Latest Posts

Mengunjungi Na Tho Duc Ba, Gereja Bersejarah di Ho Chi Minh

By Friday, November 24, 2017 ,

PAGI itu saya memutuskan bangun lebih cepat dari hari biasanya. Memutuskan mengelilingi kota Ho Chi Minh sendiri tanpa bantuan paket tour. Saya memberanikan diri dimana hari sebelumnya, Thom, pemilik hotel tempatku menginap di De Tham Street, mengingatkanku akan bahaya Ho Chi Minh yang banyak scam dan pencopet.

"Hati-hati kameramu. Jangan kalungkan begitu. Apa kau tak punya ransel? tasmu ini rentan kena copet. Hati-hati," ujarnya sambil menarik tas sandang Levi's-ku, memeragakan bagaimana para copet menjalankan aksi mereka.
Thom menyebutkan, hampir setiap hari kejadian pencopetan terjadi di pusat Kota Saigon itu. "Jaga tasmu dan selalu waspada," ujarnya perhatian.

"Tak perlu takut Thom, saya akan menjaganya. Terimakasih," ujarku lalu duduk membaur bersama para tamu hotel menikmati sarapan roti Prancis baguette dengan selai strawberry dan mentega, telur orak-arik, sebiji pisang, dan minuman dengan pilihan kopi susu dan teh di lobi hostel.

Penginapanku selama tiga hari di Ho Chi Minh ini memang agak sulit ditemukan. Masuk gang 50 meter dari De Tham Street. Hanya saja, dari gang kecil itu, tembus sekitar 100 meter menuju pusat berkumpulnya para backpacker lintas negara di Pham Ngu Lao Street, dan terhubung ke pusat kuliner Bui Vien Street yang kalau malam berubah jadi kawasan 'merah'. Lokasi penginapanku ini sangat strategis. Backpacking Club Hostel namanya.
BAGIAN depan gereja Na Tho Duc Ba.
Pamit ke rekan satu penginapan, pria Korea Selatan yang curhat visa China-nya ditolak dan ke dua traveler Rusia, Sofia Kazipova dan Baina Uchaeva. Mereka menjadi temanku berbincang saat sarapan. Dua perempuan Rusia ini,menjadi temanku hingga saat ini. _ Kawan, kukatakan padamu, salah satu dari sekian banyak nikmat solo traveling itu adalah: bertemunya engkau dengan orang-orang baru antar negara, lintas benua dan lintas etnik, dan atas persetujuan seleksi alam, ada beberapa diantaranya yang menjadi teman bahkan menjadi sahabat. Catat itu_

Memilih keluar dari De Tham, belok kanan, lalu jalan lurus menuju taman hutan kota, salah satu peninggalan terbaik dari 150 tahun penjajahan Perancis di  Ho Chi Minh, khususnya di Distrik 1. Taman ini masih terawat hingga sekarang dan sudah dilengkapi sarana olahraga yang kerap kali ramai oleh warga kala sore tiba.

Taman ini berseberangan dengan pasar tradisional Ben Tanh yang tersohor sebagai pusat oleh-oleh. Di pasar ini, para turis harus ekstra hati-hati dengan trick pedagangnya yang terkenal dengan tipu muslihatnya dalam menarik pembeli.

Negara para Nguyen ini juga terkenal dengan ke-semrawut-an lalu lintasnya.  Setiap hari, setiap saat, ribuan pengguna jalan raya, khususnya motor dan mobil tidak menaati rambu lampu lalu lintas, asal serobot dari kiri, dan sesuka hati berhenti dimana saja pengendara mau.  Sebagai mahluk yang masih sayang nyawa, otomatis saya agak keder juga saat mau menyeberang menuju pasar Ben Tanh. Zebra cross disana tak berfungsi.  Menyeberang jalan raya di sana, menjadi tantangan tersendiri. _Dan saya lulus setelah tahu triknya di hari ke lima di sana, yaitu ngotot nyebrang sambil cuek atau bila perlu pelototin pengendara motor atau  mobilnya. haha_

Berhasil menyeberang, masuk sebentar ke pasar Ben Tanh, lalu kembali memilih jalan sebelah kanan menuju Saigon Hotel. Bermodalkan peta wisata (saya ambil dari bagian informasi bandara Tanh Sonh Nhat sesampaiku di sana) saya pun mengeksplorasi Distrik 1. Mengunjungi Ho Chi Minh Park dan  mengabadikan bangunan-bangunan lama berarsitektur Perancis yang kelihatan tak terawat di sekitarnya, lalu mengunjungi Reunification palace yang dijaga ketat polisi Vietnam. Ho Chi Minh atau Saigon, merupakan kota paling sibuk dan modern di bagian selatan.
Setelah membeli roti dan buah potong sebagai bekal makan siang, saya pun mengunjungi gereja bersejarah Saigon Notredame Basilica atau Gereja Katolik Santa Regina Pacis. Oleh warga Vietnam, menyebutnya Na Tho Duc Ba atau Gereja Bunda Perawan Suci.

Gereja ini, letaknya di pusat Kota Ho Chi Minh yang dikelilingi jalan raya dari segala arah, berhadapan langsung dengan kantor pos Saigon dan Diamond Plaza. Tamannya, dimana patung Santa Regina Pacis berdiri, tidak menyatu dengan bangunan utama gereja, melainkan dipisahkan oleh jalan raya.

Bentuk bangunannya unik dengan arsitektur Romawi, dimana 90 persen menggunakan batu bata merah dengan dua menara lonceng bertatahkan salib raksasa setinggi 190 kaki yang mengapit salib batu dengan jam bulat di tengahnya. Dari atas, bangunan ini berbentuk salib dengan lebih dari 25 undakan atap dan bagian belakangnya membentuk pola bulat. Gereja ini sendiri dibangun para missionaris Jesuit Perancis dan arsitektur Joules Bourard.

Memilih rute terdekat dari Jalan Alexandre de Rhodes di Beng Nghe, saya dibuat kagum oleh kerapian dan kemegahan bangunannya meskipun sudah berusia 137 tahun. Awalnya, di tempat ini dahulu berdiri pagoda, namun sejak Perancis menjajah Saigon, mereka pun memugarnya dan membangun gereja. Meski memegang paham komunis, tapi perkembangan Katolik di masyarakatnya sudah ada mulai 1800-an oleh pengaruh penjajahan Perancis, dan baru pada 1960-an, secara resmi Paus dari Vatikan mendirikan keuskupannya di negara ini.
Bahagia, saya pun menyentuhkan tangan di dindingnya yang sebelah kiri sambil mengucap syukur. Meski saya seorang Protestan, tapi yang namanya rumah ibadah dari agama apa pun itu, saya sangat menghormatinya. "Finally i can touching you now. Thank God," ujarku kala itu.
Source photo: Robert McIntyre/Pinterest
Kemegahan arsitektur bangunannya bukan hanya di luar saja, melainkan desain interiornya juga. Banyak dinding-dinding tinggi dengan alur ruang, serta kaca patri khas renaissance, dengan patung dan altar klasik, juga deretan kursi kayu yang panjang seperti gereja pada umumnya. Masuk ke gereja ini gratis setiap hari dan dibatasi setiap pukul 14.00 saja.  _Keinginan ibadah Minggu di sana batal, karena saya memutuskan berangkat ke Provinsi Phan Tiet selama dua hari.  Menuju Phan Tiet, bisa ditempuh 5-6 jam menggunakan bus dari Ho Chi Minh_
Kawasan gereja ini selalu ramai pengunjung dari berbagai negara setiap hari. Tak hanya itu, para pedagang juga ramai menjajakan jualannya. Mulai dari pedagang souvenir, buah-buahan, hingga pedagang buku copyan (sebenarnya ini ilegal ya kan) yang sebagian besar para ibu-ibu bertopi lebar khas petani dengan cara memanggulnya menggunakan kayu di pundak.  Ada banyak judul buku yang mereka jajakan, seperti buku perjalanan The Lonely Planet, dan juga buku-buku sejarah perjuangan Vietnam dalam Bahasa Inggris.
Tertarik, saya pun membeli dua buku mengenai sejarah perang Vietnam seharga VND 80 ribu (sekitar Rp 40 ribu,red). Salah satunya Vietnam: A History karangan Stanley Karnow. Dalam buku ini, dibahas mengenai perang Vietnam 1955-1975 dan sekilas mengenai gereja yang dijadikan free zone atau zona damai saat perang antara tentara Amerika dan tentara Viet Cong. Meski perang Indochina tersebut berlangsung selama 20 tahun, bangunan gereja ini tidak hancur walau kawasan di sekelilingnya sudah rusak parah. Selama perang, rumah ibadah ini berfungsi sebagai tempat perlindungan warga dan para jurnalis. Saat itu, penculikan dan pembunuhan sipil yang dianggap pembelot utara rentan terjadi. Kala itu, Saigon di selatan berkiblat ke Amerika.

