Latest Posts

Sukses Menurutku

By Monday, October 04, 2010

Setelah hampir 24 taon berada di dunia, akhirnya baru sadar pesan-pesan dari kedua orang tuaku dan orang-orang yang menyayangiku.

My Parents


Papa said: Jangan tangisi kemiskinanmu, tangisilah kebodohanmu. (Itu jelas kuingat terpampang di pintu dapur rumah kami di Serma Muda Nomor 104).----> hmmm, benar juga. Aku menyebutnya BELAJAR DENGAN KEBIJAKSANAAN.

Aku bertanya, "Pa kenapa poto papa dipajang di ruang makan seh??" (bukan hanya aku saja, saudaraku yang lain juga pada protes papa majang fotonya dengan kumis lebat, kemeja coklat sambil senyum kaya senyum monalisa, susah ditebak makna senyuman tuch, apalagi fotonya yang itu rada-rada mirip si Doel Anak Betawi..hehehe piss Pa)..

Papa jawab, "Bukannya apa-apa, itu mengawasi kalian bekerja dengan baik di rumah kala Papa dan Mama tidak di rumah)----> Aku menyebutnya BERBUAT DENGAN HATI.

Kala minggu pagi, saat kami belum beranjak dari peraduan. Mama sudah mengomel dengan cerewet "Gimana mau bisa sarapan pagi teratur, kalau jam segini (pukul 07.00 WIB) belum bangun? sarapan belum disiapin, ntar lagi mau gereja,. Nanti saat mau berangkat, pasti terburu-buru. Bangun cepatttt".

Kala malam tiba, Papa akan selalu bilang: "Sekarang ambil semua Alkitab kalian masing-masing, buku nyanyian, kumpul di ruang tamu" (Inilah yang kami jalani hampir tiap malam saat kami masih kecil, kebaktian keluarga. Dulu aku sangat membenci kegiatan ini, karena setiap malam dan membosankan, apalagi disuruh giliran doa penutup. tapi kedua orangtuaku mengingatkan kami, bahwa ada Tuhan yang menjaga bila kami mengimaninya).----> Sekarang aku baru menyadari dan menyebutnya BERBUAHLAH DENGAN IMAN.

Meski kami bertekun, bukan berarti pencobaan dan masa kelam itu lalu dari kami. Biasa, kehidupan duniawi masih melingkupi. Kami anak-anaknya berulah, begitu juga Papa, masih menyempatkan waktu minum dan berjudi dengan teman-temannya. Akibatnya apa? Anak melawan orang tua, tidak patuh. Tapi itu dulu, sekarang dan seterusnya, semoga tidak akan pernah lagi. Hanya Mama, meski hatinya sakit dan haru, dia tegar dan selalu mengingatkan pasti ada waktu yang baik suatu saat. hmmmm---->Aku menyebutkan BERPENGHARAPAN DENGAN KEYAKINAN.

Ada tujuh anak dilahirkan dari rahim Mama. Dulu diberi kekayaan, namun (lagi-lagi karena nikmat duniawi) bangkrut. Tiga mobil terjual, rumah tergadai, ngutang ke rentenir. Mama kurus, Papa bingung, sementara kami anak-anaknya harus bersekolah. "Aku tidak tahu apa nanti kalian bisa papa mama sekolahkan, syukur sampai SMP masih sanggup," ujar Mama kala itu, yang selalu kuingat sampai sekarang.

Akhirnya dengan kuasa Tuhan, Papa bertindak dengan caranya (halal pastinya), Mama mendukung, akhirnya usaha mereka yang sempat kritis dirintis kembali, jalan ditempat, namun kembali berkembang hingga akhirnya satu persatu beban itu bisa diatasi dan diselesaikan, Sehingga kami anak-anaknya bisa meretas bangku kuliah dan menjadi Sarjana. (Tak terbatas Kuasa Tuhan, kala manusia merasa tak sanggup, namun tanganNya diulurkan menjadi berkat)----> Aku menyebutnya BERSYUKUR DENGAN IKHLAS dalam kondisi apa pun.

Berbuahlah dengan Iman
Bersyukur dengan Ikhlas
Berbuat dengan Hati
Berpengharapan dengan Keyakinan
Belajar dengan Kebijaksanaan


Itulah sukses menurutku, dan seterusnya meyakininya sampai masa depanku tiba.
Tuhan Memberkati

Created by Chya Simanjuntak,
Graha Pena O 2nd Fl
07.40 pm (72810)

You Might Also Like

0 komentar