Latest Posts

Jelajah dan Kuliner Melaka Lewat Karnival Citra Rasa Homestay Malaysia 2016 (2-end)

By Wednesday, February 22, 2017 , , , ,

Kampung Morten, view dari Sungai Melaka.
YA ampunnnnn, saking (sok) sibuknya, lanjutan cerita pengalaman jelajah kuliner Kota Melaka bersama majalah Gaya Travel dan MoTaC Malaysia lewat acara #ICYDKMelaka inconjuction with Karnival Citra Rasa Homestay Malaysia pada 2-6 November 2016 lalu menjadi telat posting. Maafkan saya ini sudah 2017!!! *Sungkem ala Putri Keraton Solo. :)
Sebelum membaca Part 2 ini, baiknya baca POSTINGAN Pertama Ini deh....., biar enak dan seru mengikuti pengalamannya, iya enggak? hehe.

 *PART 2 Dimulai dari Bangunan Tertinggi Melaka

A bridge menuju The Shore Sky Tower
Hujan di pagi hari itu tak menyurutkan kunjungan sesuai jadwal, yakni menuju The Shore Sky Tower, salah satu bangunan modern dan tertinggi di Melaka. Bangunannya cuma satu menara, tapiiiii dengan 42 tingkat. Dan atap tertinggi alias rooftop-nya menjadi salah satu yang dikhususkan apabila berkunjung ke sini. Bayangkan saja, dari sini, kita bisa melihat Kota Melaka secara keseluruhan, apalagi ada satu spot challenge untuk menguji adrenalin, yakni spot petak dari kaca yang tembus pandang ke bawah. Bagi para fobia gravitasi, berdiri di spot tallest observatory deck ini menjadi ujian tersendiri.

Berdiri di tallest observatory deck _Saya tidak takut!!!_. Nah bangunan merah di bawah itu Kampung Morten.
Tallest Observatory deck ini berbentuk kotak dan jaraknya hanya tiga langkah, berdiri hanya sebentar saja. Tapi bagi yang takut, untuk mensukseskan berdiri disitu saja bahkan butuh perjuangan, tangan keringetan, nafas tersengal, bahkan ada yang merangkak seolah takut bumi menelannya, menariknya ke bawah.Padahalkan biasa saja. :)

Lokasi ini cocok bagi penikmat ketinggian, melihat pemandangan Melaka baik di siang hari atau pun malam hari, dan bahkan tempatnya juga sangat cocok untuk lokasi prewed.

Untuk bisa menikmati gedung tertinggi ini, pengunjung wajib membeli tiket masuk seharga 25 Ringgit untuk dewasa, dan 18 Ringgit untuk anak-anak usia mulai 3-12 tahun. Generally, gedung ini beroperasi setiap hari mulai pukul 10.30 am hingga 10.00 pm, tergantung kebijakan dari pengelola.

Sudah jalan-jalan, menikmati pemandangan, tak lengkap rasanya untuk mencicip kuliner di sana. Maka jadilah The Sky Deli Restaurant sebagai pilihan. Restoran ini juga masih berada satu level dengan rooftop di lantai 42 dengan pemandangan tak kalah fantastik.

Menu nasi hijau chicken curry di The Sky Deli Restaurant.
Meski desain restorannya modern, namun mereka juga menyajikan menu tradisional sebagai main course menu yang dikenalkan kepada pengunjung resto. Salah satunya nasi lemak hijau kari ayam. Ah ini menjadi salah satu hal yang membuatku salut dengan Melaka ini. Mempertahankan cita rasa kuliner lokal di tengah gempuran menu western di restoran berdesign modern.

Menikmati makan siang bersama, diselingi cerita dan share bersama rekan social media influencer berbagai negara menjadi pengalaman tersendiri bagiku di The Shore Sky Tower tersebut.

Berhenti disitu saja? Not yet. Kami dibebaskan mengeksplorasi gedung yang terkonsentrasi sebagai pusat perbelanjaan dan hiburan tersebut.  Nah, bagi traveler, penting menjadikan The Shore ini sebagai salah satu tempat wajib kunjung apabila ke Melaka. Betapa tidak, disini kita bisa memasuki berbagai wahana dan fasilitas yang tersedia dalam satu tempat. Sebut saja The Shore 3D Interactive Park yang menghadirkan 13 elemen pilihan untuk spot fotografi. Bagi kamu-kamu yang ingin eksis motret dengan latar belakang energik dan unik? di sinilah tempatnya.

The Shore 3D Interactive Park ini berada di tingkat 2FS-01-46. Luassssss banget bukan??? Dibuka setiap hari mulai dari pukul 10.30 am - 9.00 pm dengan membayar tiket 30 Ringgit untuk dewasa, dan 20 Ringgit untuk anak-anak.

Epic games, Star Wars with Mr Tourism Malaysia, Fauzi Muhamad.
Nah, bagi yang demen mengenang masa kecil dengan sejumlah permainan robot, atau nostalgia film kartun kesukaan, bisa juga ke tingkat satu, mengunjungi alam khayal semasa anak-anak, The Shore Toy Museum. Satu hal yang membuatku nyaman di Toy Museum ini adalah melihat aneka miniatur Doraemon di lemari sudut. Oh my goodnes,nostalgia komik kesukaan masa kecil itu tak akan tergantikan hingga kini. Di lemari pojok itu, saya melihat miniatur Doraemon, sahabatnya Nobita, Suneo, Sizuka, Giant dan bahkan adiknya Jaiko dalam berbagai karakter pun ada. How i loved that.

Doraemon i love you.. Ini ada di Toy Museum Melaka sik.
Di museum mainan ini, pengunjung akan dimanjakan lebih dari 10 ribu pameran patung yang diimpor langsung dari Jepang, Thailand, dan Amerika. Di sini, bagi penggemar Star wars, Gundam, Spyder Man akan dimanjakan dengan kehadiran berbagai properti pendukung seperti dalam film. Bahkan, kamu juga bisa berubah menjadi kapten Amerika di museum ini. Penasaran? Makanya berkunjung saja, jangan cuma dengar pengalamanku deh.. _Nyinyir.com_

Minggir, Capt America mau lewat.. hahaha @Toy Museum.
Puas berkeliling di satu gedung itu, meski perut masih kenyang, kembali menikmati kuliner brownie coconut pie dan jus mangga di River Quay Dining Lounge di lantai dasar gedung. Lounge ini konsepnya jadi restoran kala siang, dan berubah jadi bar dan lounge kala malam. Bentuk meja baristanya unik, yakni akar pohon berwajah manusia.

Tahu gak sih kalau bangunan The Shore ini lokasinya sangat strategis. Berada persis di seberang Kampung Morten yang bersejarah. Lokasinya hanya dibatasi Sungai Melaka yang kini disulap menjadi little Venezia di Melaka. Dari kawasan The Shore kamu bisa melihat masa lalu Melaka di hadapan, demikian sebaliknya, dari Kampung Morten, kamu bisa melihat masa depan Melaka di hadapan. Keren banget.
Bagian dalam rumah tradisional bersejarah di Kampung Morten.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, berdasarkan jadwal, kami juga berkunjung ke Kampung Morten, melihat langsung rumah tradisional peninggalan Melayu terlama di sana. Bahkan di sini, saya berkesempatan menaiki kereta listrik tiga roda, Kiwi Bike.

Kegiatan hari kedua itu pun ditutup dengan mengunjungi the famous touristy place in Melaka: Jonker Street dan Afamosa. Sore berganti ke malam, berpisah sementara dari rombongan grup, bersama rekan blogger undangan dari Indonesia, kak Lina W Sasmita, bang Yudi Randa blogger Hikayat Banda dari Aceh, dan mas Fadly, kami pun mengunjungi pasar malam Jonker Street sekalian membeli oleh-oleh buat orang terkasih di Indonesia, masuk ke pusat fashion retail H&M, dan mengeksplorasi tiap lorong bangunan tua di kawasan Jonker tersebut.

Pusing-pusing pakai Kiwi Bike.
Tak hanya itu, tak menyia-nyiakan juga berkunjung ke gereja merah Christ Church dan St Paul Church yang memang satu kawasan dengan Jonker Street. Malam itu, kami juga mengunjungi sekilas Menara tertua di Melaka, Taming Sari.

Pulang ke hotel, istirahat untuk mengembalikan tenaga supaya kuat menghadapi kenyataan di hari ketiga.

* Kuliner Kari Kambing Fenomenal di Simpang Bekoh

Kari Kambing di Warung Kari Kambing Power dan Asam Pedas Claypot Simpang Bekoh.
Hari ke tiga #ICYDKMelaka, kami sedikit menjauh dari pusat kota. Kali itu, Sharmsoul mengatakan kami menuju Warung Kari Kambing Power & Asam Pedas Claypot di Bekoh yang menyediakan menu kari kambing yang rasanya paling fenomenal seantaro Melaka.

"What? kari kambing? Aduh bagaimana ini? i tak makan semua hal berbau kambing. i don't know why, tapi kambing bawaannya tak cocok di mulut saya"

"Tenang, selain kari kambing, itu warung punya menu lain kok. Ada ikan asam pedas dan lontong kering"

"Ah syukurlah ada menu lain, hampir saya puasa hari itu karena tak makan kari kambing"
Warung kari kambing.

Para pejabat penyelenggara Karnival Citra Rasa Homestay Malaysia 2016.
Maka tibalah di warung yang terletak di sebelah jalan lintas yang menghubungkan Kampung Chabau-Kampung Simpang Bekoh tersebut. Warungnya sederhana, hanya sejenis kedai kecil dengan terpal seng terbuka ala desa layakanya di Indonesia. Warung itu berseberangan dengan kebun sawit dan bersebelahan dengan Sungai Tambak Merlang.


Pasutri pemilik warung kari kambing dan para karyawannya.
Di sana, kami langsung disambut pemilik kedai, Yusri Nadin dan istrinya Dahlia Ibrahim. Mereka adalah pasangan suami istri yang sudah 20 tahun menjalankan bisnis kuliner tersebut. Di warung ini, ada beberapa menu signature yang dihadirkan, seperti asam pedas claypot (RM 6,50), nasi lemak telur (RM2), Soto Mee atau mi hun ( RM 3,50), nasi ayam penyet (RM 5), lontong kering (RM 4), serta kari kambing ( RM 5,90). Dari beberapa menu itu, kari kambinglah yang tersohor. Bahkan konon katanya, mak cik Lia (Dahlia) ini mengatakan warungnya ini sudah dikenal hingga ke Kuala Lumpur. "Kuala Lumpur hingga kawasan lainnya sudah pasti tahu kedai kita ini," ujarnya.

Blogger and Social Media influencer dari berbagai negara di warung kari kambing.
Di sana, saya pun tertarik mencicipi lontong kering. Ini salah satu hal baru bagi saya. Kalau di Indonesia lontong disajikan dengan kuah khas Medan dan juga opor ayam yang berkuah putih santan, nah di warung ini, lontong justru disajikan kering dengan menu pengawal serundeng kelapa, sambel kacang,dan ayam rendang. Rasanya? lumayan sedap juga kaya makan nasi lembek kering apalagi dicampur serundeng kelapa.

Tak hanya itu, sebagai penikmat asam pedas, saya pun mencicip ikan pari asam pedasnya. Rasanya? juara!!! asamnya dapet, pedasnya dapat ditambah bonus gurih.

Penasaran darimana rasa ini berasal, saya pun memberanikan diri turun ke dapur, berbincang langsung dengan sang pemilik. Rupanya, itu resep adalah resep turun temurun dari keluarga mak cik Lia. "Ini resep turunan dari keluarga hingga lama-kelamaan Kerajaan Melaka menjadikannya sebagai pusat kuliner kambing," ujarnya.
Asam pedas claypot.
Warung ini buka hanya Senin sampai Jumat. Dan hebatnya, kari kambing disini dijadikan sebagai menu sarapan pagi dan makan siang lho. Wait what? kari kambing jadi menu sarapan? apa tak terlalu keras ke perut tuch di pagi hari? Jadi begini ceritanya: Zaman dahulu kala..... _ceileh ala dongeng_ di Kampung Jasin itu hingga kini sebagian besar warganya adalah petani yang membutuhkan banyak tenaga untuk bekerja di ladang sawit. Untuk mendapatkan tenaga itu, maka jadilah mereka mengkonsumsi kari kambing yang memang kaya akan protein hewani dan kolesterol yang dapat membakar tenaga. Dari situlah menu kambing dan menu berat lainnya halal dijadikan sebagai menu sarapan dan terbawa hingga kini.

Sebenarnya, selain warung kari kambing milik mak Cik Lia dan suaminya, di kawasan ini ada lima penjual kari kambing, ya cuma itu, miliknya ibu Lia inilah yang paling terkenal. Bayangkan saja, pagi-pagi sekali ini warung sudah dipenuhi 60-80 tamu yang ingin mencicip kari kambing dan menu lain yang mereka sajikan. " Khusus menu kambing, kita ada potong dua ekor setiap hari. Adanya pagi saja," ujar ibu dari Muhamad Afi Iman ini.

Saking suksesnya warung ini, mereka pun diperbantukan enam karyawan.

Kenyang menikmati kuliner khas perkampungan Bekoh, kami pun melanjutkan perjalanan hari ketiga itu Kampung Jasin di Asahan. Disambut hangat dengan tarian khas oleh adik-adik sepantaran sekolah dasar dengan alunan musik bambu tradisional yang mengingatkanku akan tarian khas Selamat Datang ala Dayak di Kalimantan. Di sana, kami berkesempatan melihat langsung produksi Usaha Kecil Menengah (UKM), Biskuit Tongkat Simpang Bekoh yang dikembangkan Koperasi Simpang Bekoh Jasin Melaka Berhad (KSB).
Biskuit Tongkat.
Biskuit ini kalau di Indonesia dikenal sebagai bagelen. Roti keras yang enak dikonsumsi dengan teh atau pun kopi hangat, dan bahkan susu panas. Biskuit dengan pabrik berada di tengah perkebunan ini kini menjadi salah satu oleh-oleh dari Melaka.

Proses produksi Biskuit tongkat.

Mr Tourism Malaysia Fauzi Muhamad dan blogger famous asal Aceh, Yudi Randa mencoba biskuit tongkat langsung dari pabriknya.
 Kadung sudah mengunjungi Kampung Jasin, jelajah hari itu dilanjutkan ke kawasan perbatasan tiga negeri yakni Johor Bahru, Melaka dan Negeri Sembilan di kaki Gunung Ledang. Disambut acara resmi oleh pejabat setempat di depan kantor Laman Tiga Budaya Taman Tema Air di Jalan Kolam Air Lama Chabau, kunjungan ke gunung yang terkenal lewat legendanya Putri Ledang yang dicintai Hang Tuah ini, kembali kami merasakan suasana hangat kekeluargaan ketika dijamu dengan menu khas Melayu di aula lantai dua bangunan kantor tersebut.
Deputi Kementerian dan Kebudayaan Malaysia, YB Datuk Ermieyati binti Samsudin saat tiba di acara Karnival Citra Rasa Homestay Malaysia 2016 di Dataran Merdeka, Melaka.
Mencicip aneka buah khas tropis seperti salak (snake fruit), langsat dan yang lainnya, saya duduk semeja dengan blogger sekaligus traveler asal Prancis, Violette dan pasangannya Antoine, bang Yudi Randa, dan kak Lina. Selesai makan siang bersama, mengisi waktu, kami jalan sekilas ke salah satu sungai kecil di kaki gunung Ledang bersama aktor Malaysia Syed Ali, dan Mr Tourism Malaysia Fauzi Muhamad.

Seremonial puncak perayaan Karnival Citra Rasa Homestay 2016 di Melaka.

Kegiatan hari pertama hingga ketiga ini merupakan rangkaian #ICYDKMelaka inconjuction with Karnival Citra Rasa Homestay Malaysia yang dipusatkan di Dataran Merdeka. Di dataran itu, lebih dari 20 stand dari berbagai negeri yang memperkenalkan kuliner khas dan homestay masing-masin. Masing-masing negeri di Malaysia hadir membawa perwakilannya, memperkenalkan hasil bumi, aneka penganan khas, hingga ciri khas homestaynya. Diantara berbagai stand itu, saya menyukai stand Negeri Sembilan dan stand Sarawak yang menyajikan kuliner etnik, bahkan memperkenalkan hasil produksi garam yang menyerupai balok.



Tiga hari menjelajah pedesaan Melaka menjadi pengalaman tersendiri bagiku. Betapa tidak, ini perdana saya mengunjungi Melaka, salah satu kota di Malaysia yang berjiran dengan Indonesia. Tak hanya berjiran secara wilayah, namun kami berjiran secara kesukuan, dipersatukan oleh Melayu, dan bahkan berbagi kisah sejarah yang sama di bumi nusantara sebagai bagian dari keterikatan zaman dulu hingga kini. Pernyataan ini yang selalu saya ingat sejak menghadiri pertemuan para tetua Suku dan Adat Indonesia-Malaysia-Singapura dalam Seminar Melayu Sedunia yang berlangsung di Johor Bahru pada 2011 lalu. Kala itu, mereka sepakat dengan petuah TAKKAN PUTUS AIR DICINCANG. Ya begitulah hubungan Indonesia-Malaysia hingga kini.


Pengalaman inilah yang ingin saya bagikan menjadi sebuah cerita di blog ini, yang kelak menjadi pengingat bagiku secara pribadi, menjadi kenangan di masa depan.  *** 

  Thanks to:

-Ministry of Tourism and Culture Malaysia,
-Gaya Travel Magazine
-Pejabat Kebudayaan Melaka
-The Settlement Hotel
-All team bloggers and social influencer from Indonesia,Malaysia, French, Deutch, and Germany.
Thankyou for awesome experienced that we shared together in Melaka Guys..See you all again someday!!!

Tim Blogger and Social Media Influencer Karnival Citra Rasa Homestay Malaysia 2016 berpose di Kampung Morten.



You Might Also Like

9 komentar

  1. Wah ada yang namanya sama dengan saya, mr turis jabatannya he2..., apa tugasnya ya?

    Btw pengalamannya sangat menarik.
    Tfs

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mohamad Maes Fauzi,
      Hahaha.. iya ada. Tugasnya memperkenalkan pariwisata Malaysia ke luar negeri.

      Terimakasih sudah berkunjung mas Fauzi.

      Delete
  2. Makanannya menggoda.... Ehm... Langsung terpikir lemak-lemak di body... Hehehehehe... Nice story kak....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sri Murni,
      Jangan dipikirkan lemak-lemak di body.. ada makanan, lahap saja.

      Terimakasih kak Menik.

      Delete
  3. kak ini aku bukan nyinyir ya cuma keritik membangun , sebetulnya sudah lama aku pendam ( jeng jeng).

    andai foto di blog mu itu nggak kecil dan kelihatan gantung pasti lebih sedap dipandang.

    coba fotonya dibuat lebar pixel 600 dan besar , blog mu kelihatan kece dan lebih profesional.

    abis ini pasti aku dilabrak wartawan kantor sebelah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Danan Wahyu,
      Terimakasih kritik membangunnya kak Ices.Kritikannya diterima. Andai kritikanmu selalu membangun begini tanpa dibumbui nyinyir, aku akan sangat berterimakasih kak. *Peluk kak Ices. wkwk

      Delete
  4. roti tongkat itu kayaknya aku udh makan deh

    ReplyDelete