Mutiara Hitam Indonesia itu di Papua

Tanah Papua tanah yg kaya,
Surga kecil jatuh ke bumi.
Hitam kulit,
Keriting rambut,
Aku Papua....
LEMBAH Baliem di Papua. Picture by Danan Wahyu
INI lagu Edo Kondologit. Lagu khas Papua yang menjadi kesukaanku. Seluas tanah sebanyak madu,
adalah harta harapan. Papua tanah yang kaya. Lirik ini menggambarkan betapa kota di Timur Matahari Indonesia ini sangat indah akan keindahan alamnya, ke-khas-an budaya dan adat istiadatnya. Warganya, kulit hitam, rambut keriting. Suatu perpaduan sempurna antara alam dan warganya, sehingga tak salah disebut si Mutiara Hitam dari Indonesia.

Dua minggu lalu, saya mengikuti pelatihan kerja ke kantor pusat di Surabaya. Ditugaskan kantor dari Batam. Di pelatihan itu, ada 20 peserta termasuk saya. Semuanya perwakilan grup kantor dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya, Robert Yewen. Dia orang Papua Asli. Kedatangannya yang terlambat, dengan perkenalan grup pusat yang membuat namanya salah dari Robert ke Ribert membuat kami tertawa. Selama pelatihan, baik peserta dan para mentor, setuju menjadikannya ketua kelas.
Saya dan Robert (kanan)
Robert berasal dari Tambraw, di Papua Barat. Ia mengungkapkan, di kampungnya, terdapat dua objek wisata yang indah, yakni air terjun tujuh tingkat Anenderat dan Pasir Panjang, tempat para spesies penyu belimbing bertelur. Saya cukup takjub dengan ceritanya itu. Ditambah lagi, destinasi wisata tersebut masih alami dang sangat cocok menjadi destinasi wisata hijau.

Dari ceritanya itu, keinginan saya untuk segera berkunjung ke Papua tak terbendung lagi.
SUKU Dani di Lembah Baliem, Papua usai menampilkan tari perang. Picture taken by Danan Wahyu.
Papua menjadi destinasi wajib kunjung sebelum waktu saya di dunia ini selesai. Pertama kali saya tahu Papua dari majalah Bobo saat masih kecil. Kala itu melihat lembah, dengan satu kelompok pria dengan topi berbahan bulu di kepala. Di tangan mereka terhunus tombak. Ada juga yang memegang anak panah dan busurnya. Mereka memakai koteka, pakaian khas pria Papua yang terbuat dari kulit labu air. Di majalah itu, tertulis mereka adalah para pria kilise suku Dani yang sedang menarikan tari perang di Lembah Baliem.
Jalur trekking Kurima di Lembah Baliem. Picture by Danan Wahyu
Menarik saja melihat foto itu dulu. Bayangkan lembah Baliem yang hijau, dialiri beberapa sungai dengan warganya yang hidup dengan adat istiadat yang unik membuatku bangga menjadi seorang Indonesia yang kaya akan budaya dan adat istiadat yang beragam, serta keindahan alam yang selalu punya ciri khas di masing-masing daerahnya sendiri.

Selain itu, Papua terkenal dengan rimbanya yang tidak pernah berhenti melayani. Dilansir dari Hutan Papua, EcoNusa, pada 2005-2009, luas hutan papua 42 juta hektare. Hanya dalam selang tiga tahun di 2011, berkurang menjadi 30,07 hektare. Informasi dari Pemda Papua, setiap tahun, deforestasi di Papua rata-rata 143.680 hektare. Untuk Papua Barat, deforestasi rata-rata sekitar 293 ribu hektare.
Pemandangan dari Puncak Kurima. Picture taken by Danan Wahyu

Dalam perjumpaan dewasa ini, saya jadi lebih mengetahui bahwa Papua cukup mengagungkan Lembah Baliem, rumah bagi segala flora dan fauna yang berdampingan dengan warga sekitar. Terletak di wilayah Pegunungan Tengah, Papua. Di tengahnya ada Kota Wamena, salah satu distrik di Kabupaten Jaya Wijaya. Kondisi geografis Wamena dilihat dari Lembah Baliem ini cukup menantang. Sebuah lembah yang dikelilingi perbukitan hijau di atas 1600 meter mdpl. Rimba yang masih asri dan kaya akan flora dan fauna.

Kalau berkunjung ke sini, para turis dan pengunjung harus siap dengan olahraga yang cukup menantang adrenalin. Selalu siapkan tongkat untuk mendaki. Sesekali berhentilah menikmati suasana perbukitan. Jelilah melihat aneka jenis tanamannya, maka kamu akan takjub. Betapa tidak, kamu akan akan menemui aneka jenis tumbuh-tumbuhan unik yang belum pernah kamu temui sebelumnya di daerahmu.


ANEKA jenis tumbuhan unik di hutan Perbukitan Lembah Baliem. Picture taken by Danan Wahyu

Wamena, dalam Bahasa Papua berarti babi jinak. Pesonanya luar biasa. Bagi wisatawan, menjadi destinasi wajib kunjung karena memiliki kelebihan seperti objek wisata, tradisi, kesenian,kuliner, dan alam yang bisa dinikmati dalam waktu yang bersamaan.

Berbicara mengenai keindahan alam Wamena, seolah kita menikmati menu khusus lezat yang belum pernah kita cicip di restoran lainnya. Hanya ada satu-satunya di sana. Hutan hijau, pemandangan keren sejauh mata memandang.


All Picture taken by Danan Wahyu.
Menurutku, supaya destinasi wisata di Wamena ini semakin baik, maka pemerintahan Papua tidak boleh lari dari konsep kealamian Tanah Papua. Konsep ramah lingkungan menjadi destinasi ekowisata terbaik di dunia bisa terealisasi bila alam Papua dijaga dan dipelihara dengan baik, para warganya diberi edukasi sadar wisata sehingga ke depan mereka makin berkembang, melahirkan wirausaha baru di bidang pariwisata.

Wamena khususnya, dan Papua umumnya memliki potensi besar untuk ini. Cuma untuk merealisasikannya secara cepat, selain investasi, yang utama dan terutama adalah diperlukan komitmen dan sinergitas antara pemangku kebijakan, pengusaha, dan masyarakat. Ini berjalan, maka makin banggalah Indonesia sebagai negeri yang membawahi, bahwa mutiara hitam Indonesia itu, ada di Papua.  (***)

Post a Comment

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates