Latest Posts

Terpikat Kuil Bersejarah di Empat Prefektur Jepang

By Wednesday, December 09, 2015 , , , ,

Jepang, Kyoto, Tokyo, Osaka, Fukui, Traveling, Backpacker, Kuil Bersejarah Jepang, Prefektur, catatan traveler chaycya, www.catatantraveler.com, kyomizudera temple, osaka castle, eiheiji, torii, takeshita dori, harajuku, kaminarimon, meiji jingu shrine,
Kuil Budha di Kyomizudera temple, Kyoto.
JEPANG boleh dikatakan sebagai negara seribu kuil. Mengapa? Karena sangat mudah menemukan kuil di berbagai penjuru negeri matahari terbit ini. Tak hanya di desa (mura), di kota (shi) pun banyak ditemukan kuil bersejarah.

Perjalananku akhir Oktober hingga November lalu, saya anggap menjadi menjadi waktu terbaik berlibur ke sana. Ya, saat itu Jepang sudah masuk musim gugur, saat dedaunan berubah menjadi merah dan kuning, dan akan berlangsung seperti itu hingga awal Desember mendatang.

Di musim dingin, berbagai dedaunan akan berubah warna. Sungguh pemandangan yang kontras apabila menikmatinya di berbagai taman-taman kuil dan kasti Jepang yang terkenal indah.

Petualangan kuil pertama adalah mengunjungi kuil Meiji-jingu shrine di pusat kota Tokyo. Dibutuhkan 30 menit berjalan kaki dari perempatan Shibuya ke tempat ini.

Rute yang saya pilih menuju kawasan ini, yaitu melewati jalan Takeshita atau yang oleh warga Jepang menyebutnya Takeshita-dori, sebuah jalan penghubung ke gang Harajuku, dari sini menyeberang ke stasiun Harajuku. Nah, cukup berjalan lima menit untuk sampai ke torii raksasa atau gerbang utama yang sangat besar dari kuil ini.

Meski Tokyo adalah kota modern dengan ratusan gedung pencakar langit, tapi tetap menjaga budaya tradisional yang ditunjukkan dengan bangunan kuil sebagai wajah klasik Jepang zaman dulu.

Jepang, Kyoto, Tokyo, Osaka, Fukui, Traveling, Backpacker, Kuil Bersejarah Jepang, Prefektur, catatan traveler chaycya, www.catatantraveler.com, kyomizudera temple, osaka castle, eiheiji, torii, takeshita dori, harajuku, kaminarimon, meiji jingu shrine,
Torii atau gerbang pertama di pintu masuk Meiji Jingu Shrine. Ini lokasinya di pusat kota Tokyo lho. Asri dan damai yak.
Jepang, Kyoto, Tokyo, Osaka, Fukui, Traveling, Backpacker, Kuil Bersejarah Jepang, Prefektur, catatan traveler chaycya, www.catatantraveler.com, kyomizudera temple, osaka castle, eiheiji, torii, takeshita dori, harajuku, kaminarimon, meiji jingu shrine,
Guci arak. Ditiap gucinya bertuliskan nama penyumbangnya. Ini bisa ditemukan di akses masuk dan keluar Meiji Jingu dari pintu Harajuku station.
Jepang, Kyoto, Tokyo, Osaka, Fukui, Traveling, Backpacker, Kuil Bersejarah Jepang, Prefektur, catatan traveler chaycya, www.catatantraveler.com, kyomizudera temple, osaka castle, eiheiji, torii, takeshita dori, harajuku, kaminarimon, meiji jingu shrine,
Tong shake. Minuman tradisional Jepang di Meiji Jingu Shrine.
Mengunjungi kuil ini, saya dibuat terkagum-kagum. Ya saya terpikat. Hutan lebat dan rimbun di dalamnya seolah membuatku tak berada di tengah kota yang suntuk.

Memasuki kuil ini, akan melewati beberapa torii, di beberapa sisi jalan masuk, bisa menemukan dinding yang dibuat dari guci besar tempat arak dan shake. Disana, dituliskan nama penyumbangnya. Ya, kuil ini merupakan kuil aliran Shinto terbesar di Jepang yang memang membutuhkan arak dan shake pada setiap perayaannya.

Dikelilingi oleh lebatnya pepohonan, di depan pintu masuk pertama dituliskan, Kuil ini dibangun 1920 lalu, sebagai bentuk penghormatan kepada Kaisar Meiji dan permaisuri yang agung Shoken. Meiji dikenal sebagai kaisar yang membawa Jepang keluar dari kemiskinan lewat restorasinya yang terkenal.

Selain tujuan wisata, di kuil yang bisa diakses dari taman Yoyogi ini juga sering diadakan perayaan pernikahan dan ibadah kaum Shinto. Sayang ketika kesini, saya tak menemui perayaannya. Ya maklum, saya menjaga waktu juga, karena malamnya saya akan berangkat ke Osaka.

Sayang, dalam kunjungan ke kuil ini, dedaunan dari 100 ribu pohon yang ditanam disana belum berubah warna dengan sempurna. "Tokyo memang selalu yang terakhir mengalami maples autumn dibanding kota lainnya di Jepang," ujar Yoshioka Yuki-chan, staf Willer Express yang penulis temui di Sumitomo Building, stasiun Shinjuku.

Usai mengunjungi Meiji-jingu shrine, perjalanan pun dilanjutkan ke Osaka. Di kota yang tak kalah modern dari Tokyo ini, saya berkesempatan mengunjungi kastil Osaka atau Osaka-joen.

Di kawasan ini, yeiiiiiii.. for the first time saya melihat mommiji. Daun-daun sudah mengalami proses perubahan warna dari hijau ke kuning-kuningan, bahkan sudah ada yang berwarna merah.

Dari stasiun Osaka-joen, pepohonan yang sudah berubah warna tersebut ditambah lanskap bebek di danau dengan kastil Osaka di perbukitan membuat pemandangan indah nan romantis di tanah Chuo-ku itu.

Jepang, Kyoto, Tokyo, Osaka, Fukui, Traveling, Backpacker, Kuil Bersejarah Jepang, Prefektur, catatan traveler chaycya, www.catatantraveler.com, kyomizudera temple, osaka castle, eiheiji, torii, takeshita dori, harajuku, kaminarimon, meiji jingu shrine,
Kastil Osaka.
Jepang, Kyoto, Tokyo, Osaka, Fukui, Traveling, Backpacker, Kuil Bersejarah Jepang, Prefektur, catatan traveler chaycya, www.catatantraveler.com, kyomizudera temple, osaka castle, eiheiji, torii, takeshita dori, harajuku, kaminarimon, meiji jingu shrine,
Akses masuk ke kastil Osaka dari Gokurakubashi.
Kastil Osaka ini berada di bagian utara kawasan Uemachi. Sekitar 10 menit menggunakan train JR Loop Line dari Osaka station dan turun di Osaka-joen station seharga 220 Yen. Menempati tanah yang paling tinggi dibandingkan dengan wilayah sekelilingnya, kastil ini berdiri kontras diantara bangunan modern di sekitarnya.

Bangunan ini merupakan peninggalan budaya yang dilindungi oleh pemerintah Jepang, dimana menara utamanya yang menjulang tinggi dengan atap hijau dan cat yang terbuat dari emas menjadi salah satu simbol kota Osaka sebelum gedung pencakar langit Umeda Sky Building. Seluruh sudut Kota Osaka bisa dilihat dari lantai delapan kastil ini.

Menurut sejarah, kastil ini dijadikan sebagai benteng pertahanan sejak zaman Momoyama Tokugawa. Benar saja, taman dengan luas tak kurang dari 10 hektare itu dikelilingi dua lapis tembok batu dengan batasan parit parit yang lebar, sotobori di bagian luar dan achibori di bagian dalam. Air dari parit ini berasal dari Sungai Yodo yang mengelilingi Kota Osaka hingga sekarang. Hal ini saya ketahui berdasarkan informasi Minori-chan, staf hotel Shin-Imamiya, tempat saya menginap selama di Osaka.

Memasuki kuil utama kastil Osaka-jo ini, saya harus melewati taman sepanjang 1,5 kilometer dari arah stasiun Osakajokoen (Padahal seharusnya bisa turun di  Osaka Castle station langsung sik, tapi ya namanya saat itu masih meraba-raba, maka jadilah saya harus melewati taman Osaka Auditorium dan pusat jajanan di sekelilingnya) dengan berbagai pepohonan dengan daun yang berubah warna yang indah khas musim gugur. Mendaki kesana, wajib melewati pintu kastil setinggi 2,5 meter lalu berjalan ke arah jembatan gokurakubashi yang bersejarah.

Jepang, Kyoto, Tokyo, Osaka, Fukui, Traveling, Backpacker, Kuil Bersejarah Jepang, Prefektur, catatan traveler chaycya, www.catatantraveler.com, kyomizudera temple, osaka castle, eiheiji, torii, takeshita dori, harajuku, kaminarimon, meiji jingu shrine,
Kyomizu temple di Kyomizudera, Kyoto.
Tak hanya di Osaka, di daerah Kyoto juga terdapat kastil yang tak kalah fenomenal dan termasuk situs UNESCO World Heritage.Kota yang masih kental dengan sentuhan tradisional ini juga menyimpan kastil bersejarah yang dibangun di bibir tebing berbatu di pegunungan Otowa. Namanya Kyomizu-dera temple. Ini menjadi salah satu tempat wisata wajib kunjung di Kyoto setelah taman torii Fushimi Inari Taisha dan Arashiyama Bamboo Groove.

Kastil ini menjadi simbol berbagai musim di Kyoto. Sesuai artinya, Kyomizu-dera merupakan kuil air murni untuk Budha. Kuil utamanya dibangun menggunakan 139 pilar kayu tanpa pasak dengan menggunakan desain bangunan Jepang tempo dulu yang disebut kakezukuri.Karena musim gugur, dari tempat ini, panorama kota Kyoto bisa dinikmati saat matahari terbenam pada pukul 17.00 WIB.
Jepang, Kyoto, Tokyo, Osaka, Fukui, Traveling, Backpacker, Kuil Bersejarah Jepang, Prefektur, catatan traveler chaycya, www.catatantraveler.com, kyomizudera temple, osaka castle, eiheiji, torii, takeshita dori, harajuku, kaminarimon, meiji jingu shrine,
Di depan kuil ini, terpampang Distrik Gion.
Dibutuhkan perjuangan menuju kawasan ini. Dari stasiun bus Kyomizu, harus berjalan kaki dengan alur menanjak sekitar 500 meter untuk mencapai pintu panggung utama. Lelah kakak dek, tapi rasa lelahku itu terbayar karena di sepanjang jalan terdapat rumah tradisional Jepang yang menjual aneka souvenir.

Karena waktu mepet dan waktu kunjungan terakhir hanya diperbolehkan hingga pukul 18.00 (pukul 16.00 WIB), saya hanya menikmati tiga kuil di kawasan barat Kyomizu-dera temple. Tiga kuil tersebut merupakan pagoda berlatar pegunungan dengan cat merah dan atap khas Edo yang diperuntukkan sebagai kuil berdoa untuk Budha. Disini, masih sempat melihat-lihat kayu peruntungan yang digantungkan para pengunjung usai berdoa di kuil.
Jepang, Kyoto, Tokyo, Osaka, Fukui, Traveling, Backpacker, Kuil Bersejarah Jepang, Prefektur, catatan traveler chaycya, www.catatantraveler.com, kyomizudera temple, osaka castle, eiheiji, torii, takeshita dori, harajuku, kaminarimon, meiji jingu shrine,
Membaca peruntungan di papan kaligrafi Kyomizu-dera.
Meninggalkan Kyomizu, saya memilih jalan menurun di sebelah kiri jalan masuk. Jalan tersebut dikenal sebagai distrik Gion, kawasan para wanita penghibur Jepang atau yang lebih dikenal dengan Geisha. Sayang, di kawasan ini, tak satu pun geisha yang muncul, hanya para wanita Jepang yang memakai kimono untuk pertama sekali di usia 20 tahun usai berdoa di kuil.

“Melihat geisha itu untung-untungan. Mereka biasanya kalau keluar, akan berlari di gang kecil, dan pasti tak mau difoto,” ujar Honoka Nojiri, rekan couchsourfing asal jepang yang menemani saya keliling Kyomizu.

Jepang, Kyoto, Tokyo, Osaka, Fukui, Traveling, Backpacker, Kuil Bersejarah Jepang, Prefektur, catatan traveler chaycya, www.catatantraveler.com, kyomizudera temple, osaka castle, eiheiji, torii, takeshita dori, harajuku, kaminarimon, meiji jingu shrine,
Distrik Gion pukul 7.00 malam.
Di distrik ini, sempat menikmati kue tradisional Jepang bernama Angko atau sejenis kue mochi kalau di Indonesia. Kue dengan tepung yang dicampur teh hijau Jepang atau ocha dengan pasta kacang merah di dalamnya. Sangat enak. Harganya cukup terjangkau, 650 Yen untuk lima potong.

Puas mengunjungi Kyoto di akhir Oktober, awal November pun  saya awali dengan mengunjungi Fukui.

Prefektur yang terdapat di pesisir pantai laut Jepang di kawasan Chubu ini juga terdapat puluhan kuil. Salah satunya kuil Eiheiji, sebuah kuil Zen terkemuka berusia 815 tahun. Kuil ini dikenal sebagai ‘Kuil kedamaian abadi’ yang berlokasi di dalam pegunungan Tendo yang lebat.

Jepang, Kyoto, Tokyo, Osaka, Fukui, Traveling, Backpacker, Kuil Bersejarah Jepang, Prefektur, catatan traveler chaycya, www.catatantraveler.com, kyomizudera temple, osaka castle, eiheiji, torii, takeshita dori, harajuku, kaminarimon, meiji jingu shrine,
Bangunan tengah di Kuil Eiheiji.
Belum banyak traveler Indonesia yang mengunjungi kuil ini. Umumnya, para pejalan Indonesia hanya mengunjungi Tokyo, Kyoto, Osaka, Nara, Hiroshima dan beberapa kota di pulau Hokkaido seperti Sapporo. Fukui belum banyak dibahas dalam list perjalanan traveler Indonesia. Horeeeeeee bangga dong saya *kibas poni pake mulut.

Mengunjungi kuil Eiheiji yang berada di pesisir pantai Barat ini, dapat ditempuh sekitar 40 menit  menggunakan mobil pribadi dari pusat kota Fukui (thankyou Honoka-chan dan Kouhei-san telah menemani saya di Fukui). Kuil indah ini dibangun oleh Dogen Zenji pada tahun 1200 Masehi, saat ia berusia 24 tahun. Arsitektur kuil ini banyak mengadopsi bangunan China, terutama di atapnya, karena pendirinya pernah menjadi peziarah ke China saat mendalami aliran Zen.

Memasuki kuil ini, pengunjung pasti terkagum akan pemandangan yang ditawarkan. Pegunungan lebat yang mulai berubah warna. Melewati dua stupa bertuliskan kanji Eiheiji, taman dengan pepohonan menjulang tinggi berusia 770 tahun, dengan suara aliran air jernih di sebelahnya membuat kawasan ini sangat asri, bersih dan damai. Pantas saja namanya Temple of eternal peace.

Jepang, Kyoto, Tokyo, Osaka, Fukui, Traveling, Backpacker, Kuil Bersejarah Jepang, Prefektur, catatan traveler chaycya, www.catatantraveler.com, kyomizudera temple, osaka castle, eiheiji, torii, takeshita dori, harajuku, kaminarimon, meiji jingu shrine,
Salah satu sudut taman Kuil Eiheiji yang damai...
Tak puas hanya menikmati taman di bagian luarnya saja. Dengan membayar 500 Yen atau sekitar Rp 60 ribu, saya pun mengunjungi bagian dalam kuil utama. Di pintu masuk kuil utama terdapat peta bangunan Eiheiji yang terdiri dari 13 bangunan dengan tujuh kuil utama. Diantaranya Sanmon atau gerbang utama, Butsuden (Budha Hall), Hatto (ruang Dharma), Sodo (tempat pemujaan biksu), Daikuin (dapur), Yokushitsu (kamar mandi), Tosu (toilet), Joyoden (ruang Dogen Zenji), Shorodo (menara tempat lonceng), Chokushimon (imperial gate), Chujakumon, Shidoden (memorial hall) dan Sanshokaku.

Di bagian dalam kuil utama memorial hall ini, saya langsung diajak menikmati kesederhanaan ruang ala Zen. Ya, disana ada atap berlukiskan berbagai tanaman dan burung khas Jepang yang memiliki makna mengenai kelahiran dan kematian.

Jepang, Kyoto, Tokyo, Osaka, Fukui, Traveling, Backpacker, Kuil Bersejarah Jepang, Prefektur, catatan traveler chaycya, www.catatantraveler.com, kyomizudera temple, osaka castle, eiheiji, torii, takeshita dori, harajuku, kaminarimon, meiji jingu shrine,
Atap utama kuil Eiheiji.
“From Dogen Zenji’s to Shoji, persembahan ini buat mengingat kelahiran dan kematian. Tidak ada yang sempurna, tapi selalulah mencari keseimbangan dalam hidup,” ujar Kouhei usai berdoa di Sodo sambil menunggu rekan Honoka yang turut berdoa di altar utama dengan hiasan emas dan Budha tersebut.

Dari empat kuil yang saya kunjungi ini, masing-masing punya ciri khas tersendiri. Bedanya, ada yang berdiri dan terawat di tengah kota seperti Meiji di Tokyo, Osaka-jo di Osaka, dan yang berdiri kokoh di tengah hutan seperti Kyomizu di Kyoto dan Eiheiji di desa Yoshida-gun, Fukui.

Jepang, negara di Asia Timur paling modern dan inovatif di dunia, tapi masih mampu menyeimbangkan dan merawat akar masa lalu mereka dan menjadikannya sebagai tempat wisata yang dikunjungi jutaan pejalan dan peziarah dari seluruh dunia. tradisional dan modern bersanding seimbang disana. ***


Warm Regards,
CatatanTraveler


Tulisan ini sudah dipublish di: Batam Pos Edisi 15 November 2015

You Might Also Like

4 komentar

  1. Yuk.. Kapan lagi kita kesana Chotyyy.. Hehe

    ReplyDelete
  2. Matsumoto castle bisa menjadi pilihan juga :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Hermawan,
      Iya benar, Matsumoto Castle mirip kaya Osaka Castle juga. But sure, if God will nanti saya bakal berkunjung kesana lagi. :)

      Delete