Latest Posts

Segala Sesuatu Adalah Segala-galanya

By Wednesday, September 29, 2010

APA seh sebaiknya yang kita lakukan ketika dililit masalah? Apakah lari dari masalah dengan mencari jalan, misalnya suicide (oh Nooo, gila ajah lo!!! sejengkal itukah pikiranmu????please deh booow), makan yang banyak (efek stress neh biasanya), atau melupakan masalah dengan menonton Opera Van Java di Trans7 yang lagi tayang malam ini??.
Aksi Sule, dkk membuatku ngakak kuat, hwakakakakakakakaka...tapi tetap saja, aku tidak bisa melupakan masalah yang kini melilitku.
Belum selesai masalah, tiba-tiba sahabatku juga memberitahukan "Chay, aku banyak masalah, khususnya masalah finansial. help me chay, aku ga tau kok bisa sebodoh ini aku yak???".
Buset dah, beginikah?apakah aku akan senang dengan berpikir "wah, berarti bukan aku saja merasakan masalah. Aku juga, dia juga, temanku juga, bahkan sahabatku juga.hmmm", yang ada aku malah sedih..sediiiihhhh banget...Disaat dia minta tolong, aku bahkan tidak bisa membantunya..Aku hanya bisa mengatakan "im sorry my best friends".

Hidup ini sesungguhnya amat menyenangkan, tergantung cara kita memandang. Gumpalan kegelisahan, kesedihan dan ketakutan itu akan semakin menjadi bila kita memandangnya sebagai suatu bola raksasa masalah. Ini energi negatif yang menghancurkan bukan saja pemikiran, melainkan jiwa, raga dan menghanyutkan diri ke arah kerusakan. Sebaliknya, memandang persoalan seolah itu menggairahkan, gampang diatasi dan memandangnya everything is ok, menurutku itu energi positif, mampu menghadapi senyuman ibarat membeningkan air di hilir, yang jelas tidak mungkin terjadi saat mengalir dari hulu yang keruh.

Menurut pandangan hidup yang kuyakini, dan aku yakin semua agama juga mempunyai perilaku ini, yakni berkomunikasi dengan tuhannya, yang kita menyebutnya dengan DOA. Menurutku ini alat berkomunikasi dengan Tuhanku, menyampaikan segala keluh kesah, pengharapan, permohononan dan betapa lemahnya hidupku bila tidak mengandalkan namaNya dengan ucapan syukur dan terimakasih. Ibarat pintu menuju singgasana sempurna.

Menurutku, segala sesuatu itu adalah segala-galanya. Aku meyakini kepercayaanku adalah segala-galanya, dengan selalu meminta supaya dalam setiap detik kehidupanku, biarlah Roh yang kudus melindungiku dan selalu tinggal di dalam hatiku, dan bahkan melindungi keluargaku pribadi lepas pribadi juga. Aku memanjatkan doa kepada Tuhanku, menjalin komunikasi dengan Malaikatku, mengungkapkannya, disaat aku menghadapi masalah, aku menyampaikannya dan taukah kamu? itu sangat meringankan dan menyelesaikan masalah yang kuhadapi. Aku yakin kamu juga merasakannya.

Ternyata dibalik masalah, Tuhan menunjukkan kuasaNya yang megah bila kita mampu melihatnya. Hidup ini menyenangkan, karena Tuhan Maha Pemurah. Aku jadi ingat pernyataan Barbara Mark dan Trudy Griswold, "menghadapi masalah, ingatlah Tuhan yang mengirimkan Malaikat menjadi pelindung pribadimu".

Nah, menurut mereka (sorry, aku pinjam pernyataannya yak Ms Barbara n Trudy), ada 7 langkah berbicara dan berbincang dengan Malaikat Tuhan yakni BERDOA, BERNAFAS dengan diam dan merenung namun bukan bersemedi, MENYIMAK, MENULIS, MENERIMA, PENGETAHUAN BATINIAH, dan MEYAKINI. Para Malaikat senantiasa bekerja demi kebaikanku, kamu dan mereka dengan tujuan sempurna yang luar biasa serta istimewa.
Kata mereka, mendengar dan berkomunikasi dengan Malaikat hanya bisa dengan hati bersih, seperti halnya mempelajari sesuatu, BERLATIHLAH DAN BERLATIHLAH.

SENTUHAN HATI MALAIKAT


Renungkanlah,
Ketika sebersit gagasan mengilhamimu,
Yang begitu cemerlang, bening dan begitu benar untukmu,
Gelinding getarannya memancar dari sekerat tubuhmu,
Meresap dalam setiap sel darahmu.
Disitu kau boleh menggumamkannya: Sentuhan Malaikat atau cinta yang menggelora
ITULAH KAMI.

Renungkanlah pula,
Suatu ketika kau terjaga di malam hari,
Dengan pikiranmu yang begitu jernih,
Kau tahu ia dapat menjawab setiap tanya.
ITULAH KAMI.

Renungkan juga,
Ketika kau begitu tenang,
Engkau dapat menyimak alunan musik,
Menyadarinya sebagai 'Irama ruang',
ITULAH KAMI.

Renungkan pula saar cintamu begitu bulat,
Lidahmu pun kelu karena tak ada rangkaian aksara yang sanggup membahasakan perasaan itu.
ITULAH KAMI.

Renungkanlah saat itu,
Ketika Tuhan, bumi, dan kau begitu disejajarkanNya.
Engkau tahu itu adalah kebenaranmu dalam seluruh kemuliaanNya.
ITULAH KAMI.

Renungkanlah kedamaian yang begitu tenang
Dimana engkau tak mampu merengkuh dasarnya.
ITULAH KAMI.

Renungkanlah,
Suatu ketika dirimu terliputi Cinta dan Cahaya,
Engkau pun bergumam
Tuhan bersemayam dalam dirimu,
Bahkan Gabriel pun terpatri dalam dirimu.
ITULAH KAMI.

Kami ada dalam ruang hati,
Kami ada dalam kesunyian,
Kami ada dalam penantian,
Kami ada dalam pengetahuan.
Hadirkanlah kami..
Kami akan hadir...
(By: Angelspeake)

Menuliskannya sambil mendengar lantunan suara dan alunan musik Il Divo membuatku bersyukur, bersyukur meyakini Dia yang tidak pernah kulihat namun kupercaya. Dia memberiku pengetahuan, perasaan sehingga aku bisa merasakan bagaimana hidup berduka dan berbahagia. Dia mengajariku bagaimana caranya melihat dunia tanpa batas dengan berbagai pandangan. Apakah itu reseh, rusuh atau damai. Aku percaya Dia yang mengirimkan Malaikat, mengutusnya untuk membimbingku. Yang menerangi jalanku, menjadi pengawal dan pelindungku. Dia pelita bagi kakiku, dan terang  bagi jalanku.

Aku yakin dan percaya, segala sesuatu itu adalah segala-galanya. Permohonan, Keyakinan dalam pengharapan, Kepasrahan, dan Terima Kasih.

PS: Thanks to Barbara Mark dan Trudy Griswold yang telah mengarang buku ANGELSPEAKE: How to talk with Your Angels. Buku ini menginspirasiku untuk selalu percaya dan percaya bahwa Tuhan selalu mendengar doaku meski aku belum mendapatkannya, begitu juga malaikat untuk selalu tinggal di dalam hatiku.

By: Chaycya at Greenland
Chay si choral stone :D

10.28 pm
09292010









You Might Also Like

0 komentar