Latest Posts

Meet Up Dolphins at Mencaras Island

By Friday, March 11, 2016 , ,


Meetup the dolphins, Nikita and Nairus
KAMI berangkat dari Pelabuhan rakyat Telaga Punggur, sekitar 200 meter dari pelabuhan fery Batam-Tanjungpinang di kawasan Kabil. Pagi di hari Sabtu itu, bersama teman Lisna, mba Ade dan keluarga, mba Nana dan suami, kami mengadakan leapfrogging a.k.a island hopping.  

Oh ya saya tinggal di Batam, salah satu pulau besar di Provinsi Kepulauan Riau yang terkenal sebagai kota industri, dan juga kota wisata hiburan malam dan belanja. Karena letaknya yang berdekatan langsung dengan dua negara tetangga, Singapura dan Malaysia, sehingga membuat kota ini sebagai pulau terluar Indonesia yang paling modern.

Sebagai warga yang tinggal di perbatasan, ada dua jenis liburan yang saya jalani. Yakni long trip dan short vacation. Kalau long trip, biasanya saya menggunakan cuti panjang, mengadakan perjalanan ke beberapa kota di Indonesia atau bahkan luar negeri. Nah kalau short vacation? Biasanya itu dimulai pada hari Sabtu.

Menurutku, Sabtu adalah hari bebas sedunia karena itu adalah off duty-nya kantor. Sebagai seorang karyawan fakir cuti yang addicted to wanderlust, Sabtu menjadi hari dimana saya selalu keluar dari rumah. Kemana? Kalau tak menyeberang ke negeri seberang, ke pulau seberang di Tanjungpinang, Bintan atau Lagoi, ya berpetualang sehari bareng teman. Atau bahkan melakukan kegiatan olahraga sehat yakni trekking menelusuri hutan sejauh 12 kilometer. - Sampai saat ini, baru sejauh itu sih. Tahun ini berencana memecahkan rekor trekking 18 kilometer. haha -

Kembali ke kegiatan island hopping tadi. Menggunakan kapal kayu bertenaga mesin, atau di Batam kami sebut pompong, turun dari pelantar rumah warga, kami memulai perjalanan. Deru mesin pompong itu membawa kami ke pulau pertama, yakni Pulau Airaja (Air Raja)

Pulau Air Raja
Pulau ini merupakan pulau transmigrasi yang menjadi objek wisata. Dimana sebagian besar warganya adalah pendatang dari Jawa yang mengikuti program transmigrasi dari pemerintah sejak tahun 1980-an. Disini, kehidupan warga transmigran dengan suku Melayu asli Batam hidup berdampingan.

Sekitar 30 menit membelah lautan, tibalah kami di pelantar panjang pulau ini. Dari kejauhan, pulau ini sangat hijau dan masih asri. Kami langsung menuju sumber mata air tawar, Perigi Air Raja.

Mata air Perigi
Pintu masuk mata air Perigi Air Raja.
Di pintu gerbang masuk perigi ini, ada plang yang bertuliskan nama pulau ini berasal dari legenda. Konon, pulau ini merupakan pulau persinggahan raja-raja Melayu nusantara yang berlayar menuju Johor (negara bagian Malaysia). Saat hendak melakukan penyeberangan ke Johor,salah satu Raja Melayu Bintan, Datuk Munsang Arafah mengalami badai dahsyat, sehingga perahu Lancang kuning yang mereka bawa terseret arus, terhempas dan pecah, sehingga membuat mereka terdampar di pulau ini.

Di pulau kecil ini, mereka pun kekurangan air. Bersama permaisuri Ratu Tengku Putri Siti Hawa dan keluarganya, mereka pun berdoa memohon Tuhan memberi air supaya bisa mereka minum. Usai berdoa, mereka berjalan ke ujung pulau dan menemukan mata air, dan mata air tersebutlah yang dikenal dengan perigi air raja, sehingga kini dikenal dengan pulau Air Raja.

Perigi ini tak pernah kering meski musim kemarau sekali pun. Dan oleh warga sekitar, air ini dipercaya bisa menyembuhkan.

jarak dari pelantar menuju perigi ini hanya sekitar 30 meter saja. Melewati pelantar, mendaki sedikit, di sebelah kanan jalan tanjakan itu, disitulah perigi ini berada.

Bermain di pantai.

Dari pulau ini, kami pun melanjutkan perjalan ke Pulau Tunjuk. Pulau menara suar yang masuk ke bagian administrasi Tanjung Balai Karimun ini menawarkan keindahan khas tropis. Nyiur melambai, pantai berpasir putih, dan air laut yang jernih membuatku jatuh hati. Saya terduduk memainkan pasir putihnya yang halus, bahkan tertidur disana, sementara teman yang lain malah asyik berenang di airnya yang jernih.

Bermain ombak di pantai.
yeaiy..
Pemandangan laut Indonesia itu indah guys.
Lupakan pantangan dilarang berenang disana karena mitos pasirnya yang bisa berbisik, bergerak sesuka hati. Kami menjadi penentang mitos disana, kami malah bermain-main ke ujung pantai, berenang, dan berjemur -Meskipun tetap mengenakan cardigan lengan panjang supaya ga makin item.-

Istirahat sejenak di Pulau Tunjuk.
Usut punya usut, pantai di ujung pulau dengan menara suar ini merupakan hasil dari pertemuan dua arus. Sehingga riak dan gelombangnya ditambah laju angin membuat pasir pantainya seolah bergerak. - Disarankan memang tetap hati-hati dan waspada berenang di kawasan seperti ini, namun kami tetap menikmati perjalanan ke pulau ini dan melupakan pantangan itu. hehe -
Alat tempur.
Matahari sudah mulai meninggi mendekati puncak kepala. Kami bergegas untuk melanjutkan perjalan kembali ke pulau yang lainnya. Pulau ketiga kali ini, kami akan menuju Pulau Subang Mas, pulau yang masih sarat dengan legenda sama seperti dua pulau sebelumnya yang dikunjungi. Kuangkat tasku, kusampirkan talinya di pundakku, lantas menenteng sendal jepit dan langsung menaiki kapal.
Pelantar Pulau Subang Mas.
Ombak yang lumayan tinggi membuat pompong yang kami naiki bergoyang hebat, miring dan terombang-ambing lagi. Sempat jiper. Auuuuuufffh, saya hanya bisa tertunduk memeluk ransel coklatku, sementara tangan kiriku memegang erat pinggiran kapal.

Sekitar 15 menit kemudian, kami tiba di pulau Subang Mas. Di Pulau ini kita bisa menemukan beberapa batu besar berbentuk subang. Ada legenda, batu-batuan yang terdapat di beberapa sudut pulau tersebut ada hubungannya dengan Putri Daik Lingga bernama Dahlia yang meninggal di pulau itu. Ah terlepas dari cerita mitos yang tak terlalu saya sukai itu, Pulau ini boleh dikatakan sebagai pulau yang layak dikunjungi karena garis pantai dengan pasir putih yang panjang. Selain itu, kawasannya yang berbukit sedikit landai ditambah landscape bebatuan besar berwarna merah dan hitam dengan bentuk unik menambah ketertarikanku mengunjungi lebih masuk ke area perkampungannya.

Di pulau ini, hanya dihuni 50 kepala keluarga (KK) saja. Sebagian besar warganya adalah nelayan, pedagang dan juga beberapa PNS dan satpam di kota Batam. Keramahan khas warga pulau ini membuatku i feel like home, ketika ibu RT membuatkan kami mie goreng telur dan minuman es kelapa muda dicampur dengan gula aren. Slurrrrrrp, segarrrrrr nikmat di cuaca panas kali itu. - Terimakasih atas jamuan tak terduganya ibu.. Banyak berkat yak -

Island hopping berhenti sampai disitu? tidaaaaaaaak. Justru puncak petualangan kami kali ini adalah mengunjungi Nikita dan Nairus, dua lumba-lumba di tempat observasi di Pulau Mencaras. Ini menjadi kunjungan ke-2 ku ke pulau tersebut setelah sebelumnya pergi bersama teman-teman dari Anak Pulau. Tak pernah saya bosan untuk meet up with two cuteness dolphins di pulau itu.
Selfie bareng Nikita. haha
Mencaras, saya menyebutnya mini Maldivesnya Batam di Indonesia. Mengapa? Kamu bisa lihat sendiri foto di bawah ini.
Nikita dan Nairus beraksi.
Looks like Maldives ga? ini Pulau Mencaras di Batam lho.
Bercengkerama dengan Nikita dan Nairus, bermain hide and seek, dan lantas menertawakan ke-childish-an saya yang begitu sumringah tak peduli ada orang, selalu berteriak "Hai Nikita? eh kamu Nikita atau Nairus sih? Aku kangen kalian berdua. Mengapa matanya kelu sedih gitu? Semangat Nikita, semangat Nairus.. Kamu merindukan samudera luas ya? semoga malam ini kalian terbebas ya. i love you" teriakku sambil menjentikkan jari memainkan tangan menarik perhatian mereka. Ah i love you Dolphins.

Tak terasa, waktu berjalan terus. Perut pun mulai keroncongan, sementara keringat bercucuran akibat panasnya Batam sepanjang tahun. Saya pun membuka ransel coklat dan mengambil biskuit dan sebotol air mineral.

Oh ya, berbicara mengenai ransel, saya memiliki beberapa di rumah. Koleksi? Tidak juga, hanya saja, menurutku, memiliki ransel itu sebagai kebutuhan karena hobi saya yang suka wanderlust alias traveling alias jalan-jalan. Ada lima ransel yang saya punya, mulai dari ukuran 65 liter, 55 liter, 45 liter, hingga ransel piknik dan juga ransel sepedaan. Satu ransel alias backpack ukuran 45 liter saya hibahkan kepada salah satu teman yang pindah tugas ke Jakarta sebagai kenang-kenangan. Katanya, dia suka dengan gelang-gelang yang (selalu saya beli dari berbagai kota dan negara yang saya kunjungi) saya ikatkan di sampiran talinya. Belakangan, saya merindukan tas itu. Ukurannya yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil seringkali tak merepotkanku dalam melakukan perjalanan.- Saya tipe pejalan yang menggunakan backpack karena simpel dan membuatku lebih bebas bergerak, bukan koper yang menurutku rempong -. Kalau sudah rindu begini, selalu deh browsing ke berbagai website merek-merek ransel, termasuk website ZALORA.


Di situs e-commerce ini, ada pilihan page khusus ransel kece nan keren, Herschel. Banyaknya pilihan motif dan bahannya membuatku langsung jatuh cintrong setengah sadar. Duuuuh, jadi pengen cepat-cepat jalan ke Nepal menggunakan ransel ini.

Sebut saja saya tomboy karena mengenakan ransel bukan sling bag unyu atau pun tas tenteng merek terkenal ala artis.Biarin. Yang penting, tas punggung membuatku lebih bebas bergerak karena seluruh barang bawaan ditopangnya di kedua bahu, bukan di tangan. Dan Herschel dari Zalora mewakili itu.
Herschel army backpack Will be mine, soon. :)
Mengadaptasi nama sebuah kota kecil, Herschel Supply Co, didirikan oleh Jamie dan Lyndon Cormack bersaudara sejak 2009. Kini, perusahaan ini terkenal akan produknya yang berupa ransel, tas, kebutuhan perjalanan dan aksesoris yang berkualitas.

Herschel, merek tas dari Kanada.
Berbasis di Kanada, Herschel memasarkan produknya ke pasar global. Anda tidak perlu kesana untuk mendapatkan tas punggung yang asli dan ekskusif karena semua ada ZALORA Indonesia. Koleksi Tas Punggung Herschel yang Fashionable dan Multifungsi ini bisa dilihat disini: http://www.zalora.co.id/herschel/ beli ah hahaha.

"Chayyyyyyy, buruan, kita udah mau jalan neh," teriak Lisna mengagetkanku dari lamunan bakal memiliki ransel baru sambil menikmati semilir angin di pantai Mencaras. Sambil membersihkan remahan biskuit di mulut, saya pun beranjak, mengangkat ranselku, menyampirkannya di pundak, lantas naik ke pompong. Kami kembali ke Punggur, menikmati kuliner menu seafood yang lezat. ***

You Might Also Like

15 komentar

  1. Wuih si dolphin kyknya seneng banget di kunjungi sama kaka hahahah.... Wah kaka seneng belanja di zalora juga ya, aq jg lumayan sering sih lumayan bagus and gk ribet sih belanjanya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Asad,

      Iyaaaa.. saya senang banget lihat Lumba-lumba. Suka lupa pacar eh waktu ih klo udah ketemu. hahaha.

      Kok tahu saya suka belanja di Zalora? hahaha. Iya, belanja di Zalora, barangnya sesuai pilihan. Paling suka belanja kosmetik disana. hi hi

      Terimakasih udah mampir yauk

      Delete
  2. Aku kemana-mana mah pake ransel

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear kakak Rina,

      Ih kok bisa sama yak? Tapi ke mall aku ga pake ransel dong. apalagi ke gereja.. wkwk

      Delete
  3. Hihi, jadi kangen sama Nikita & Nairus, asik yah kak main ke pulau Mencaras.


    ReplyDelete
  4. Dear Eka Handayani,
    Yuk island hopping ke Mencaras dan sekitarnya. Biar bisa ketemu Nikita dan Nairus. Hehe

    ReplyDelete
  5. Aku juga seneng belanja online, apalagi zalora yang ga bikin ribet :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Story Pejalan..

      Same with me. Belanja online di Zalora ga ribet. Bisa COD yg paling seru. Liat barang, cek dulu. Ga sesuai ya balikin. Tapi sejauh ini semuanya sesuai sik.

      Ido thanks udah mampir yak.. *melipir ke blog Ido. Finally we meet in blog.. Hahaa

      Delete
  6. Aku udah punya loh ransel beli di Zalora juga :D ini Kapan Chay kok nggak ngajak-ngajak kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear kakak Lina,
      Kok Chaya ga pernah liat ranselya dipakai kak Lina? Hahaha

      Ini perjalanan beberapa saat lalu, saat bawa temen mengenal pulau2 kecil di Batam utk proyek tour n travelnya kak Lin. Yuk cussss kita kesana lagi

      Delete
  7. Waktu aku ke Mencaras dulu dolphinnya namanya Bimbim... Dia sendirian, ga ada temennya..
    Btw aku juga lebih suka pake ransel, Chay...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear mba Dian,

      Waaah, tahun kapan itu mba Dee? Saya malah belum bertemu Bimbim..hehe

      Toss sesama pemake ransel

      Delete
  8. seru bisa melihat lumba-lumba disana ..

    ReplyDelete