusuh dari berbagai pecahan terhadap masyarakat. Inilah yang kami liput. Bahwa Bank Indonesia menjalankan tugas menarik kembali uang tak layak pakai/uang yang sudah rusak dan ditukarkan dengan uang baru sehingga bisa berfungsi kembali sebagai alat tukar menukar yang sah di masyarakat.

Terkesan biasa saja bukan? Namun menurutku itu luar biasa. Bayangkan kita yang di kota besar bisa dengan seenaknya menukar uang lama ke uang baru dengan mengunjungi bank-bank pilihan dengan cepat. Sementara di pulau-pulau kecil yang sangat sulit transportasi karena terkendala jarak, uang-uang lusuh masih digunakan sebagai alat transaksi jual-beli. Misi inilah yang dilaksanakan BI. Menarik uang lusuh dan memusnahkannya, serta mengembalikannya kepada masyarakat dengan uang yang baru.

Mungkinkah itu terlaksana kalau tidak ada TNI AL? Tidak mungkin. Karena hanya dengan bantuan merekalah, tugas dan upaya bela negara di perbatasan ini terlaksana.

Selesai bertugas di Jemaja, kami kembali ke kapal. Oh ya, kapal perang itu tidak singgah di pelabuhan, melainkan lego jangkar di tengah laut. Kami ke Jemaja itu, menggunakan kapal kayu. Pulang pun demikian, menggunakan kapal kayu untuk kembali ke pangkuan KRI Barakuda-633.

Dari Jemaja, perjalanan berlanjut ke Pulau Siantan di Tarempa. Ibu kota Kepulauan Anambas. Perjalanan ini membutuhkan waktu tujuh jam.

Tiba di kapal, saya langsung menuju kamar, persiapan untuk mandi. Selama bertugas ini, karena saya perempuan satu-satunya, maka saya memiliki kamar sendiri. Kamar perwira di kapal itu.

Kamarku itu berlokasi satu tingkat di bawah geladak, dan satu tingkat di atas ruang kendali mesin. Itu artinya saya tidur di bawah laut. Kamar itu berhadapan langsung dengan kamar mandi.

Di kamar itu, tersedia dua tempat tidur bertingkat khas kapal, dengan selimut dan bantal. Satu lemari, dan meja kerja, dan papan informasi.
Meja kerja di kamar itu menjadi tempatku mengetik laporan berita setiap hari. Setiap sore setelah pulang kembali ke kapal, dua botol air minum selalu sudah tersedia di atas meja kerja itu. Terimakasih yang tulus kepada prajurit TNI AL yang selalu meletakkannya di sana.

Kami tiba di Pulau Siantan, Tarempa sudah tengah malam di hari yang sama. Kali ini, kapal sandar langsung di pelabuhan. Prajurit yang bertugas langsung sigap melemparkan tali. Saya tak turun lagi dari kapal. Saya memilih mengisi daya, persiapan untuk kerja keesokan harinya. Naik kapal itu lumayan membuat pusing, tapi puji Tuhan saat bertugas itu saya tak ada muntah sama sekali.



Dari Anambas, pelayaran berlanjut ke Pulau Laut. Pulau terluar Indonesia. Saya masih ingat pernyataan Kapten Lexy Dumais. Menuju pulau ini, melewati laut lepas. Ombak lumayan besar, apalagi saat itu, boleh dikatakan permulaan angin musim utara. "Kalau kita berhasil melewati itu, kita selamat," ujarnya kala itu.

Ada kenangan yang tak bisa saya lupakan saat menuju Pulau Laut ini. Begitu pulau ini terlihat dari kejauhan, garis putih pantai dan deretan pohon kelapa, serta gradasi air laut tiga warna membuatku menangis. "Tuhan indah banget ini," tangisku haru. Ya benar, Pulau Laut ini teras Indonesia yang indah banget di ujung utara yang berbatasan langsung dengan Vietnam.

Sehabis dari Pulau Laut, perjalanan berlanjut ke Ranai, ibukota Natuna. Kami tiba di Selat Lampa, lalu naik mobil sekitar 1,5 jam ke Ranai. Tunai tugas di Ranai, kembali ke Pelabuhan Selat Lampa, dan kembali berlayar ke Pulau Sabang Mawang, yang hanya 30 menit dari Selat Lampa.

Sabang Mawang merupakan desa yang masuk ke gugusan Pulau Tiga di Natuna. Pemandangan dari pulau ini indah sekali. Air lautnya juga jernih, dan ikan-ikan banyak berseliweran yang bisa dilihat dengan mata telanjang.

Dari pulau ini, mengisi waktu jeda dari kegiatan yang padat, Kapten Lexy mengajak kami refreshing ke pulau di sebelahnya menggunakan sekoci/rubber boat. Pulau Penyu namanya. Pulau ini tak berpenghuni. Bisa dikelilingi dengan waktu yang singkat.

Keesokan harinya, kami melanjutkan pelayaran. Menuju Pulau Subi Besar. Pulau ini masih termasuk ke wilayah administratif Kabupaten Kepulauan Natuna. Berada di antara Selat Nasi yang menyatu langsung dengan Laut Tiongkok Selatan. Jaraknya sekitar 7 jam berlayar dari Ranai, 16 jam dari Pontianak, dan hanya 8 jam dari Malaysia.

Saat ke sini itu, lagi-lagi Barakuda-633 lego jangkar di tengah laut. Kami pun menggunakan kapal kayu ke dermaganya yang cukup panjang dari daratan. Di pulau ini, saya menemukan berbagai jajanan yang sudah kedaluarsa lebih dari tiga bulan namun masih diperjual-belikan di warung. Miris. Miris sekali. Jarak dan juga alur transportasi antar pulau saat itu masih terbatas. Semoga sekarang sudah lebih baik.

Pelayaran kami bersama KRI Barakuda-633 berakhir di Makolantamal XII, Pontianak, Kalimantan Barat.

Tugas selama sembilan hari mengarungi laut menggunakan KRI Barakuda-633 bersama sipil dari tim BI, dan dua rekan jurnalis lainnya. Kami menginap di atas kapal perang itu. Kami membaur dengan para prajurit yang pada akhirnya seperti saudara dan keluarga.

Kami hidup di laut. Menjalankan tugas di pulau-pulau, lalu kembali ke kapal. Berlayar. Waktu itu awal musim angin utara. Ombak lumayan besar. “Kalau kita berhasil berlayar ke Pulau Laut melewati rute ini, sudah kita selamat,” ujar Kapten Lexy Dumais kala itu, saat saya mengunjungi ruang navigasi di luar jadwal kerja. Setelah mendapat izin masuk tentunya.

Mengisi waktu senggang itu, di ruang navigasi saya belajar tentang titik koordinat laju kemudi dari Sersan Joko, menghitung skala jarak dan membaca peta bersama Sersan Andri, mempelajari dengan pengamatan mengenai isyarat bunyi, menghitung jarak laut/ nautical miles dan tentang tugas-tugas marinir dengan Kapten Lexy Dumais.
Mereka menjadi keluargaku di sana selama tugas beberapa hari itu. Hari minggu, kami yang Kristen protestan dan katolik ibadah di ruang kecil kapal, dipimpin Lettu Adi Putra. (Pasti saat ini mereka sudah naik pangkat tentunya).

Selama menjalankan tugas, kami yang sipil wajib ikut jadwal militer yang berlaku. Tidak ada perbedaan laki-laki dan perempuan. Jam 6.30 pagi sudah harus apel di flight deck ( Itu artinya wajib bangun jam 4 atau setengah lima kurang untuk mandi, karena antrian di kamar mandi. Pukul 6.00 sarapan di ruang medis yang juga berfungsi sebagai ruang makan dan ruang karaoke prajurit), saat apel kami pakai safety life jacket, dan tunduk sama aturan-aturan yang diberlakukan sesuai ketentuan kapal perang. Jam 6 sore kami harus menghentikan kegiatan saat penurunan Bendera Merah Putih.



Para prajurit di sana itu, tahu tugasnya masing-masing. Sangat rapi, cekatan, bersih, dan jiwa korsa yang kuat. Di sana saya jadi tahu istilah TNI AL dalam memanggil. junior: si-sun, senior: tor (mentor). Panggilan itu berlaku sesuai tingkatan pangkat.

Di kapal itu,pPelaksanaan tugas harus sesuai dengan penugasan atasan. Ada kekurangan atau hal genting di kapal, atasan harus cekatan memberi instruksi. Its all about timing and responsibility. Kecepatan waktu dan tanggung jawab. Apa pun yang disampaikan pimpinan, prajurit harus “SIAP” dan menjalankan. Mereka sangat tunduk dan disiplin dalam hal keprajuritan. Saat melihat kinerja mereka di kapal itu, saya jadi paham alasan mengapa TNI kita dihargai oleh militer negara manapun.


Dan hari ini, setelah lebih dari 72 jam pengharapan atas keselamatan KRI Nanggala-402, saya jadi flashback ke 9 hari kehidupan di KRI Barakuda-633. Saya membayangkan, betapa ke-53 prajurit itu patuh dan taat. Memegang teguh sumpah prajurit, yang menjalankan tanggung jawab sampai ujung nafas, menghormati komando di saat black-out dalam menjalankan tugas hingga akhirnya mereka berlayar menuju keabadian. My thoughts and prayers for this tragedy. Rest in peace and bon voyage our heroes!!!  #PrayforKRINanggala402

Post a Comment

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates