Mengunjungi Armenian Apostolic Gereja Tertua di Singapura

BANGUNAN putih berstruktur segi delapan yang dilengkapi tiang-tiang bulat itu berdiri kokoh di pusat Hill Street yang ramai. Desain bangunannya klasik. Kawasannya, kontras dengan bangunan di sekelilingnya yang sudah mulai banyak dipadati bangunan tinggi, khas negara Kota Singapura.

Bangunan ini dikenal dengan Armenian Church Singapore, atau Gereja Armenian Santo Gregorius sang Illuminator. Ini menjadi gereja tertua di Singapura yang berdiri pada 1835 lalu atau 16 tahun setelah Inggris menduduki Temasek, Singapura kini. Tahun berdiri ini diperkuat dengan angka 1835 yang terukir di bagian dinding atas bangunan luar gereja.
Kawasan Gereja Armenia ini terdiri dari dua bangunan utama, yakni gereja dan rumah pendeta yang juga berfungsi sebagai ruang galeri dan kantor administrasi gereja. Bangunannya berbentuk klasik khas Melayu. Semuanya bercat putih. Rumah ini menjadi pertanda bahwa Singapura, pernah berada di bawah pemerintahan Kesultanan Johor, sebelum pada 1819, diambil alih oleh Sir Thomas Stamford dari Inggris.

Awalnya, saya sempat mau membatalkan masuk ke kawasan gereja ini, karena di pagar masuknya terpampang peringatan: Dilarang masuk, khususnya yang mau mengadakan foto pre-wedding atau pun bagi mereka yang mengambil foto untuk kepentingan komersial.

Namun, ada satu lagi tulisan yang tergantung di halaman gereja, sebelah kanan gerbang masuk: 'Armenian Church of St Gregory The Illuminator. Bebas bagi siapa pun mengunjungi gereja ini, tapi mohon jaga kesopanan dan suara supaya tidak mengganggu umat yang sedang berdoa'. Memang, gereja aliran apostolik, bagian dari ortodoks seperti Gereja Armenia ini sangat terkenal dengan keheningan dan keteraturan liturginya saat beribadah.
Mengunjungi kawasan gereja ini, suasana teduh langsung terasa karena sebagian besar kawasannya ditumbuhi aneka pohon dan rumput hijau. Di sebelah kirinya, terdapat beberapa patung hitam yang mengisahkan kisah sengsara Yesus memangku salib. Sementara di sebelah kanan, di beberapa teras gereja yang dipisahkan tiang bulat, terletak begitu saja patung besi malaikat yang diyakini Santo Gregori. Patung malaikat duduk itu sudah sangat tua dan hitam. Tak hanya itu, di kawasan gereja ini juga terdapat puluhan burung merpati yang sangat bersahabat dengan pengunjung.
Kalau biasanya pintu masuk utama gereja berada di depan yang berhadapan langsung dengan jalan. Tapi tidak dengan gereja ini. Bangunan belakangnya yang berhadapan langsung dengan jalan raya Coleman, dimana di dalamnya, langsung altar utama dengan kubah tinggi. Pintu utama gereja dengan dua pintu samping, justru di bagian tengah halaman, yang berdampingan langsung dengan rumah pendeta di sebelah kiri, dan makam atau memorial garden di bagian kanan.

Sore itu, di depan pintu gereja, terdapat pasangan oriental yang tengah menunggu umat lainnya selesai berdoa di gereja. Sebelum mereka, ada seorang ayah dan dua anaknya yang tengah terburu-buru masuk ke gereja. Mereka langsung duduk di kursi kedua dari belakang dan mengikuti liturgi yang di hadapan mereka tertempel lukisan The Last Supper. Berdasarkan laman resmi www.armeniansinasia.org, gereja ini buka setiap hari mulai pukul 09.00 - 18.00 waktu Singapura.

Berdasarkan informasi gereja, arsitektur gereja ini dibangun seorang Irlandia, George Drumgold Coleman. Rancang bangunnya, ia tiru persis mengikuti gereja apostolik mula-mula Armenia di St Gregory di Kota Echmiadzin. Nama Coleman sendiri tak asing di sejarah arsitektur pembangunan Singapura, karena ia salah satu insinyur teknik sipil terkenal di sana di zaman koloni Inggris. Ada beberapa bangunan hasil karyanya yang masih eksis hingga saat ini, seperti istana Kampung Gelam, dan gedung Parlemen Singapura.
Selain bangunan, yang menarik dari kawasan gereja ini adalah beberapa kuburan di dalamnya yang membentuk setengah lingkaran. Meski kuburan, tapi tidak ada kesan horor, melainkan seperti sebuah taman karena di sekitarnya terdapat kursi taman putih khas rumah klasik. Di bagian tengah taman itu terdapat tugu peringatan untuk menghormati komunitas kecil Armenia di Singapura.
Kawasan taman di bagian dalam ini sangat tenang dan damai. Cuitan puluhan burung merpati di tamannya mampu mengalahkan kebisingan kota di sekilingnya. Saya memilih membaca satu per satu nama nisan yang terdapat di taman tersebut. Nisan itu terdiri dari dua bahasa, yakni Bahasa Armenia yang rada mirip aksara sirilik Rusia dan juga Bahasa Inggris.

