Touching Cambodia from Siem Reap

Angkor Wat. taken by me with iPhone 5
PERJALANAN ke Kamboja ini sebenarnya sudah saya renanakan awal tahun 2018 lalu. Ketika ada BIG DEAL dari salah satu penerbangan budget, saya langsung merealisasikannya. Awalnya, penerbangan dari Kuala Lumpur ke Pnom Penh. Tapi akhirnya mendekati jadwal keberangkatan, rencana berubah. Saya mengganti penerbangan, beli tiket baru langsung menuju Siem Reap.

Setiap tahun, saya memang selalu menghadiahi diri sendiri. Ya istilahnya memberi waktu lebih untuk pribadi sendiri. Kerja mulu, kaya juga kagak ya kan? Mending enjoy life, tentu dengan rasa syukur. Dengan apa? Ya dengan melihat ciptaan Tuhan yang maha luas ini lewat perjalanan.

Pada 23 Oktober,
Berangkat dari Batam ke Johor Bahru, Malaysia menggunakan kapal Ocean Dragon Ferry dari Harbour Bay. Tiba di Stulanglaut, pesan grab menuju ke Larkin Terminal Bus untuk selanjutnya berangkat ke Bandara KLIA 2 di Sepang, Kuala Lumpur. Sehari sebelumnya, saya sudah membeli tiket bus Transmart VIP seharga 45 ringgit Malaysia via online. Bus ini, langsung mengantar para penumpangnya termasuk saya ke bandara. Perjalanan butuh lima jam. Saya berangkat pukul 10.00 pm waktu Malaysia, tiba di KLIA 2 pukul 03.25 am keesokan harinya.

Pada 24 Oktober,
Tiba di bandara KLIA 2. Langsung menuju lantai tiga. Sebenarnya saya sudah check-in by website. Namun karena jaringan sinyal dalam perjalanan menuju bandara jelek amat karena melewati hutan karet, ya jadi nggak yakin begitu, apakah check-in web-ku berhasil atau tidak.

Sesampai di KLIA, tanpa tedeng aling-aling, langsung menuju Airasia counter check-in. Komputernya otomatis nyala. Nah, saya masukin kode penerbangan, lalu pilih 're-print''. Boarding pass saya pun keluar. TIPS buat teman-teman yang sudah web check-in biar nggak perlu antri, dari pintu masuk konter check-in, di sebelah kiri, ada banyak pilihan komputer self check-in. Pergi saja ke sana, lalu print check-in.Kalau mau langsung check-in di situ juga tak masalah. Caranya: Masukin kode booking penerbangan, pilih 'check-in''. Atau kalau mau print boarding pass, pilih 're-print'.

Jadwal terbang baru pukul 6.40 am. Nah, saya masih ada waktu untuk leyeh-leyeh. Nggak bisa tidur maksimal di bus, akhirnya saya tidur sebentar di bandara. Sempat ketemu sama seorang perempuan asal Palembang yang jalan keliling Singapura-Malaysia sama ibunya. Mengobrol sebentar. Agak kocak, dia menunjukkan pakaian berlapis karena takut over bagasi. hahaha

Saya pun agak khawatir sebenarnya,karena barang bawaan saya 11 kg. Tapi saya punya akal biar nggak bayar *hmm pasang tampang flat. Apa akalnya? press itu backpackmu sekecil mungkin biar nggak ngembang-ngembang banget.  Lalu jalanlah seperti biasa ke pintu pemeriksaan. Biasanya, di depan pintu,petugas Airasia akan memeriksa tas penumpang di kalibrasi kilo. Nah, dengan pedenya saya tunjukin boarding pass, si petugas memeriksa backpack,lalu meloloskan. Tidak dikilo saudara *nari-nari sambil kayang saking senangnya.

Akhirnya saya pun melenggok ke gate L2. Di sana masih sepi. Hanya sepasang bule, kakek bule, dan dua orang Cung Huo (warga Cina maksudnya). Saya pun masih bebas memilih tempat duduk di sana. Taruh backpack di bawah kaki, lalu saya pun tidur sebentar sampai diarahkan masuk ke boarding room.

Pukul 6.30 am, seluruh penumpang dipersilakan masuk pesawat ke AK 542. Pesawatnya agak panjang juga. Bermuatan 186 penumpang. 31 line, 6 seat. Dan full. Tadinya duduk di 26 D. Saya kan agak senewen kalau di pesawat nggak dekat jendela.Kepada seorang perempuan Amerika keturunan India di 26 F, saya meminta untuk tukaran kursi. Dan dia mau. Baik banget. Kami pun sempat mengobrol.

Di atas pesawat, pramugara membagikan Arrival card Kingdom of Cambodia untuk diisi, termasuk kartu bea cukai apabila ada barang bawaan lebih dari 10 ribu dolar Amerika.

Penerbangan pagi dari Kuala Lumpur ke Siem Reap pagi itu sangat amazing. Bersyukur sama Tuhan, meski pun sempat agak kabut, dan awan tebal, tapi di atas, semuanya indah dan cerah.

Dari atas, Kamboja itu banyak rawa-rawa. Saya jadi teringat buku seorang korban penyiksaan kekejaman Khmer, Chanrity Him di bukunya When Broken Glass Floats. Chanrity menceritakan, betapa Khmer telah mengobrak-abrik keutuhan keluarganya. Ayahnya disuruh ikut berperang melawan Vietchong, ibunya dan adiknya mati kelaparan, sementara ia dan kakaknya dibawa ke Batambang dari desa kelahirannya di Provinsi Takeo, kawasan Angkor Wat kini. Dia dijadikan buruh kasar tanpa dibayar oleh para tentara Khmer. Kakaknya yang mahasiswa,pamannya yang seorang pilot, oleh pemerintah ditawan sebelum dibunuh. Memang saat itu, Chan mengatakan, seluruh warga Kamboja dari kalangan profesi, khususnya mahasiswa dan kalangan profesional,dibersihkan seluruhnya. 
Dalam penyiksaan, mereka dalam perjalanan, melewati hutan, dan rawa-rawa.  Mengingat cerita itu, saya membayangkan betapa menderitanya mereka melewati rawa-rawa itu. _Mendadak sedih_

Setelah membaca buku Chanrity ini di 2013 lalu, saya sempat berkomunikasi dengannya via messenger Twitter. Tante Chanrity ini sekarang bermukim di Oregon. Menjadi korban keganasan Khmer, dia tak pernah melupakan masa lalunya, mengingat wajah ibunya, dan bagaimana ia bebas setelah pelarian dari tentara Khmer.Melewati hutan dan rawa-rawa.

Masih dari atas pesawat, saya berharap, bisa melihat angkor wat. Namun, nggak berhasil saudara. Sempat pesawat yang membawaku berputar kembali karena parkir pesawat di bandara Siem Reap. Akhirnya mendarat dengan sempurna. And then i touching Cambodia from Siem Reap. Halo Cambodia, im coming to you, be nice to me.

Waktu di Kamboja sama dengan waktu di Indonesia. Berada di zona GMT +7. Penerbangan pukul 6.40 waktu Malaysia, ya tiba di Siem Reap pukul 7.20 CT.

Usai proses pemeriksaan imigrasi, saya ke toilet untuk membersihkan diri sejenak. Lalu menuju pintu keluar. Di depan bandara, banyak warga yang menjemput. Sebagian besar para supir taksi atau pun tuk-tuk.Mereka membawa selebaran kertas bertuliskan nama.

Seorang pria bertubuh tambun, memegang kertas bertuliskan Ms CHAYCYA. Saya pun langsung menyapanya. "Hi, i'm Chaycya. It's been a long time you wait me here?" tanyaku. "Tidak. Baru 30 menit kok. Saya nggak mau penumpang sampai menungguku,"ujarnya.

Nama supir Tuk-tuk ku ini Yan. Saya order dia melalui Mr Shafy, seorang supir tuktuk sekaligus guide yang sudah terkenal di Siem Reap bagi kalangan traveler Indonesia dan Malaysia.Saya mengetahuinya dari grup Backpacker Internasional Indonesia yang saya ikuti. Karena saya sendiri, hitungannya, saya merental tuktuk itu seharian. Bayar USD 15. Di luar biaya makannya juga. Yan sangat baik dan ramah. Dia pintar berbahasa Melayu. Itu artinya, bagi para pejalan Indonesia yang ke Siem Reap tak perlu khawatir.

Ini menjadi hari pertama saya di Siem Reap. Tak langsung menuju penginapan untuk menitip tas, karena baru bisa check-in pukul 14.00, maka jadilah saya bawa-bawa tas saya masuk Angkor Wat. Dititip di tuktuk Yan tentunya. 

Oh ya, sebelum ke Angkor Wat, terlebih dulu ke konter tiket untuk beli bus tiket bus ke Ho Chi Minh, Vietnam, seharga USD 23. Tentu setelah saya tawar dari USD 28 dan akhirnya turun di USD 23. Lalu berlanjut ke museum nasional Angkor untuk membeli tiket Angkor Wat seharga 37 USD. Tiket masuk ini, kita difoto lho.

Ada tiga pilihan tiket. One Day pass seharga USD 37, 2 or 3 days pass seharga 62 per orang. Mahal ya? Mahal banget. Tapi Siapa sih yang nggak ini mengunjungi UNESCO Heritage Angkor Wat atau yang dalam Bahasa Indonesianya Kota Candi? Siapa sih yang nggak ingin mengunjungi tempat syuting fenomenal Angelina Jolie ketika memerankan Tomb Raider? Once in a life time, i must visit-lah ya kan. Maka jadilah saya mabuk candi di hari pertama ini. hahaha ***

Pengeluaran-Pengeluaran:
Day 1:
  • Gocar dari rumah ke Pelabuhan Harbour Bay: Rp 25.000
  • Tiket ferry PP Harbour Bay-Stulang Laut JB: Rp 290.000
  • Port tax Batam: Rp 70.000
  • Makan: Rp 28.000
  • Grab Stulang Laut ke Larkin: RM 12
  • Isi Pulsa Digi Card Malaysia RM 10
  • Tiket Bus Transmart dari JB- KLIA 2 (by CC): RM 45
  • Cemilan di Larkin: RM3.60
TOTAL: Rp 667.160,- (kurs Ringgit Rp 3600)

Day 2:
  • Rental tuktuk : USD 15
  • Makan Siang: USD 4 (include makan siang driver tuktuk. Gua bayarin dah. Kurang baik apa gua? hwahaha)
  • Tiket masuk Angkor Wat: USD 37
  • Tiket bus Siem Reap-Ho Chi Minh: USD 23
  • Penginapan: USD 5
  • Naik tuktuk akibat tersesat di Angkor USD 1.5 (hwahaha)
  • Biaya guide: USD 8
  • Makan malam: USD 2.5
  • lain-lain: USD 7.5

TOTAL: USD 103.5 = Rp1.579.000 (kurs dolar Rp 15.250)

Day 3:
  • Transportasi ke konter tiket (karena ke Vietnam ganti jadwal berangkat jadi 26 Oktober): USD 2
  • Makan: USD 2.5
  • Lain-lain: USD 8
TOTAL: USD 12.5 = Rp 190.625

Ps. Ntar saja seluruh biaya saya totalin ya?! Tentunya setelah perjalanan ini selesai. 

Siemreap itu kota turis rasa Amerika. Apa-apa semua mahal. Apalagi untuk kawasan tourist atractionnya. Tiket masuk mahal. Tanpa servis apa-apa lagi. Jadi kalau mau berkunjung ke sini, think twice deh mengenai biaya-biaya. Enaknya, di sini, tak perlu cape menukarkan mata uang kita ke Khmer Riel (KRL). Karena di sini, mata uang USD berlaku. Jadi sebaiknya, sebelum berangkat ke sini, tukarkan dulu mata uang Rupiah kita ke USD.

Kocaknya lagi, kita bayar pake dolar, kembaliannya dalam bentuk Khmer Riel. Jadi, usahakan habisin itu duit Riel ya. Atau kalau mau koleksi juga boleh. Bye!!!

9 comments :

  1. Asyik dapat tiket murah dan transportasi n makan gak mahil-mahil bgts... Gitu Baca tiket masuk Wat 37 USD langsung ngitung utk 4 org... 😁 Hahahhaa tipis langsung kantong....

    ReplyDelete
  2. Bye right now haha ga sabar menanti cerita selanjutnya, wow beneran rasa dollar ya

    ReplyDelete
  3. Jadinya tuktuk sendiri atau ada barengan sis? Asia rasa amerika banget emang disana soal uang. Disana banyak penjual yang suka ngikutin kita kemana-mana, udh kena yang begituan belum sis?

    ReplyDelete
  4. semangat ya kak chaya, jalan-jalannya. sehat terus. ditunggu foto-fotonya di kota candi. heheho

    ReplyDelete
  5. Wuihhh seru banget sih kak, aku juga dalam waktu dekat ada rencana mau ke Kamboja nih. Ditunggu kelanjutan ceritanya kak

    ReplyDelete
  6. setau saya memang di cambodia dan thailand ada beberapa wilayah yang banyak didiami orang patani, mereka memang bisa bicara bahasa melayu malaysia yang notabene mirip bahasa Indonesia, mereka juga rata-rata orang muslim hehe. seu ya bisa ke cambodia, btw sudah pernah ke mesir, yordania dan palestina belum? kalau belum yuklah mampir blog saya, ada sedikit cerita tentang 3 negara itu, siapa tau jadi pengen hiihi... btw salam kenal ya :)

    ReplyDelete
  7. Wah, baca tentang kisah kekejamaan khmer memang selalu bikin merinding ya?btw, tuk tuk itu semacam becak yang ada di thailand ya?

    ReplyDelete
  8. Mba budgetnya udah termasuk oleh-olehnya belum?

    ReplyDelete
  9. Sist, tiket bus bisa ditawar?

    Ditunggu cerita selanjutnya ya sist... Jadi penasaran...

    ReplyDelete

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates