Melihat Morea Raksasa di Negeri Waai

Ade cantik dari Negeri Waai, Maluku Tengah.
AMBON merupakan ibu kota Provinsi Maluku. Pulau yang terkenal dengan aneka wisata pantai, benteng peninggalan penjajahan Belanda, gereja hingga kawasan bersejarah. Kota teluk yang sangat indah. Dimana apabila dilihat dari udara, seluruh kawasannya, baik perbukitan atau lembahnya dikelilingi laut dengan air yang jernih.

Namun, mari sejenak menjauhkan diri dari wisata pantai dan wisata sejarah Ambon yang tersohor itu. Saya ingin mengajak Anda mengunjungi Negeri Waai di Kelurahan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah. Oh ya, Maluku oleh para warganya disebut dengan Negeri Para Raja-raja. Setiap desa disebut dengan negeri. Provinsi ini tak bisa dilepaskan dariku. Saya dari kekerabatan ayah, berhubungan erat dengan salah satu fam di sana. Tahalele dari Tanah Booi di Saparua tapi sudah sejak lama pindah dan menghuni Kudamati, salah satu kawasan di perbukitan Kota Ambon.

Penerbangan Garuda Indonesia GA 153 membawaku dari Bandara Hang Nadim menuju Ambon, setelah 3,5 jam transit di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta. Tiba di Ambon sudah dini hari. Langsung menuju penginapan di Pacific Hotel di kawasan Sirimau, Kelurahan Rijali, di pusat kota. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 WIT. Batam dan Ambon berada di zona waktu yang berbeda. Batam di GMT +7, sedangkan Ambon di GMT +9. Artinya waktu di Ambon lebih cepat dua jam daripada waktu di Batam (WIB). Jetlag? Tidaklah. Sangat cepat kok menyesuaikan, hitung-hitung latihan sebelum mengunjungi Jepang di akhir bulan nanti.
GONG Perdamaian dunia di pusat Kota Ambon.
Selama di Ambon, sebelum mengunjungi Negeri Waai, terlebih dulu mengelilingi beberapa spot wisata di pusat Kota Ambon. Seperti Monumen Peringatan Gong Perdamaian Dunia dan Taman Ambon Manise yang di sana terdapat patung Thomas Matulessy, sang pahlawan nasional yang dikenal dengan nama Kapiten Pattimura (wajahnya ada dalam cetakan uang Rp 1000 lama). Dan kini, tibalah saatnya menuju Negeri Waai. Ke sini, saya ditemani jong Ogi, kenalan baru selama di sana.
PEMANDANGAN Teluk Ambon dari Bukit Karpan.

Menuju Negeri Waai ini, kami melewati kawasan Pantai Natsepa yang tersohor dengan pantai pasir putih dan rujak pedasnya. Ada juga Pantai Hollywood, dan juga Negeri Tulehu gudangnya para pemain sepakbola Ambon.  Jaraknya, sekitar 34 Km atau dua jam dari Bandara Internasional Pattimura, atau sekitar 23 Km dari pusat Kota Ambon. Saya memutuskan mengunjunginya, karena di desa ini ada sungai Waiselaka yang di sumber mata airnya ada ratusan morea atau belut. Beberapa diantaranya panjangnya di luar pemikiran manusia. Sekitar satu meter sampai tiga meter.

 "Ada yang panjangnya tiga meter. Sebesar batang pohon. Tapi jarang keluar. Dia pu badan keluar kalau dipanggil pawangnya, penjaga tempat ini. Dia ada di situ," ujar Ogi sambil menunjukkan pohon besar yang akarnya tebal dengan sebuah lubang besar berbatu di pinggir kiri akar.

Menurut Ogi, dia sudah beberapa kali melihat belut tersebut di sini. Namun saya sendiri, nggak berhasil melihat the king of morea itu. Saya hanya berhasil melihat morea berukuran hampir satu meter yang berjalan perlahan ke tempat persemayamannya di tumpukan bebatuan dekat sumber air. Mereka bisa kompak keluar, kala warga memberi makan mereka dengan telur lewat pawang yang juga tinggal di rumah sekitar sungai.

Sementara beberapa meter dari pembatas sumber air yang ada jembatan kecil, ada puluhan morea ukuran normal, demikian juga dengan ikan mas dan beberapa jenis ikan sungai lainnya. Mereka menyatu dengan warga yang mencuci kain dan piring atau bahkan mandi di sana.

Di sini, orang menyebutnya sungai atau air Waiselaka. Tapi ukurannya tak seperti sungai. Seperti parit besar saja, yang ditembok kiri-kanan. Airnya pun tak tinggi, hanya hampir sebatas lutut orang dewasa. Kala saya ke sana, di pinggir sungainya, beberapa usi dan nona terlihat mencuci kain. Meski kegiatan mandi-cuci diadakan sebagian besar warga di sini, tapi air sungainya tetap jernih.
JEMBATAN pembatas antara sumber mata air dan sungai Waiselaka kerap dijadikan tempat foto para pendatang, seperti dua turis dari Papua ini.
BETA pu ade sedang mandi e.. haha Siapa sih yang nggak tahan berendam di air sejernih ini.
Can you spot ikan mas here?
Oleh salah seorang usi. Saya lupa namanya. Menyebutkan, cuma Sungai Waiselaka satu-satunya sumber air bersih di desa mereka ini. Dan mengenai belut di Negeri Waai ini,  warga terlarang mengambilnya. Kalau dari sungai atau sumber lainnya, bebas.  Kenapa? karena belut di Waiselaka dianggap keramat karena berhubungan langsung dengan sejarah terbentuknya nama Negeri Waai.

Saat berbincang dengan warga setempat yang tengah asyik mencuci pakaian, salah satu diantara mereka yang kemudian ditimpali yang lainnya, menyebutkan bahwa wai artinya air. Sementara waai artinya sumber air. Jadi, Negeri Waai bisa dikatakan Desa Sumber Air. Dimana Sungai Waiselaka menjadi sumber kehidupan warganya kini.

Dinamakan Negeri Waai, menurut omon Matakupan, karena negeri ini diapit sungai-sungai besar yang bersumber dari pegunungan Salahutu di zaman dulu.

Oh ya, omon (paman) Matakupan ini adalah salah satu yang dituakan di Negeri Waai. Rumahnya seperti istana yang hanya berpagar taman. Paling besar diantara rumah-rumah warga lainnya. Putri omon ini, usi Thresia, mengabdi sebagai seorang dokter di sebuah klinik di Batam. Putrinya inilah yang mempertemukan kami dengan keluarga besarnya.

Morea.

 Berdasarkan cerita omon Matakupan kala menjamu kami makan malam di rumahnya, terbentuknya negeri ini, tak bisa dilepaskan dari penyebaran Agama Kristen saat zaman penjajahan Belanda dulu.

Atas anjuran seorang zending di Salahutu, yang meminta tujuh desa dipindahkan ke kawasan pantai supaya lebih dekat dengan perdagangan, dan pemenuhan kebutuhan hidup lebih cepat didapat para warga. Oleh salah satu pemimpin tujuh negeri, ia melemparkan tombak saktinya untuk memilih negeri dekat pantai yang akan dihuninya bersama warganya kelak.

Tombak yang dilemparkan dari Pegunungan Salahutu menancap di Negeri Waai. Kala tombak itu dicabut oleh pemiliknya, muncul mata air jernih di sana berikut morea. Sejak saat itu hingga kini, morea itu bersemayam di sana, dan yang ukurannya paling besar dipercaya adalah morea pertama yang muncul kala air jernih memancar untuk pertama sekali.

"Kalau mau cerita lengkapnya, bisa baca Buku Sejarah Asal-Usul Terbentuknya Negeri-negeri di Ambon," ujar omon Matakupan.
PLANG wisata air Waiselaka di Negeri Waai, Salahutu, Maluku Tengah.
RUMAH keluarga omon Matakupan di Negeri Waai.
Terlepas benar atau tidaknya cerita tersebut, khususnya mengenai belut yang dianggap keramat, saya tidak terlalu meyakininya. Cerita seperti ini juga ada di daerah kelahiranku, dimana ihan (ikan khas Batak) di salah satu sumber mata air di Sirambe, Bonan Dolok, Kabupaten Tobasa, tidak boleh diambil. Terlarang. Katanya, kalau diambil, dimasak, ihan tersebut tetap akan mentah, dan orang yang mengambilnya pasti meninggal. Apakah benar? Sampai sekarang tidak terbukti sih, hanya saja warga sekitar tidak pernah mau mengambil ihan dari sumber air tersebut. Nah mirip kan?
KELUARGA omon dan tanta Matakupan.
Alam Negeri Waai ini, khususnya Waiselaka sangat rindang. Khas pedesaan di Indonesia umumnya. Di antara sungai tersebut, banyak tumbuh bambu dan pepohonan. Warga di sana juga sangat ramah bagi pengunjung luar Ambon seperti saya ini.

ALIRAN air sungai Waiselaka.
RUMAH warga di Negeri Waai.
Kebanyakan rumah di sana adalah rumah permanen yang terlihat baru saja dibangun. Ternyata, negeri ini beserta Negeri Bagoala di sebelahnya pernah terbakar habis. Kondisinya kala itu mencekam karena saling serang kala kerusuhan Ambon 1999 lalu. Namun beberapa tahun setelah kerusuhan, sebagian besar warga yang saat itu menyelamatkan diri dengan cara mengungsi ke Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi, Papua, Pilippina, dan Timor Leste memilih pulang dan membangun rumah mereka kembali di sana. Baik Negeri Waai maupun Negeri Bagoala kini hidup berdampingan secara damai. Mereka kini menjadi contoh persatuan yang tidak mau lagi dipecah belah, dengan tetap mengumandangkan Katong Samua Basodara yang ditandai dengan monumen Gong Perdamaian Dunia.

Nah, bagi teman-teman yang berkunjung ke Ambon, bisa menjadikan Negeri Waai ini menjadi salah satu destinasi wisatamu.  Selain bisa melihat dan memberi makan morea raksasa di sini, bisa juga mengunjungi Air terjun Waai. ***
BETA pu ade kecapean mandi.. wkwk
ASYIK liat morea. Tapi klo didekati saya kabur juga.
PS: Terimakasih buat omon dan tanta Matakupan atas undangan makan malam khas Amboinanya. Menikmatinya sambil dengar cerita menarik mengenai Ambon sangat bermanfaat bagiku. Thanks juga buat jong Ogi yang menemaniku jalan selama di Ambon. Terimakasih Ambon atas keramahanmu, tetaplah damai dan jadi contoh persatuan yang tidak mau lagi dipecah-belah di negeri ini. Katong samua basodara. God bless us. All love. (*)

21 comments :

  1. Gak ada fotonya kak?
    Aku tau morea juga pas main ke Maluku tapu gak liat cuma diceritain doank pas abis berenang... wkwkwk... bayangkan kalo diceritain sebelum berenang, pasti gak bakal jadi nyemplung aku, udah parno duluan... hahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini fotonya sudah diupdate. hehe
      Oh ya? lihat morea ke Negeri Waai jugakah? Saya juga meski penasaran lihat, saat turun ke sungainya, deg-deg-an juga.. haha

      Delete
  2. Gak kebayang itu belut berukuran 3 meter kayak apa? Mirip piton kali ya? Eh tapi di sana morea ato belut gak boleh dimakan ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Morea yang cuma dari Air Waiselaka saja yang nggak bisa dimakan karena berhubungan dengan mitor terbentuknya negeri/desa tersebut mba. Di luar dari sungai itu, belut boleh kok dimakan.

      Delete
  3. Wah seru sekali pertualangan di wisata maluku.. memang Indonesia memiliki segudang cerita

    ReplyDelete
  4. Indonesia bagian timur sana pemandangannya bagus-bagus, pantainya terawat, orangnya ramah-ramah ya. Uuuuh, kapan eke bisa kesana ya, hahaha.

    ReplyDelete
  5. dan tiba tiba saya merasa ada di sana
    suasananya sepertinya nyaman banget ya
    khas desa yang damai dengan keramahan warganya
    penasaran dengan belut yang panjangnya 3 meter

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget. Saya suka keramahan warga Ambon. Nggak cuma di Negeri Waai saja, saya menerima keramahan juga di Rijali, di Air Salobar, dan kawasan lainnya.

      Saya juga sampai sekarang masih penasaran, belum lihat yang 3 meter soalnya. Keluar hanya kalau dipanggil pawangnya dan itu pun pagi saat diberi makan.

      Delete
  6. duh jadi pengen ke maluku , itu pose dengan model underwear lokal ya kak ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ke Maluku yuk kak. Iya itu beta pun ade, pu nama Stephen. Eh lupa deh siapa namanya. hehe

      Delete
  7. kok seru ya lihat perjalananan ke ambon untuk menyaksikan moera ini

    pengen juga berenang dan bercanda ria bersama moera ...

    menjadi semangat dalam kehidupan nyata

    refreshing ke ambon

    ReplyDelete
  8. Ngeri ikh sampe 3 meter yang paling gede moreanya..
    Saya mah udah kabur duluan itu, hehe..

    ReplyDelete
  9. Mamaeee.. beta rasa nostalgia lai. Su setahun beta kas tinggal Amboina, sblm akhirnya beta harus pindah ke Ibukota

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh.. ale pernah tinggal di Ambon-kah? Ambon mana?
      Beta juga supaleng rindu Ambon e..

      Btw, salam kenal ya..

      Delete
  10. jarang diekspos ya ambon...aku suka lihat moreanya

    ReplyDelete
  11. Yang membuatku terkesan adalah rumah keluarga Matakupan yang kelihatan terang benderang dan fasadnya tegas tapi ramah mengundang. Sepertinya pemiliknya senang menerima tamu.

    ReplyDelete

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates