Latest Posts

Selamat Ulang Tahun Bapakku Sayang

By Saturday, March 25, 2017 ,

(Ki-ka): Bapak, mamak, Qima, bou Poppy dan Amangboru Josep saat wisuda kelulusan adikku paling kecil, Qima di Bandung, Juni 2016 lalu.
BERCERITA mengenai kasih sayang kedua orangtua, tak akan pernah habis waktu saat membahasnya. Ada saja warna-warni hidup yang mereka berikan kepadaku sebagai anaknya untuk dibahas.


Dulu kecil, saya pernah mendapatkan pertanyaan konyol dari teman sekelas. "Seandainya Tuhan memanggil orangtuamu, siapa yang duluan kamu pilih untuk meninggal?". Mendengar pertanyaan seperti itu saat kelas 3 SD pada usia 9 tahun,  ingin rasanya menonjok temanku tersebut. Memberikan bogeman mentah. Siapa dia mengajukan pertanyaan seperti itu?
Namun, semarah-marahnya dan tersinggungnya pada waktu itu, sebagai anak-anak dengan kepolosannya, saya menjawab "bapak". Kala itu saya memang lebih dekat dengan mamak, namanya anak-anak. Terus mengingat itu sekarang, ingin rasanya mengembalikan pertanyaan itu kepada temanku tersebut sambil bilang "Jangan pernah lontarkan pertanyaan seperti itu lagi. Bukan hak kita berandai-andai untuk sesuatu hal mengenai kehilangan. Kehilangan, apa pun bentuknya selalu menyisakan kesedihan dalam ingatan akan kenangan sampai kapan pun".

Saya bersama bapak.
Nah, kalau ditanya "siapa orang yang paling kamu sayang saat ini?" Sudah pasti jawabannya adalah keluargaku. Mengerucut lagi, ini Maret. Bulannya ulang tahun bapak yang jatuh pada 25 Maret setiap tahunnya. Maka otomatis rasa sayangku pasti lebih banyak ke bapak. Saya sayang bapak, sangat mencintainya. Dia adalah body guard-ku lebih tepatnya satpam sik, sekaligus cinta pertamaku.

Ada cerita mengenai mengapa saya sebut bapak sebagai satpam. Kala itu saya masih SD, mamak membuka warung di depan rumah. Dulu kecil saya anak paling badung diantara saudara-saudara. Suka kabur main ke rumah tetangga saat saudara-saudara pada disuruh tidur siang dengan cara merusak kandang belakang rumah. Ada lagi, saking pengennya makan coklat, saya pura-pura tidur, lalu menungguin semua keluarga tertidur. Dikira sudah tertidur semua, saya beranjak dari kamar menuju ruang tamu tempat mamak menyimpan beberapa barang jualannya dari warung. Saya mencuri coklat jualan mamak dan memakannya santai. Tiba-tiba, bapak keluar dari kamarnya, dan kaget melihat saya makan coklat. Sebelum marah, dia memberikan satu papan coklat di atas meja untuk saya habiskan. "Habiskan itu. Jangan tidur sebelum dihabiskan," ujarnya kala itu. Waah tak beres neh pikirku. Dia pun menjagaiku sampai itu coklat habis, lalu setelah itu? kemoceng bulu melayang ke betis lalu di straap angkat tangan. Hiks, kalau ingatin itu sambil ngakak ke bapak, pasti bapak jawab "Itulah kerjaanmu masa kecil dulu Chakayang, untung tak berlanjut sampai sekarang," ujarnya hahaha.
Bapak saat jalan-jalan bareng mamak.

My pride and joy: bapak dan mamak.

Jalan berdua. Hobi jalan-jalan mereka turun ke saya anaknya lho. ehehe
Beranjak SMP dan SMA, bapak dan mamak makin ketat dalam mengurus kami. Ada jadwal libur, misalnya kegiatan yang diisi bersama rekan-rekan sekolah, kalau tidak ada surat resmi dari guru, dijamin deh mereka melarang untuk kami ikut. Bapak yang paling keras melarang, dengan alasan kalau terjadi apa-apa nanti, siapa yang bertanggung jawab? mending di rumah saja. Sebagai remaja yang hormonnya lagi bergejolak di masa pubertas, tentu itu menjadi hal yang sukar untuk diterima. Berbagai penentangan pun saya lakukan, bahkan mulai membenci bapak. "Mengapa sih susah banget jadi anak mereka ini,  anak-anak yang lain saja diberi kebebasan sama orangtua mereka, mengapa kami tidak? arrgh".

Sesempurnanya bapak mendidik anak, tapi beliau juga jauh dari sempurna. (OK biarkan ini saya tulis sekarang, saya tidak akan malu lagi, karena saya yakin, apa yang kami jalani bersama bapak, suka-duka, senang-marah, bahagia atau sedih, itu adalah serpihan hidup dalam pengembaraan waktu yang kami alami bersama). Dulu bapak seorang peminum dan juga kadang main judi. Kalau sudah mabuk, pasti kami sekeluarga dibuat malu. Bapak itu ya kalau minum trus mabuk, ujung-ujungnya rese. Mamak hampir menyerahlah, siapa juga yang tahan tanganin suami yang kerjaannya mabuk mulu? Kami anak-anaknya sekali dua kali masih bisa nenanginlah, tapi kalau keterusan?

Bapak dan mamak saat ngemong cucu pertama. Ini foto diambil tiga bulan setelah bapak operasi kantong empedu. Makin kurus ya? tapi puji Tuhan itu karena bapak sekarang jaga pola makan untuk kesehatannya.

Main sama cucu menjadi aktifitas dan kebahagiaan tersendiri buat bapak. Ini beliau lagi bagusin mobilnya sambil mencoba menjawab pertanyaan Moses, cucu paling gede, ponakan pertamaku dari abang yang pertama.

Bapak lagi curhat ama Adriel, cucunya dari kakakku yang saat itu baru bangun tidur dan masih loading. haha
Jadi kalau bapak pulang ke rumah dalam kondisi mabuk itu, kami, termasuk mamak akan berlomba masuk kamar, tutup telinga lalu selimutan. _Jahat ya _ Jadi siapa yang menenangkan dong? Ada, adik saya yang paling kecil. Qima nama panggilannya. Dialah yang selalu sabar menghadapi baik buruknya bapak disaat kami mulai membenci bapak kala itu. Ya tak heran sih kalau pada akhirnya bapak menjadikan Qima sebagai boru hasian a.k.a putri tersayang.

Sikap bapak tersebut pada akhirnya membuat keuangan keluarga menjadi terpuruk. Bahkan sempat bangkrut. Dulunya yang sudah punya tiga mobil habis terjual. Kami anak-anaknya terancam tak bisa melanjutkan sekolah. Puji Tuhan, diberikan mamak yang bijak yang mempunyai simpanan secukupnya buat menghidupi keluarga di masa paceklik itu. Tapi itu sampai kapan? Merasa tak bisa 'bernafas' lagi akibat perbuatannya, tiba-tiba bapak berkeinginan membalikkan keadaan kembali seperti semula. Dengan keberanian dan resiko tinggi, bapak menggadaikan rumah ke bank. Dijudikan lagi? Enggak. Melainkan uang gadai tersebut diberikan semuanya kepada mamak supaya kembali berdagang. Kali ini, berdagang kain seperti profesi yang mereka jalani saat baru menikah. Mamak mulai belanja kain ke Bukittinggi, ke Siantar, dan ke Medan. Membantu mamak jualan di pasar, kadang bapak menjajakannya dengan berkeliling, menjual kain ke beberapa rekan-rekannya. Puji Tuhan, resiko tinggi yang bapak ambil menunjukkan hasil. Jualan mamak mulai berkembang, bisa menutupi cicilan ke bank, dan kami anak-anaknya bisa bersekolah tanpa masalah keuangan berarti. Namun, itu harus dibayar dengan cara, bahwa kami anak-anaknya tak pernah sepenuhnya 24 jam sehari melihat mereka berdua di rumah seperti kebanyakan anak-anak yang lain.

Senin, Selasa, Rabu, Jumat, bapak dan mamak akan berjualan di kios. Pergi pagi, pulang malam. Hari Kamis dan Sabtu, bisa jadi itu hari merdeka kami karena mamak akan masak enak, atau bisa jadi juga itu waktu mamak belanja kebutuhan dagangan ke luar kota. Cuma Minggu-lah, hari yang benar-benar bisa kami habiskan waktu full bersama bapak dan mamak karena kesibukan mereka sebagai pedagang. Dari hasil pekerjaan itu, mereka bisa menyekolahkan kami, lima anak perempuannya hingga ke jenjang sarjana. _Duuh ini kok saya berasa kaya nulis Kisah Sejati di salah satu majalah yang kadang mamak baca dulu yak?_

Namun ternyata, tubuh pun ada alarmnya. Pola hidup yang bapak alami di waktu muda kini harus dibayar.  Pada 2014 lalu, dua bulan sebelum ulang tahunnya yang ke 61, bapak terkena gejala stroke. Jaringan sel sarafnya diserang, sehingga mengakibatkan bapak susah mengontrol emosi, tubuh bagian kirinya susah dikontrol. Banyak orang yang bilang kala itu, bahwa bapak saya sudah gila.
Bapak usai operasi pengangkatan empedu di Bandung. Dia dijaga adikku Fla.
Dengan nada bergetar,mamak menelepon kami anak-anaknya, termasuk saya. Mamak menanyakan kesiapan kami apabila kemungkinan terburuk pada bapak terjadi. "Kalian tahu bapak sudah sakit. Kalau misalkan terjadi apa-apa sama bapak, seperti lupa ingatan begitu, apa kalian sudah siap?". Mendengar pertanyaan mamak itu, sontak saya diingatkan kembali pertanyaan teman sekelasku waktu SD. Dua pertanyaan itu  terlintas bergantian di pikiranku. Saat itu saya tengah bekerja.  Di kantor, saya berlari ke kamar mandi, tempat ternyaman untuk menyembunyikan kesedihan. Di sana, saya menangis tersedu-sedu, tapi wajib harus menghadapi kenyataan. Saat itu disadarkan akan rasa sayang saya kepada bapak, ikatan ayah dan anak yang tidak akan pernah terputus betapa pun dalamnya benci. Keadaan bapak saat itu mampu mengubah rasa benci menjadi sayang. Saya sayang bapak. "Saya belum siap kehilangan bapak Tuhan. Sembuhkan penyakitnya," pintaku pada Tuhan sambil tersedu-sedu di saat mama menunggu jawabanku di seberang sana.

Kembali mencoba tegar memperbaiki nada suaraku yang terisak, saya merespon telponan mamak. "Saya tidak akan malu mak. Apa pun keadaan bapak dulu, sekarang, dan bagaimana yang akan kita lalui ke depan, saya tak akan malu mak. Meski bapak gila, dia bapakku. Mae, kita harus kuat. Termasuk mamak harus jaga kesehatan dalam mengurus bapak," jawabku. Seketika itu pula kuputuskan mengambil cuti kantor dan pulang beberapa waktu merawat bapak.

Di balik doa-doa yang meminta dan berusaha dengan air mata, Tuhan selalu memberi jawaban tepat pada waktunya. PertolonganNya begitu ajaib dan tak pernah terlambat. Beberapa bulan bapak menjalani proses terapi, ditambah dukungan keluarga dan sahabat-sahabatnya, akhirnya doa kami dijawab Tuhan melalui mujizat. Saat orang lain bermaksud menguatkan dengan mengatakan supaya kami berjaga-jaga, karena gejala stroke itu tidak bisa disembuhkan, pun kalau sembuh harus memakan biaya yang banyak, serta waktu yang lama, dan biasanya, stroke itu yang membawa penderitanya pada kematian, justru bapak dinyatakan sembuh 100 persen. Puji Tuhan bapak kini kembali beraktivitas, menyetir mobil, menjalankan usahanya, menjemput cucunya, bahkan sesekali jalan-jalan cari angin bareng mamak. Ah bahagia banget penuh syukur bapak bisa sembuh.

Namun, cobaan belum selesai disitu saja. Seperti kata mamak, "selama manusia masih hidup, akan selalu diberi cobaan. Tergantung kita menjalaninya seperti apa. Pinta mamak, selalulah meminta kekuatan, dan ketegaran pada Tuhan supaya bisa menjalani cobaan itu". Benar, Februari 2016 bapak kembali jatuh sakit. Kali ini tak kalah parah, Kolesistitis atau infeksi empedu. Sudah tiga rumah sakit bapak jalani, tak terhitung biaya yang sudah keluar. Hingga akhirnya, dari Rumah Sakit Columbia Asia di Medan, bapak dilarikan ke Rumah Sakit Advent di Bandung. Oleh dokter di Bandung, setelah pemeriksaan medis, kantung empedu bapak sudah rusak, sudah banyak batu bersarang dan mengalami pembusukan. Kalau tak segera diangkat, nyawa menjadi taruhannya. Operasi pun dilakukan, perut bapak dibelah, pinggang kanannya dibocori untuk pembuangan cairan bekas operasi.

Selesai disitu saja? tidak. Lima hari setelah operasi, bapak mengalami kejang dan kedinginan luar biasa, ditambah sesak akibat penyakit asma turunan. Bahkan sudah sempat berpesan ke mamak, bahwa beliau sudah tak sanggup lagi dan menitipkan kami anak-anaknya. Bapak pun kembali dilarikan ke ruangan khusus di ICCU. Cobaan apalagi ini ya Tuhan? Hidup terpisah di tanah rantau membuat air mata menjadi penyembuh kesedihanku saat itu. Saking kepikirannya bapak, saya sampai terjatuh dan mengalami luka di kaki saat menjalankan tugas. Hampir tiap hari tak fokus dan memutuskan terbang ke Bandung untuk melihat kondisinya. Saat itu, mbak Dian Fernanda menguatkanku lewat komentar di salah satu postinganku di blog. "Semoga ayahnya cepat sehat ya kak," ujarnya kala itu. Terimakasih atas kata-kata penguatannya mba Dian. Izinkan saya berterimakasih hari ini.

Bapak saat bertemankan oksigen kala sesak datang menyapanya.
Saat bercanda dengan teman, yang terpikirkanku hanya bapak. Saya menyembunyikan kesedihan di tengah keramaian kala itu. Saya sangat sayang bapak, saya sangat mencintainya. Ditiap pekerjaanku, selalu terselip waktu buat mendoakannya, memohon kesembuhannya supaya Tuhan memberikan umur yang panjang baginya. Sudah dua kali bapak selalu merayakan ulang tahunnya dalam kondisi sakit. Saya sangat menyayanginya, menghargainya, dan menghormatinya, karena beliau adalah si pembuat kebijakan yang hebat di keluarga kami, penilai dan pekerja ulung di balik sifatnya yang keras dan tegas dalam mendidik kami. Saya menyayanginya sampai tulisannya yang indah dengan kapur tulis di pintu dapur rumah: "Jangan tangisi kemiskinanmu, tapi tangisilah kebodohanmu",  tetap saya ingat sampai sekarang, dan menjadi motivasi bagiku untuk menjadi pribadi yang bermanfaat dalam hidup.

Dua kali momen hampir kehilangan bapak, membuatku sadar akan arti dari kata bapak itu sendiri. Pola pengajarannya kepada kami saat masih kecil, kini saya mensyukurinya di masa kini. Disaat orang-orang tak memandang dia, tapi saya memandang bapak. Dia terpandang di mata dan hati kami anak-anaknya. Suatu berkat, saya memanggil pria bernama Jisman Vioneer Parulian Simanjuntak itu BAPAK.
Bapak sama putri kesayangannya, Qima. Saya mah putri kesayangan juga, tapi porsinya beda. hahaha
 Kini, sudah setahun bapak hidup tanpa kantung empedu. Oleh dokter, bapak harus menjaga pola makannya, tidak boleh lagi capek, atau kedinginan. Tidak adanya empedu membuat mamak harus ekstra hati-hati menjaga bapak. Ya iyalah, bayangkan saja tak ada lagi mesin sortir dalam tubuhnya.Capek sedikit saja, langsung berkeringat dan sesak. Jadi, di rumah itu sekarang, mamak merangkap menjadi istri, suster dan ahli nutrisi pribadi bapak. Salah satunya, memasak menu sehat dan menyiapkan satu tabung oksigen untuk pertolongan pertama apabila bapak tiba-tiba sesak.

 Sejak operasi itu, bapak juga sering mendadak kedinginan karena daya tahan tubuh yang menurun. Pada 25 Maret ini, tepat di ulang tahunnya yang ke 64 tahun, meski saya tahu dia hepi apabila Tuhan mendengar doanya dengan mengharapkan saya cepat menikah dan memberinya cucu, _Oh dad, maafkan saya belum sanggup memberikannya sekarang_ tapi karena waktu belum memungkinkan, ini deh ya pa, saya berikan kado spesial yang cocok buat bapak, berupa baju jaket kulit pria dari Elevenia, supaya apabila bapak mendadak kedinginan, bisa langsung memakainya. Selain lebih fashionable, bapak juga tubuhnya tetap hangat, sehangat pelukan kami anak-anakmu. hehe.

Oh ya, belanja di Elevenia ini sangat mudah banget lho, Tak perlu lagi susah-susah jalan ke mall buang waktu. Saat sibuk di kantor pun, tetap bisa belanja di Elevenia sambil duduk manis. Cukup KLIK, CARI, ketemu, pilih, dan HEPI deh. keren kan?



Oh ya, bapak juga sangat menghargai waktu. Jam tangan tak pernah lupa pakai di pergelangan tangannya. Saya juga ingin memberikan itu sebagai hadiah kepada bapak dan mamak. Dua orang yang sangat saya kagumi dan sayangi. Jalan hidup mereka, warna-warni di dalamnya, sangat menginspirasiku untuk menjadi pribadi yang berguna. Tak bisa berbuat banyak bagi bangsa dan negara, setidaknya bagi keluarga.
Bapak bersama sepupunya yang sudah puluhan tahun lebih tak ketemu, aunty Jo yang kini bermukim di California, Amerika Serikat saat upacara kelulusan adikku Qima. Mereka sama-sama punya penyakit turunan, asma. Aunty sudah duluan pergi, she's gone but not forgotten in our heart. Janji mereka supaya sama-sama sehat dan bisa ketemu tahun depan pada akhirnya tidak kesampaian. :(

Keluargaku.
Pa, izinkan saya sekali lagi mengucapkan: Selamat ulang tahun bapakku sayang. Panjang umur dan sehat selalu. Jangan sakit-sakit lagi ya pae, tetap lawan penyakitmu di dalam Tuhan. Bahagia menikmati masa tua bersama mamak, sambil menanti cucu dari kami anak-anakmu. "Cucu? calon menantu saja dulu mana? tunjukin ke bapak!!!" blass.. BYE ***

Panutanku, kedua orangtuaku.
  
 _Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Blog Cerita Hepi Elevenia_ 

You Might Also Like

34 komentar

  1. Happy Birthday buat Bapakny kak chaya, semoga apa yang di doakan anak-anaknya semua terwujud dan terkabul, Amin

    ReplyDelete
  2. HBD Opung.... (saya panggil opung ya karena memang sudah punya cucu).... Semoga sehat selalu ya Opung.... Nice story Chay... semoga dibaca sama Bapak ya...

    ReplyDelete
  3. Senangnya chaya masih bisa berkumpul dengan bapaknya dan masih bisa memberikan kebahagian pada keluarga tercinta. Saya keduanya sudah tidak ada. Mau pulang kampung pun dah gak semangat :(.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Puji Tuhan mba Yulia Marza. Semoga bapa dan mama saya diberkati umur panjang dan kesehata selalu. amin.

      Waah, im sorry to hear that mba. Jangan gak semangat dong mba pulang kampungnya. hehe..

      Delete
  4. hbp opung,semoga sehat selalu yah,,, tetap menjadi ayah yang kuat bagi kak chay

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin.. Terimakasih Soleh.
      Eh ini kenapa jadi pada manggil opung yak? Bapaku itu umur saja yg udah tua, jiwanya masih muda keleus. Panggil saja Oppa, secara mirip Oppa Lee Min Ho kan?. wkwkwk *dilempar

      Delete
  5. Gak pernah ngerayain ultah, apalagi ultah ortu. But, met ultah papanya Chay!

    ReplyDelete
  6. Semoga panjang umur dan sehat selalu buat bapaknya kak Chaya. Alhamdulillah setelah melewati cobaan hidup, sekarang semuanya kembali membaik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. HBD Bapa Tua.. Sehat dan diberkati Tuhan Yesus Selalu

      Delete
    2. Terimakasih ya.. Salamnya saya sampaikan ke bapak. :)

      Delete
    3. Dear Eka,
      Amin. Terimakasih ya Eka H. :)

      Delete
  7. HBD Bapa Tua.. Sehat dan diberkati Tuhan Yesus Selalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Terimakasih Lina, Salamnya nanti saya sampaikan ya. :)

      Delete
  8. Terharu bacanya, Chay..

    Selamat ulang tahun, om.. Panjang umur dan sehat selalu yaaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Dian Radiata,
      HEhe.. asal jangan termumu aja mba Di..

      Amin, makasih mba Dian.

      Delete
  9. Kak.. meski kita baru tahun lalu kenal.. meski ane baru 1x trip bareng kakka.. membaca ini..aq jd ingat penggalan2 cerita kakak ke bandung ..pulang bolak balik.. krn om sempat sakit .. tapi apapun itu...semangat yg buat om tetap sehat.. sehat selalu ya om.. sampek kita bisa ketemu.. di medan bareng kak chaca dan calonnya.. aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hola Zikria, wah kita ketemu di blog. haha.. Amin amin, sampai ketemu di Medan ya.. terimakasih Zik.

      Delete
  10. Nangis bacanya, semoga sehat terus ya bapaknya kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah jangan nangis mba Dian. HEhe

      Amin, terimakasih mba.

      Delete
  11. Aaminn..Semangat dan sehat terus ya Bapak!

    Kisah kakak dan Bapak bisa menginspirasi saya untuk terus mengingatkan ayah saya karena masih belum bisa lepas dari rokok meski usianya juga sudah memasuki kepala 6.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih mba Annisa.

      Waah, senang bisa menginspirasi. Semoga postingan ini bisa bermanfaat buat yang lain ya. Iya, dulu bapak saya perokok aktif juga,puji Tuhan sekarang sudah tak merokok lagi. Semoga papanya bisa lepas dari rokok dan sehat terus panjang umur ya. Salam kenal.

      Delete
  12. HBD buat sang bodyguard. Semoga Sehat terus dan panjang umur. Amien

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, terimakasih teh Cucum.

      Wedew, senang banget blogku dikunjungi kompasianer terkenal.. haha.. Thanks sudah berkunjung teh. *angelsmile

      Delete
  13. ahh terharu bacanya, aku pun juga begitu. segimanapun bapak kita, akhirnya segede ini baru sadar tanpa dia kita bukan siapa siapa.

    selamat ulang tahun ya om, sehat selalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener Chot. Amin, terimakasih ya Chot. Sehat2 juga buat papa kita ya

      Delete
  14. Selamat ulang tahun untuk bapaknya kak cahyaa. . Semogaaa sehat dan bahagiaa selalu. Aamiin . .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Salam kenal mba Lucky Caesar,
      Amin, terimakasih doanya ya... :) sukses buat mba.

      Delete
  15. Sosok bapak pasti berkesan banget nih buat chay. Kisah ttg bapak runut dan lengkap.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo kak Lyta..
      Waah, ada apa dengan hari ini? postingan ini dikunjungi author cantik yang mirip Nia Ramadhani? hahahah.. Piss kak.

      Iya, bapak sosok yang sukses buat rasa nano-nano di dada ini kak. hehe..

      Delete
  16. Cerita perjalanan hidup kak chaya yang bikin terharu. Sampai pelan-pelan bacanya di kantor pagi ini. Salam untuk bapaknya kak, pria sejati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Akut,
      Wah terimakasih mas Akut. Siap, salamnya disampaikan ya. :) Mas Akut juga pria sejati buat keluarga. :)

      Delete