Ternyata dalam perkembangannya, kemajuan Singapura juga dipengaruhi oleh komunitas Armenia. Sebut saja, di memorial garden gereja ini, terdapat beberapa nisan para orang berpengaruh Singapura pada zamannya. Sebut saja Catchik Moses, pendiri Straits Times yang menjadi cikal bakal surat kabar Singapura hingga kini. Dalam nisannya, disebutkan Moses dilahirkan di Basra, Armenia 1812 dan meninggal di Singapura pada 1895.

Semasa hidupnya, Catchik Moses adalah seorang pedagang. Sebagai perantau di Singapura, ia bersama temannya Martyrose Apcar, mendirikan surat kabar lokal The Straits Times. Namun setahun kemudian, teoatnya pada 15 Juli 1845, ia menjual surat kabar tersebut ke Pemerintahan Inggris di Singapura dan berubah nama menjadi The Straits Times and Singapore Journal of Commerce.

Awalnya Moses dimakamkan di Pemakaman Bukit Timah. Namun oleh komunitas Armenia Singapura, nisannya kemudian dipindahkan ke kawasan gereja pada 1970 lalu.

Tak hanya Moses. Di taman gereja itu juga terdapat nisan Agnes Joaquim, seorang perempuan keturunan Armenia, berkebangsaan Inggris, yang dilahirkan di Singapura. Pemilik nama asli Ashkhen Hovakimian inilah yang menjadikan Anggrek (Singapore vanda orchidacae) menjadi bunga nasional Singapura. Tak hanya mereka, The Sarkies Brothers, pendiri hotel besar di Asia Tenggara zaman dulu juga, nisannya disemayamkan di taman gereja ini.
Eksplorasi penyebaran agama Kristen di Singapura sendiri dimulai sejak kota ini dijadikan koloni Inggris. Hal ini terlihat dari berbagai jenis gereja dengan arsitektur kolonial. Sebut saja Armenian Apostolic Church, St Andrew Cathedral Anglikan Church, dan gereja lainnya. Bangunan ini mengungkapkan penyebaran Kristen yang beranekaragam pada awal terbentuknya negara yang terletak di Selat Malaka ini.
Oh ya, untuk menuju kawasan Armenian Church ini, bisa diakses menggunakan transportasi publik MRT. Gunakan line hijau dari Bandara Internasional Changi, transit di Tanah Merah, lalu lanjut dengan tetap memilih line hijau menuju stasiun City Hall. Dari City Hall, pilih jalur exit D hingga menuju bangunan Stamford Theatre. Di seberang Stamford Theatre ini, sudah terdapat gereja bersejarah lainnya, yakni St Andrews Cathedral. Pilih jalan ke kiri hingga tiba perempatan, belok kiri, lurus ke belakang hingga tiba Coleman Street. Di sanalah terdapat bangunan gereja ini.
Bangunan ini juga sangat dekat dengan Esplanade park, Museum Pilateli Singapura, dan icon Singapura, Merlion park dan Marina Baysands. ***

12 comments :

  1. wah keren yak kak bentuk bangunannya peninggalan zaman dulu banget dan masih terawat dan cantik nih gerejanya

    ReplyDelete
  2. Suasana Gereja tenang dan nyaman buat baca buku ya kak, sambil nunggu teman ibadah, bolehlah duduk santai di sana.
    Ternyata bangunan rumah klasik pendeta, keren juga kalo di cat putih.

    ReplyDelete
  3. Arsitektur bangunannya indah ya kak.
    aku pikir gereja sejenis ini dilarang dikunjungi selain untuk ibadah.
    ternyata cukup terbuka juga ya :)

    ReplyDelete
  4. Arsitekturnya bagus banget ya kak.tamannya bagus. pantesan gak boleh prewedding. wong tempatnya bagus gitu. kalau boleh dah penuh sama orang orang yang prewedding pasti tuh

    ReplyDelete
  5. Kalau liat bangunan rumah pendeta itu jadi ingat bangunan yang ada di belakang padang deh. terutama jendela-jendela tinggi-nya itu. klasik.

    ReplyDelete
  6. Wahh bisa dikunjungi umum, klasik modelnya suka... Bagus buat foto2 ya kak... Pantes ada yang sampe prewedd di sana. Cakeppp....

    ReplyDelete
  7. Lihat bangunannya kayak di Eropa gitu ya. Ternyata banyak tempat-tempat di Singapura yang saya belum tahu. Kalau kesana ke patung Merlion aja. Wkwkwk...kesian..kesian Saia..

    ReplyDelete
  8. Gereja memang identik mbak yah dengan warna putih, arsitekturnya juga sangat bagus,apalgi tamannya bagus dan luas, untuk sekdar duduk-duduk itu adem yah...

    ReplyDelete
  9. Balik lagi ah ke singapore gara2 cahaya hihihi pengen banget lihat gereja lama lama.... Keren banget ya designnya... How to go there di catat ah

    ReplyDelete
  10. Baru nyadar juga kalau pembangunan Singapura tidak lepas dari kontribusi orang Armenia. Pendiri Straitstimes juga Armenia. Selalu menarik belajar sejarah beginian. Mamaci kakak untuk sharingnya dan jadi punya destinasi lain kelau ke Singapura.

    ReplyDelete
  11. klasik banget ya gerejanya
    adem dan tenang...kontras dengan singapura yg megapolitan

    ReplyDelete
  12. Kalo traveling aku paling seneng melihat bangunan2 tua seperti ini, apalagi yg msh terawat banget. Lbh bersyukur lg kalo ada guide ato informasi jelas ttg sejarah bangunannya :) . Lgs ngebayangin gimana rasanya balik ke masa itu :)

    ReplyDelete

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates