Latest Posts

Crimes Againts Nature (Catatan Perjalanan Diego Bunuel ke Indonesia)

By Tuesday, February 21, 2012 , ,

Diego in Banda Aceh, 2 days after tsunamie 2004 yr ago
 Ini cerita yang aku kutip dari program perjalanan kesukaanku, Don't Tell My Mother I'm in Indonesia now, yang dibawakan sekaligus diproduseri cucu directur perfilman dunia, Luis Bunuel. Dialah Diego Bunuel yang menelusuri beberapa provinsi di Indonesia dengan segala permasalahannya. (Sial, kenapa Diego tidak meliput dan memfilmkan keindahan Indonesia saja sehingga pariwisata Indonesia sedikit terangkayt yak? Tapi ya itulah Diego, dia selalu bisa menemukan permasalahan ekstrim dan tidak lazim suatu daerah di negara di berbagai belahan dunia, padahal warga negara di negara yang dikunjunginya menganggap masalah atau kejadian tersebut biasa, sepele bahkan cenderung mengabaikannya, seperti Indonesia ini)

Aku menulis perjalanan Diego (so sorry, I don't meet them, I just watching his program at National Geographic Cannel) disini, karena aku merasa tersanjung.  Dia untuk kedua kalinya berkunjung ke Indonesia.  Kunjungan pertamanya dua hari setelah badai Tsunami di Banda Aceh, 26 Desember 2004 lalu, dan tayangan ini merupakan perjalanan keduanya setelah 7 tahun tsunami berlalu (filming 2011).

Filming diawali Diego yang mengendarai motor di kaki gunung merapi yang saat itu sedang erupsi kecil. "Coba bayangkan saya dimana sekarang, saya berada di negara yang paling sering mengalami gempa, mempunyai gunung api terbanyak dan aktif, lebih dari 17 ribu pulau, dan berpenduduk 250 juta penduduk di seluruh pulau dengan agama terbesar Islam. Ya, saya berada di Indonesia sekarang, dimana luasnya kalau digabungkan setara dengan Amerika. Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia" ujar Diego mengawali.

The biggest Focus:

1. Diego in Banda Aceh

Tayangan ini menunjukkan bagaimana dampak tsunami Aceh 2004 lalu, menjadi awal berkembangnya Hukum Syariah yang ditandai dengan hadirnya Police of God (Polisi Syariah). Hukum ini hadir sebagai jawaban, karena mereka meyakini, Tsunami di Aceh terjadi karena kemurkaan Tuhan.

Diego bersama polisi Syariah menelusuri Kota Banda Aceh pada malam hari, mereka merazia persimpangan kecil, patroli jalan raya dan warung pinggir jalan.
(Disini aku mulai syok mengikuti tayangan), saat razia warung, para pengunjung melarikan diri tanpa membayar makanan di warung, si pemilik marah kepada polisi syariah dan meminta bayaran (wajar saja). Anggota polisi menghubungi atasan yang mereka sebut Bos Syariah. Anggota polisi mulai marah dan kembali membentak penjual karena bos sudah ada. Dipimpin bos, mereka mulai memeriksa gerobak (Tiba-tiba ditemukan sebotol whiskey yang sudah kosong). Menurut peraturan Syariah Aceh Nomor 12, minuman keras dilarang diminum apalagi dimiliki, ketahuan, hukumannya 10 kali hukum cambuk di hadapan Mahkamah Publik.

Para polisi langsung mengangkut para penjual yang merak anggap bermasalah ke kantor polisi, semua anggota membentak, dan semua ingin memelintir. (Diego said: Terlalu susah menurut saya, hanya karena botol minuman kosong, penjual ditangkap, bukan hanya itu juga, alasan polisi menangkap karena penjual melawan dan marah kepada anggota polisi syariah) --> Ribet yak, usaha kecil-kecilan, eh ditekan lagi. Ya gitu deh di Indonesia yang beragam, apalagi itu sudah mengatasnamakan hukum Tuhan, tapi yang merealisasikan manusia, ya itchu duehhh.

(Imagine Conversation: Terlalu lo Diego, kaya gini ajah lo liput, pake acara tayang di TV lagi, di natGeo pula..apa kata dunia ama Negara gw? Kan masih banyak masalah lain, pemandangan gituh, border case gituh, masa kaya gini? Menjatuhkan negara gw lo ah :(, ";). "Ah untung cuma imajinasiku" hehehe)

2. Diego in Yogyakarta

Di kota pelajar dan di Daerah yang diistimewakan Pemerintah Indonesia ini (karena posisi sejarah kesultanan dan pernah menjadi poros pertahanan dari Penjajahan Belanda), Diego menguliti kehidupan para Transgender yang membentuk dunia, kelompok dan kehidupan sendiri ditengah arus kehidupan normal disana.

Diego mengunjungi Salon Mariani, salon yang dikelola waria dengan pelanggan para waria dan gay. Salon ini unik, selain berfungsi sebagai salon, setiap azan tiba, salon ini berubah menjadi masjid yang para jemaahnya adalah para waria dan gay muslim di Yogyakarta. Dibalik hukum agama yang mengharamkan perubahan perilaku dan kelamin, para waria dan gay ini pun bersama melakukan sholat dipimpin Imam dari laki-laki normal biasa.

Dalam tayangan, para waria ini sebagian memakai mukena, dan sebagian lagi memakai sarung dan peci. "Ini tergantung hati, hanya ketika solat saja, kita dibedakan. Kalau anggota memakai sarung dan peci, mereka nyaman, mereka akan duduk di depan, sedangkan kita nyaman dengan mukena, kita memakainya dan duduk di belakang," ujar Mariani ketika Diego menanyakan bukankah Solat Islam itu dibedakan antara pria dan wanita?

Dalam tayangan ini, kepada Diego, para waria curhat. Mereka mengungkapkan, bukan seharusnya mereka dikucilkan dari lingkungan. Mereka ingin diterima haknya juga sebagai manusia tanpa pembedaan, dan bahkan mereka juga ingin pergi Umroh dengan wujud dan keadaan mereka seperti sekarang ini. Mereka minta perhatian dari pemerintah mengatasnamakan Hak Azasi Manusia.

3. Diego in Jakarta

Diego sangat cerdas dalam penciuman dan penglihatan perjalanan yang menampilkan keunikan yang tak lazim. Kalau rekan traveler (backpacker lebih tepatnya)  yang saya tanyakan "what do you think about Jakarta, the capital city of my country?" Dengan kompak pasti mereka menjawab "Traffic problem, air polution and crowded, it same like the biggest city in the whole world, like New York or Christchurch in NZ", ujar temanku Louie dari Selandia Baru.

Aku ngarepnya Diego membahas pernyataan si Louie itu dengan lebih mendalam, juga selain berbagai masalah korupsi pembangunan gedung pencakar langit di beberapa kawasan. Eh ternyata keciiil menurut Diego. Dia malah membuat hentakan dengan memblow up tempat pemakaman termahal di dunia, berada di Indonesia yaitu, Sandiego Hill Cemetery yang dikembangkan Lippo Group di Karawaci

Sudah lama aku mengetahui tempat pemakaman luxury itu, melihat langsung gapura tanpa masuk ke dalam, dan betapa hanya keluarga kaya saja yang bisa dimakamkan disana, karena pemakaman tersebut memiliki manajemen yang sama fungsinya seperti manajemen properti kelas atas. Menurutku biasa, bahkan sepele saja. "Pemakaman untuk orang kaya, biasa tuch bagi kalangan berduit" gumam wong cilik ini sepele :)

Tapi melihat tayangan Don't Tell My Mother oleh Traveler Host pujaanku Diego Bunuel ini, aku merinding saudara-saudara (baca ala pendeta). Bayangkan Pemakaman ini berdiri diatas lahan seluas 500 hektar yang seluruh rumputnya terawat, dilengkapi fasilitas hotel bintang empat dan bahkan punya kartu keanggotaan. Bahkan Diego menikmati berenang dan makan ala Italia di pemakaman itu. ( Mungkin mereka mendengungkan slogan seperti ini, "The Cemetery is not the end of the body's rest, but this place for leisure for their family to enjoy also" Weeeek:(.
Positifnya, pikiranku mengatakan "baguslah, biar nanti ke depan tidak ada lagi film horor yang mengatasnamakan pemakaman dengan aneka jenis hantist alias hantu artis, melainkan lokasi itu akan berfungsi sebagai tempat syuting lagu-lagu cinta dari para boyband, group band dan bahkan penyanyi yang munculnya tumband-an (baca:tumbenan), serta jadi lokasi berbagai film Melodrama yang kira-kira berjudul, Cintaku Berbunga di Sandiego Hills, atau Kau Putuskan Cintaku di Pemakaman, atau Sandiego Hills Jadi Saksi Kita..hahaha .MNC banget neh kayanya judul. ' bisa ajah lo chay')

Dari tayangan ini, Aku jadi mengetahui, bukan hanya lahir dan hidup saja manusia berbayar, mati pun harus berbayar, mahal lagi. Bayangkan saja untuk lokasi pemakaman, Sandiego menetapkan harga mulai US$ 200 sampai US$ 20.000 per meter2. "Wow, lebih mahal dari biaya rumah di London dan Italia," ujar Diego.

Tentu, ini berlaku hanya untuk orang kaya saja. Bagaimana dengan warga biasa di Jakarta? Problema, Lokasi pemakaman selalu padat, sementara jumlah penduduk meningkat. Terbentur masalah, jika keluarga tidak mampu membayar biaya sewa dan perawatan pemakaman, maka makam tersebut akan ditindih atau dijual ke orang lain.
i love your traveling program Diego


4.Diego in Kalimantan

Diego memfokuskan liputannya di provinsi yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Brunei Darussalam di utara ini dengan perambahan hutan dan pembunuhan Orang Utan.

Dalam perjalanan ini, Diego mengungkap lebih dari 2/3 hutan tropis di Kalimantan sudah gundul akibat perambahan pertambangan batu bara yang tidak melakukan reboisasi setelah digunduli. Masalah ini menjadikan Indonesia berada di peringkat ketiga sebagai negara yang mengakibatkan efek rumah kaca di dunia.

Bukan hanya itu, spesies Orang Utan, binatang asli Indonesia,mahluk terdekat dengan manusia itu pun terancam punah, ditambah bonus pembunuhan induk orang utan akibat dari pembalakan liar hutan ini.

Diego secara gamblang menayangkan bagaimana kerjasama (rendahan) antara Pemerintah Dinas Kehutanan dengan Pengelola tambang, sementara NGO International Animal Protecting yang notabene bukan warga Indonesia mati-matian mengatasi pembunuhan dan kepunahan ini. Adalah Karmelle yang berjuang hidup di pedalaman Kalimantan demi merawat dan memelihara orang utan.

(Jadi jangan marah kawan, kalau suatu hari nanti, dunia mengklaim Orang Utan sebagai binatang yang dilindungi (secara benar) dan melepaskan hak kepemilikan Indonesia atas itu, karena dinilai lalai dan tidak memperhatikan. Lihat saja pejabat korupsi yang menerima biaya pemusnahan orang utan di lokasi tambang. Thankyou Diego Bunuel, you open my eyes about this case, I hope my government serious to handle it. Teriakanku: "Lihat itu pemerintah, departemen dan dinas kehutanan dan pertanian serta peternakan. Lo digaji di Kalimantan buat menjaga keanekaragaman hayati, memelihara fauna. Jangan hanya mengatakan binatang yang dilindungi, air dan hutan dan segala isinya dilindungi negara, sementara mata dan telingamu jauh dari itu, hanya memikirkan bagaimana kamu meraup untung dari situ dengan korupsi")--> Angered.

Diego, dalam tayangan ini ditemani Karmelle, orang asing yang memfokuskan diri melindungi orang utan. Dalam tayangan ini juga, ditunjukkan bagaimana pejabat kehutanan dan pertambangan yang gila hormat, mengundang wartawan saat penyerahan baby orang utan (yang katanya ditemukan dekat lokasi pertambangan namun Karmelle menganggapnya bohong) dari pertambangan ke pejabat kehutanan. Ga di pusat, ga di daerah semua gila hormat, narsis kata remaja zaman sekarang untuk menutupi aib kecurangan korupsi.

Karmelle said: "Setiap penemuan satu baby orang hutan, itu berarti satu ibunya dibunuh, dengan tujuan menghambat perkembangbiakan dengan alasan mereka binatang pengganggu di daerah pertambangan"

INI MASALAH KITA BERSAMA, INDONESIA!!!!

5. Diego in Surabaya

(Tayangan ini sangat membuat hati lega)

Diego mengunjungi daerah penangkaran Kopi Luwak di hutan Jawa Timur.
Mereka mengadakan perburuan kotoran binatang Luwak (Ini neh yang disebut Pup Coffee with the Golden Price. Baru kali ini harga kotoran dihargai Rp1.800.000,- atau setara US$200 (kurs Rp9.000,-) per kilogramnya).

Diego mengawali harinya di Jawa timur dengan berburu kotoran di pagi hari, mengikuti proses pembuatan kopi Luwak dan merasakannya. "Great taste, pantes aja mahal," ujarnya.

(Fact: dari tayangan ini, gw baru tahu:
  1.  Luwak hanya memakan biji kopi yang sudah matang berwarna merah.
  2.  Luwak hanya memilih lokasi bersih, misalkan batu, atau tanah kering saat dia mau pup (kotoran).
  3.  Luwak menjadi bagian dari lingkungan perkebunan kopi sejak lama, namun baru disadari petani kopi  Indonesia tidak lebih dari lima tahun yang lalu.
  4.  Luwak adalah binatang bersih yang bersahabat (Very friendly animal).
  5. Luwak tidur di siang hari, dan mencari makan malam hari. (Bukan PSK eh BSK yak?! Hehehe).

Cara pembuatan kopi Luwak, Kotoran Luwak dibersihkan, dijemur, dicampur dengan kopi kualitas prima, disangrai, ditumbuk sampai halus, lalu disuguhkan dengan air panas sehingga menghasilkan wangi yang nikmat. {Bangsat!!! Pantesan saja segelas kecil (sebesar siloki) harganya Rp60 ribu/ cup. Mana pait lagi..ogah dah minum kopi :(...}

Nilai Moral dari tayangan Don't Tell My Mother eps Indonesia ini:

  • Berbanggalah jadi warga negara Indonesia karena lokasi dan alamnya yang super duper indah sudah diakui dunia.
  • Hargai kehidupan sekecil apa pun, toleransi paling penting, sehingga dunia tidak melihat kita dari negatifnya saja.
  • Hujatlah korupsi dengan menjauhkannya dari pribadi sendiri, dan kalo perlu sentillah telinga para pejabat korup di negeri ini, yang hanya memikirkan meraup untung pribadi tanpa memikirkan dampak alam, binatang dan manusia lainnya dalam jangka panjang. (Semoga Tuhan menegurmu)
  • Selain menjadi negara yang banyak hujatan, negara ini juga berlimpah pujian dari belahan dunia, lihat saja, hanya di negara berkembang atau dunia ketiga inilah satu-satunya terdapat kesenjangan pemakaman termewah mengalahkan cemetery di Boston dan cemetery kerajaan Inggris. Hehehe
  • Mari menunjukkan bahwa banyak lokasi keindahan alam di Indonesia yang belum diketahui para turis dan menjadi tugas kita mengenalkannya ke dunia internasional, sehingga ke depan, mereka tidak memandang negara ini sebelah mata saja.

Diego...!!! Diego..!!! amazing traveler host


Chaycya, Monday, 11.00 PM
20022012

You Might Also Like

0 komentar