Balerong: Pasar Tradisional Bersejarah Wajib Dikunjungi di Balige

"Merantaulah, biar kamu tahu beratnya beli tiket pesawat pulang kampung"
Itu benar. Namun, lebih benar lagi pernyataan:
"Merantaulah, biar kamu tahu arti dari rasa cinta dan rindu yang sebenarnya".
Balige, Balerong, Toba, Catatan Traveler, Pegipegi
Suasana malam hari di Balerong Balige, pasar tradisional bersejarah di Ibukota Toba Samosir, Balige. Source: Richard Silaen by Pemkab Tobasa.
SAYA dilahirkan di Balige. Ibukota Toba Samosir, salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Utara. Jangan tanya cintaku pada kampung halamanku ini. Besarlah pokoknya. Tapi, rasa cinta itu, baru kusadari setelah merantau dan bekerja. Tepatnya sejak 2008 lalu. Memang benar kata orang, kita baru sadar mencintai, setelah kita jauh. Kita baru tahu ukuran rindu itu seperti apa, setelah kita tak saling bertatap muka lagi.

Setiap waktu yang saya habiskan di perantauan, rasa rindu, cinta akan kampung halaman makin menggebu. Yang tadinya setiap hari kita di sana, kini hari-hari itu lenyap. Menguap banyak. Jadi terbatas. Bisa pulang kampung tapi dengan waktu yang terbatas. Sebagai karyawan di bawah tekanan, ya hanya dengan memanfaatkan cuti atau libur hari besar seperti Natal dan Tahun Baru-lah, saya baru bisa pulang kampung. Pintar-pintarnya saja membagi waktu. Pulang kampung di masa kini itu, nggak ada bedanya seperti melakukan perjalanan. Traveling.

Maka jadilah, kegiatan rutin pulang kampung dengan cuti yang tidak lewat dari 12 hari itu saya lakukan minimal setahun sekali. Waktu pulang kampung, saya manfaatkan maksimal. Mulai dari kumpul keluarga, nostalgia masa kecil dengan tetangga, ziarah, beres-beres rumah sebagai pekerjaan rutin masa lalu, hingga mengunjungi tempat-tempat wisata di tanah kelahiran.

Balige, Balerong, Toba, Catatan Traveler, Pegipegi
VIEW dari depan rumah Balige.
Rumah masa kecilku itu,  memiliki view alam berpagar Bukit Barisan yang indah. Berada persis di pinggir jalan. Bebas akses ke berbagai objek wisata. Angkutan umum juga tersedia dengan pilihan becak atau motor sewa. Di Balige, angkutan umum kami sebut motor sewa. Ongkosnya bervariasi, mulai dari Rp 4.000 hingga Rp 10.000 per sekali jalan, tergantung jauhnya rute. _Kawan, kukatakan padamu, di Sumatera Utara, khususnya Balige, mobil itu kami sebut motor dan sepeda motor kami sebut kereta. Jadi kalau kamu dengar orang Medan ngomong 'Tunggu di sana ya, aku pake kereta. Lari 100 pun aku' Itu artinya dia itu bukan naik kereta ( api ), melainkan mengendarai sepeda motor dengan kecepatan 100 km/jam (cepat). haha_

Seperti yang saya katakan di atas, rumahku itu bebas akses kemana-mana. Jaraknya hanya 3 Km ke pasar tradisional Balerong, 8,4 km ke Air Terjun Siboruon, dan hanya 9 menit ke objek wisata Danau Toba di Pantai Pasir Putih di Desa Lumban Bul-bul, dan ke pusat kuliner dan tempat santai di Lumban Silintong, serta ke pusat pendidikan Soposurung. Oh ya, di Soposurung ini juga terdapat objek wisata budaya dan sejarah, Museum TB Center.

Balige itu, bisa ditempuh 6-8 jam perjalanan darat dari Medan melewati objek wisata Danau Toba yang tersohor di Parapat, dengan rutenya jalan aspal di tengah tebing batu.

