Latest Posts

Napak Tilas Ambon Manise: Mengulik Sejarah dan Keramahannya

By Thursday, September 29, 2016 , , ,

Waktu hujan sore-sore kilat sambar pohon kenari
E jojaro deng mongare mari dansa dan menari
Pukul tifa toto buang kata balimbing di kereta
Nona dansa dengan tuan jangan sindir nama beta
E menari sambil goyang badane
Menari lombo pegang lenso manise
Rasa ramai jangan pulang dulue


Ambon, Maluku,Traveling, World Peace Gong, Tugu Pattimura, Monumen Marta Christina Tiahahu, Ambon Manise, Joseph Kam, Gereja Silo, Tugu Perdamaian Dunia, Catatan Traveler, Indonesia
Patung Huruf Ambon (Sebenarnya sik Ambon Manise, Manisenya ilang di kamera) di Lapangan Merdeka, Ambon.
LAGU ini terdengar di pesawat Garuda Indonesia GA 157 yang membawaku terbang dari Bandara Internasional Hang Nadim di Batam di Indonesia Bagian Barat sekitar pukul 16.25 WIB menuju Ambon di Kepulauan Maluku di Indonesia Bagian Timur. Tidak ada penerbangan langsung (direct), saya bersama penumpang lain harus transit terlebih dahulu di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta.
Menunggu transit di Jakarta, lumayanlah memanfaatkan waktu mengisi baterai ponsel yang sudah drop. Pukul 19.40 WIB, pesawat yang membawaku pun terbang ke Ambon. Jarak perjalanan Jakarta-Ambon harus ditempuh sejauh 1.748 kilometer dengan estimasi waktu ketibaan pukul 01.31 WIT (Waktu Indonesia Bagian Timur). Lha kok bisa dini hari padahal cuma tiga jam perjalanan? ya. Zona waktu Jakarta UTC +07, sedangkan zona waktu Ambon UTC +09. Itu artinya waktu di Ambon lebih cepat dua jam dari Jakarta. Kerennya, Zona waktu di Ambon (WIT) sama dengan zona waktu di Jepang, China dan Korea, sedangkan Zona waktu di Batam, Jakarta (WIB) sama dengan zona waktu di Thailand, Vietnam, dan Pnom Penh, Kamboja.
Ambon, Maluku,Traveling, World Peace Gong, Tugu Pattimura, Monumen Marta Christina Tiahahu, Ambon Manise, Joseph Kam, Gereja Silo, Tugu Perdamaian Dunia, Catatan Traveler, Indonesia
Pusat Pemerintahan Kota Ambon.
Bandara Internasional Pattimura menjadi pertemuan perdanaku menyentuh bumi Maluku. Kawan, kukatakan padamu, perjalananku ke Ambon bukan perjalanan ala solo traveler seperti yang biasa kulakukan. Melainkan ini perjalanan tugas dari kantor tempatku bekerja selama 10 hari. Ya mumpung assignment, ya travel aja ya kan? namanya juga travel assignment. Bhak

Tiba sekitar pukul 02.00 dini hari di bandara, langsung disambut para pejabat yang dipimpin Kepala Biro Administrasi Pemerintahan Provinsi Maluku, Abdul Manaf Leimena. Ramah tamah sebentar, berdoa, dan langsung mengantarkan kami ke hotel Pacific di pusat kota. Dibutuhkan 1,5 jam perjalanan dari Bandara Pattimura menuju Ambon kota. Tiba di hotel, tak langsung masuk kamar karena saat itu hotel masih dalam tahap finishing lobi (hotel itu baru). Hadeuuuuh lelah kakak dek, mata udah ngantuk, akibat jetlag meski sudah pukul 03.30 pagi, tetap aja kebayang masih pukul 02 pagi di Batam, dan yakin banget masih punya waktu banyak untuk istirahat. Kenyataannya? baru juga mata terpejam eh sudah pukul 06 pagi dan sudah harus bersiap menjalani tugas pertama ke kawasan Waihaong. Arrrgh!!! namanya juga tugas dek, bukan jalan-jalan.
Usai tugas hari pertama, masih ada waktu untuk pelesiran sebelum malam tiba. Memanfaatkan waktu, bertanya ke staf lobi hotel, ternyata hotel tempatku menginap jaraknya sangat dekat ke kawasan Gong Perdamaian Dunia (World Peace Gong) dan gereja Maranatha yang bersejarah yang jaraknya tak sampai 1 km. "Bisa naik becak bayar Rp 10 ribu atau jalan kaki pun ade bisa," ujar staf perempuan itu. "Danke nona," ujarku lalu pergi.
Tak mau tersesat karena belum paham kawasan, saya pun memilih naik becak yang ada di persimpangan masuk hotel dengan membayar Rp 10 ribu. "Bung, saya mau ke Gong Perdamaian," ujarku. Pengemudi becak pun dengan ramah mengantarkan. Memasuki kawasan baru, sebisa mungkin saya mencoba untuk tidak pasif dan act like a local, lalu mulai banyak tanya mengenai lokasi wisata di kota ini. Selama hampir delapan menit perjalanan, pengemudi becak memberitahukan, kawasan Gong Perdamaian itu adalah kawasan wisata. Disana terdapat juga Tugu Pattimura, gereja Maranatha dan pusat pemerintahan Maluku. Semua itu ada dalam satu kawasan. " Oh ya? baiklah bung. Danke beta su diberitahu," ujarku pede dengan bahasa Ambon sok tahu dan sok dekat. Haha biarin.

Ambon, Maluku,Traveling, World Peace Gong, Tugu Pattimura, Monumen Marta Christina Tiahahu, Ambon Manise, Joseph Kam, Gereja Silo, Tugu Perdamaian Dunia, Catatan Traveler, Indonesia
World Peace Gong Ambon.

Ambon, Maluku,Traveling, World Peace Gong, Tugu Pattimura, Monumen Marta Christina Tiahahu, Ambon Manise, Joseph Kam, Gereja Silo, Tugu Perdamaian Dunia, Catatan Traveler, Indonesia
Taman Tugu Perdamaian Dunia (World Peace Gong).
Gong Perdamaian Dunia di Ambon ini, merupakan salah satu objek wisata yang berada di bundaran Aritetu, Sirimau, pusat Kota Ambon (Ambon City Centre). Monumen ini dibangun untuk memperingati kerusuhan bermotif SARA yang banyak memakan korban jiwa di Maluku sejak 1999 hingga tiga tahun setelahnya.
Ini menjadi gong perdamaian ke 39 yang tersebar di dunia, dan gong ke tiga yang ada di Indonesia. Masuk ke taman monumen ini, pengunjung harus membayar tiket masuk seharga Rp 5 ribu. Menaiki tangga hitam, di atas monumen tergantung gong dengan ratusan bendera berbagai negara tertempel disana. Dari monumen ini, kita bisa melihat kesibukan pusat kota, angkot lalu lalang, penduduk berseliweran.

Ambon, Maluku,Traveling, World Peace Gong, Tugu Pattimura, Monumen Marta Christina Tiahahu, Ambon Manise, Joseph Kam, Gereja Silo, Tugu Perdamaian Dunia, Catatan Traveler, Indonesia
Gue menyapa dan bahkan bertanya ke Omon Pattimura, eh malah dicuekin. bye!! (Tugu Pattimura di Lapangan Merdeka, Ambon).
Di seberang monumen, dengan gagahnya Kapitan Pattimura berdiri, bersiap berlari mengacungkan pedang dengan wajah marah. "Hi Kapitan? apa kabar? terimakasih sudah mengusir penjajah dari bumi nusantara ini ya? Kamu gak capek pegang pedang mulu omon? Sini turun dulu, yuk makan pisang goreng pake sambal," sapaku imajiner. Bhak

Ambon, Maluku,Traveling, World Peace Gong, Tugu Pattimura, Monumen Marta Christina Tiahahu, Ambon Manise, Joseph Kam, Gereja Silo, Tugu Perdamaian Dunia, Catatan Traveler, Indonesia
Gereja Maranatha.

Ambon, Maluku,Traveling, World Peace Gong, Tugu Pattimura, Monumen Marta Christina Tiahahu, Ambon Manise, Joseph Kam, Gereja Silo, Tugu Perdamaian Dunia, Catatan Traveler, Indonesia
Lapangan Merdeka berlatarbelakang Kantor Gubernuran Maluku.
Sebelum menuju Monumen Pattimura, terlebih dahulu saya menyambangi pameran UKM di lapangan Merdeka, yang juga berada persis di sebelahnya. Di lapangan itu, saya merasa seperti berada di Amsterdam eh di Coastarina Batam. Mengapa? karena disana patung huruf raksasa bertuliskan AMBON MANISE dengan warna orange. Foto disana dulu dong, lalu memperhatikan aktifitas warga sekitar, dan lompat sedikit ke tugu Pattimura.
Gereja Silo

Ambon, Maluku,Traveling, World Peace Gong, Tugu Pattimura, Monumen Marta Christina Tiahahu, Ambon Manise, Joseph Kam, Gereja Silo, Tugu Perdamaian Dunia, Catatan Traveler, Indonesia
Rumah Kopi Trikora, salah satu bangunan yang ikut terbakar dalam Kerusuhan Ambon 1999-2002. Bangunan ini berdampingan dengan gereja Silo yang juga tak luput dari pembakaran saat kerusuhan.
Dari tugu Pattimura, berjalan sedikit ke arah jalan raya sebelah kantor Gubernur Maluku. D sana, terletak gereja Maranatha. Gereja ini menjadi salah satu bangunan yang tak boleh dilepaskan dari sejarah kerusuhan Ambon 1999. Dulunya bangunan ini habis porak-poranda, tapi kini sudah direnovasi kembali. Sama halnya dengan gereja Silo yang pernah habis dibakar saat kerusuhan 2000 di Jalan Am Sangaji, Kelurahan Honipopu yang dekat banget dengan cafe tongkrongan anak muda terkenal di Ambon, Cafe Kopi Tradisi Joas dan Rumah kopi Pardeis (Iya benar-benar tulisannya Pardeis yang artinya Paradise) dan juga Rumah Kopi Trikora. Kawasan Tugu Trikora ini benar-benar menjadi salah satu kawasan paling mencekam pada kerusuhan duru.

Ambon, Maluku,Traveling, World Peace Gong, Tugu Pattimura, Monumen Marta Christina Tiahahu, Ambon Manise, Joseph Kam, Gereja Silo, Tugu Perdamaian Dunia, Catatan Traveler, Indonesia
Cafe Joas. Cafe rumah kopi yang terkenal di Ambon guys.
Tipikal hiburan muda-muda di Ambon, menikmati makan dan minum dihibur live musik. Suara mereka mirip suara Glenn Fredly semua. Hahaha
Malam pun tiba, kembali ke hotel menyelesaikan laporan pekerjaan supaya tugas keesokan harinya berjalan lancar tanpa ada beban utang laporan. Padahal tujuan sebenarnya, biar seusai tugas di hari kedua, bisa lanjut jalan kemana gitu deh. Tanggung jawab dijalankan, hiburan dan kesenangan berjalan sesuai rencana juga. Iyekannnn.. ihhhiuuuuuu

Keramahan Warga Ambon

Beruntunglah saya yang punya rekan sekantor punya kampung halaman dan keluarga tinggal di Ambon, bang William Seipattiratu. Dia berasal dari Kecamatan Batu Meja, Jalan Kapten Rijali, persis di belakang Mapolda Maluku. Dia beritahulah keluarganya, bahwa ada rekan kantornya tugas ke Maluku. In short story alias singkat cerita, maka bertemulah saya dengan kakaknya, Usi Lin yang saat itu tengah hamil besar. Kami bertemu di rumah kopi Pardeis. Sambil menikmati pisang goreng cocol sambal dan segelas kopi susu kami pun bercerita. Dia tak berhenti menanyakan kabar bang Willy yang dianggap bang Toyib karena sudah lama banget tak pulang kampung. bah?

Ambon, Maluku,Traveling, World Peace Gong, Tugu Pattimura, Monumen Marta Christina Tiahahu, Ambon Manise, Joseph Kam, Gereja Silo, Tugu Perdamaian Dunia, Catatan Traveler, Indonesia
Bertemu usi Lin dan anaknya di Rumah Kopi Pardeis.
Usi Lin bekerja sebagai PNS di Politeknik Negeri Ambon. Dia bersuamikan pria Manado dan kini sudah punya anak tiga. Sebelum kami berpisah, dengan ramah ia mengundangku makan siang dengan menu papeda di rumahnya. "Kapan kalian ada waktu bebas? beta mau undang kalian punya acara makan papeda di rumah," ujarnya. Kami pun memilih hari Minggu untuk berkunjung kesana.
Hari Minggu tiba. sebelum ibadah sore, siangnya, bersama rekan dari Batam, Anne berangkat ke rumah Usi Lin di kawasan Batu Meja, melewati gereja Katedral Ambon. Kami datang, semua menu pendamping papeda seperti pindang selar, ikan masak kuning, urap, sambal colo-colo, dan menu lainnya sudah tersaji di Meja.
Kakak dari Usi Lin pun mengajak kami ke dapur. Mengajari kami membuat papeda yang terbuat dari inti tepung sagu mentah. "Untuk mengambil inti tepung sagu, kita harus rendam tepungnya dulu. Setelah itu baru disiram air panas. Nah inilah hasilnya. Papeda," ujarnya sambil menunjukkan tepung basah tadi yang sudah berubah menjadi seperti lem, dan itulah yang dinamakan papeda.
Dengan keramahan, usi Lin menyajikan papeda di piring. Menyajikan papeda ini terbilang unik. Bukan dengan sendok, melainkan dengan dua stick yang diputar cekatan untuk membentuk gumpalan lalu disajikan di piring dengan campuran menu pendamping tadi. Makannya? jangan potong-potong, melainkan seruput dan jangan gigit. Ini sungguh pengalaman baru bagiku.

Bersama keluarga besar usi Lin.

Bersama keluarga besar Usi Lin Seipattiratu.

Main games bersama anak dan kemenakan usi Lin. i call it happines.
Kenyang makan papeda, bercengkerama dengan keluarga besar usi Lin, kami pun pamit, kembali ke hotel untuk persiapan ibadah sore di Gereja Joseph Kam, gereja bersejarah di Ambon. Gereja ini merupakan gereja yang pertama sekali berdiri di Ambon, terletak di Belakang Soya, dan dibangun untuk mengenang misionaris Kristen asal Belanda yang masuk ke Kepulauan Maluku, Joseph Kam. Di samping gereja ini jugalah sang missionaris dimakamkan.
Disela-sala menjalankan tugas di Ambon, free time kumanfaatkan untuk jalan-jalan dan mencari jejak keluarga. Oh ya kawan, meski baru pertama kali menginjak Ambon, namun keluarga besar dari ayahku tak bisa dilepaskan dari Ambon. Beta pu salah satu nenek Ambon manise, Fam Tahalele dari desa Booi di Saparua dan bermigrasi ke Kuda Mati. Puji Tuhan akhirnya ketemu setelah lebih dari 50 tahun tak ketemu, lost contact, dan saya generasi ke tigalah (cucu) yang menemukan. _Aduh masih haru kalau ingat ini. Saya ingin bahas khusus di post selanjutnya_

Ambon, Maluku,Traveling, World Peace Gong, Tugu Pattimura, Monumen Marta Christina Tiahahu, Ambon Manise, Joseph Kam, Gereja Silo, Tugu Perdamaian Dunia, Catatan Traveler, Indonesia
Beta pu keluarga di Kuda Mati. Tanta Sofia Tahalele beserta anak dan cucunya di depan rumah mereka di Kecamatan Kuda Mati, Ambon Kota.
Setelah beberapa hari tinggal di Ambon dari 10 hari jadwal penugasan, makin beranilah saya mengeksplore kawasannya. Jalan kaki ke pusat kota, menyapa anak-anak sekolah di pagi hari, dan bahkan naik angkot ke pusat perbelanjaan modern yang terletak di ujung kota itu. Tak hanya itu, pergi juga memasuki kawasan Pasar Mardika. Pasar yang menjadi cikal bakal kerusuhan Ambon.
Ambon, Maluku,Traveling, World Peace Gong, Tugu Pattimura, Monumen Marta Christina Tiahahu, Ambon Manise, Joseph Kam, Gereja Silo, Tugu Perdamaian Dunia, Catatan Traveler, Indonesia
Pasar Mardika Ambon.

Ambon, Maluku,Traveling, World Peace Gong, Tugu Pattimura, Monumen Marta Christina Tiahahu, Ambon Manise, Joseph Kam, Gereja Silo, Tugu Perdamaian Dunia, Catatan Traveler, Indonesia
Sang Ibu menenangkan anaknya di angkot yang menangis karena tak dibeli boneka dari Pasar Mardika.
Di pasar ini masih terlihat sisa-sisa betapa dahsyat dan mencekamnya kerusuhan Ambon di awal memasuki abad milenium. Sisa-sisa bangunan yang terbakar dan dinding bangunan bekas tembakan ratusan peluru masih dibiarkan begitu saja. Satu yang membuat nafas lega, bangunan itu kini hanya pengingat saja, semuanya sudah kembali normal dengan aktivitas ekonomi di bawah bangunan pasar, dan warga disana kini hidup berdampingan dengan damai.
Tak ada yang kubeli di pasar Mardika itu. Hanya mengamati pasarnya yang tak jauh beda dengan karakteristik pasar pada umumnya di negeri ini. Sesekali menjawab ajakan pedagang yang menjajakan jualannya, memperhatikan aktivitas itu, lantas pergi, memilih pulang ke hotel dengan menaiki angkot. Di angkot, menyatu dengan para penumpang. Satu yang menarik perhatianku, seorang ibu berjilbab pink mengenakan baju lengan panjang biru tampak menenangkan anaknya yang sudah menangis sejak awal naik angkot. Saya menyapa, bermaksud membantu sang ibu mendiamkan anak perempuannya itu. Usut punya usut, si anak perempuan menangis karena si ibu tak mau membelikannya boneka yang ia lihat baru saja saat hendak menaiki angkot. What a kiddos ya guys.. Jadi ingat saat kecil eike dulu. Hahaha

Ambon, Maluku,Traveling, World Peace Gong, Tugu Pattimura, Monumen Marta Christina Tiahahu, Ambon Manise, Joseph Kam, Gereja Silo, Tugu Perdamaian Dunia, Catatan Traveler, Indonesia
Monumen Marta Christina Tijahahu (Tiahahu).

Ambon, Maluku,Traveling, World Peace Gong, Tugu Pattimura, Monumen Marta Christina Tiahahu, Ambon Manise, Joseph Kam, Gereja Silo, Tugu Perdamaian Dunia, Catatan Traveler, Indonesia
TULISAN di bawah tugu: Monuman Pahlawan Nasional martha Christina Tijahahu, Mutiara dari Nusa Laut. Pahlawan Nasional Republik Indonesia yang berjuang untuk mengusir penjajah dari Maluku. Meninggal pada  tanggal 2 januari 1818. Diresmikan oleh Menteri Sosial RI, HMS Mintaredja SH, Ambon 2 Januari 1977.
Nah, perjalanan selanjutnya, yaitu mengunjungi Monumen Pahlawan Nasional Marta Christina Tijahahu (Tiahahu) di Bukit Karpan.

Menuju Bukit Karpan, sekitar 30 menit naik motor dan harus melewati jalanan menanjak dan berkelok melewati kawasan Negeri Air Salobar (di Ambon, desa disebut negeri, karena zaman dulu kepulauan ini adalah negeri para raja-raja). Monumen Marta Christina Tijahahu berdiri megah di perbukitan Karpan. Dengan rambut terurai memegang tongkat dan melihat kejauhan patung salah satu pahlawan nasional itu berdiri, seakan dia menjaga Negeri raja-raja itu setiap saat sambil menyaksikan keseluruhan Teluk Ambon yang dikelilingi laut yang indah. Butuh menaiki puluhan anak tangga untuk tiba di puncak monumen ini.

Oh ya mengapa dinamakan Bukit Karpan? Karpan sebenarnya adalah singkatan dari Karang Panjang. Kawasan ini berada di atas permukaan laut dengan daratan karang terpanjang yang pernah ada di Maluku. Dari bukit lokasi monumen Marta Tiahahu ini, kita bisa menikmati kota Ambon yang berada di pinggir teluk dengan halaman laut jernih yang luas. Gile kan? jauh di atas permukaan laut tapi ada permukaan karang guys!!! Apa tak makin unik negeriku ini? Ah makin cinta aku denganmu Indonesia. Betapa senang hatiku mengunjungimu Ambon Manise. Terimakasih atas keramahanmu. ***

Ambon, Maluku,Traveling, World Peace Gong, Tugu Pattimura, Monumen Marta Christina Tiahahu, Ambon Manise, Joseph Kam, Gereja Silo, Tugu Perdamaian Dunia, Catatan Traveler, Indonesia
Pemandangan Teluk Ambon dari Bukit Karpan.

Ambon, Maluku,Traveling, World Peace Gong, Tugu Pattimura, Monumen Marta Christina Tiahahu, Ambon Manise, Joseph Kam, Gereja Silo, Tugu Perdamaian Dunia, Catatan Traveler, Indonesia
Anak-anak generasi penerus Indonesia dari Ambon. peace!!!

Ambon, Maluku,Traveling, World Peace Gong, Tugu Pattimura, Monumen Marta Christina Tiahahu, Ambon Manise, Joseph Kam, Gereja Silo, Tugu Perdamaian Dunia, Catatan Traveler, Indonesia
Gereja Katedral Ambon.

Istilah Ambon - Bahasa Indonesia 

Ade - Adik
Danke - Terimakasih
Usi - Panggilan kepada perempuan yang lebih tua dan sudah menikah, Kakak
Nona - Panggilan kepada perempuan yang lebih tua dan belum menikah, kakak
Bung, Nyong (jong) - Panggilan umum kepada pria.
Omon - Om.*

You Might Also Like

6 komentar

  1. Aku pengen banget ke Ambon, Chay... dulu waktu aku kecil, punya tetangga orang Ambon. Dari mereka aku kenal papeda, bagea, dan banyak lagi kue-kue khas Ambon.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear mba Dian,
      Ayo ke Ambon Mba Dian.. Iya Ambon itu emang indah banget hampir di setiap sudutnya. Lautnya juga jerniiiiiih.

      Makananan Ambon itu unik. Aku suka papeda dan menu pendampingnya. Ikan masak kuningnya ama sambel colo-colonya yang bikin ngiler. Aaaah bagea? cemilan dari kacang kenari.. hahaha beruntunglah mba Dian punya tetangga orang Ambon. manise ye mereka..

      Delete
  2. Ada bawa babang ambon pulang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear kak Rina,
      Hahahaha.. kebetulan ga ada kak, klo ada pasti kuhadiahi kak Rina.. haha

      Delete
  3. gong perdamaian, udah gak digunakan lagi? hanya sebagai apa itu namanya, masak iya disebut patung :))))))
    atau masih difungsikan ya?

    ReplyDelete
  4. Baca ini serasa nostalgia. Tinggal di Ambon 4 tahun beta seng bisa lupa deng akang T_T hiks.. ayo main2 ke blog saya, lihat destinasi menarik lainnya yg ada di Ambon. Next time klo ke Ambon lagi sempatkan waktu main ke Seram, Banda, Saparua ya..

    Www.catatanamanda.com :btw nama blog kita nyaris samaan sih wkwk-

    ReplyDelete