Latest Posts

Mewujudkan Mimpi Dua Adik ke Singapura

By Saturday, June 04, 2016 ,

Singapura, Traveling, Fullerton Hotel
In front of Fullerton Hotel.
 YUK cus blusukan ning Singapura. Saya Batak, dua adik saya juga tentu Batak dong. Judul apaan ini kok iso boso Jowo? Apa gegara pemilik blog ini pernah pacaran sama wong Jowo lalu jadi mantan, atau jauh sebelumnya pernah hampir jadi sama wong Jowo? dan puji Tuhan, tak jadi gegara cowonya kasih perhatian ngalah-ngalahin minum obat? Begitulah cinta, gampang dicerna tapi sulit ditebak. Paradoks di tengah ironi. Eh apa-apaan ini? Kok ngomong-ngomongin cinta segala? Fokus woi!!! Yang jelas, karena kami adalah orang Indonesia, pemilik semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang artinya Unity in Diversity.. *bhak
Gardens by The Bay, Singapura, Traveling, Simanjuntak
Fla di Gardens by The Bay.
Kembali ke laptop. Atas dasar kasih sayang dan cinta kasih kepada saudara _benerin hijab_, saya merelakan diri menjadi travel guide buat dua saudari yang akan kunjungan resmi ke Singapura untuk pertama sekali. Satu adik yang di bawahku, Fla, baru pertama sekali ke luar negeri. Dia lebih suka jalan-jalan di beberapa kawasan Indonesia. Paspornya baru hari itu (akan) pecah telur, menetas, dan mengepakkan sayapnya. Singapura menjadi negara pertama chop di paspornya. _Horeeeee *ndeso_
Esplanade Hall, Singapura, Traveling
Vit di pameran visual Esplanade Hall.
Sementara adik satu lagi, Vit, sudah dua visa, United Stated of America dan Schengen bertengger di paspornya. Thailand menjadi negara yang pertama sekali dan sudah sering dia kunjungi. Dia selangkah lebih maju dari kami semua soal perjalanan ke luar negeri. Berbagai negara telah ia kunjungi sejak mahasiswa. Padahal, dulunya ia seorang yang lemah.

Sekilas mengenai dia. Saat ibu melahirkannya dulu, ibu harus opname tiga bulan dan otomatis dia dirawat nenek dari ibuku. Cerita singkat, saat ia dinyatakan lulus ujian Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) ke universitas negeri di Palangkaraya, kedua orangtuaku menentang keras dan khawatir.

"Bagaimana nanti dia kalau sakit sementara kita jauh, tidak ada yang merawat. Sudahlah, kamu kuliah di swasta saja yang penting dekat dengan kami, biar kalau sakit nanti, gampang diurus" itu ketakutan ibuku melihat salah satu putrinya akan pergi jauh demi sekolah tinggi.

Namun, adikku ini meyakinkan orangtuaku. "Tidak ada yang tahu hari esok. Aku lulus di Palangkaraya berarti disitu masa depanku. Aku harus berangkat. Aku tidak mau lagi mengingat-ingat bayang-bayang lulus PMDK ke IPB Bogor yang gagal kumasuki akibat keteledoran pihak sekolah. Izinkan aku, biar rencana Tuhan yang jadi padaku," pintanya bijak.

Kekhawatiran itu sirna. Sebijak permintaannya memohon doa restu dari orang tua, ia berangkat ke Palangkaraya dan kuliah di sana. Tidak pernah ada laporan sakit darinya. Hampir setiap hari bapak dan mama berkomunikasi lewat ponsel, menanyakan kabar, mengingatkan teratur makan, dan bla bla bla. Jawabannya "Puji Tuhan sehat, kuliah lancar, kirim uang bulanan jangan telat" _ entahlah dia menutupi apabila pernah sakit ya? Yang jelas (lagi-lagi puji Tuhan) dia sehat sampai saat ini_

Kegiatan di kampus ia jalani seperti biasa. Masuk ke perkumpulan pemuda gereja, bergabung dengan salah satu kelompok choirs, Solafide Voice Palangkaraya . Atas dasar itulah, ia akhirnya bisa berkelana ke berbagai negara, mengikuti kompetisi choirs tingkat dunia yang mengharumkan nama Indonesia. Juga pernah mengikuti kolaborasi konser akbar se-dunia yang diikuti member choirs dari lebih 30 negara di Pattaya, Thailand pada 2013 lalu . Tanpa mengeluarkan biaya pribadi, apalagi dari orangtua. Itulah sekilas rangkaian perjalanannya ke berbagai negara. _Sebagai kakak, saya bangga dong_
Eh tapi tunggu dulu, sudah kemana-mana tapi belum pernah menginjak Singapura? Negara paling dekat dengan Indonesia? Apaan itu. Bahkan Singapura menjadi bagian dari mimpinya sebagai negara wajib kunjung? Sungguh terlalu!!!
Merlion park, singapura, Traveling
Di Merlion Park, Singapura.
Maka jadilah. Awal tahun lalu, sepulang perayaan tahun baru bersama keluarga di kampung halaman di desa Parsuratan, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, _tulis komplit ah, lumayan desaku biar bisa masuk data google. hahaha_ kedua adikku ini memutuskan ngebolang ke Negeri opa Lee Kwan Yew ini. _Eh buset ga lelah apa? Baru juga pulang kampung_ Saya sebagai kakak yang memang merantau dan tinggal di Batam, Pulau terdepan Indonesia yang hanya selemparan batu dari Singapura menemani mereka. _Kakak tekor dek. Tekornya ngalah-ngalahin biaya perjalanan dua bulan keliling Malaysia-Thailand-Kamboja-Vietnam_ Pantang gak bisa nolak ajakan ini "Kak, Blusukan ning Singapur yuk" *sok-sok tiru gaya Jokowi lu!!!


Menuju Gardens by The Bay
Gardens by The Bay, Singapura, Traveling
Taman Avatar, Gardens by The Bay, Singapura.
Ke Batam aku kembali, tapi ke Singapura jualah aku beristirahat. Setengah 4 pagi, saya sudah membangunkan mereka dengan suara ala ibu tiri. Lalu saya dibangunkan siapa? Dibangunkan alarm. Kemas-kemas, lalu berangkat ke pelabuhan Batamcenter. Menggunakan kapal MV Batam Fast, kami melaksanakan misi mulia, Jalan-jalan ke Singapura lewat Harbour Front.

Oh ya, dalam perjalanan ini, kami bersama teman satu gerejaku, Lisna yang juga turut membawa sepupunya, seorang mahasiswa di Jogjakarta, yang bernama sama denganku, Cahaya. _Konspirasi eh kolaborasi semesta apaan ini??_

Di Harbour Front, karena masih suasana liburan, berpesan dong ke mereka "Ntar turun dari kapal, langsung lari yak. Jangan nyantai. Harus cepat. Go go go," pintaku yang disambut dengan balasan lirikan tajam. _Balas lirik_
Marina Bay Sands, Singapura, Traveling
Marina Bay Sands.
Jadi nih ya, kalau ke Singapura dari Batam itu, para pejalan harus jeli dan peka. Sesuaikan kebutuhan waktu sama keadaan di imigrasi (custom) check in dua pelabuhan, Batam dan Harbour Front di Singapura. Kalau musim liburan dan Great Singapore Sale (GSS), janganlah engkau berleha-leha. Karena itu akan membuatmu antri hingga berjam-jam hanya demi chop paspor. Jangan. Mending lari cepat bila perlu sampai ngos-ngosan, duluan antri chop paspor, habis itu, udah deh, mau tiduran dulu di depan Waterfront atau langsung istirahat di food hawker Banquet di area itu terserah. Yang penting lepas urusan dari custom dulu. 
Meski kami berlari cepat, tetap saja, antrian di dalam imigrasi check point Harbour Front sudah mengular. Hiks.. alamat lama deh. Dan benar, kami antrinya kena lebih dari sejam.
Gardens by The Bay, Singapura, Traveling
Para peserta blusukan hari itu, (ki-ka) Lisna Sihombing, Cahaya Hutagaol, Me, Fla, Vit Simanjuntak.
Urusan imigrasi beres, petualangan sehari di Singapura pun dimulai. Sebagai kakak yang baik, aku tak lantas membawa mereka ke Casino dong (baca: Research World Sentosa), saya harus duluan mengenalkan mereka tentang pengetahuan alam dan tumbuh-tumbuhan dulu, yakni membawa mereka berkarya wisata ke Gardens By The Bay di pusat kota, baru deh ke kawasan wisata lainnya. _Wakakakaka, jijay banget, kok kaya cerita mengarang zaman SD dulu ini tulisan_

Melihat Gardens by The Bay dari balkon Marina Bay Sands.
Menuju Gardens By The Bay dari Harbour Front, memilih purple line (ungu), kami interchange di kawasan Dhoby Ghaut (NS24) menuju red line (merah) ke Marina South Pier (NS28). Harusnya bisa interchange di brown line (coklat) sih dari Outram Park (TE17), dan turun langsung di Gardens By The Bay (TE22). Cuma, kami memilih Marina South Pier, karena akses dari situ ke Gardens by The Bay lebih gampang, dan bisa melihat taman seperti di film Hollywood, Avatar dan Jurassik Park seluas 101 hektare itu secara keseluruhan dari bangunan fenomenal, Marina Bay Sands.

Kawan, kukatakan padamu, menikmati satu kawasan Gardens by The Bay ini, terlebih dulu lihat keseluruhan objeknya dari eskalator Marina Bay Sands balcony. Tarik nafas, dan bersyukurlah. Keren abis... Bagaimana bisa ini taman hijau dengan taman-taman berisi berbagai tumbuhan dari seluruh dunia bisa tumbuh di pusat kota. Terkonsentrasi dengan bangunan-bangunan futuristik yang unik. Awesome banget.
Bangunan futuristik di Gardens by The Bay.

Upper park Gardens by the Bay.





Aneka tanaman dan bunga di Gardens by The Bay, Singapura.


Kami bersantai di taman-tamannya yang menyesuaikan dengan jenis tumbuhan. Ada taman Malay, ada Borneo Park, ada middle east, dan ada juga bunga-bunga liar, yang zaman kecil kami dilarang pegang karena pahit, ditanam di sana. Di kampungku, itu bunga tumbuh menjadi bunga pagar jalan dengan bunga mekar warna kuning kaya bunga matahari. Baru di Singapura-lah saya menemukan nama latinnya bunga-bunga paet itu, Tithonia difersifolia. Manis bener itu nama.
Gardens by The Bay, Singapura, Traveling

Tak hanya itu, saya juga menemukan bunga Arsam,tumbuhan yang saya temui saat bermain ke hutan atau ladang dekat sungai di kampung zaman kecil dulu, saya menemukannya di taman ini. Tumbuhan itu, di kampung kami sebut bunga arsam. Sejenis tumbuhan pakis. Ah pokoknya Gardens by The Bay keren. _Terharu_

Baby Planet by Marc Quinn
Planet Statue, Marc Quinn, Gardens by The Bay, Singapura, Traveling
Patung Planet by Marc Quinn.
Tak puas disitu saja. Sembari melihat aneka jenis bunga dan tanaman, kami berjalan menuju taman sungai buatan dengan jembatan yang disana kita bisa mengabadikan foto keren. Di depan itu, ada taman yang menarik perhatian kami. Sebuah patung bayi raksasa bercat putih.

Patung Baby Planet by Marc Quinn at Gardens by The Bay park, Marina.
Patung itu memiliki berat 10 ton, pertama kali dibangun mengambang di taman itu sejak 18 Januari 2013, sumbangan dari seniman Inggris bernama Marc Quinn. Agak aneh, patung dedek bayi putih itu mengambang. Di sana, diberi keterangan berjudul Planet.

Lewat keterangan di atas plank baja bertuliskan planet itu, Quinn menggambarkan secara paradoksal, bahwa manusia di planet ini ibarat bayi yang sangat ringan, hingga ia bisa melayang. Dan sesungguhnya dibalik tampilan kuat sehingga bisa melayang itu, ia sangat rapuh. Refleksi itu jelas terlihat dari pajangan baby planet by Marc Quinn dan menjadi salah satu mahakarya seni tertinggi di taman seluas 101 hektar tersebut.
Merlion Park, Singapura, Traveling, Catatan Traveler
Merlion Park
Dari sana, perjalanan berlanjut melihat patung Merlion di Merlion Park. Dari taman itu, kami memilih berjalan kaki, melewati gedung Marina Bay Sands. Panas menyengat dan lelah, kami pun membeli jajanan es krim potong yang dijual para old uncle Singaporean seharga 1,2 dolar.
Begini cara mereka makan es krim saat lelah di Esplanade. *ngakak
Dari Merlion perjalanan berlanjut ke Expo untuk membeli sejumlah barang elektronik yang tengah hot promo dan memutuskan makan siang di food hawker di kawasan itu. Menuju kesana, kami memilih naik MRT dari City Hall, melewati gedung durian, Esplanade.
Menuju Expo di kawasan Changi.

Pameran Seni di Esplanade.

Fla and i berpartisipasi dalam pameran visual di Esplanade.

Karya kolaborasi seniman Singapura-Korea Selatan by Ashley Yeo & Monica So-Young Moon bertema In Their Oceans at Esplanade.
Di gedung Esplanade ini, kami sempat menyaksikan pameran lukisan dan visual dari kolaborasi seniman Korea Selatan dan Singapura, Ashley Yeo & Monica So-Young Moon. Aneka hasil karya mereka itu dipajang di dinding rute pejalan kaki di gedung itu. Gratis.
Art lover, my sister Fla.

Fla berlatar belakang kain satin sebagai refleksi ubur-ubur dalam Art Expo In Their Oceans. Lucky you adek.
Kelar urusan tengah (perut) dan urusan belanja di Expo, kami melanjutkan perjalan ke kawasan belanja super sibuk dan padat pengunjung di Bugis Junction (Biasanya ini kawasan yang selalu saya abaikan kalau ke Singapura, selain tak terpaksa menikmati cemilan manis di mall-nya). Seterusnya, meski kaki sudah mulai protes karena kelelahan, perjalanan tetap berlanjut.
Sisters at Expo.

Sisters. Adek memotret dua kakaknya. Begitu dong adik yang baik.. bhak

Love mural at Marina South Pier.
Kali ini, kembali ke kawasan Harbour Front, dari sana menyeberang ke Research World Sentosa (RWS) taman tematik wajib kunjung di negeri ini. Puas foto-foto di bola raksasa Universal Studio, turun ke rumah judi ala Las Vegas, Casino, leyeh-leyeh, abis itu cusssss back to Harbour Front. Saya lapar, kamu lapar, semua lapar, yuk makan. Sembari mengistirahatkan kaki, kembali kami menikmati makan malam dengan menu nasi sayur Korea, Bibimbap, dan juga nasi Jepang dengan lauk ikan Saba seharga 18 dolar untuk tiga porsi di Banquet. Di sana, kami beristirahat sampai tiba jadwalnya check in dan pulang kembali ke Batam. Kakak lelah dek.
Duo adik di Universal Globe, USS

Mak, ini aku di Sentosa mak..

Fla di Casino, Singapura.
Vit di Casino, Singapura.
Saatnya pulang ke Indonesia kakak.


Positifnya dari perjalanan ini:
  • Saya turut membantu mewujudkan mimpi dua adik, mendapatkan chop imigrasi Singapura di paspor mereka.hahaha *dikeplak
  • Kapan lagi bisa jalan bareng saudara kandung ke luar negeri? It's so highly precious, you know? Thank God. 
 Negatifnya: Tumpur bandar dek. Hiks. ***
 
Persiapan sesaat sebelum buat foto alay di Gardens by The Bay.

Mau jumping mumpung sepi. Gagal kakak.

Awesome banget lihat Gardens by The Bay dari balkon ini.

You Might Also Like

7 komentar

  1. Replies
    1. Dear Batam Dine,
      Kamsia ho koko, terimakasih bilang saya keren.. eh
      hahaha

      Delete
  2. aku dulu di kampung suka sakit2an kak chay.tapi jauh dirantau orang alhamdulillah jadi mandiri dan lebih kuat. adeknya keren ya bisa keluar negri tanpa ngeluarin biaya pribadi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Travengler,
      Yep, adik saya ini dulu gampang sakit. Dulu kecil dia gendut banget, ampe mukanya kaya mau meledak gegara sakit. Puji Tuhan dia sehat hingga sekarang karena anugerah Tuhan. Wah sama yak ama mas Ahmad.. Mas Ahmad juga keren, bisa sambil les bahasa Inggris sambil jalan-jalan. hehe

      Delete
  3. Adeknya Chay kereen! Selalu salut sama anak-anak berprestasi..
    Kamu kakak yang baik... Ajak aku jalan juga dobk :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear mba Dian Radiata,
      Itulah mengapa saya juga selalu salut sama anak-anak berprestasi mba Dii..
      Wawakakaka... pujiannya ada maunya ye.

      Delete
  4. jalan-jalan ke singapura memang seru ya apalagi bareng keluarga..

    ReplyDelete