Selain jalan darat, akses ke Balige ini juga bisa ditempuh menggunakan penerbangan, dengan pilihan pendaratan di Bandara Internasional Silangit di Siborong-borong, Tapanuli Utara. Lalu lanjut jalan darat lagi sekitar 20 menit menuju pusat kota Balige.

Balige, Balerong, Toba, Catatan Traveler, Pegipegi
Berbicara mengenai Balige, maka tidak bisa dipisahkan dari Balerong. Beberapa tahun belakangan, oleh Pemerintahan Kabupaten Toba Samosir, Balerong ini ditetapkan menjadi salah satu objek wisata. Balerong itu, dalam Bahasa Indonesia adalah Balairung. Pusat perkumpulan warga.

Lantas apa istimewanya? kok bisa jadi objek wisata? Balerong ini oleh kami warga sekitar dikenal dengan nama Onan Balerong Balige. Dalam Bahasa Batak, Onan itu artinya Pasar, Balerong artinya Balairung. Sehingga artinya: Pasar tradisional di Balairung Balige.

Balige, Balerong, Toba, Catatan Traveler, Pegipegi
KONDISI Pasar Balerong Balige yang saya foto di 2012 lalu.
Yang membuatnya terkenal menjadi objek wisata hingga sekarang adalah bentuk bangunannya yang unik. Setiap wisatawan yang berkunjung ke sini, akan selalu takjub, lalu penasaran melihat arsitektur pasar yang atapnya terdiri dari enam sopo, rumah adat khas Batak. Atapnya ini juga dihiasi gorga, seni ukiran Batak Toba yang artistik dengan tiga warna khas: hitam, merah, dan putih.

Aerial bangunan pasar ini berbentuk persegi panjang. Di kiri, kanan, dan belakang bangunannya adalah ruko milik warga yang desain eksterior atapnya juga berbentuk sopo, cuma ukurannya lebih kecil. Umumnya, warga yang tinggal di sini memiliki usaha dan dagang. Sementara untuk bangunan depan pasar, dibiarkan hanya berpagar dinding dengan ukiran gorga juga.

Balige, Balerong, Toba, Catatan Traveler, Pegipegi
Aktivitas pasar di dalam pasar di sisi pasar basah setelah direnovasi ulang. Atap jadi terlihat pendek dan ditopang dengan besi. Kalau dulu ditopang kayu.  Atap berbentuk sopo ini juga dilengkapi dengan gorga khas Batak Toba di bagian depannya.
Pasar ini unik. Meski pun setiap harinya aktif, tapi  ada satu hari khusus untuk melihat langsung geliat kehidupan warga dari berbagai penjuru desa turun ke pasar, dan para pedagang dari luar kota datang ke sini untuk melakukan transaksi jual-beli. Diadakan sekali dalam seminggu. Hari Jumat. Aktivitas ini telah berlangsung sejak kolonial Belanda tiba di Sumatera.

Mengenai pembagian hari pekan di Toba ini, tak lepas dari sejarah. Adalah misionaris asal Jerman, Ingwer Ludwig Nommensen yang menyebarkan Agama Kristen di Tanah Batak. Dialah yang menetapkan jadwal-jadwal hari pekan untuk warga menjalankan aktivitas bisnisnya. Ia membaginya: Senin hari pekan di Laguboti (kecamatan di Balige), Selasa di Siborong-borong (kecamatan di Tapanuli Utara kini. Dulu Kabupaten Toba Samosir yang beribukota di Balige masih satu regency dengan Tapanuli Utara), Rabu di Porsea (Kecamatan di Balige), Jumat di Balige, dan Sabtu di Tarutung (Ibukota Tapanuli Utara). Tatanan jadwal bisnis ini berlaku hingga sekarang. 

Balige, Balerong, Toba, Catatan Traveler, Pegipegi
Catatan Traveler di depan pasar Balerong Balige, Januari lalu.
Terimakasih buat Oppu i, IL Nommensen. Namanya sangat terkenal di Toba hingga kini. Penghargaan atasnya, namanya diabadikan dalam nama gereja, jalan, bahkan universitas. Selain menetapkan tatanan bisnis, beliau jugalah orang pertama yang menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Batak Toba. Warga Sumatera Utara, khususnya Toba, menyebutnya sebagai Apostel di Tanah Batak. Ia meninggal pada 23 Mei 1918, dan dimakamkan di Desa Sigumpar, Balige. Bersebelahan dengan istri keduanya, Anna Magdalene Christine Harder. Makam Nommensen ini, kini menjadi salah satu objek wisata religi di Toba Samosir yang selalu dikunjungi para wisatawan, khususnya dari Daratan Eropa dan juga lokal.

Sepeninggal Nommensen, pusat bisnis di Balige setiap Jumat masih tetap berjalan. Hingga pada 1936, pusat perdagangan masyarakat yang zaman dulu masih dilakukan dengan sistem barter tersebut dibangun. Sumber dananya berasal dari sistem penarikan pajak dari para pedagang yang ada di sana.

Balerong ini menjadi simbol perdagangan warga Toba. Satu-satunya situs sejarah yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda yang masih bisa dilihat hingga kini. Yang membuat pasar ini unik, sebelum dirombak beberapa tahun lalu,  adalah ukiran gorga yang tiga warna catnya dibuat dari bahan-bahan alami sebagai bagian dari budaya Toba yang kaya. Dikerjakan manual. Cat yang kamu lihat kini, itu bukan cat asli lagi. Merahnya pun sudah berbeda _too sad_. Namun, meski sudah berbeda, tapi bagaimana pun, Balerong ini adalah pusat bisnis, pasar tradisional bersejarah yang kini menjadi objek wisata wajib dikunjungi di Balige.

Balige, Balerong, Toba, Catatan Traveler, Pegipegi
UD Tampubolon. Pedagang sembako dari zaman aku kecil hingga kini masih bertahan di Balerong ini.
Di dalam pasar ini, para pengunjung bisa menemukan barang apa saja yang dicari. Mulai dari kebutuhan sembako, sayur-mayur yang segar, kuliner, aneka pakaian keluaran terbaru, hingga pusat oleh-oleh untuk membeli kain tenun tradisional ulos. Di pasar ini, kamu bisa melihat berbagai jenis ulos mulai dari sadum, tuntuman, ragihotang, sadum Tarutung, Pucca, Pinuccaan dengan harga bervariasi. Mulai dari harga Rp 35 ribu hingga Rp 15 juta per pcs, bisa ditemui di pasar ini.
Balige, Balerong, Toba, Catatan Traveler, Pegipegi
Nyokap, salah satu pedagang kain di Pasar Balige. (Mae, numpang jadi model di blogku dulu ya. I love you mom, get well soon)

Balige, Balerong, Toba, Catatan Traveler, Pegipegi
Pedagang Ulos di Balerong Balige saat melayani pembeli. Oh ya, sistem juala di pasar ini masih menggunakan gala. Kios bongkar pasang. Source: cnn Indonesia
Bagi rekan-rekan traveler yang hobi mengoleksi kain tenun dari berbagai daerah di Indonesia, khususnya ulos dari Toba ini, bisa mendapatkannya di Balerong Onan Balige ini.  Nah bagi yang hobi kuliner, mulai dari ikan mas arsik hingga mie gomak khas Balige, bisa juga ditemui di sini.
Balige, Balerong, Toba, Catatan Traveler, Pegipegi
Mie Gomak Ma' Renni (mie gomak yang tersohor di Balige. Bagi warga Balige yang perantau, mie dengan kuah pedas sambel Andaliman ini adalah hal yang paling dirindukan dan wajib kunjung kala pulang kampung)

Balige, Balerong, Toba, Catatan Traveler, Pegipegi
Makan mie gomak, minumnya es campur = sempurna.
Demikianlah salah satu pengalamaku saat pulang kampung di Januari 2019 lalu. Tibalah saatnya kembali ke tanah rantau untuk mengais rezeki.

Tahukah kamu hal terberat saat pulang kampung? (Menurutku) Ketika tiba saatnya kembali ke tanah rantau. Mengecek harga tiket pesawat di ponsel sambil memikirkan, besok sudah pulang. Itu hal terberat bagiku. Bisa membuatku galau, dan menjadi bahan ejekan nyokap dan saudaraku. "Ah ga jelas ini Chaya klo sudah begini. Katanya pulang besok, palingan tunda, perpanjang dua hari lagi." begitu ejek mereka. Asli, di masa kini, waktu yang dihabiskan di kampung itu terasa kurang. hahahaha.


Oh ya, bukan cuma saya yang merasa tiket penerbangan domestik harganya sangat mahal kan ya di Januari lalu? Nggak di maskapai, nggak di aplikasi, semuanya mahal. Hal ini sudah berlangsung sejak peak season di Desember 2018 hingga kini juga sik. Sekarang, sangat dibutuhkan kecermatan dan ketelitian dalam membandingkan harga kala membeli tiket pesawat ya kan.
Balige, Balerong, Toba, Catatan Traveler, Pegipegi
Boarding Pass Airasia.
Mengatasi harga tiket yang melambung tinggi, atas pertimbangan yang matang dan jauh lebih hemat, Jadinya, minggu pertama Januari lalu itu, akhirnya saya memilih kembali ke tanah rantau dengan membeli tiket Airasia dengan rute penerbangan Silangit (DTB) - Kuala Lumpur (KUL) dong. Harganya sangat terjangkau. Hanya Rp 680 ribu sudah termasuk bagasi 25 kg plus makanan di pesawat.
Nasi goreng Yangzhou, menu makanan di pesawat Airasia yang membawaku terbang dari Silangit ke Kuala Lumpur.

Terbang di atas langit Toba.
Tiket ini saya beli di aplikasi Pegi-pegi. Melalui pilihan tiket pesawat Pegipegi ini, saya sangat dimudahkan. Bayangkan saat booking lewat aplikasi ini, ketika kita merasa ada hal yang perlu ditanyakan, customer service-nya di 0804 1400 777 sangat cepat tanggap dalam menjawab seputar tiket pesawat yang akan saya beli.
Balige, Balerong, Toba, Catatan Traveler, Pegipegi
Tak hanya itu, selain melayani penjualan tiket airasia, Pegipegi ini ternyata bekerjasama dengan berbagai maskapai lainnya dengan memberikan harga yang lebih murah dari harga resmi.

Saat pembayarannya itu lho, mau sistem apa saja yang kita lakukan bisa. Berbagai pilihan pembayaran untuk setiap kebutuhan, semuanya tersedia. Dan saya, jelas saja, untuk transaksi selalu tertarik untuk menggunakan visa._Modus ngumpulin poin_

Selain melayani penjualan tiket pesawat, Pegi-pegi ini juga melayani berbagai kebutuhan kita dalam satu tempat deh. Mulai dari pemesanan hotel, kereta api, hingga informasi dan tips perjalanan. Tak jarang juga mengadakan promo.

Nah, untuk rekan-rekan traveler yang tertarik mengunjungi kampung halamanku di Balige, selalu pantengin Pegipegi ya. Siapa tahu ada promo, kamu bisa terbang deh, berwisata ke Balige. Mengunjungi Balerong, melihat langsung situs budaya itu sambil menikmati kuliner dan juga keramahan warga lokal. Dari sana, bisa berlanjut jalan kaki menuju Taman Tugu DI Panjaitan, atau naik becak menuju Pantai Pasir Putih di Lumban Bul-bul. Horas!!! ***

16 comments :

  1. dah lama ga bw blog nya kak kece ini…
    makin cantiq kak blog nya…
    balige gede kali ya kak, rame pasarnya…
    salfok ama duit mae…
    tapi alangkah lama nya kak, perjalanan daraaat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mba Tambayu Rizqi.. Apa kabar? Sudah lama juga kita tak ketemu ya..
      Terimakasih ya sudah berkunjung. Iya Balige lumayan gede. Tapi paslah sebagai sebuah kabupaten. hehe

      Wkwk, saya juga salfok ama duit mamaku. Kenapa nggak kuminta kemarin itu ya..

      Klo lama jalan darat, by plane saja sudah ada kok. hehe

      Delete
  2. jadi pengen maen ke kampungmu kak, kayaknya enak buat weekend an, pesen tiket ahhh

    ReplyDelete
  3. Asyik, setelah melihat berbagai keindahan dunia di tempat lain, ternyata kampung sendiri tidak kalah hijau dengan kampung orang lain

    ReplyDelete
  4. Wisata budaya nih, thanks infonya kak utk org seperti saya yg blm pernah nginjek tanah batak.. Sgt bermanfaat sekali 😊

    ReplyDelete
  5. bhak baliknya lewat Malaysia. wkwkk. segitunya ya kak.
    Juni mau ke Sumut ini ada kawan kawinan. disempet2in deh kemana begitu hihi

    ReplyDelete
  6. Asik ya, pasarnya unik banget bentuknya. Kalau barang yg dijualnya lengkap kaya gini, jadi pengen main kesana deh..

    ReplyDelete
  7. Dulu travelingnya baru sampai Prapat doang. Nanggung ya padahal. Sayang dulu belum tahu Balige, tahunya Danau Toba doang.

    ReplyDelete
  8. Wah luar biasa sekali ya pasar di Sumatera.... Aku aja belum pernah menginjakan kaki ke spot2 pasar tradisional, patut dicoba deh next time

    ReplyDelete
  9. Jadi pengen ke sana mbak, biar sekalian bsa beli ulos cuantiq gitu..:)

    ReplyDelete
  10. Kalo udah jauh, ia beneran baru terasa rindunya sama kampung halaman, apalagi kampung kak Chay indah banget, makin menggebu rasa ingin pulangnya.

    Bangunan pasarnya itu kelihatan megah memang, atapnya tinggi menjulang. Lalu aku ngiler dong lihat makanannya, pengen banget ngerasain mi gomak langsung di tanah yg mempopulerkan masakan tsb.

    ReplyDelete
  11. wisata yang menarik sekali, terlihat dari keunikan bangunan nya
    pasar balerong ya nama nya

    bisa nih jadi rekomendasi untuk travel ke daerah sana

    terima kasih rekomendasi nya kak

    ReplyDelete
  12. Betul yaaa sebagai anak perantauan rasanya wajib seringbberkunjungbke kampung halaman... akupun begitu, apalagi orangtuaku tinggal satu ibuku aja, bqpakku sudah gak ada. Jadi selau menjadwal pulkam sesering mungkin...

    ReplyDelete
  13. ahh, paling suka kalimat ini; "Kita baru tahu ukuran rindu itu seperti apa, setelah kita tak saling bertatap muka lagi."
    Sampai sekarang belum sempat tapakkan kaki di Sumatera bagian utara, Insya Allah dibantu pegipegi bisa kesampaian yaa ^_^

    ReplyDelete
  14. Khas banget ya atapnya, bener-bener menciptakan suasana berbeda. Keren pokoknya. Jadi berandai-andai bisa ke sana

    ReplyDelete
  15. Mertuaku juga asal sumatera mbak, di Sipirok. Hampir mirip pasarnya, tapi dingiiin banget tempatnya.

    ReplyDelete

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates