Latest Posts

Prepare My Japan Trip

By Friday, November 13, 2015 , ,


Ya ampun, yang di belakangku itu siapa? pede banget foto bareng gueh *serasa selebriti.. haha

UNTUK tiba di Negeri asal manga Naruto dan Doraemon itu, saya harus melewati satu pelabuhan Ferry Internasional Batamcenter, dan tiga bandara internasional, yakni Changi International Airport di Singapura, Kuala Lumpur International Airport (KLIA) di Malaysia, dan Haneda International Airport di Tokyo, Jepang. Menuju kesana, saya pun butuh tiket Pulang-Pergi.
tiket SIN-KUL-SIN by Jetstar

Tiket KUL-HND-KUL by Air Asia


- Tiket PP Majestic Ferry Batam-Singapura-Batam
- Tiket penerbangan Jet Star Singapura- Kuala Lumpur - Singapura
- Tiket penerbangan Airasia Kuala Lumpur - Tokyo (Haneda) - Kuala Lumpur

OKE!!! semua tiket sudah di tangan. Waktu keberangkatan pun tinggal menunggu hari.

Rencana kunjungan ke Jepang ini sebenarnya sudah lama diimpikan. Tahun 2012 lalu, pernah hampir berangkat dengan rombongan seorang author buku perjalanan, Claudia Kaunang. Namun batal karena tidak mengirimkan data-data sesuai tanggal deadline. Gimana tak batal, hari terakhir pengiriman data, saya malah sedang asyik kunjungan pelayanan dan gotong royong di salah satu gereja di pulau Kubung bersama kelompok Youth Paradise HKBP Lubukbaja. Pulau Kubung merupakan salah satu jajaran pulau terpencil di Batam.

"Ah masih sempatlah, ntar sore abis dari sini, langsung ke kantor saja untuk kirim-kirim data itu. Amanlah," pikirku kala itu.

Eh tak dinyana, hujan deras pun datang, jadwal pulang yang aturannya pukul 16.00 WIB malah harus tertunda hingga pukul 18.00 WIB. Sudahlah basah, mana bisa lagi ke kantor? ya sudah, pulang aja dulu. Dannnnnnnn pendek cerita, batallah kunjungan ke Negeri Sakura yang sudah diimpikan itu.

Kecewa? pastilah. Sedih malah. Kapan lagi bisa menyentuh Jepang selama lima hari hanya dengan biaya Rp 3,5 juta sesuai bukunya Claudia Kaunang? hiks.

Taraaaaaaaa!!! keberuntungan pun berpihak padaku di 2015 ini. Februari lalu, seorang rekan menjual harga tiket PP ke Jepang dari Kuala Lumpur seharga RM 940 (Ringgit Malaysia). Hitung-hitungan ala sempoa pun main di otak. Murah!!! Ambil dong. (Meski pun pada akhirnya saya mengetahui harga sebenarnya jauh lebih murah setelah add bagasi saat kepulangan. Tapi ya sudahlah, anggap saja berbagi berkat. )

Tiket Jepang sudah di tangan, excited has begun. Saya langsung membongkar rak buku, membaca ulang buku Claudia Kaunang berjudul Rp 2,5 Juta Keliling Jepang. "Waah gampang kok Jepang dipelajari, amanlah. Buku ini saja peta bagi saya," gumamku.

Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli... sudah mulai mencari-cari informasi mengenai Jepang dari berbagai blog yang sudah pernah kesana. Tak terhitung lagi berapa blog. Pokoknya yang berbau Jepang, saya libas baca semua.

Eh tapikan, paspor masih reguler? belum e-pasport? yaaah harus urus visa sendiri dong. Yeep, jadilah buka situs Kedutaan Jepang , surfing ke Bagian Konsulat-Informasi VISA di  dan langsung memilih jenis VISA nomor 4: Visa Kunjungan Sementara Untuk Tujuan Wisata dengan Biaya Sendiri. Di situs Kedutaan Jepang ini (linknya buka saja di Google ya?) kita bisa men-download formulir pengajuan visa dan form itinerary serta mengenai apa saja persyaratan yang dibutuhkan.

Semua saya urus sendiri. Isi data pengajuan visa. BERES.. Nah isi itinerary, waduh diminta alamat penginapan. Bijimana ini? lantas teringat dengan rekan pejalan yang sudah duluan ke Jepang, Asad Saputra dan Mukhlis Pane. Dari mereka, aku mendapat itinerary dan saran untuk booking penginapan via booking.com yang bisa prepaid cancellation. "Thankyou guys, especially for ya Asad".

Saya pun langsung membooking tiga penginapan di lokasi yang berbeda, yakni Asakusa Hotel Fukudaya di Tokyo, Hotel Shin-Imamiya di Osaka, dan Piece Hostel di Kyoto. Di form itinerary Kedubes Jepang, saya isi semua alamat dan nomor telepon hostel. Mengenai kunjungan ke tempat wisata di tiga kota, googling saja  dengan keywords: misalnya kalau di Tokyo = Things to do in Tokyo.. Dari sana saja semua saya copy paste nama-nama tempat wisatanya. Dan umumnya, saya pilih tempat wisata yang gratisan (ya namanya juga traveler kere.. helloooo you think) hahaha.. ===== INI semua berangkat dari pernyataan Asad "Udah kak, itinerary urus visa, asal-asal saja, yang penting jangan neko-neko kunjungannya. sederhana saja, toh yang kita jalani disana juga belum tentu sesuai itinerary," ujar Asad kala itu. Baiklah Asad..wkwk === SEMOGA KEDUTAAN JEPANG tidak membaca ini, dan memblacklist kami dari kunjungan selanjutnya.. hehe.

Persyaratan hampir lengkap. Tibalah untuk memprint rekening tabungan. Kelar!!!. pas foto ukuran 4,5x4,5 mm. kelar!!!. Daripada saya harus bolak-balik ke lantai 5 Sinar Mas Plaza di Jalan Diponegoro, Medan, saya pun mempercayakan pengurusan visaku ke salah satu travel agent terlama di kota Batam, Balindo.

Tahu apa jawabannya saat saya ke sana? "Belum lengkap semua, lagian berangkatnya Oktober kok, datangnya minggu ke dua Agustus saja," hwaaaaaaa... berarti harus cetak rekening koran lagi dong. hiks... (Perjalanan enak itu memang harus butuh perjuangan di awal-- menguatkan diri)

Ya udah, tak menyerah. Saya pun melipir ke salah satu travel agent di kawasa Penuin. Ramah sih pelayanannya, janjinya manis lagi, visa kalau accept, seminggu juga sudah diterima ama klien. Tapiiii??? kalau bisa tabungan minimal Rp 45 juta ke atas.. bujubuset!!! dikumpulin dari tiga akun bank yang berbeda, tabungan juga ga sampai segitu kelessss.. pasrah!!! tapi tak menyerah dan berdoa "Tuhan, banyak amat rintangan mau ke Jepang ini. Bakal batal lagi ga sik? klo bisa jangan lagi yak Tuhan. Jangan kehendakku, kehendakMu jadilah," doaku penuh harap.

Agustus yang dinantikan pun tiba. Sebelum ke kantor, pagi di hari Senin, aku pun mengunjungi bank BUMN cabang Nagoya Hill. Saya kembali minta print out rekening koran dengan bayar Rp 2.500 per kertasnya. Customer servicenya kepo.

Mba CS : Buat apa rekening koran ini bu Chahaya? minta di legalisir lagi. Cap tanggal saja yak?
Me : Ada urusan yang mengharuskan rekening koran mba.
Mba CS : Urusan apa? -- ih kepo banget sik lo! --
Me : Urus visa Jepang --kibas rambut sambil pasang muka songong--
Mba CS : Oh Jepang yak? susah banget deh disana. Apa tahu bahasa mereka? mereka kan ga banyak tahu bahasa Inggris. Kenapa ga pilih Eropa saja mba (tumben ga panggil ibu lagi.. hih) , Eropa bagus, seru lagi.
Me : Oh mba udah pernah ke Jepang dan Eropa?
Mba CS : (sambil melihatku tajam lalu tanda tangan cap legalisir di kertas terakhir Account bank statement) belum sih. Cerita teman aja.
Me: (terdiam, terpaku, takjub, pengen nyemprot tapi batal). Oh.. makasih mba (sambil berdiri dengan senyum paksaan usai menerima print-an dan berlalu bagai butiran debu yang lantas menghilang ditelan angin sepi.. eh apa sik)
--------------------- sekilas intermezo--------------------

Dari bank, langsung ke Balindo. Di sana ketemu langsung sama manajer operasionalnya. "Mba, kayanya wajahnya ga asing deh," ujarnya.

"Iya ko, aku kan dulu yang wawancara koko liputan mengenai paket perjalanan disini," jawabku.

"Oh iyaaa, waduh udah lama banget ya? Masih kerja disana?-- masih ko.

Doi langsung cek dan ricek berkas, baca itinerary. "Wah malamnya nginep di Haneda ya? tak boleh. Tapi tak apa, nanti saya ubah itinerary hari pertamanya, saya cantumin alamat hotel nginep hari pertama," ujarnya. Waaah makasih koko.. -Sampai sekarang, apa jadi doi ganti, apa kagak itu itinerary, hanya dia dan konsulat Jepanglah yang tahu. wkwkwk..

Tak hanya itu, doi juga kasih potongan harga Rp 50 ribu untuk pengurusan visa tersebut yang dari Rp 600 ribu menjadi Rp 550 ribu. Yeaiyyy.. Terimakasih koko!!

Dari 10 hari jadwal pengurusan yang diberikan, seminggu setelah pengurusan, Balindo pun menghubungiku dan memberitahukan "Visanya sudah bisa diambil," thank God..
Yeayyyy... ini visa Jepangku.
Kelar visa, perasaan pun makin anteng. Itinerary perjalanan yang sebenarnya malah terbengkalai dengan alasan "Ntar sajalah, masih dua bulanan lagi juga berangkatnya".

Hingga tibalah minggu terakhir sebelum berangkat. grasak-grusuk. baca ulang buku perjalanan, baca blog orang-orang yang sudah pernah ke Jepang, hingga melakukan konsultasi dan interaksi dengan seorang blogger ramah, Ahmad Takbir dan juga mas Oka Mukti dari member Backpacker Internasional. Mas Oka ini yang banyak membantuku seputar pertanyaan Jepang, termasuk cara transportasi dan akses hiking ke gunung Takao. Ah ada saja cara Tuhan mengirimkan orang baik untuk membantuku merealisasikan mimpiku ke Jepang... kampaiiiiiii
pertanyaan

jawaban
Print semua tiket penerbangan, beli tiket kapal ferry, dan tukar uang Yen di Hai Hai Money Changer. Aman? belum. Masih tetap galau dengan barang bawaan, hingga akhirnya membeli bagasi 20 kilogram dari Airasia saat pulang dari Jepang dan 15 kilogram dari Jetstar dari Kuala Lumpur ke Singapura.
Petunjuk mencari lokasi stasiun Willer Express di Shinjuku, Tokyo

Masih petunjuk.. Jelas banget petunjuknya.. ya tapi tetap aja, setelah disana, meski pun udah yakin, tetah aja tanya sana sini, bahkan tanya ama polisi/koban..hahai.. ini modus
Tak hanya itu saja, dari yang tadinya berniat ke Hiroshima, dan merencanakan membeli JR Pass khusus turis seharga 32.000 Yen, saya memutuskan batal ke sana, dan lebih memilih paket tiket 3 hari bus Willer Express. Setelah beli, saya pun reservasi dua tiket tujuan yang sudah yakin dijalani, yakni Osaka dan Fukui.
Taraaaaaaa, saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dari Batam berangkat ke Singapura, dari Singapura berangkat ke Kuala Lumpur. Menginap satu malam di rumah teman masa kecil, Fanie di Condominium The Saffron di kawasan Sentul. Keesokan harinya, pergi menggunakan penerbangan  D7 522 dari KLIA, Rabu (28/10/2015) sekitar pukul 02/40 pm, dan tiba di Haneda sekitar pukul 10.30 PM. Pulang menggunakan penerbangan Airasia D7 523 sekitar pukul 11.45 pm dan tiba di Kuala Lumpur keesokan harinya, Rabu (4/11/2015) sekitar pukul 06.30 AM. ***

You Might Also Like

4 komentar