Matahari sudah dipuncak kepala. Itu artinya, saya harus makan siang dan memutuskan ke taman Le Duan di sebelah kiri gereja. Para pekerja kantoran di sekitar gereja sudah ramai di taman tersebut. Mereka asyik dengan segala aktifitasnya. Ada yang makan bekal siang, membaca buku, tiduran, membeli buah potong dari pedagang ibu-ibu bertopi petani, atau duduk sambil berbincang dengan teman-temannya. Saya pun memilih tempat duduk kosong diantara mereka, lalu menikmati bekal siangku, roti green tea dan buah potong yang saya beli di perjalanan saat menuju gereja ini tadi pagi. ***

PS: Baik Vietnam dan Indonesia di Bagian Barat (WIB) berada pada zona waktu yang sama, GMT +7. Artinya tidak ada perbedaan waktu meski kita di negara berbeda. *

You Might Also Like

14 komentar

  1. Ternyata lalu lintasnya lebih parah dari Indonesia ya..... Kebayang deh riuhnya kalau jalan kaki di sana.... BTW gerejanya apik dan dalamnya bersih, rapi ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sri Murni,
      Iya, lalu lintas disana udah terkenal banget worst. Si Toanh, saat kami ke Pulau Abang memuji kerapian lalu lintas di Batam. "Negaraku lalu lintasnya parah, tak ada yang menaati lampu traffic," ujarnya. Hahaha

      Bener banget, gerejanya cakep dan bersih.

      Delete
  2. belum pernah kesini pas ke ho chi minh, seru ya ngulik sejarah lewat buku pas dinegaranya kak. betewe lintas nya oarah abis. naik motor aja parah apalagi jalan kaki

    ReplyDelete
    Replies
    1. Chotijah,
      Seru banget Chot. Hahaha.. udah ngalami kedangerousan lalinnya disana juga kan..

      Delete
  3. Siapa yang motret Chaycya di depan gereja?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Vicky Laurentina,
      Ada beberapa orang yang tak dikenal yang saya mintai tolong.
      Kalau yg foto nyender di dinding gereja, itu saya minta tolong orang Vietnam, karyawan bank yang tengah beristirahat di sana.
      Kalau yang di taman Regina Pacis, bule pria asal Spanyol, David namanya. Kami gantian saling membantu ambil foto. Sesama solo traveler.

      Delete
  4. Been here too, cakep ini gerejanya, klasik tapi masih bagus, yg di filipina udah tua2 bgt, tp masih bisa dipake jg sih. Kok di Indonesia ga pernah lihat gereja peninggalan belanda ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rina,
      Cakep banget yak gereja ini..
      Saya pernah lihat gereja Katedral Ambon, peninggalan Belanda.

      Delete
  5. Mbak, terima kasih untuk share cerita perjalanan di Vietnam. Ini salah satu negara di Asean yang pengen banget saya kunjungi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Erny Kurnia,
      Terimakasih juga mba sudah berkunjung ke blog saya. Salam kenal.

      Semoga segera terwujud berkunjung ke Vietnamnya ya. :)

      Delete
  6. Pas ngeliat foto bangunannya kupikir ini eropa kak.
    ternyata Vietnam.

    Mantaap aai aah.
    solo traveler wak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Desy Oktafia,
      Hehe..Iya itu bangunan di Vietnam, tapi emang arsitekturnya terinsipirasi dari Katedral Notredame di Perancis.

      Solo traveler? biasa aja.. hehe

      Delete
  7. itu tanganmu kenapa kak kok jempol semua?

    *lalu dilempar botol aqua*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Danan Wahyu,
      Wakakak.. biasa kelebihan gizi kak.. vitamin indomie larinya ke jempol semua..

      *lempar swallow butut

      Delete