Latest Posts

Melihat Rumah Lee Kwan Yew yang Disengketakan Anak-anaknya di Singapura

By Wednesday, June 28, 2017 , ,

38 Oxley rd, Singapore. Rumah ini merupakan rumah tinggal Lee Kwan Yew semasa hidupnya yang kini disengketakan tiga anaknya.
SINGAPURA gempar. Keluarga paling terpandang di negara itu pecah karena berebut rumah warisan sang pendiri negara, Lee Kuan Yew. Dua hari sebelum Idul Fitri, saya berkesempatan mengunjungi rumah tersebut. (Lebih tepatnya penugasan langsung dari kantor sik. Bayangin udah holiday mood, eh ada tugas begini, ya udah sik dijalani saja. Dilarang menolak kan?, _Yeee siape juga gue berhak nolak ye kan? CEO bukan, apalagi anaknya owner juga bukan. hehe_)

Rumah warisan itu terletak di Jalan Oxley (Oxley rd) Nomor 38. Itu rumah, akhir-akhir ini sangat familiar bagi warga Singapura. Betapa tidak, di rumah tersebutlah sejarah pembentukan awal partai politik yang menguasai pemerintahan Singapura berdiri, People Action Party (PAP).
Rumah ini, dibandingkan dengan deretan rumah tetangga di seberangnya, desain bangunannya kalah jauh. Sangat tua sekali. Demikian juga, dibanding dengan rumah para tetangga di sebelahnya, bungalow milik keluarga Lee Kuan Yew, pendiri Singapura tersebut, terkesan tertutup seolah penuh rahasia.

Rumah itu sangat besar, dibangun di atas tanah seluas 1,12 hektare, dan terdiri dari dua lantai, delapan kamar termasuk tiga kamar asisten rumah tangga, ruang tamu dan ruang pertemuan, serta ruang basement yang juga sering disebut sebagai ruang kerja pribadi almarhum Lee Kuan Yew di masa pemerintahannya.

Rumah itu dipagari tembok. Di depannya, pagar bercat putih setinggi dua meter itu menyatu dengan dua pintu pagar di masing-masing sisi. Pintu pagar yang berfungsi sebagai akses masuk itu terbuat dari besi. Dua pos keamanan tanpa pintu ada di kiri dan kanannya, satu deret dengan beberapa pot permanen yang ditanami bunga kertas merah jambu yang tengah berbunga.
Me in front 38 Oxley rd.
Masing-masing pos jaga itu dilengkapi satu lampu sorot, dan empat kamera pengintai (CCTV). Dua kamera pengintai di sisi kiri pintu masuk sepertinya baru saja dipasang karena terlihat lebih baru dan mengkilap dibanding yang lainnya. Di pos jaga sebelah kiri, tergantung kotak surat dari aluminum yang juga sekaligus nomor rumah: 38.

Baik pagar dan pos jaga terlihat kurang terawat. Di dalamnya, catnya sudah mulai mengelupas, beberapa colokan listrik sudah menghitam, kipas angin dan telepon yang tergantung juga sudah tampak usang. Bahkan, lantainya kotor penuh debu dan dipenuhi dedaunan kering. Sepertinya rumah itu sudah lama tak dibersihkan. Di salah satu pos jaga itu juga, tergeletak koran terbitan Mei lalu.
 
“Padahal dulu rumah ini, saat Mr Lee masih hidup, meski pun rumah tua, rumah dan kawasan ini sangat dijaga dan dirawat. Sayang, rumah bersejarah ini mau dirobohkan,” ujar Syech, warga Singapura yang tengah menjemput saudaranya di rumah Nomor 33, persis di seberang rumah yang kini disengketakan anak-anak Lee Kuan Yew tersebut.

Pria berusia 59 tahun ini, usai memarkirkan mobil sedan Toyota Axio miliknya, menambahkan tim keamanan di bungalow Oxley 38 ini dulu merupakan tentara bayaran. “Tahu dulu? Yang jaga di dua pos ini bukan tentara Singapura, melainkan Mr Lee menyewa langsung tentara Gurkha (pasukan bayaran asal Nepal binaan Inggris). Tahu tentara Gurkha, kan?” ujar Syech.
 
Saat saya mencoba ingin melihat sisi rumah dengan mendekati pagar samping, Syech tiba-tiba mengatakan “Kamu mau saya foto di depan rumah ini? Mumpung belum dihancurkan. Dua anak Mr Lee menuntut rumah ini dihancurkan sesuai wasiat ayah mereka. Padahal ini salah satu rumah bersejarah,” ungkapnya.
MAKA jadilah saya foto di depan rumah bersejarah ini. Ibarat orde baru di Indonesia, ini rumah layak disejajarakan dengan rumah cat hijau di Jalan Cendana kali ya.. :)
Menuju kawasan Oxley Road ini, bisa ditempuh menggunakan Mass Rapid Transit (MRT) dari Harbour Front, menuju stasiun Dhoby Ghaut, lalu interchange menuju Somerset. Dari Somerset Road, lanjut berjalan kaki sekitar 600 meter melewati Penang Road, lalu belok kanan ke persimpangan masuk Oxley Road. Jaraknya sangat dekat, hanya sekitar 500 meter dengan sentral pusat perbelanjaan Orchard Road.


Komplek rumah almarhum Lee Kuan Yew ini sendiri berada di antara perempatan Oxley Rise dan Eber Road. Hujan deras yang mengguyur Singapura, Jumat, 23 Juni  pagi kemarin tidak berlangsung lama. Sesampai di Somerset, gerimis tidak menyurutkan langkah untuk segera tiba di rumah yang disengketakan tersebut. Sempat khawatir tak bisa masuk karena ada tanda “End of restricted zone”, tapi karena melihat seorang pria masuk ke kawasan tersebut, saya pun ikut-ikutan berjalan di belakangnya.

Dari simpang masuk, rumah ini menjadi rumah ke empat melewati kondominium Oxley Mansion, Villa Madeleine, dan satu rumah kaca. Semua deretan rumah dengan rumah yang disengketakan ini masih model lama. “Kamu mau ke bungalow 38 Oxley? Iya, sudah benar. Ini jalan our first prime minister,” jawab James Goh ketika saya memastikan rute kepadanya. Dia seorang warga yang tinggal di Tanah Merah, dan sedang ada urusan ke Oxley Rise.
LIHAT marka jalan itu, belok kanan lurus saja, ketemu deh rumah Mr Lee.
Meski pun tidak ada penjagaan dari pihak berwajib, sangat sulit melihat ke dalam rumah yang berjarak 6,6 kilometer dari Pelabuhan Harbour Front tersebut. Setelah pagar, rumah dengan atap genteng tersebut masih ditembok zig-zag menggunakan bata merah yang sudah lumutan dengan beberapa tanaman rambat di dindingnya. Tembok bata itu, tingginya sejajar dengan pagar.
TAMAN depan rumah Mr Lee Kwan Yew yang kini tak terawat. Dulu dijaga tentara Gurkha, kini dipenuhi debu.
Jadi, dari balik pagar, pengunjung dari luar hanya dapat melihat taman depan dengan banyak tanaman hijau yang di tengahnya ada kolam ikan kecil. Taman itu juga tak terawat. Airnya keruh kehitaman dipenuhi lumut dan jentik. Batu hias yang terbuat dari semen ada di sekitar taman berbatu. Di atasnya ada satu tangkai jaring pembersih kolam yang diletakkan begitu saja.

Makin penasaran, saya pun mencoba melihat kondisi rumah dari sebelah kiri, dengan melompat parit rumah tetangga di sebelahnya yang juga berdesain lama. Hanya terlihat dinding bagian samping saja karena tertutup tembok. Demi melihat secara keseluruhan rumah tersebut, akhirnya menyeberang dan memanjat dinding taman rumah di depannya. Bagian depan rumah Lee Kuan Yew itu pun terlihat jelas. Ada beberapa lampu putih yang tergantung di garasi dan teras yang dihubungkan dengan tangga. Dari cat rumah yang mayoritas putih dan ornamen yang sedikit di teras tersebut, bisa dilihat, semasa hidupnya Lee Kuan Yew termasuk pribadi yang sederhana dan mencintai alam.
KAWASAN Oxley Road, Singapura.
Selang beberapa menit meninggalkan rumah tersebut, terlihat mobil patroli polisi Singapura bernomor polisi DX 214 Y memasuki kawasan tersebut. Pengen banget menemui mobil polisi yang terparkir tersebut, tapi mikir, 'Waah gimana nanti kalau mereka keberatan ditanya dan akhirnya mereka tahu saya sudah ambil-ambil foto, bisa-bisa kamera saya ditarik dan itu foto-foto dihapus'.. _Parno_ , bergidik, cepat-cepat saya menuju menjauhi itu mobil polisi dan langsung menuju bus stop di Penang rd.

Rumah itu kini dalam sengketa perebutan warisan oleh tiga putra-putri almarhum Lee Kuan Yew, yakni Perdana Menteri Lee Hsien Loong, Lee Wei Ling, dan Lee Hsien Yang.
 
Sebelum Lee Kuan Yew mangkat pada 23 Maret 2015 lalu, ia meninggalkan salah satu warisan yakni bungalow 38 Oxley Road. Ini merupakan salah satu rumah tinggal Lee Kuan Yew sejak menikah dengan istrinya, Kwa Geok Cho. Bahkan di sanalah mereka melahirkan dan membesarkan ketiga anaknya.
 
Salah seorang sumber mengatakan, selain rumah di Oxley Road, keluarga petinggi Singapura ini juga memiliki beberapa aset di kawasan Tanglin.
WHEN i was paying my last respect to Mr Lee Kwan Yew (March 26, 2015)
Terkait warisan tersebut, Lee juga meninggalkan wasiat, dimana kalau dia sudah mangkat, sebaiknya rumah tersebut dibongkar saja, atau dibiarkan tetap berdiri apabila putrinya, Lee Wei Ling tinggal di rumah tersebut. Almarhum Mr Lee tak ingin wacana yang ia dengar untuk menjadikan rumah itu sebagai museum tentang peringatan dirinya yang ia anggap berlebihan.

Perseteruan antaranggota keluarga ini awalnya sudah tercium media sejak peringatan satu tahun kematian pendiri Singapura itu pada 2016 lalu. Saat itu, saudara Lee Hsien Loong, Lee Hsien Yang menyerang kakaknya dengan ungkapan menggunakan kesempatan peringatan kematian Lee Kuan Yew untuk menarik simpati publik.

Bahkan kini, pria yang berprofesi sebagai Ketua Otoritas Penerbangan Singapura ini juga bersama dengan saudara perempuannya Lee Wei Ling ingin segera mewujudkan surat wasiat ayah mereka tersebut, yakni merobohkan rumah Oxley Road. Hal ini ditentang Lee Hsien Loong yang memilih tetap mempertahankan rumah tersebut dan ingin menjadikannya sebagai situs warisan, museum peringatan akan ayahnya dalam membangun Singapura dari kota kecil di pinggiran pelabuhan menjadi negara yang kuat. Dilansir dari The Straits Times, Lee Hsien Loong pada 2011 telah mengungkapkan keinginannya ini kepada sang ayah.
SAYA bersama Nyonya Tioh.
Konflik internal keluarga ini pun kini menjadi konsumsi publik dari berbagai usia di Singapura. Beberapa warga yang ditemui sangat menyayangkan jika rumah Oxley Road dirobohkan. Adalah Nyonya Tioh dan rekannya Ng Bee Lian mengungkapkan rasa kecewanya terhadap kasus tersebut.
“Saya pikir saudara perempuannya dan adik laki-lakinya ingin merobohkan rumah itu. So pity aa, all things because money,” ungkap Nyonya Tioh.

Dalam perjalanan kami menuju Orchard Plaza, ia mengungkapkan masih ingat jelas bagaimana dulu kerasnya Lee Kuan Yew dalam membangun Singapura dari negara kumuh menjadi negara yang maju saat ini. “Itu rumah bersejarah. Saya sudah lama tahu itu rumah dari anak-anaknya. Sekarang ayahnya mati, anak-anaknya mau menghancurkan. Sedih, ketika sejarah dihilangkan, kamu tahu, hancurlah sebuah negara. Tapi bagaimana pun, apa yang terbaik buat mereka saja. Itu urusan pribadi mereka,” ujarnya.

Sebelum berpisah, ia sempat mengungkapkan keinginannya untuk mendatangi rumah tersebut.“Saya harus ke sana, sebelum dirobohkan. Oh ya kalau mau tahu lebih banyak lagi, kamu baca saja koran beberapa hari ini,” tutupnya.

Hingga saat ini, status rumah tersebut masih belum mempunyai keputusan tetap dan masih dalam pembahasan komite. ***


PS: Tulisan ini juga sudah diterbitkan di Batam Pos dan Jawa Pos edisi Sabtu, 24 Juni 2017. (*)

You Might Also Like

18 komentar

  1. Waah sayang kalo harus dihancurkan ya mbak .. hmm tp selalunya warisan bikin berantem keluarga *sigh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Ericka Abdullah

      Iya sih bagi orang yang suka sejarah, tentu itu sayang kalau dihancurkan. Situs atau bukti peninggalan di masa mendatang itu tak akan ternilai. Semua gara2 warisan ya mbak.. hehe

      Terimakasih sudah mampir :)

      Delete
  2. Sebaiknya kalau peninggalan seorang 'pendiri' itu memang dijadikan bangunan bersejarah ya. Sayang banget kalau dirobohkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seharusnya mbak. Tapi ya itu, sampai sekarang masih milik pribadi, belum diserahkan kepada negara.

      Delete
  3. Wahhh coba di jadikan museum gitu yak... Kan syg sejarah di hilangkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. True.. Tapi ya itu mbak, biarkanlah komite nasional Singapura yang memutuskan. Saya sendiri ingin itu rumah dijadikan situs nasional Singapura, karena saya pecinta sejarah. Tapi saya hanyalah pecinta, soal urusan konkrit itu urusan Singapura. hehe

      Delete
  4. Sayang banget. Nilai sejarahnya kuat soalnya . . .
    salam kenal ya

    ReplyDelete
  5. Sayang banget ya.. Cuma gara2 duit :( Padahal kalo dijadiin museum lebih baik ya.. Rumah ini menyimpan banyak banget cerita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener banget mba Dian. Sayang banget.

      Delete
  6. jadi inget rumah ayah dulu, kondisinya sama, byk yg pengen dipertahnin aja krn di sana byk sejarahnya, tapi akhirnya kami jual dan dibagi2 hasilnya sesuai hukum waris.. alhmdulillah malah jdi tenang, gak kotor hati, krn saat itu ada sodara yg ngomong terus dgn masalah uang :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah, syukurlah masalah keluarganya sudah selesai ya mba.. :)

      Delete
  7. Thankyou somuch for always supporting me koko..
    Good luck to you

    ReplyDelete
  8. Keren Kakak..... Jadi ingin ke sini juga kalau pas jalan ke Singapura. BTW, kakak bukannya anak owner ya? (;)

    ReplyDelete
  9. Pantesan kelayapan di Singapur ternyata dinas luar. Seru banget nyimaknya. Jadi teringat kisah orang kaya Singapura yang jadi pengemis gara-gara diusir anak dan menantunya.

    ReplyDelete
  10. Saya kemarin diminta, tapi mudik. wkwkwkw
    Sayang ya kalo dirubuhkan. Tapi wasiatnya juga gitu!

    ReplyDelete
  11. andai pas liputan ini aku bisa ikutan dan bikin vlognya pasti kece abis

    ReplyDelete