Latest Posts

Interior, Jepang, Traveling, Rumah Jepang, Catatan Traveler
Deretan Rumah warga Jepang di Country side (pedesaan) Fukui.
 DULU kecil, saya membayangkan tinggal bertetangga dengan tokoh komik asal Jepang, Doraemon dan Nobita di sebuah komplek yang banyak persimpangan, dengan rumah minimalis kotak bertingkat yang damai. Hal ini dilatarbelakangi 'kegilaanku' atas komik karangan Fujiko F Fujio tersebut. Di Indonesia, komik itu diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo seharga Rp 2 ribu per pcs. Tentu ini harga zaman cilik mbiyen, ojo dibandingke rego saiki toh ya.
Interior, Jepang, Traveling, Rumah Jepang, Catatan Traveler
Rumah di Jepang, sederhana dalam harmoni.
Melihat rumah Nobita dalam salah satu seri komik Doraemon, menciptakan sugesti di diriku, bahwa rumah mewah itu adalah rumah yang bentuknya sederhana, kecil dan mampu memanfaatkan seluruh sudut ruang berfungsi, dengan ketenangan yang diciptakan di dalamnya. Membayangkan Nobita membaca buku di meja belajar di kamarnya, sementara Doraemon tidur di Oshiire, laci geser yang menyatu ke dinding. Ah Efisien sekali ruang rumah tokoh komik kesayangan itu.
 
Praise The Lord, musim gugur 2015 lalu, saya berkesempatan mengunjungi negara Doraemon itu. Dimulai dari Kota Shinagawa, sudah terkagum dengan bentuk rumah penduduk yang ada. Ingatan rumah Nobita dengan komplek yang damai pun kembali terkenang. "Nobitaaaaaaaaaaa, i'm coming to your hometown. Kamu dimana? undang ke rumahmu dong!!!".
 
Eh yang ngundang malah bukan Nobita, melainkan sahabat yang bermukim di Jepang, Santi. Bersama suaminya, Yukihisa Kondo-san, ia menjemputku dari penginapan di Fukudaya Hotel di Taito-ku, Tokyo, menuju rumahnya di kota Kawasaki, Prefecture Kanagawa. Disana, ia menyuguhkan welcome drink berupa teh hijau (ocha) yang kami beli di pusat perbelanjaan Diver City Tokyo, di Teluk Odaiba sambil bercerita tentang ocha terbaik seantaro Jepang berasal dari perkebunan teh di Sizuoka, kampung halaman suaminya. Mengunjungi Kawasaki? berarti sudah dekat banget ke museum Doraemon dong? Sudah!!! tinggal ngesot malah. Namun waktu tidak memungkinkan untuk mengeksplorasi museumnya karena tengah malamnya, saya sudah harus balik ke Kuala Lumpur, untuk selanjutnya terbang ke Singapura, sebelum kembali ke Indonesia.
Interior, Jepang, Traveling, Rumah Jepang, Catatan Traveler
Dinding fusuma di rumah sahabat Santi. (F. Chaycya/catatantraveler taken with iphone 5)

Interior, Jepang, Traveling, Rumah Jepang, Catatan Traveler
Minum ocha di Washitsu. (F.Chaycya/catatantraveler taken with iphone 5)
Sesaat, sesampai di rumahnya di komplek perumahan mewah, Santi dan sang suami mempersilakanku masuk. Dengan keramahan ala tuan rumah, dia langsung memberikanku sepasang sandal yang tersusun rapi di rak sepatu di depan pintu, sebelum memasuki ruang keluarga di sebelah kanan, yang hanya dipisah dinding kayu dengan pintu geser. Di ruang keluarga itu, seluruh lantainya beralas tatami (tikar anyam khas Jepang yang mempunyai bau yang khas), dilapis kembali dengan karpet berbulu. Hanya terdapat satu sofa panjang dan satu meja menghadap televisi layar datar. Ruangan itu dibatasi dinding fusuma, sementara dinding shoji, pembatas ruang ke dapur dibiarkan terbuka, sehingga ruang keluarga dan dapur sahabatku itu terlihat menyatu dan lapang. Dindingnya sengaja diberi tatakan tebal untuk menampung perabotan khas yang ia bawa dari Indonesia.
 
Lantas dimana kamar mandi? Dari pintu utama, memasuki ruang sepatu, akan terdapat satu pintu penghubung lagi memasuki gang yang memisah dinding ke dapur dan ruang keluarga. Di sebelah kiri gang itu, atau persis di bawah tangga menuju lantai dua, terdapat dua ruang, ruang itulah yang berfungsi sebagai toilet dan kamar mandi. Bak cuci muka dengan kaca di dinding yang terbuka, menjadi pemisah ruang toilet dan kamar mandi yang sudah dilengkapi fasilitas bathtub.

Toilet, di depannya terpampang bak cuci muka, di sebelahnya ada kamar mandi. Eh ga kelihatan ya? hahaha. Eh ini mah toilet di stasiun Willer Express di sebelah Umeda Sky Building di Osaka.  (F.Chaycya/ catatan traveler taken with iphone 5)
Sementara lantai dua rumah tersebut terdiri dari tiga kamar, yakni kamar utama, kamar anak, dan juga kamar tamu. Masih dari lantai dua rumah, ada sisa bangunan di depan yang berfungsi sebagai tempat menjemur kain. Keluar kesana ada pintu geser. Beberapa dinding lantai dua juga dimanfaatkan sebagai lemari atau laci untuk menyimpan berbagai perlengkapan selimut, atau menyimpan aneka barang. Saya sangat menyukai desain rumah sahabatku sejak zaman SMA tersebut, dan if God will, ingin mengadopsi desainnya untuk rumah tinggalku kelak.
 
Umumnya, penampilan rumah di Jepang, desain bangunannya seperti terlihat serupa, gabungan kontemporer-modern dan seperti kelihatan kecil dari luar. Namun di dalam? akan terlihat efisiensi pengaturan ruang, mulai dari penggunaan berbagai dinding, pintu geser kayu, perabotan yang tidak berlebihan sehingga terlihat lapang. Sangat sederhana dalam harmoni. Setidaknya, itulah yang saya lihat dari keadaan rumah sahabatku di Kota Kawasaki tersebut.
 
Tak hanya rumah, beberapa hostel atau penginapan yang saya kunjungi pun mengadopsi hal serupa. Ternyata, rumah di Jepang, tiap ruangnya mempunyai nama tersendiri untuk memisah bagian rumah. Ini pun saya ketahui sesaat setelah bertanya dan berbincang lewat layanan messenger LINE dengan seorang teman, Akiko-chan.
 
Akiko menjelaskan, rumah Jepang umumnya memiliki beberapa ruang. Aneka ruang tersebut bisa dilihat saat membuka pintu depan rumah. Ada pun ruang dalam rumah Jepang yaitu:
Genkan. (F.Akiko chan)
  • Genkan, ruang kecil setelah pintu utama. Disana terdapat laci (Getabako) atau lemari untuk menyimpan sepatu dan jas hujan atau juga tempat payung. Di Genkan ini, baik penghuni atau pun tamu akan melepas alas kaki seperti sepatu/sendal dari luar, dan menggantinya dengan sendal yang khusus dipakai di rumah saja. Kadang, posisi lantai genkan lebih rendah dari ruang utama.
  •  Interior, Jepang, Traveling, Rumah Jepang, Catatan Traveler
    Saat Washitsu berubah fungsi jadi ruang tidur menggunakan futon ala catatan traveler. (F.Chaycya/catatan traveler taken with iphone 5)

     Interior, Jepang, Traveling, Rumah Jepang, Catatan Traveler
    Washitsu menyatu oshiire di penginapan Shinagawa, Tokyo. Abaikan tas merah dan ranselnya kakak. (F.Chaycya/ catatan traveler taken with iphone 5)
    Washitsu, atau ruang utama. Ruangan ini dipasang atau beralaskan tatami yang berfungsi menyegarkan ruang, dan menghadang dingin saat autumn atau winter, dan menghadang suhu panas saat summer. Washitsu dipisahkan dinding pembatas yang bisa digeser, fusuma dan shoji. Ruang ini juga berfungsi serbaguna, bisa sebagai ruang keluarga, ruang acara, dan bahkan bisa jadi ruang tidur seperti yang saya dan rekan Eric, Topan dan Hanna lakukan di penginapan Shinagawa, Tokyo.
  • Oshiire, laci atau lemari besar yang menyatu di dinding sudut rumah. Masih mengedepankan efisiensi ruang, Oshiire ini umumnya menyimpan barang, atau berbagai perlengkapan rumah tangga seperti penyimpanan selimut dan futon (kasur tidur).
  • Daidokoro, atau dapur. "There are two types of daidokoro, traditional and modern. Daidokoro is kitchen," as Akiko said to me. Kalau melihat dapur temanku Santi sih, dapurnya sudah modern, karena sudah terdapat meja washtafel yang menyatu dengan tungku perapian modern dengan aneka laci yang saling terkait untuk menyimpan segala perlengkapan dapur, dan alat makan, bahkan sudah dilengkapi cooker hood. Sayang tak sempat motret saat Santi mengajakku berkeliling melihat rumahnya. Lagian, Santi dan suaminya sangat mengedepankan privasi, dan saya menghargainya.
  • Interior, Jepang, Traveling, Rumah Jepang, Catatan Traveler
    Daidokoro di penginapan Edo Shario obaachan (nenek Edo Shario) di Shinagawa. (F.Chaycya/catatan traveler taken with  iphone 5)
  • Washiki, atau toilet. Toilet di Jepang sudah high-tecnology. Canggih banget pokoknya. (sudah pernah diulas)-- click disini
Ah thankyou somuch Akiko-chan sudah menjelaskan ini semua bagiku. Terima kasih juga buat sahabatku Santi yang dengan hangat mengundangku ke rumahnya, minum ocha bersama dan menjelaskan singkat mengenai tata cara tinggal di rumah Jepang yang mengedepankan harmoni dalam kesederhanaan. ***
 
Interior, Jepang, Traveling, Rumah Jepang, Catatan Traveler
Rumah tradisional di desa Taga, Inukami-gun, Bimmanji, prefektur Fukui.

Interior, Jepang, Traveling, Rumah Jepang, Catatan Traveler, desain interior
Deretan rumah dan pertokoan di kawasan wisata Eiheiji, Shihi di kaki pegunungan Tendo.

Batam, Batam Escape, Barelang Amazing Trip, Traveling, Wisata Batam, Barelang
View jembatan Barelang I ala pesiar Batam Escape.
"JANGAN seorang pun menganggap engkau lemah karena kau muda". Ungkapan ini layak tersemat kepada empat anak muda Batam yang berani bermimpi mewujudkan Batam sebagai lokasi wisata yang layak di Indonesia. Mereka baru saja meluncurkan paket perjalanan wisata khusus mengelilingi kawasan jembatan Barelang menggunakan private yacht.
Paket perjalanan yang mereka kenalkan ini beda dengan paket perjalanan tujuan serupa yang sebelumnya sudah ada. Why? Karena perjalanan ini terbatas hanya untuk 25 orang sekali jalan. So, that's why it called Batam Amazing trip with private yacht. Para pengunjung akan diajak melihat langsung Golden Gate-nya Batam, Jembatan Raja Fisabilillah atau yang lebih dikenal dengan jembatan 1 Barelang (Barelang bridge) dari tengah laut, duduk manis di atas yacht. Pakai outfit favoritmu, jangan lupa kacamata hitam, dan juga perlengkapan kamera. Karena di trip ini, Anda bisa menikmati jembatan ini dengan background sunset yang indah.
Batam, Batam Escape, Barelang Amazing Trip, Traveling, Wisata Batam, Barelang
Empat orang di tengah: Choty dari jalanrame2, Hanna dari duapao, Dimas dan govakansi, dan Ammar Satria dari Fingerfast. Mereka inilah dibalik paket perjalanan Batam Escape, Barelang Amazing Trip ini.
Oh ya, siapa saja mereka yang ada di belakang super trip ini? Adalah Dimas Haryo pemilik govakansi, Chotijah pemilik jalanrame2, Hanna Ester pemilik duapao, dan Ammar Satria pemilik fingerfast laboratory. Kwartet ini berkolaborasi menciptakan warna baru bagi dunia wisata Batam. Kalau pemerintah bisanya hanya memperkenalkan wisata yang itu-itu saja dengan Nagoya sebagai pusat belanja barang KaWe dan ponsel murah, serta red light district, dan paket wisata golf dan paket kunjungan sekitar luar pulau Batam tapi masih ada di Kepri atau mengadakan seminar entahlah yang katanya bertujuan menggenjot berjuta-juta turis kunjungan wisata ke Batam, tapi ke-empat orang ini menciptakan yang berbeda. Mereka "menjual" alam yang telah ada dengan gaya mereka sendiri. Young sanguinis sekali.

Bayangkan saja, selama peluncuran perdana trip ini yang berlangsung Minggu (21/8) lalu, saya dan para pengunjung lainnya yang berkesempatan turut serta, sangat menikmati pesiar tersebut. Dentuman musik keras ala DJ Yakob ditambah aneka cemilan dan minuman ringan, sangat memanjakan pengunjung. "Di kapal ini, para tamu kami nanti bisa menikmati karaoke di ruang khusus, atau menikmati sunset dan pemandangan aneka pulau-pulau kecil di sekitar Barelang sambil menikmati sunset di mini deck," ujar Founder Batam Escape, Dimas Haryo saat peluncuran.
Mengabadikan momen di atas kapal De Boss.
Tak hanya itu, mereka juga menyediakan layanan musik DJ, apabila ada permintaan dari tamu. Mennnn, kapal ini cocok untuk arisan, perpisahan, outing kantor, private party, bachelorette, atau pesta ulang tahun dengan konsep alam laut Batam nan menawan. "Hanya Rp 249 ribu per pax, minimal tujuh pax, pengunjung sudah bisa menikmati alam Barelang selama 2,5 jam dengan pengalaman tak terlupakan dan sudah termasuk lunch atau dinner seafood segar di restorang kelong Air Masin di jembatan 2," tambah Dimas.
Batam, Batam Escape, Barelang Amazing Trip, Traveling, Wisata Batam, Barelang
DJ merangkap MC, Yacob saat kuis.
Sekilas mengenai peluncuran paket pesiar menggunakan kapal De Boss ini, kami para tamu dimanjakan dengan hiburan musik ala DJ kocak bernama Yacob dan rekannya. Sesekali mengabadikan momen pesiar melewati beberapa pulau kecil dari kejauhan dengan menaiki mini deck, masuk ke ruang karaoke, lalu berkumpul kembali bersama para pengunjung lainnya untuk menikmati kuis BENARxSALAH dari sang MC merangkap DJ sambil menikmati aneka cemilan, buah dan minuman ringan yang tersaji di atas meja.
Batam, Batam Escape, Barelang Amazing Trip, Traveling, Wisata Batam, Barelang
pulau View dari private yacht

Batam, Batam Escape, Barelang Amazing Trip, Traveling, Wisata Batam, Barelang
pulau View dari private yacht

Batam, Batam Escape, Barelang Amazing Trip, Traveling, Wisata Batam, Barelang
pulau View dari private yacht

Batam, Batam Escape, Barelang Amazing Trip, Traveling, Wisata Batam, Barelang
pulau View dari private yacht
Pesiar makin seru, saat para pengunjung mengikuti kuis tersebut. Teriakan, goyangan maut ala mimi Ices Marinces Kusumaningrum (baca: Mas Danan Wahyu) saat memenangkan kuis berhadiah trip ke Lombok. Dia terharu dengan caranya sendiri.
Kami pesiar dulu kakak.
Batam, Batam Escape, Barelang Amazing Trip, Traveling, Wisata Batam, Barelang
Pose ala Titanic gagal di private yacht.
 Kuis makin panas setelah satu persatu peserta memenangkan hadiah trip, seperti kak Lina W Sasmita, bg Uma Ahmadi, dan mas Bams memenangkan paket wisata Pulau Abang, paket trip Batam Escape dan Voucer tiket Rp 200 ribu dari duapao. Kini tibalah final kuis dengan dua finalis, Ms Chaycya Oktiberto Simanjuntak dari Afrika Selatan (Saya sendiri *lalu menunduk hormat *bhak), dan Ms Zikria Budiman dari Uganda _Ecek-eceknya, biar kaya kuis internesyenel_. Awalnya dua finalis ini sama-sama adu kuat dalam menebak pertanyaan yang dilontarkan sang MC dengan tepuk riuh penonton menyatu suara musik di sekitar. Mereka berdua memperebutkan hadiah utama berupa dua tiket perjalanan return (PP) Singapura-Krabi. Tak ada yang mengalah. Ya iyalah ya, secara gituh loh, namanya juga kuis Family 100. _tahan tawa_
MC sudah mulai kehabisan pertanyaan, dua peserta mulai lelah. Hingga akhirnya dua peserta ini sepakat, siapa pun yang menang, tiket itu akan menjadi tiket perjalanan bareng ke Krabi. Wakakakakaka... masih suka ngakak ingat ini kejadian. Kuis apa ini? peserta kuis bisa sepakat bagi dua hadiah tak peduli menang kalah, dan itu diadakan di hadapan MC dan para tamu. Hahahahaaaaaa...
Para pemenang kuis pada peluncuran Barelang Amazing Trip.
Sambil pegangan tangan ala finalis Indonesian Idol, saya dan Zikri berjanji "Pokoknya siapa pun dari kita yang menang, itu hadiahkan dua tiket, itu kita satu-satu ya?" Maka disepakatilah kelak ke Krabi kami akan berangkat bareng. _tiket mana tiket_
Terucaplah pertanyaan akhir. Satu memilih BENAR, satu memilih SALAH. Salah menjadi jawaban penutup oleh Zikria Budiman. Tahu siapa yang excited? Kami berdua hingga menggemparkan seluruh penghuni kapal eh mengeringkan tenggorokan kami berdua saking senangnya.. hahaha

Selesai kuis, kapal pesiar pun sudah mendekati dermaga tempat kami berangkat sekitar pukul 16.30 WIB dari pelabuhan kelong Airmasin di sebelah kiri jembatan Narasinga atau jembatan 2 Barelang. Kembali ke dermaga yang menyatu dengan restoran air masin. Naik ke dermaga, di restoran itu sudah tersedia aneka hidangan seafood menyambut kami. Ikan asam manis, gonggong tumis sambel hijau, kangkung siap disantap.
Bersiap makan malam usai pesiar di kelong Air Masin.

Gonggong.

Cemilan kerupuk.

Minuman ringan.
 Acara peluncuran ini pun ditutup dengan hunting bareng Jembatan Barelang pada malam hari, foto bareng dengan becak sebagai properti utama, lalu pulang dengan wajah bahagia dan rahang sakit karena kebanyakan ketawa. Terimakasih Batam Escape, karenamu jadinya saya tambah teman baru, pokoknya trip ini benar-benar amazing. Sukses selalu dalam memajukan Pariwisata Batam. ***

Batam, Batam Escape, Barelang Amazing Trip, Traveling, Wisata Batam, Barelang
Batam Escape Paket Barelang Amazing trip:
only Rp 249.000/pax (min 7 pax)
include: - Barelang landscape sightseeing by the yacht
- Makan siang atau makan malam di Kelong Airmasin (Jembatan 2 Barelang)
Contact Person:
Jalanrame2: 081536652345/08566555790
Fingerfastlab: 08117010174
Govakansi: 08111099510
Duapao: 085265558303

(L-R) Mak Mah, me, dan Sinta dengan rambutan di hadapan.
NAMANYA mak Mah. Umurnya 60 tahun. Dia istri dari Pak Amir, warga Kampung Pelam di Pulau Pemping, yang rambutannya kami borong sekeranjang hanya seharga Rp 50 ribu.

Pertemuan kami berawal dari RAMBUTAN KUNING yang rasanya semlohay manis tanpa masam yang saya beli disela-sela acara kunjungan redaksi kantor tempatku bekerja ke pulau yang bisa dijangkau 40 menit menggunakan pompong kayu (longtail boat), Sabtu (27/8) lalu. Mencicip manis dan juicynya rambutan kuning itu, tiga rekan tertarik mau beli dan saya tertarik mau beli lebih banyak lagi untuk dijadikan oleh-oleh ke Batam dan untuk rekan kantor yang tak ikut. Bertanyalah ke warga sekitar. "Kalau rambutan kuning, pak Amir itu punya kebun. Rumahnya kat Kampung Pelam. Nanti ada rumah lagi dibangun, nah naik ke atas bukit, kat situ rumahnya," ujar sang ibu yang berbaik hati kepada kami.

Perjalanan pun dimulai. Katanya sik dekat, dan memang benar dekat. Ada kali lebih kurang dua kilometer perjalanan bolak-balik (PP) *bhak. Tibalah rumah yang tengah dibangun, melewatinya 50 meter, di sebelah kanan, agak menanjak ke bukit, terlihatlah satu rumah panggung. Dua perempuan berumur, satu mengenakan baju kurung ungu motif bunga dan satu mengenakan daster pink. Dua-duanya berjilbab tengah duduk santai.
Istirahat sebentar. Lelah mennnn jalan kaki dari Desa Pemping ke Kampung Pelam. Mana cuaca panas lagi, lengkap idup kami!!!
Meski tak yakin itu rumah Pak Amir sang pemilik rambutan, tak ada salahnya bertanya toh? "Permisi nek, bu. Kami mau mencari rumah pak Amir. Katanya dekat sini?" -- "Ya ini rumah pak Amir," jawab ibu berbaju kurung. Benar, saya dan rekan, Wenceu pun memanggil dua rekan lainnya yang lebih memilih menunggu di pinggir jalan sebagai ancang-ancang kalau rumah tersebut bukan rumah pak Amir. Boljug mereka, menghindari pendakian, padahal pada akhirnya harus mendaki ke rumah itu karena sesungguhnya, disanalah rumah pak Amir. Rasain!!!

Kami pun langsung menaiki tangga, salim tangan sebagi rasa santun sebagai pendatang, lantas tanpa basa-basi bilang "Bu, bentar ya, saya capek jalan kesini, numpang lepas penat sekelak" dan langsung baring di teras panggungnya. --"oh iya tak ape, silakan.. Lepas penat kejap dulu" ujar si ibu mempersilakan dengan ramah.

Kami menyampaikan tujuan datang kesana HENDAK MEMBELI RAMBUTAN kuning. Unlucky for us, udah diborong orang sak buah-buah mentah dalam pohonnya. Sempat mau balik arah, cuma, melihat ranumnya rambutan merah di kebunnya ditambah keramahan mak Mah, kami pun memutuskan membeli rambutan langsung dari pohonnya. Rp 2 ribu untuk 18 biji. Mennn bayangin berapa biji seharga Rp 50 ribu = sekeranjang (hitung aja sendiri). Tanpa tawar lho itu
Andai punya rumah dengan kebun luas berisi tanaman aneka pohon buah seperti di rumah mak Mah. Ada rambutan, jeruk kasturi, durian, kelapa dan cempedak. Aiiih maaak.

Petik rambutan ke keranjang.

Excited ala Wenceu alias Wenny Cahyasari Prihandina. Lidah ko itulah Wen hahaha.
Di balik panen rambutan, kunjungan ini terasa bermakna. Mak dengan ramah menceritakan kesehariannya dan juga penyakit tulang yang lama ia derita. Bahkan naik turun tangga rumahnya saja ia harus berjuang.

Ada lagi yang bikin trenyuh kami empat dara yang mendengarkan, mak ini tak punya keturunan alias tak punya anak. Masa kecilnya dilahirkan di Pulau Pemping. Masa mudanya ia merantau ke Kuala Lumpur, Malaysia dan tinggal disana sebagai pekerja selama delapan tahun. Pulang, menikah dengan pak Amir dan tinggal di rumah panggung yang mereka tinggali hingga sekarang.

"Mak tak punya anak," ujarnya berkaca-kaca persis dengan tone saat ia menceritakan penyakitnya kambuh saat Lebaran lalu hingga ia tak bisa berjalan dan bahkan kunjungan ke rumah saudara dan tetangga di pulau kecil itu terpaksa ia lewatkan.

"Makanya kadang berpikir, kalau jatuh sakit, bapak lagi melaut cari sotong, mak sendiri? Ya Allah disitulah kepikiran tak ada yang urus...," ujarnya terbata.

"Untung mak punya suami yang baik" tambahnya lagi.

Mak Mah juga mengatakan, kehidupannya di masa tuanya ini, ia sering sendiri. Kala malam hari, pak Amir mencari sotong dan pulangnya siang keesokan harinya. Meski begitu, ia sangat mencintai suaminya. Segala perlengkapan pakaian, makanan dan minuman ia siapkan penuh cinta. "Makanya kalau mak lagi sakit, bapak makan apa? Mak ga bisa masak. Ke wc (toilet) saja harus dipapah. Untung suami perhatian, apalagi dia bisa urut, dia urut kaki mak," tambahnya.

Ah mendengar mak bercerita, betapa mak beruntung banget punya suami pak Amir. Demikian juga pak Amir beruntung banget beristrikan mak yang ramah, rapi dan pembersih.

Ah mak, apalah yang bisa saya berikan ke mak untuk membantumu menghilangkan rasa sakit di lututmu supaya tak bengkak lagi apabila engkau bolak-balik naik tangga turun ke dapur?

Meraih travel pocket dari dalam tas, mengambil sebotol kecil minyak kayu putih yang baru saya ambil dari kotaknya pagi itu sebelum menuju pulau, dan langsung memberikannya ke mak. " mak, kalau mak sakit lutut lagi, olesin ini minyak kayu putih ini aja mak. Ini asli dari Ambon saya beli Oktober tahun lalu, hangat kalau dipakai. Moga sembuh ya mak," ujarku.

Ia pun menerima dengan senang. Demikian juga suaminya yang excited pengen lihat minyak kayu putih dari Ambon itu. "Mana minyak dari Ambon? Alhamdulillah, terimakasih ya," ujar pak Amir.

"Sudah simpen di lemari. Terimakasih ya," ujarnya. Sama-sama mak. Terimakasih untuk kebaikan dan kehangatanmu.
Sekeranjang besar rambutan dari kebun mak Mah dan Pak Amir siap dibawa pulang ke Batam.


Rambutan pun sudah tersusun di keranjang besar. Kami pun bahagia, karena ini menjadi kali pertama bagi kami berempat panen rambutan. Panen kelar. Keringetan banyak. Kami hanya jolok-jolok sebentar, lalu petik masukin ke keranjang. Pak Amir yang manjat rambutan, kami yang lelah petik dan menghitung, eh udah kelar menghitung sesuai harga, eh rambutan sisa yang dipetik malah disuruh bawa semua sama pasangan pasutri Melayu yang baik hati ini.

Tiga rekan (Anggi, Sinta, dan Weni) pun minta izin cuci muka, eh malah mandi. Setelah berpeluh panen rambutan, mereka memilih mandi untuk menyegarkan diri di rumah itu. Saya? memilih tak mandi karena masih keringetan dan memilih mengobrol lebih lama lagi dengan mak Mah. Ia pun sempat menawarkan kami makan di rumahnya yang rapi dan bersih itu. Namun hal itu kami tolak, karena sebelum perburuan rambutan ini, kami baru saja menikmati makan siang aneka seafood segar yang disuguhkan warga setempat di balai pertemuan Kelurahan Pemping, yang masuk ke Kecamatan Belakangpadang ini (Salah satu dari 12 kecamatan di Pulau Batam).
Sinta, Wenceu, mak Mah, and i saat hendak mau pulang. Terimakasih banyak mak.
Sebelum pamit, kami minta izin sama mak Mah. Kelak kami berkunjung ke pulau ini lagi, kami bisa nginap di rumahnya. "Nanti masakin kami sotong ya mak, bye bye mak.. Sehat terus panjang umur. Assalamualaikum" ***

Empat perempuan di balik panen rambutan pulang ke Batam dengan senang hati. Helloooo Batam kami bawa oleh2 rambutan neh.. haha

PS: Dalam perjalanan, mengunjungi suatu kawasan, posisikan dirimu bukan sebagi tamu, tapi sebagai orang lokal yang menyatu dengan warga sekitar. Act like a local.
Salam perjalanan.
 
Danau Toba dilihat dari Panatapan, Parapat, Kabupaten Simalungun.
MASIH ingat film Toba Dreams Sebuah Janji Cinta? Ini merupakan salah satu film yang rilis pada pertengahan 2015 lalu dengan mengambil lokasi syuting di beberapa sudut Danau Toba. _Tadi malam saya baru menontonnya kembali di salah satu channel swasta di negeri ini.. hi hi_

Sebut saja view scene Danau Toba di Tarabunga, Soposurung, Lumban Silintong di Balige. Ada juga dermaga pelabuhan Pulau Sibandang, Muara di Tapanuli Utara, saat scene kembalinya Andini yang diperankan Marsha Timoty dan anaknya ke Jakarta, dengan diantar keluarga besar mertuanya setelah Ronggur Maruhum yang diperankan Vino G Bastian meninggal. Mereka dengan haru berpisah di dermaga tersebut, saat kapal yang membawa Andini dan anaknya menjauh. Saya yakin itu syuting disana, secara diri ini sudah kesana gitu loh. hehe.
Perkampungan Pulau Sibandang dengan rumah tinggal khas Batak, Sopo.
Dimana Danau Toba? Ah sudah pastilah kau tahu itu kawan. Danau Toba itu berada di Sumatera Utara, ada tujuh kabupaten yang mengelilingi kawasan kaldera geopark tersebut, ditambah satu kabupaten Samosir di tengahnya. Sebut saja Kabupaten Simalungun di Parapat,Karo, Dairi,Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Toba Samosir di Balige, dan Humbang Hasundutan.
Anak-anak Pulau Sibandang, yang bisa ditempuh naik kapal dari Pelabuhan Muara, di Tapanuli Utara.
Danau ini identik dengan Batak, identik dengan mayoritas warganya yang memiliki garis wajah keras, suara lantang, serta identik juga dengan Pulau Samosir. Semua temanku yang pernah berkunjung kesana pasti menjawab seperti itu kalau ditanya. _ Ada benarnya juga. Hahaha_
Sebagai seorang yang dilahirkan di pinggiran Danau Toba di Balige, tentu excited sekaligus bangga saat film itu dirilis pertama sekali di bioskop. Tentu saja saya tak mau menyia-nyiakan untuk segera menontonnya. Studi 21 di BCS pun menjadi pilihan dengan beberapa rekan. Ah tapi lupakanlah  itu, ini bukan review film. Kawan, mari kuceritakan perjalananku menapaki kemegahan hamparan Danau Toba.
Danau Toba view dari Humbang Hasundutan.
Sekilas mengenai danau ini, saat kecil dulu, di sekolah kami disuguhkan dengan dongeng Asal Mula Terjadinya Danau Toba yang berawal dari gadis cantik jelmaan ikan. Menikah dengan pria bernama Toba. Kehidupan keluarga awalnya bahagia, hingga akhirnya berantem ala sinetron, dan si Toba melanggar janji sehingga membuat si ikan sedih, menangis hingga air matanya menganak sungai, lalu berubah menjadi danau dan ia pun menjelma kembali menjadi ihan atau dekke jurung (ikan khas Batak yang hanya bisa ditemui di Toba yang masuk ke dalam kingdom animalia genus Tor). Sejak saat itu dikenal dengan Danau Toba.. Ah namanya juga legenda, kejadian yang tidak mungkin menjadi mungkin dalam cerita.

Mari kembali ke fakta. Danau Toba merupakan kaldera yang terbentuk akibat letusan vulkanik gunung toba di zaman purba. Channel National Geographic pernah menayangkan ulasannya lewat tema Stone Age Apocalypse: The Toba Eruption. Dalam acara tersebut, saya menyaksikan tayangan visual letusan gunung api super sekitar 75.000 tahun lalu. Oleh penelitian para ahli,letusannya memuntahkan berbagai jenis partikel dan menghamburkan abu vulkanik dengan kecepatan 2.800 km atau menyebar ke setengah wilayah bumi dan bahkan mempengaruhi musim di bumi.
Di tayangan tersebut, para pakar geolog menyatakan, Danau Toba menjadi bukti kaldera zaman purba yang masih bisa ditemui sekarang dengan pertumbuhan peradaban suku Batak yang kini hidup modern di sekitarnya.
Berdasarkan Wikipedia, danau ini memiliki luas 1.145 km persegi dengan kedalaman 500 meter dan diprediksi masih aktif sehingga menjadikannya sebagai kaldera terbesar di dunia setelah Santorini di Yunani saat ini.
Perbukitan yang disana itu, Pulau Samosir view dari Parapat.
Perjalananku menapaki hamparan Danau Toba dimulai dari Parapat. Untuk sampai ke tempat ini, dibutuhkan tiga jam menggunakan angkutan umum Paradep Taxi dari Bandara Internasional Kuala Namu di Deli Serdang menuju Pematang Siantar dengan membayar ongkos Rp 40 ribu. Lalu lanjut lagi menggunakan angkutan minivan bus Tao Toba Indah selama dua jam dari Siantar menuju Parapat, atau bagi yang melakukan perjalanan langsung dari Medan bisa ditempuh sekitar 5-6 jam atau bahkan 4,5 jam kalau tidak macet di Tanjung Morawa atau Tebing Tinggi.
Memasuki kawasan Danau Toba di Parapat yang masuk ke pemerintahan administratif Kabupaten Simalungun, pasti akan dibuat kagum atas keindahan alamnya. Hamparan itu bisa dilihat langsung saat berkendara membelah bukit batu yang menjadi dinding pelindung Danau Toba di bawah sana, atau bahkan menyaksikannya sambil duduk manis menikmati penganan kecil khas danau, telur bebek campur mie instant dengan minum teh manis di Panatapan. Disini menjadi sudut terindah menyaksikan danau ini (Lihat Headline Foto).
Selain melihat Pulau Samosir di kejauhan ke arah danau, mari berbalik ke bukit hijau di belakang Panatapan. Di sana, akan tersaji bongkahan-bongkahan batu raksasa yang sudah menghitam atau bahkan tertutupi lumut bersanding dengan aneka jenis pohon pinus dan pohon lainnya. Ini menjadi salah satu bukti sejarah zaman purba di Toba. Indah sekali kawan!!! Salah satu polesan sang pencipta di bumi Indonesia.
Pemandangan Danau Toba yang dicaptured dari TB Centre Soposurung yang memperlihatkan gereja HKBP di desa Lumbansilintong, yang berada persis di pinggiran danau. Kawasan ini sekarang menjadi salah satu objek wisata kuliner di Balige, Toba Samosir.
Mari melipir ke Balige di Toba Samosir yang membutuhkan satu jam perjalanan dari Parapat. Dari kabupaten ini, kita bisa menyaksikan Danau Toba sekitar 60 persen. Bahkan, kantor bupati Tobasa didesain di atas dataran tinggi di Soposurung dengan view Danau Toba dan Kota Balige di hadapannya, taman wisata dan museum TB Centre serta pusat pendidikan Tobasa di sebelahnya.

Banyak spot menyaksikan hamparan danau dari kota ini. Cuma saya memilih dua tempat, yaitu di desa Tarabunga untuk menyaksikan sunset atau matahari terbenam yang menjadikan warna danau terpantul menjadi keemasan, dan juga mengunjungi Soposurung, dilihat dari TB Centre. Dari sana terpampang jelas Danau Toba dari berbagai sudut dengan peradaban di sekitarnya dengan dilingkupi Bukit Barisan. Maha asyik Tuhan menciptakan kawasan danau seindah ini. _Ya pantasan saja dijadiin lokasi film ye, masuk tayangan NatGeo pula dalam beberapa tema eh masuk salah kitab suci para traveler juga, must visit di The Lonely Planet. Keren dah_
Kota Balige dari perbukitan Soposurung.
Keajaiban alamnya telah mengantarkan kawasan sekitar danau ini menjadi objek wisata yang menakjubkan. Polesan Sang Pencipta di tiap sudutnya dengan menyajikan suasana sejuk dan hamparan mutiara hijau yang mengelilingi, ditambah biru jernihnya air danau menjadikan kawasan ini layak dikenal dunia.
Pemandangan menuju Muara.. yeayyyyy..
Sudut surga lainnya dari hamparan danau ini bisa juga dilihat dari Muara dan desa Bakkara di Tapanuli Utara. Sejauh mata memandang, sepanjang perjalanan mulai dari Balige hingga Muara, saya disuguhi pemandangan nan keren dan sedikit berpetualang. Akses jalan menuju kawasan ini memang sedikit butuh pengorbanan. Melewati jalan sempit dengan kondisi yang masih sebagian besar rusak dam berlubang, ditambah zona menurun dari pinggir perbukitan pasti membuat sedikit nyali ciut saat berkendara. Namun hamparan yang disajikan? Oh mennn indah sekali. Hamparan sawah menghijau dan rumah-rumah warga di kejauhan ditambah landascape danau yang indah. Ya pantas saja puncak perayaan peringatan HUT ke 71 RI ini dilaksanakan di kawasan ini pada Minggu 21 Agustus besok. Pusat (baca: Jakarta) seolah tersihir dengan pesona Danau Toba.
View saat menuju Pulau Sibandang, naik kapal dari Danau Toba. Yuhuuuu.

Losung batu (lesung) yang saya temui di area rumah warga Pulau Sibandang. Dulu ini dipakai dengan andalu (alu) untuk menumbuk padi atau menumbuk beras menjadi itak (tepung) untuk membuat lappet (penganan khas Batak).
 Mengetahui peringatan itu dipusatkan di kawasan Danau Toba, yaitu Parapat dan Balige. Sebagai warga yang kampung halamannya di Balige, tentu saja saya bangga. Bangga sekali. Hampir diri ini mengirim surat pernyataan terimakasih kepada Presiden, Mr Joko 'Jokowi' Widodo yang melirik dan memilih bahkan memutuskan perayaan semarak kemerdekaan ke 71 ini di kampung halaman, di kawasan bersejarah dunia, Danau Toba, tempat peradaban suku Batak yang menjadi bagian kekayaan budaya Indonesia berasal, tumbuh dan berkembang. _Untung gak jadi kirim suratnya. Eh gimana mau kirim, nulis aja belum.. _ ***

I do not remember day, i remember moment. Take me to my hometown please!!!. :)

Hotel, Swiss-belhotel Harbour Bay, SwissDay, Happy Swiss National Day
Happy Swiss Day from Indonesia.
 PERINGATAN hari nasional negara Switzerland atau Swiss jatuh pada 1 Agustus setiap tahunnya. Perayaan ini telah berlangsung sejak 1291 sebagai peringatan bersatunya tiga canton atau sub distrik wilayah Uri, Schwyz dan Unterwalden menjadi negara konfederasi Switzerland mengikuti canton-canton lainnya. Sama dengan negara-negara lain di dunia, negara yang terletak di bagian tengah Benua Eropa ini memperingati perayaannya dengan kembang api dan jamuan makan malam juga.
 Memperingatinya, saya pun berkesempatan mengikuti perayaan hari nasional Swiss itu di Indonesia atas undangan perusahaan hotel terbesar asal negara tersebut, Swiss-belhotel International di salah satu cabangnya di Swiss-belhotel Harbour Bay, Batam, Kepulauan Riau. Peringatan ini diadakan dua hari lebih cepat dari 1 Agustus, yakni pada Jumat (29/7) bersamaan dengan Friday steak fest.
  "You are cordially invited to #HappySwissDay 2016 and enjoy our Swiss day steak fest. Come and join us Chay. With warm regards, we'll wait for you," begitulah isi pesan Marketing Communication Manager Swiss-belhotel, Linda Ang. Pesan tersebut untuk mempertegas bahwa nyonya Marasco tersebut juga sudah mengirimkan e-invitation ke email saya. "Takut Chaya kelupaan jadi saya ingatin via WA," ujarnya.

Swiss-belhotel internasional berdiri pertama kali di Eropa oleh founder-nya yang berkewarganegaraan Swiss, Peter Gautschi pada 1986 lalu. Itu artinya, manajemen hotel ini setara dengan usia saya saat ini. *bhak. Hingga kini, hotel ini telah berkembang di berbagai negara seperti Indonesia, Australia, China, Filippina, Vietnam, Malaysia, Kuwait, Oman, Qatar dan negara Uni Emirat Arab. Indonesia menjadi cabang terbanyak dari hotel ini baik di lingkup dunia mau pun lingkup Asia. Wow!!!! Ah tak heran juga sih, di Kepri saja, hotel ini punya lima cabang, dan empat berbasis di Batam. Sebut saja, Swiss-inn hotel Baloi, Swiss-bellinn Jodoh, Swiss-belhotel Harbour Bay dan hotel budget yang baru saja dibangun awal tahun lalu, Zest hotel yang masih berada di kawasan terpadu Harbour Bay. Ada satu lagi, Swiss-belhotel internasional di kawasan wisata Lagoi, Bintan.
 Ada pun selebrasi selalu identik dengan makanan. Hari itu sengaja saya hanya mengkonsumsi dua pisang dan segelas teh manis di pagi harinya, supaya pada saat dinner dalam perayaan ini, saya makan banyak. Maklum anak kos.. Hehe

Dessert.
Swiss Cafe sudah dihias begitu rupa. Bendera Merah Putih Indonesia dan bendera Swiss berkibar saling silang sebagai penghias. Karena bendera dua negara memiliki kesamaan warna yakni hanya merah dan putih, maka balon merah putih membentuk pintu setengah lingkaran dipajang menjadi pembatas live cooking dan meja pelanggan. Suasana Swiss day sangat terasa. Puluhan tamu lokal dan asing menyatu membentuk koloni sendiri di tiap-tiap meja sementara para staf hotel sibuk melayani tamu. Memang, malam itu selain undangan khusus, hotel juga memberikan diskon 50 persen khusus untuk menu steak buat tamu hotel dan umum. Jadinya, rame banget!!! 
Menunjukkan undangan dari ponsel, oleh pelayan, saya pun diantar ke meja yang telah dipersiapkan. Menyatu bersama tamu undangan. To celebrate the day and as one of the customers' recognition, i was ready to feast and tasting all beverages.
Cheese Cake yang tersohor dan temannya, brownie.
 Terlebih dahulu saya menyambangi buffet dessert. Hotel ini memang sangat terkenal dengan dessertnya yang lezat. Di sana, sudah terpajang aneka cake. Mata pun langsung tertuju pada cheese cake. Sebagai golongan yang masuk ke bagian cheese cake lover, tentu saya mengambil potongan besar. Harap maklum. _hehe_ Kasihan cheese cake sendirian di piring, ya sudah saya pun mencomot sepotong brownis dan creamy sus bersamanya. _Wkwkwk alibi banget ye!!! Padahal karena laper mata_
Para tamu antri mengambil menu dessert pada perayaan Swiss National Day di Swiss-blehotel.
 Eh wait, itu apa? Ada chocolate pie dan apple pie yang dibungkus topping sugar creamy merah dengan dua persegi panjang membentuk salib persegi putih di tengah. Cumaaaa karena melihat piring sudah ada sepotong besar cheese cake, tak jadi ambil deh, biar makanan yang lainnya muat masuk perut. Hahaha.
By the way, tahukah kamu? Bendera negara yang beribukota di Bern yang sebagian besar wilayahnya dikelilingi pegunungan Alpen tersebut,  terbentuk setelah negara itu secara resmi terpisah dari naungan Vatican. Tak hanya itu, Swiss adalah negara netral yang menjalankan demokrasi pertama di dunia tempat lahirnya organisasi Palang Merah. Karena itulah logo Palang Merah a.k.a Red Cross identik dengan bendera nasional negara yang terkenal akan air bersih pegunungan dan produksi jam tangan tersebut ( Source: Buku Pintar).
Usai meletakkan menu dessert di atas meja, kembali melakukan pengembaraan, melihat aneka menu makanan yang tersaji. Steak daging sapi dan salmon menjadi menu jawara dalam perayaan tersebut. Sayang, salmon sudah habis duluan sebelum saya pesan.. Hiks.. Akhirnya jadilah memesan beef sirloin steak dengan permintaan well done cook dengan saus red wine dengan sedikit campuran saus lemon butter dan teriyaki.
Beef Sirloin steak.

Tumis jagung dan kacang, menu khas tradisional Swiss.

Grilled Zucchini and eggplants parmigiana.
Menemani menu itu, saya memilih menu khas Swiss yang juga banyak dikonsumsi di Eropa, seperti mushroom ragout yaitu jamur yang ditumis dengan krim keju Suisse yang meleleh, dan juga Grilled Zucchini and eggplants parmigiana. Tak lupa juga mengambil dua sendok sauteed sweet corn and kidney bean with blackpepper (kalau di Bahasa Indonesia-in sih artinya tumis jagung dan kacang) _ Omaaak Eropa ini pantasan mahal yak, bahasa menunya berbelit padahal bisa simpel dan murah sebenarnya kalau di Indonesia.. Hiks_
 Kenyang? Karena steaknya dipanggang kurang matang alias masih medium padahal saya pesannya yang well done, jadinya steaknya ga habis, menu pendamping habis sih tapi bawaannya tetap kurang kenyang. Maka jadilah beranjak dari kursi lagi, pedekate ke chef live cooking, ikut antrian dan akhirnya memilih pasta tradisional Swiss yang dimasak dengan susu dengan taburan keju. Rasanya?? Juara men.. Gurih banget. _kenapa saya pesennya porsi seuprit ya? asli meleleh banget_
Creamy pasta by live cooking.
Muke seneng makan pasta.
Perayaan tanpa canda tawa dengan teman apalah gunanya? Persis di sebelah meja, para petinggi hotel di Batam pun berkumpul, dan salah tiga diantaranya adalah kenalan dekat, yaitu mas Alex, kakak Tari dan mba Jelita. Kaget satu sama lain, lalu salaman bercanda dan tertawa bersama. "Pindah yuk ke meja Chay," ujar mas Alex yang saya panggil chef. _ish dimana-mana ada selalu rempong ya bo. Hahaha_   
Jamuan pun ditutup dengan bincang santai dengan ci Linda Ang sambil mencicip satu scoop es krim coklat chips marshmallow topping kacang dan raisin. Thankyou for invite me  Swiss-belhotel Harbour Bay, ci Linda.. Happy 1st August Swiss. ***

 Unus pro omnibus, omnes pro unos Suisse
_One for all, All for one Switzerland_
HAPPY SWISS DAY


PROMOTION:
Bagi kamu pecinta steak, bisa gabung setiap Jumat, dan nikmati Friday Steak Fest dengan menu live cooking, barbeque, dan aneka sajian buffet.
Time: 06.30pm - 10.00pm
Venue: Swiss-Cafe by Swiss-Belhotel Harbour Bay, Batam
For more information and reservation:
T. 0778-741 5888 ext. 2