Kaleidoskop 2021 Seorang di Balik Catatan Traveler

SEBELUM tahun berganti, saya merefleksikan diri atas apa yang terjadi sepanjang tahun ini. Kaleidoskop 2021 seorang Chahaya, di balik blog Catatan Traveler. Pantulan atas berbagai hal yang terjadi dalam menjalani kehidupan di tahun ini.

Tahun 2020 boleh dibilang menjadi masa terberat bagi seluruh dunia. Pandemi Covid-19 terjadi. Sebagian besar sistem berubah. Demikian juga 2021, dimana sistem di 2020 masih terbawa.

Misalnya, kewajiban memakai masker yang kini menjadi kebiasaan. Jangankan ke kantor, ambil paket makanan yang dibeli online saja pun, wajib memakai masker.

Ada lagi, tas make-up yang biasanya di dalamnya terdapat beberapa jenis lipstik, lipgloss, hand cream, parfum, dan sisir, kini bertambah tissu basah, sabun cair, hand sanitizer spray, dan hand sanitizer gel. Bahkan semprotan disinfektan untuk kursi dan meja, serta tissu kering kini bertambah dalam tas.

Kebiasaan salin tangan atau salaman, hilang. Itu masih berlanjut di 2021. Cuma kini sudah lebih santun, salin ala ksatria, kepal tangan, saling tempel pergelangan. Saya masih belum terbiasa menggunakan kebiasaan itu. Saya lebih memilih menyatukan kedua tangan di dada lalu menunduk ketika bertemu  atau menyapa seseorang. Lebih aman, juga lebih santun ala Indonesia bukan?

Tahun 2021, how i said that? That's not my finest year. It’s has been a challenging year but also full of blessing, lessons, and so many exciting moments that i must be grateful to.

Ini menjadi tahun kedua bagiku tidak merayakan Hari Natal dan Tahun baru bersama bapa dan mamak, serta keluargaku di kampung. Biasanya, sekali setahun saya pasti memilih cuti, pulang, merayakannya bersama keluarga.

Kenapa saya selalu pulang setiap tahun merayakan hari besar itu? Karena setelah merantaulah saya sadar, bahwa waktu bersama kedua orang tua dan keluarga itu sangat mahal. Sangat penting. Bukan karena itu saja, karena saya juga sangat rindu bapa dan mama. Benar kita hidup di masa dimana komunikasi kini tanpa batas, bisa saling teleponan tiap hari. Namun, ternyata, pertemuan fisik yang paling penting dan berharga.

Saya punya kerinduan, selama bapa dan mama saya masih hidup, saya akan pulang setiap tahunnya untuk bertemu mereka. Saya percaya, ketika salah satu atau kedua orang tua kita sudah meninggal, pulang kampung tidak akan sama lagi rasanya. Hilang euforia, rindu tak akan berbayar lagi. Jadi, for you guys, anak rantau yang baca tulisan ini saat ini, pulanglah saat orang tuamu masih ada. Jangan terlalu fokus mencari duit, justru kehilangan momen pertemuan. Berdoalah supaya kedua orang tua kita diberkati Tuhan dengan kesehatan, umur yang panjang, dan kebahagiaan memiliki kita sebagai anak-anaknya.

Kembali ke topik, setelah 2020 memilih tidak pulang karena pandemi dan menjaga supaya saya tidak menjadi penyebar virus kepada kedua orang tuaku, di 2021 juga saya memilih tak pulang lagi.

Tahun baruku kuisi dengan ibadah dan refleksi seorang diri di sini. Di tanah rantau. Setelahnya, saya pergi merayakan natal ke rumah sahabat, piknik ke pantai, menyaksikan swastamita, sunset yang keindahannya selalu kukagumi sejak masih anak-anak hingga kini.

Saya masih seorang diri alias single. Saya berharap tahun ini saya melepas masa lajang, tapi ternyata Tuhan bilang belum. Maka jadilah saat Februari yang oleh sebagian pasangan merayakan hari Valentine di tanggal 14nya, dengan memberi bunga dan coklat kepada pasangan, saya memilih ikut kelas Sunrise yoga di pantai, dari studio yoga tempat saya ikut sebagai murid yoga. Kami melaksanakan relaksasi dan yoga di Pantai Vio-vio. Saat itu, tak mengurangi sukacita kami sebagai anggota sesama jomblo eh single, eh apa deh you named it. hahaha

Kami pulang dengan hati bahagia dari pantai itu. Apalagi, hari itu kami berbagi rezeki kepada nelayan pompong yang menjual ikan asin hasil tangkapan dia, yang lalu dikeringan dan dijadikan ikan asin oleh istrinya. Bapak nelayan itu mengisahkan, pendapatannya berkurang sejak pandemi, apalagi sejak berkurangnya turis lokal ke pantai saat pandemi. Biasanya beliau menjadi pengemudi pompong yang membawa turis mengelilingi pulau di sekitar Barelang. Namun pengunjung berkurang, ia pun memilih menjajakan ikan asinnya kepada pengunjung yang datang seperti kami, sembari menunggu pengunjung datang menyewa pompongnya.
Senyum cerah setelah sembuh dari Covid-19.

Maret, tepatnya tanggal 3 dan 17-nya, saya mengikuti vaksin Covid-19. Menggunakan Sinovac Coronavac di Puskesmas Tanjungsengkuang Batuampar. Setelah vaksin itu, saya merasa aman dan nyaman dan memutuskan pulang kampung pada 19 Maretnya. Saya tinggal di kampung sampai 5 April.

Bahagia yang kurasakan saat bertemu kedua orang tuaku, merayakan ulang tahun bapaku di tanggal 25 Maretnya, berdoa bersama. Saya bisa curhat segala hal ke bapak, menggosip ke mamak, dan jalan-jalan dengan adik yang juga cuti dari kerjaannya di Pekanbaru.

Saat cuti itu, saya memutuskan traveling ke Pulau Samosir. Mengelilinginya, berlayar di Danau Toba. Pergi dari Parapat-Tomok serta pulang dari Pelabuhan Onan Runggu-Pelabuhan Balige. What a great traveling. Why? Karena saya membawa serta mama dan adik. Mengenalkan ke mereka bagaimana gaya saya traveling. Makan durian di pinggir jalan, makan di lapo, lalu menginap (Kalau ini ya harus pilih hotel yang terbaik karena saya bawa mama) di The Samosir Villa Ressort. Kamar kami jenis vila yang menghadap langsung Danau Toba. Sunrise dari depan kamar kami sangat indah.

Namun, perjalanan tak selalu indah. Ada saja bumbu-bumbu kesalnya. Hehe

April, sepulang cuti, saya kembali bekerja seperti biasanya. Namun di bulan ini, saya menghadapi gejala mental-illness. Puji Tuhan tidak parah. Ketika kambuh, saya memilih berdoa kepada Tuhan, do something i can do seperti rajin yoga, meditasi, menangis saat ingin menangis, tertawa saat ingin tertawa, hingga di minggu terakhir bulan itu, saya sakit. Demam. Indra penciuman tidak hilang tapi lidah saya rasanya kaya mencicip besi berkarat. Tak enak banget.

Awal Mei, saya tes antigen di klinik dekat kantor. Hasilnya negatif. Saya lega. Namun meski hasilnya negatif, saya merasa tubuh saya ada yang tak beres. Saya pun melaporkan gejala yang saya hadapi ke gugus tugas, dan saya diperintahkan untuk segera tes PCR. Dua kali. Pertama di Rumah Sakit Budi Kemuliaan dan kedua di Rumah Sakit Harapan Bunda.

Selang tiga hari, saya dinyatakan positif Covid-19. Oleh dokter Novi, tim gugus tugas dari Puskesmas Lubukbaja saat itu, saya diminta mempersiapkan diri supaya segera dijemput dan dirawat di Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Covid-19, Pulau Galang.

Saya runtuh. Otakku mencoba mencerna hasil yang kuterima di pagi hari itu. Orang pertama yang kukabari saat itu, atasanku di kantor. Saya tak mengabari kedua orang tuaku. Takut mereka khawatir. Apalagi saat itu, I was in a fight with my mom and didn't talk one another nearly four months. I was badly shaken, i wanted to call her but my ego win. Puji Tuhan semua sudah baik-baik saja sekarang.

Lagi-lagi, aku bersyukur, saya tak jadi dibawa ke RSKI Galang, dan jadinya menjalani perawatan di Rumah Sakit Santa Elizabeth Lubukbaja. Saya dirawat di sana selama enam hari.

Kekhawatiran terbesarku selama di RS, bagaimana kalau aku pulang dari sini dalam kondisi tak bernyawa? Bagaimana kalau aku mati dan tidak ada seorang pun yang bisa mengantarkanku ke tempat peristirahatanku yang terakhir karena virus jahanam ini? Apalagi saat itu, pasien di sebelahku meninggal hanya satu hari perawatan. Usianya masih tergolong muda, 42 tahun. RIP for her.

i was isolating for 6 days and quarantine for 28 days. I thought it would be my last day to live. But then, I was healed. Pertolongan Tuhan baik banget buatku. Saya diberi kesempatan hidup. Saya ditunjukkan teman-teman yang real ketika aku diisolasi dan karantina. Alfie yang selalu setia mengantariku makanan, kebutuhan mandi setiap hari. Kak Tari yang menandatangani surat kesediaan bersedia menjadi wali saat aku dirawat, dan apabila terjadi hal yang tidak-tidak bagiku saat itu. Para teman-teman yang lain, kak Debora dan kak Tije, kak Danan, bang Bagir, kak Medol, ce Linda, dan bu Elmi, kakakku kak Nency, Flo, Kim, serta orang-orang yang tak bisa kusebut satu persatu dan yang selalu mendoakanku.

PUJI TUHAN, tak henti-henti saya bersyukur. SAYA DISEMBUHKAN. Couldn't be more grateful for that.

Hari demi hari, bulan demi bulan kembali saya lewati dengan penuh ucapan syukur. Saya tak takut lagi menghadapi sengat kematian setelah sembuh dari Covid-19 itu. Ada Tuhan Yesus bersama saya. Saya anaknya. Cuma, saya memohon kepadaNya," Jangan panggil aku cepat ya Tuhan. Izinkan aku membahagiakan kedua orang tuaku, menjadi penolong bagi keluargaku dan menjadi berkat bagi sesama manusia dan lingkunganku. Dimana pun aku berada, tangan perlindunganMu yang menopangku. Jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga padaku. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa," pintaku saat itu. Menuliskan ini saja saya masih menangis.

Setelah Covid-19 itu, saya mulai menjalankan pola hidup sehat. Olahraga wajib lima kali seminggu. Yoga dan jogging. Selang-seling.

Tahun 2021 juga boleh dibilang tahun yang baik buatku. Setelah beberapa tahun memutuskan single sampai hatiku disembuhkan, Tuhan memperkenalkanku dengan seorang pria. "Tuhan terima kasih. Kalau ini memang yang terbaik darimu, jadikanlah ini yang terakhir. Tolong supaya hatiku jangan dihancurkan lagi. Capek Tuhan, capeeeek," doaku kaya anak kecil yang cengeng.

Komunikasi lancar. Hingga kini. Namun intensitas sudah berkurang. Kenapa? Ternyata setelah kami menjalani beberapa deep talk, ada hal-hal urgent yang kami tak sepaham. Misalkan: beda keyakinan (for me it doesn't matter, neither him) tapi akhirnya ada jarak dalam menentukan cara pandang mengenai keluarga dan bagaimana membesarkan anak. 
Hakuna matata 2022.

Sebagai orang yang dewasa, ya dijalani saja. Kepadanya saya jujur dengan diriku sendiri. Tidak ada beban. Demikian dia juga kepadaku. Kejujuran bagiku adalah yang terpenting. Keterbukaan juga tak kalah pentingnya. Apakah dia nanti yang akan jadi pendampingku atau tidak, biar perkenanan Tuhan yang jadi. Saya cukup ora et labora, let God do the rest. Saya tak akan memaksa, dan juga biar waktu yang menjawab semua. Ya sama seperti resolusi 2021 ini, karena belum terpenuhi, tetap itu masuk ke resolusi 2022: Saya punya kerinduan untuk menikah, memiliki suami, memiliki anak, menjadi ibu rumah tangga yang baik, membangun keluarga yang sehat, godly family. Dan terpenting di antaranya, Tuhan menganugerahi kesehatan, umur panjang, dan rezeki yang paling utama.

Meski banyak suka-duka, tawa-tangis, jeritan dalam kesunyian- tawa lepas, saya tak akan menyesali apa yang terjadi di 2021. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, saya bersyukur untuk 2021, yang kini menjadi pembuka jalan menuju tahun - tahun berikutnya.

Terima kasih 2021, saya bersyukur untuk hari-hari yang terlewati. Izinkan saya pamit. Selamat datang 2022, jadilah berkat bagiku detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari. Ajari saya terus menghitung hari-hariku, jadikan aku semakin baik dari hari ke hari. Ajari saya untuk tidak memaksakan pemikiranku sendiri, tapi biarlah Perkenanan Tuhan jadi atasku. Jadilah jawaban dari semua harapan-harapanku selama ini. Selamat Tahun baru 2022.
(*)


All love,
Chahaya Oktiberto Simanjuntak
1 Januari 2022


Meski pun aku tak tahu seperti apa cara kerjaMU bagiku, tapi aku merasakan kehadiranMU bagiku setiap detik dalam hidupku. MujizatMU nyata kala ku berdoa dan percaya. Terima kasih atas nafas kehidupan, terima kasih atas deru nafas saat rehat. Ajari aku selalu bersyukur atas segalanya di sepanjang hidupku TUHAN. -COS


Post a Comment

Designed by catatan traveler | Distributed by catatan traveler