Saya di Tengah Pandemi Corona

Foto dokumen pribadi.
MINGGU ketiga Januari lalu, saat Covid-19 masih berwujud Novel Corona Virus (NCoV) dan masih endemi yang baru menularkan ke 2000-an warga Tiongkok. Saat itu, Singapura sudah mulai was-was. Random check di Bandara Changi diperketat dan diperbanyak. Seluruh warga pendatang dari Daratan Tiongkok diperiksa secara fokus. Kala itu menyambut hari raya dengan eksodus atau mudik warga terbesar di dunia, Tahun Baru Imlek. Terang saja, Singapura was-was.

Virus Corona jenis baru ini ditemukan pertama kali di Wuhan pada 31 Desember 2019 lalu. Awalnya, ditemukan 224 kasus dengan empat pasien meninggal. Dugaan penyebaran virus ini datang dari hewan liar yang dikonsumsi manusia. Kelelawar menjadi hewan yang disalahkan dan menjadi tersangka utama sebagai penyebabnya.

Mengikuti data peningkatan pasien yang signifikan di Tiongkok, ditambah ketakutan Singapura yang awalnya menurutku 'lebay', di kantor, kepada Pimpinan Redaksi, bang Iqbal Muhammad, saya mengusulkan liputan khusus (Lipsus) mengenai penyakit ini.

Kepada bang Iqbal, saya menyampaikan alasan mengapa mengusulkan lipsus ini. "Kalau dalam rentang 2-3 minggu saja sejak ditemukan sudah menginfeksi 2000 dari satu kasus temuan pertama, hampir dipastikan virus ini akan cepat menyebar antar- negara. Lihat saja, Australia, Jepang, dan Thailand sudah ada temuan kasus. Bisa-bisa ini malah menjadi pandemi," usulku.

Pimred pun langsung menyetujuinya. Selanjutnya saya langsung mematangkan term of reference (TOR) yang sudah saya buat sebelum mengajukan tema lipsus. Kemudian malamnya, saya berkoordinasi dengan Koordinator Liputan (Korlip), bang M Nur untuk mendistribusikan TOR tersebut kepada para rekan reporter yang ditugaskan. Tugas saya apa? Saya redaktur lipsus. Enak dong cuma usulin, lalu tugasin wartawan. Upsss!!! tidak seperti itu Marimar!!! Saya tetap turun liputan. dua-tiga narasumber, saya yang handle.

Senin, 27 Januari 2020, maka jadilah liputan itu terbit. Judulnya: DEMAM PEMBAWA KEMATIAN. Subjudulnya: Tiga kabupaten/kota di Kepri menjadi fokus daerah rawan masuknya NCoV. Narasumbernya melibatkan Kemenkes RI, MoH Singapore, Pulmonologis RSAB, Syahbandar Kepelabuhanan (Empat pelabuhan internasional di Batam), Manajemen Bandara Hang Nadim (Bandara ini ada pelayanan penerbangan langsung dari Tiongkok), dan masyarakat.

Awal-awal, saya berpegang pada update sebaran data dari Coronavirus Resource Center John Hopkins University (JHU). Sangat frustrasi mengupdate data itu tiap saat. Belum lagi mengingat pernyataan dr Abdul Malik, Pulmonologis RSAB yang saya wawancara itu. Mengingat wawancara itu, awal-awal, kok ya badan rasanya ikutan panas dingin dan dada  sesak. Bernafas susah. Kalau sudah begini, hampir menyerah. Lalu ingat menarik nafas dalam-dalam sambil pada diri bilang: Jangan stres, jangan takut akan hal ini. Ini cuma perasaanmu saja. Tuhan pasti jauhkan darimu. 'Mantra' ini terbukti menenangkan.

Saya kembali bekerja seperti biasanya. Kemudian teman di Surabaya heboh. Katanya masker medis lagi kosong, dan mendadak harganya mahal. Padahal dia lagi butuh untuk ia kirim kepada rekan-rekan dan keluarganya di Singapura. Dia baru saja memutuskan kembali pulang ke Indonesia. Ke Surabaya, kota kelahirannya. Eh Corona datang.

Saya pun penasaran. Mencari tahu Apa di Batam  juga terjadi kekosongan stock masker? Saya pergi ke Klinik KF dekat rumah. Masker medis isi 50 pcs yang biasa saya beli seharga Rp 33 ribu, kosong.  Adanya masker 3M charcoal yang hitam. Isi 3 pcs harganya Rp 7 ribu. Itu pun jumlahnya terbatas. Saya mengabari teman yang di Surabaya bahwa stok di Batam juga terbatas. Namun harganya masih normal. Cuma yang kotakan sudah kosong.

Saya pun membeli dua bungkus masker 3M tersebut. Kebetulan, masker medis yang biasa saya gunakan saat bawa motor, stocknya sudah menipis di rumah.  Dan tahu? Selang tiga hari dari setelah saya mengunjungi klinik itu, harga masker melonjak tajam. Ja*nc*k benar. Masker Nexc*re isi 50 pcs dijual Rp 325 ribu. Masker 3M isi 3 dijual Rp 60 ribu. Saya kesal. Kok bisa harganya semahal itu? Hanya selang tiga hari, dari Rp 7 ribu naik menjadi Rp 60 ribu? *Lalu ngumpet kata-kata ajaib dalam hati.

Staf yang jaga di sana mengungkapkan, mereka hanya menjual sesuai harga yang ditetapkan distributor. "Kami hanya ikut harga dari distributor mbak. Distributor naikkan ya kami naikkan," ungkapnya.

Sambil tahan emosi, di sana saya ungkapkan: Semoga Tuhan melaknat dan membuka pintu hati siapa pun yang bermain-main dengan harga masker ini. Ini wabah lho, masker sangat dibutuhkan. Kok dijadikan kesempatan memperkaya diri sendiri. Sampaikan mas kepada distributor Anda itu," ungkapku kesal kala itu.

Selesai di situ saja? Belum. Nilai masker yang lebih tinggi dari tren lonjakan kenaikan harga emas berlanjut ke penjualan hand sanitizer yang ikut-ikutan melonjak tinggi. Beruntung saja, saya masih punya stock Dett*l Instant Sanitizer yang masih kubeli dengan harga normal (Sebelum pandemi, produk ini bisa bertahan menahun di tasku. Bahkan sampai habis masa berlaku). Setelah itu, HS kosong di rak-rak supermarket. Demikian juga sabun krim pencuci tangan. Ah pokoknya, warga panic buying deh untuk produk-produk tertentu.




Saya di Tengah Pandemi MINGGU kedua Januari lalu, saat Covid-19 masih berwujud Novel Corona Virus (NCoV) dan masih endemi yang baru menularkan ke 2000 warga, dan Singapura sudah mulai was-was, kepada Pimred, saya mengusulkan liputan khusus mengenai penyakit ini. Alasanku: Kalau dalam rentang 2 minggu saja sejak ditemukan sudah menginfeksi 2000 dari satu kasus temuan pertama, hampir dipastikan virus ini akan cepat menyebar antar negara. Lihat saja, Australia, Jepang, dan Thailand sudah ada temuan kasus. Bisa-bisa, malah menjadi pandemi” • • Pimred, Bg Iqbal langsung menyetujui. Saya berkoordinasi dengan bg Nur, Koordinator Liputan untuk bantuan penugasan dengan rekan reporter. • • Maka jadilah liputan itu publish. Judulnya: DEMAM PEMBAWA KEMATIAN. Subjudulnya, tiga kabupaten/kota di Kepri menjadi fokus daerah rawan NCoV yang ditetapkan Kemenkes. Narasumbernya melibatkan Kemenkes RI, MoH Singapore, Pulmonologist RSAB, Syahbandar Kepelabuhanan, Manajemen Bandara Hang Nadim, dan masyarakat. • • Awal2, saya berpegang pada update sebaran data dari JHU. Sangat frustrasi membaca data itu. Belum lagi mengingat pernyataan Pulmonologist RSAB itu. Kok ya badan rasanya ikutan panas dingin dan dada sesak nafas. Saya menyerah. Menarik nafas dalam-dalam sambil pada diri bilang: Jangan stres, jangan takut akan hal ini, Tuhan pasti jauhkan darimu. • • “Mantra” itu terbukti menenangkan. Bekerja berjalan seperti biasa. Awal Maret, saya penugasan ke Surabaya. Pelatihan tiga hari. Belum ada apa-apa tapi sudah mawas diri. Tetap memakai masker dua lapis. Satu di dalam medical masker, di luar dilapis Scuba yang saya beli dari minimarket di belakang kantor. Tiba di sana, di penginapan, tenggorokan saya gatal dan meriang. Kembali takut. Aduh!!! Perasaan itu kutepis dengan meminum vitamin C1000 dan susu steril. “Pasti ini karena dinginnya AC di pesawat tetiba dihadapkan pada cuaca Kota Pahlawan yang langsung panas dan dusty”. Usai minum vitamin, tidur sebentar, sorenya pergi ke JNE kirim paket ponakan. Dengan jalan kaki. Jangan tanya kenapa kirimnya dari Surabaya. Peraturan pengiriman barang dari Batam di atas Rp 45 ribu (USD3) dikenai dua pajak sekaligus selain PPN soalnya.... (to be c)

Sebuah kiriman dibagikan oleh C.O.Simanjuntak (@chaycya) pada

Awal Maret, saya penugasan ke Surabaya. Ikut pelatihan grup dari seluruh cabang di Indonesia. Belum ada apa-apa tapi sudah mawas diri. Saat berangkat, saya tetap memakai masker dua lapis. Di bagian dalam medical masker, di luar dilapis masker scuba yang saya beli seharga Rp 20 ribu dari minimarket di belakang kantor.

Tiba di Surabaya sekitar pukul 11.30 WIB. Di penginapan, tenggorokan mendadak gatal dan badan meriang. Kembali takut. Aduh!!! Namun perasaan itu kutepis dengan meminum vitamin C1000 dan susu steril. Pasti ini karena dinginnya AC di pesawat tetiba dihadapkan pada cuaca Kota Pahlawan yang langsung panas dan dusty.

Usai minum vitamin, memilih tidur sebentar. Sorenya, saya pergi kirim paket, kado buat ponakan. Kepada resepsionis hotel, saya bertanya dimana ekspedisi terdekat dari hotel. Ia menyarankan ke kawasan Unesa (Universitas Negeri Surabaya). Cek di Google, oh dekat. Maka jadilah saya jalan kaki.

Jangan tanya kenapa saya mengirim dari Surabaya. Peraturan pengiriman barang dari Batam di atas Rp 45 ribu (USD3) dikenai dua pajak sekaligus selain PPN soalnya (Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 199 Tahun 2019). Ya Batam di Indonesia, realisasinya layaknya luar negeri. Status kawasan Free Trade Zone menjadi dasar pemberlakuan itu. Bayangkan, harga barang Rp 750 ribu, saya harus mengeluarkan uang setengahnya untuk ongkos kirim dan pajak-pajak. Sempat adu argumen juga sih dengan petugas Bea Cukai, yang menyalahkan Birkenst*ck, mengapa memberlakukan PPN. Bayangkan guys!!! harga yang sudah kita bayar pajaknya, dikenai pajak yang sama lagi saat pengiriman. Ribet kan?

Itulah alasanku memilih mengirimnya dari Surabaya. Dari penginapan, saya jalan kaki ke kawasan Unesa. Hitung-hitung jogging sore juga. Bermodalkan Google Map. Selesai dari ekspedisi itu, membuka peta di ponsel, melihat pusat perbelanjaan terdekat, saya kembali jalan kaki menuju Royal Plaza. Pulang pun demikian, melewati Mapolda Jawa Timur, juga melewati kantor pusat yang akan kudatangi keesokan harinya. Lumayan berkeringat dengan jalan kaki. Sesampai di penginapan, mandi malam pun jadi segar. Meriang dan tenggorokan gatal seret hilang sudah.

Namun, ada pertanyaan terpendam saat baru tiba di bandara Juanda dan jalan kaki saat itu. Kami warga Batam sudah  mulai pakai masker saat itu, tapi " Kok di sini (Surabaya) belum ada yang pakai masker?"

Pertanyaan itu kutanyakan kepada staf hotel. Jawabnya, Corona belum ada di Surabaya. Jadi warga ya biasa saja.

Usai pekerjaan di Surabaya, kembali ke Batam, Minggu, 8 Maret 2020. Penerbangan Sore. Dari Surabaya, saya sudah berencana, harus ibadah apa pun ceritanya. Sudah kuperhitungkan dengan matang, kalau pun pesawat delayed sejam, tiba di Batam sekitar pukul 5.30 PM. Hanya 30 menit dari bandara ke rumah. Ibadah sempatlah. Simpan tas langsung ke gereja.

Tuhan baik. Semua berjalan sesuai rencana. Tak sempat mandi lagi memang. Buka pintu, letak tas, cuci muka, tanpa ganti baju, ambil kunci kendaraan, dan langsung berangkat ke gereja. Sebelumnya, di bandara, kepada rekan dari Sumut Pos, saya pamit tak bisa menemaninya ngobrol saat menunggu transit sebelum terbang kembali ke Bandara Kuala Namu di Deli Serdang, Medan, Sumatera Utara. Saya harus kejar ibadah sore.

Benar saja. Minggu itu menjadi minggu terakhir ibadah di gereja. Minggu depan selanjutnya sampai sekarang, tak ada lagi aktivitas itu. Maha baik Sang Maha menyentuh hatiku yang masih suka on-off ke gereja. "Kamu ibadah sana!!! Sementara, ini jadi ibadah terakhir di gereja dulu. Jangan leyeh dan males-malesan" seolah Doi bilang gitu. Asyik memang cara Tuhan mengingatkanku. Seolah saya di Minggu itu menjadi anakNya yang religius padahal aslinya? Kristen bolong-bolong. Hahaha.

Senin keesokan harinya,  jadwal kantorku sore hari. Indonesia baru saja mengumumkan Corona sudah mewabah. Batam gentar. Kantorku apalagi.

Setelahnya, ada satu malam, kami para redaktur diminta rapat mendadak. Terkait penanganan dan pencegahan virus ini. Saat diminta itu, benar-benar mencekam (ini nggak drama, asli memang perasaannya begitu. Semua mendadak takut dengan virus ini). Mengatasi social distancing, redaksi membuat kebijakan: reporter tak perlu ke kantor (nggak wajib); redaktur diliburkan selang-seling (satu hari kerja, satu hari libur). Sistem penugasan berubah. Semua itu bertujuan untuk JAGA JARAK. Benar-benar Social dan Physical distancing kami laksanakan.

Lalu Batam gempar gegara Mahasiswa yang dipulangkan dari Wuhan melalui Bandara Hang Nadim. Kabarnya mereka akan dikarantina di Asrama Haji di Batam Center. Banyak warga protes, Sosial media riuh gemuruh. Beberapa warga ada yang lebay. Menolak seolah para mahasiswa itu pembawa virus, tak layak dikarantina di asrama haji, mengingat lokasinya dekat dengan tempat peribadatan dan pusat kota.  Bahkan ada yang mengancam-ancam segala. 'Huh manusia kok begitu sik? Takut boleh tapi antipati jangan'. Namun nyatanya, para mahasiswa tersebut dikirim ke Natuna. 

Kemudian, Batam mulai serius menghadapi kasus ini. Gempar hingga takut berlebihan. Bermula seorang pendeta meninggal dan dinyatakan Covid-19 setelah meninggal. Kabarnya, beliau baru saja mengikuti acara di Bogor. Selang beberapa hari, seorang petinggi perusahaan yang baru kembali dari Jakarta, dinyatan terkonfirmasi positif Covid-19. Dirawat hampir seminggu di RS rujukan pemerintah, lalu meninggal. Viral. Apalagi curhatannya mengenai pelayanan rumah sakit yang sangat-sangat buruk. Begitu kejadian, jalanan Batam yang biasanya selalu ramai,  pukul 18.00 WIB saja sudah seperti pukul 00.00 WIB. Lengang.  Lalu timbullah hoax. Menurut status "orang itu" ada yang positif di kantorku. Hari itu teleponku beberapa kali berdering. Menanyakan "benarkah kabar itu? Apa saya baik- baik saja?"

Saya yang belum terima kabar apa-apa nggak bisa jawab. Tapi saya tanya kembali: "Gedung perkantoran di Batam yang bernama Graha ada dua. Graha Pena di Batam Center dan Dana Graha di Nagoya. Coba pastiin. Soalnya perusahaan yang disebutkan itu nggak pernah dengar ada di gedung yang sama denganku di Graha Pena". Benar hoax. Pasien positif, almarhum itu berkantor di Dana Graha. Bos sebuah perusahaan.

Ada pasien Covid-19 meninggal, kantor kemudian memperbaharui kebijakan. Mendadak mengumumkan rapat terbatas. Saat itu saya jadwalnya libur. Diminta kembali ke kantor membahas kemungkinan skenario terburuk untuk sistem kerja dan sistem penggajian. Malam hari. Saya ketakutan. Jelas. Dengan mengenakan masker, topi, dan faceshield saya berangkat. Dan skenario terburuk itu, beberapa terjadi dan kami alami sekarang. Namun saya tetap bersyukur masih diberi kesehatan hingga pada detik menuliskan ini.

Selanjutnya, kasus makin bertambah, kami kembali diberlakukan kebijakan Social Distancing dan Physical distancing. Tim dibagi dua untuk menghindari keramaian di kantor. Satu tim diliburkan sebulan, tim yang lain masuk bulan depannya. Sudah berjalan dua bulan ini. Saya tim yang diliburkan Juni. 

Seluruh lini akibat corona ini terdampak bagiku. (Mungkin) bagimu juga. Beberapa tugas luar kota dan luar negeri yang harusnya saya hadiri dipostponed. Hampir semua dibatalkan. Undangan liputan lokal, saya tolak halus demi menghindari kontak langsung, menghindari virus. Kalau berkenan, lewat daring saja. Ada yang setuju, lalu ada yang membatalkan. Semua lini berubah, hampir semua sistem berubah. Kita mau nggak mau harus masuk ke pusaran sistem baru ini.

Saya di tengah pandemi corona... 
Seolah memberiku gambaran bagaimana tak enaknya seorang tawanan rumah. 
Menjadikanku nggak bisa bohong. 
Misalkan neh: “Chaya dimana?”
Nggak bisa lagi menolak dengan jawaban bohong: "lagi ngumpul ama teman atau lagi di kantor" Lha wong seringnya WFH mulu.

Saya di tengah pandemi corona...
Membuat berat badan bertambah, tapi isi dompet menipis sampai setipis sangge-sangge (daun srei). Hahaha
Ah disyukuri saja.
Di balik kepahitan, ada rasa manis.
Di balik duka, ada suka.
Di balik hujan, ada pelangi.
Pun demikian.....
Di balik wabah, Sang Maha memperbaiki semua dengan caraNya
Di balik wabah, semua pasti selesai dan menjadi lebih baik.
Semua baik.




New normal versi isotys: 1. Semprot kursi-meja sebelum duduk. 2. Buka pintu pake kaki (syukur2 dibukain stafnya sambil cek suhu) 3. Dikit2 pake hand sanitizer. 4. Masker ga pernah lepas kecuali saat makan dan minum. Kadang lupa, mau sedot minuman eh masker masih nempel. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. • • Ini pertemuan setelah beribu tahun ga ketemuan. Dari mulai Dominic umur 5 bulanan sampai mau ulang tahun kedua. Temen apaan gua? “Chay, jangan sampai Dom udah mau married baru kita ketemu” ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ • • So happy for today dear siao meimei ๐Ÿ˜˜. Next time, klo udah bener2 normal, kita ngumpul lagi bareng Aju, baby Dom dan mengisotys bersama ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿฅฐ #Friendship #sisterfromanothermother๐Ÿ‘ญ #newnormal #covid19 #Covid19goaway #2020dontgiveup #afterofficehours

Sebuah kiriman dibagikan oleh C.O.Simanjuntak (@chaycya) pada


Ps: Selalu pakai masker, jaga jarak aman, dan rajin cuci tangan atau pakai hand sanitizer ya semuanya...!!!

Salam and all love,
Chya

9 comments :

  1. Awal Maret suami saya juga ke Surabaya. Pas dia pulang, tiba2 saya kena flu. Tapi sembuh karena vitamin c dan obat flu. Sampai sekarang, saya menduga itu flu apa.
    Btw, soal masker saya juga kesel karena mahal dan langka barangnya...

    ReplyDelete
  2. Salam kunjungan dari Malaysia dan follow disini ya :)

    ReplyDelete
  3. Akhir februari, tepatnya mertuaku ngajak untuk trip ke Jogja dan sampai-sampai harus cancel pesawat karena besoknya pak pres ngumumin ada 2 org yg positif covid-19. Semoga kita sehat2 ya

    ReplyDelete
  4. Seru kali ceritanya.
    Saya juga salah satu orang yang menganggap berita akan Corona itu 'lebay' awalnya. Tapi sekarang sudah tidak lagi kok, sudah menganggapnya sesuatu yang serius.
    Enaknya kantor swasta itu sigap banget menanggapi kasus begini, beda dengan kantor pemerintahan seperti kantorku. WFH itu cuma 3 bulan (Maret- Mei). Bulan Juni. semua sudah harus masuk 100%, bahkan yang umurnya >45 tahun. Kan ngaco. APakah ada protokol kesehatan di kantor? Cuma awal-awal aja, sisanya pada cuek.

    Apa yang saya alami selama WFH justru berkebalikan sama kamu. Saya jadi bisa lebih banyak berolahraga dan makan jadi lebih sehat & hemat karena mama yang masak. Ahahahaha

    ReplyDelete
  5. Saya juga ke Bali akhir Maret malah dan sempat ke Labuan Bajo. Tapi karena Kawasan Komodo tutup balik deh ke Bali dan suasana di bandara benar-benar beda. Apalagi pas mau balik ke Batam transit di Surabaya, masuk bandara penumpang disemprot desinfektan. Agak ngeri-ngeri sedap selama perjalanan.

    ReplyDelete
  6. Berasa jungkir balik deh saya ketika Corona akhirnya datang ke Indonesia. Sekarang memang jadi banyak parnonya. Tenggorokan gatal sedikit aja suka langsung kepikiran

    ReplyDelete
  7. Awal Maret saya masih di Jogja, dan nggak lama saya memutuskan untu pulang ke Bekasi karena perkuliah mulai menggunakan daring. Suntuk banget tapi mau gimana lagi hehe. Semoga pandemi ini segera berakhir yaa mbak biar bisa menjadi kehidupan seperti biasanya aamiin

    ReplyDelete
  8. MEmbaca tulisan ini berasa deg-degan ikut penelusuran Corona Kakak. Semacam flashback dengan kejadian-kejadian beberapa bulan terakhir yang Saya baca di media. Selama Corona ini, Saya memutuskan stay di Tasikmalaya, sebelum PSBB diberlakukan Kami memang sudah disini, tidak berani pulang karena rumah Jakarta masuk zona merah. Dan sekarang merahnya makin meluas. Semoga pandemi ini lekas usai, dan kita smua diberikan kemudahan, kesehatan & perlindungan Tuhan

    ReplyDelete
  9. sejak awal ada berita virus ini di wuhan aku menduga bakalan jadi wabah soalnya penyebarannya cepet banget meski waktu itu mortality ratenya rendah. Tapi manusia kan emang kalo ga ngadepin sendiri banyak ga percayanya

    ReplyDelete

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates