Latest Posts
Source: Village Voice

HI Guys!!!! Ini merupakan pengalaman traveling perdana saya di 2017, tepatnya ke Krabi, Thailand pada Januari lalu. Saya ingin membaginya, yang (mungkin) seru bagi Anda dan yang jelas tak terlupakan bagiku. Betapa tidak, dari sekian banyak perjalanan ke luar negeri yang saya lakukan  sejak delapan tahun terakhir, baru di perjalanan 2017 ini saya mengalami yang namanya scam alias DITIPU dan DITELANTARKAN di negara lain.

Untung tidak sendiri, melainkan bersembilan bersama traveler lainnya dari Inggris, Brasil, Polandia, Rusia, Cina Taiwan, dan Prancis . "Gimana ceritanya kak?" Jadi begini, _Duduk yang manis lesehan biar sayanya lancar bercerita. Dengerin dulu ya_
Hari pertama dijalani dengan sukses dan bahagia; naik kapal dari Batam ke Singapura, then flight to Krabi from Changi Airport. While on our flight, we meet new fellows traveler Felix from Switzerland and Joyanna from Rio de Janeiro, Brazil. Bersama Felix, kami akhirnya bersama dari stasiun bus. Kami menginap di satu lokasi di kawasan Paknam, Kongka rd, Krabi Town, tapi hostel yang berbeda dan memutuskan mencari alamat penginapan bersama. Mengenai penginapanku di No.7 Guest House, dari Indonesia, sebelumnya saya booking dari  booking (dot) com. Di tengah jalan, kami berpisah dengan Felix karena ia memutuskan untuk makan dulu karena lapar. Dia mengajak kami untuk makan bareng dulu, namun karena sudah kelelahan akibat belum ada tidur sama sekali dari hari sebelumnya saya dan teman seperjalananku, Zikria memutuskan mencari penginapan dulu, menyimpan tas, baru mencari makan.

Ketemulah itu hostel, say hi dengan pemilik yang ramah, check-in, lalu  kuliner murah di pasar malam Chao Fa Pier dengan menu lokal dan menikmati malam di Krabi untuk pertama kali.

Karena kelelahan yang luar biasa, mungkin karena tidak ada tidur juga sehari sebelum keberangkatan, setelah pulang sightseeing Krabi town di hari pertama, balik ke hostel, niat mandi jadi terlupakan. Kami ketiduran sampai bablas hingga pukul 04.08 am, bahkan Zikri pun lupa solat barangkali.

Tidur lagi, bangun, dan leyeh-leyeh hingga pukul 9.00 am. Mandi, persiapan, check out in Pak Nam, titip backpack di lobi, lalu memilih mengunjungi tempat wisata yang terjangkau kaki untuk menghabiskan waktu sebelum bus menuju Bangkok menjemput kami ke hostel pukul 4.00 pm .

Di hari kedua ini kasus penipuan dimulai. Jujur, sebenarnya, saat mengunjungi Big black Crab Statue, lambang Kota Krabi di 0 KM, perasaan saya sudah tak enak. Pengen membatalkan saja perjalanan ke Bangkok, meski tiket bus seharga THB 1300 (for 2 persons), tiket penginapan di Bangkok, dan tiket flight back to Krabi sudah di tangan. Why? I don't understand that feeling in one time.

Saya tak mau mengemukakannya ke Zikria. Saya menjaga perasaanya, karena ini adalah perjalanan terjauh pertama yang ia lakukan, dan dia sangat excited mengunjungi Bangkok (she told me before). Saya tak mau mematahkan harapan dan senyum bahagianya.

In short story, pukul 04.06 pm, seorang pria menjemput kami dari penginapan. Mengangkut tas kami dan meletakkan di mini van yang parkir di depan penginapan sekaligus travel agent tempat kami membeli tiket bus Krabi-Bangkok yang memang sangat dekat dari hostel tempat kami menginap. Hanya dua menit jalan ke simpang lalu naik menanjak di pusat Krabi town.

Di mini van itu, beberapa penumpang sudah ada. Pasangan dari Taiwan Gaby dan Afra, Seorang Poland, dan tiga penumpang dari Rusia, seorang diantaranya bapak-bapak, dan Lucy dari Inggris (Ini semua saya ketahui setelah kejadian. Akhirnya kami semua berkenalan). Si pria yang menjemput kami itu, itulah yang menjadi supir kami. Dia lalu menghitung penumpang, meminta tiket, dan lalu sambil senewen mengatakan mobil belum bisa berangkat karena masih menunggu dua penumpang lagi.

Maka datanglah Flavia dan pacarnya sambil menenteng botol bir di tangannya. Mereka dari Brazil. Saya dan Zikria duduk di belakang. Sebelumnya, Lucy sudah duduk di pojok kanan belakang. Lantas saya memilih duduk di pojok kiri, di sampingku Zikria, dan Flavia duduk di tengah belakang. Sementara pacarnya, duduk di depan berdampingan dengan backpack/ barang kami.

Awalnya perjalanan mulus. Hingga satu jam lebih setelah keberangkatan, Flavia beranjak dari kursinya, dan menanyakan dengan sopan kepada si supir, ' Berapa lama lagi ada gas and oil station atau rest area? Karena dia mau pipis'.

Si supir lantas menjawab dengan bahasa Thai "toilet? &@$((:710"&$". Si Flavia lantas memohon lagi "Jika ada gas station yang mempunyai toilet atau rest area dekat sini, just let me know. I wanna pee. Atau bila perlu, saya kasih kamu tip deh. Sumpah saya udah kebelet pipis banget. Please!!! begitulah yang Flavia katakan sambil memohon. Eh si supir malah langsung marah sambil teriak "go go... goo f*** you" lalu memasang musik kuat-kuat.Ya jelas kaget dong si Flavia dan kita semua penumpang. Bahkan si pasangan asal Taiwan yang tertidur tersentak bangun.

Kaget diumpatin, si Flavia pun mengumpat balik. "Are u kidding me? I just want to ask you about the toilet. Is it wrong as an passenger? You fucking a****le not me". Mendengar kata itu, si supir ngerem mendadak, lalu mengambil botol air mineral yang ada isinya sambil mau melemparkannya ke si Flavia. Takut kena, otomatis saya teriak "NO!!!! Don't do that.. Stop it please!!!!!!!!!!".
INI tampang si supir gila itu.
Lalu si supir menjalankan mobilnya lagi kencang-kencang sambil marah-marah tak jelas dengan bahasanya. Bapak-bapak Rusia yang duduk di seat solo tengah lantas merespon, membela si Flavia lalu memaki si supir. "Hei!!! How can? She just wanna pee and talk to you with a goodness. Heiiii!!! Are you crazy??".
Pose lainnya.
Mendengar kata "crazy" dengan suara keras, si supir lantas menghentikan mobilnya kembali, mengambil stick dongkrak, lalu membuka pintu, dan menantang si bapak Rusia untuk turun. Dia juga mengusir si Flavia. "Saya gak mau, i pay u " balas si Flavia.

Pokoknya drama banget deh saat itu. Saya, Zikri, dan Lucy hanya mampu saling berpandangan, sambil membujuk Flavia untuk tak membalas perkataan sang supir gila itu lagi. Tiba-tiba Flavia membuka HP-nya sambil bergumam ia akan melaporkan kejadian ini ke kantor polisi.

Gadis  yang bekerja sebagai volunteer pendidikan di Asia Tenggara ini pun meminjam HPku untuk mengecek alamat kantor polisi terdekat. Saya meminjamkannya, membantunya mengecek internet. Ya namanya berkendara di tengah hutan, jaringan lelet pemirsah.

Selang 15 menit berkendara, di tengah hutan karet, si supir mendadak berhenti. "Kamu mau pipis? go!!!". Yeee siapa juga yang mau. Kami juga melarang Flavia untuk turun, takut terjadi saat dia turun, si supir langsung pergi meninggalkannya ya kan. Hingga tibalah di rest area di kawasan Amphoe Ban Na Doem di Surat Thani setelah 40 menitan tragedi yang mengagetkan itu terjadi. Sebelum turun, Flavia memohon kepada kami penumpang supaya semuanya turun saat dia ke toilet, untuk menghindari si supir meninggalkannya. Terdorong rasa kasihan, kami pun turun semua kecuali dua turis dari Taiwan tadi.

INI penampakan mini van yang membawa kami semua penumpang. Saya foto saat di rest area.
Saat si Flavia ke toilet, saya berbincang dengan seorang penumpang dari Polandia ._Duuh lupa namanya_. Dia mengatakan sebenarnya kesal dengan ulah si supir yang tidak punya etika kepada penumpang. "Saya sudah pengen ikut campur, tapi saya pikir, ini di negaranya, saya pendatang. Saya malas bersentuhan dengan masalah di negara ini. Lagian ini bukan urusan saya," ujarnya.. _Egois banget sik lo bang..Eh tapi ada benernya juga sik_

*Ditelantarkan di Warung Tengah Hutan

Selang lima menit, kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Sekitar satu jam kemudian, si supir membelokkan mobilnya ke halaman warung di pinggir jalan. Warung itu kaya warung di kampung, dimana warungnya terpisang dari rumah di belakangnya. Sementara di sisi kiri dan kanannya hanya kebun tak ada rumah tetangga. Di seberangnya? hutan. Lho kok? Lalu si supir mengeluarkan semua tas kami sambil bilang, bus akan menjemput kami dari warung tersebut. Tapi masa iya sik, kami dijemput dari tengah hutan begini? Bukannya saat membeli tiket, si sales Travel Agent itu bilang kami akan berganti bus di Stasiun Surat Thani? Kok ini tak ada tanda-tanda stasiun?.

Saya pun menanyakan itu sama Zikri. Zikri hanya menjawab "Ikut ajalah kak maunya si supir gila itu," ujarnya sambil duduk merangkul tasnya bergabung dengan para penumpang lainnya yang sudah duluan turun dan beristirahat di belakang warung.

Mini van itu terparkir di halaman samping warung tersebut. Si supir mengobrol sekilas dengan pria yang duduk di depan warung, lalu masuk ke warung,dan sejak saat itu dia tak muncul lagi. Hingga akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul 18.05, si ibu pemilik warung sambil menggendong anaknya yang masih bayi dengan Bahasa Inggris seadanya datang menemui kami yang tengah berbincang-bincang sambil makan dan minum karena lapar. "I'm sorry, unlucky to you all. Tidak ada bus yang berangkat malam ini karena ada banjir besar  di kawasan Phun Phin," ujar sang ibu.

What? kami semua kaget. So, bagaimana dengan nasib kami? Batallah sudah tiba pagi hari di Bangkok, mengunjungi Wat Arun Temple, atau penginapan di Khaosan bakal hangus. Kasihannya lagi, si pasangan Taiwan langsung pengen nangis gitu, karena penerbangan mereka menuju Hongkong pukul 09.00 pagi, sedangkan si Lucy akan terbang dari Bangkok menuju Chiang Mai. Pokoknya semua rencana perjalanan yang kami buat saat itu terancam batal.


"Saya sangat menyesal dan kasihan kepada kalian. Tapi uang tiket yang kalian bayarkan tidak akan kembali. Hanya saja, kami akan membantu, mengantarkan kalian ke Surat Thani Station dan pergi ke Bangkok dengan naik kereta api. Itu pun kalau masih ada tiket malam-malam begini. Tapi kalau kalian tak berhasil naik train, kalian bisa menghubungiku, dan kalian bisa menginap di sini sampai besok pagi. Bagaimana?" tawar si ibu yang sok baik. _Ada alasan saya bilang doi sok baik_

Memikirkan berbagai rencana yang akan berantakan, lantas saya bertanya ama temanku, Zikria. "Bagaimana ini Zik? Lanjut atau tidak ini kita?".
Zikri jawab, "Aduh kak, uangku sudah menipis. Tiket kereta THB 1.200, mahal. Belum lagi bayar sisa penginapan di Bangkok nanti," ujar dia sambil kode bisa jadi dia tak mau melanjutkan lagi perjalanan hari itu.
"Udah kamu tak usah pikirkan uang dulu, pakai uang saya aja. Mengenai nanti-nanti, selesaikan setelah kita pulang ke Indonesia saja. Kita naik train saja. Makanya kalau jalan ke luar negeri itu sisihkan dana tak terduga entah berapa, ini kamu bawa pas-pasan," ujarku mencerewetinya. hahaha _Maaf ya Zik, saya cerewet para waktu itu_


*Sadar Ditipu Setelah Ditinggalkan di Surat Thani Station

Di tengah kepanikan di Surat Thani station. Malam-malam lo guys, sepi..
Kami semua penumpang memutuskan untuk diantar ke Surat Thani station oleh suami si ibu itu. Tiba di sana, usai dia menurunkan kami dan semua barang bawaan, tanpa ba bi bu, dia langsung tancap gas meninggalkan kami yang hanya bisa melongo.

Masuk stasiun menuju loket, oleh petugasnya bilang "Tidak ada lagi tiket kereta malam, dan tiket kereta pagi tak bisa dibeli malam. Kami pun lantas keluar stasiun, mencoba menghubungi si ibu pemilik warung tadi, yang nomornya sempat diminta oleh Zikri. Dia mengangkat teleponnya, saya mengungkapkan bahwa tak ada tiket kereta lagi. Bisakah suaminya menjemput kami lagi, dan minta diantarkan ke bandara Surat Thani saja.

"Hubungi saja suami saya. Dia masih disitu kan?" Ah elah ibu, kalau suami ibu masih disini, kami pun tak akan menghubungi beliau. Masalahnya sehabis menurunkan kami, dia langsung tancap gas. "Oh sebentar saya hubungi dia dulu,". Lama tak ada jawaban. Melalui ponsel Lucy, kami kembali menghubungi si ibu, dia mengangkat dan bilang "Nomor suaminya tak bisa dihubungi,". Habis itu tak tahu lagi ngomong apa, dia mematikan ponselnya dan tak bisa lagi dihubungi sampai sekarang.

Kesal dengan nasib kami yang luntang-lantung, si bapak-bapak Rusia yang jalan bareng dengan anaknya itu kesal. "Kita kena scamming. Kita ditipu. Ini tak bisa dibiarkan. Kita harus melapor ke kantor polisi," ujarnya galak.

"Bagaimana bisa mereka memberlakukan warga pendatang di sini? Ini sudah malam. Tak manusiawi," tambahnya mengumpat.


Sejak saat itu, sadarlah kami semua bahwa kami telah ditipu, ditelantarkan dan ditinggalkan. _Sedih banget ye_

Di sela kepanikan itu, datang seorang bapak-bapak yang menawarkan bantuan. Dia minta kami istirahat di rumahnya sambali membagikan selebaran, bahwa dia punya restoran dan bar di dekat stasiun. Kami kurang merespon bapak itu dan masih berkutat apa yang harus kami lakukan saat ini... (Bersambung)
Rujak (credit photo to: jokka2traveler.com
SALAH satu bagian penting dari cerita perjalanan itu adalah di bagian KULINERNYA. setuju nggak? Eh tapi kali ini bagian kulinernya bukan bagian dari perjalanan kemana gitu ke luar kota atau ke luar negeri deh, tapi bagian dari perjalanan buka puasa dari hotel ke hotel selama Ramadan ini. haha

Ramadan 2017 ini jatuh pada minggu terakhir Mei hingga akhir Juni mendatang. Tiap hotel di kota saya tinggal ini berlomba-lomba menghadirkan sajian menu berbuka puasa lewat berbagai promo all you can eat.


Sebagai Indonesia yang cinta keragaman, saya turut serta merayakan euforia Ramadan dengan menghadiri berbagai undangan-undangan buka puasa. Tahu nggak sik kamu apa momen terindah buatku kala Ramadan? yaitu Momen Berbuka Puasa. itu artinya saya bisa bebas makan enak, komplit dan sepuasnya mulai dari menu appetizer, main course, hingga dessert.

Kunjungan hotel ke hotel pun sudah saya lakukan. Dari berbagai kunjungan tersebut, saya mau merangkum lima menu takjil Ramadan yang paling saya suka ala hotel. Menu ini bisa kamu temui di mana saja, namun untuk Ramadan, berbagai menu ini naik kelas karena disajikan sebagai hidangan utama yang bisa ditemui di berbagai hotel. Berikut lima menu takjil tersebut:
1. Kurma
Kurma. Foto ini saya ambil saat berbuka puasa di Swiss-inn Hotel, Penuin, Batam.

Buah tropis ala Timur Tengah ini kaya nutrisi banget, seperti vitamin dan mineral. Saya menyukainya sejak SMP, saat nyokap beli sebagai oleh-oleh dari luar kota. Rasanya yang manis bisa dikombinasikan dengan jus buah. Masuk ke dalam kingdom plantae Palma, buah ini bermanfaat memulihkan dan melancarkan sistem pencernaan, serta menetralisir asam lambung. Dan tahu ga sik guys, rupanya biji kurma ini bisa mengatasi kebotakan juga. Caranya dijemur sampai kering, lalu ditumbuk atau diblender, lalu dicampur dengan minyak zaitun. Setelah itu oleskan deh ke kulit kepala yang mengalami kebotakan.

 2. Buah-buahan/rujak
ANEKA buah-buahan yang bisa dinikmati kala berbuka puasa di Swiss-Belhotel Harbour Bay, Batam.
Mengkonsumsi buah-buahan atau menu buah dengan modifikasi seperti contohnya rujak saat berbuka puasa bisa merangsang usus supaya tidak langsung bekerja keras setelah 12 jam diistirahatkan. Buah-buahan bisa mengoptimalkan kerja enzim dan menambah larutan elektrolit alami dalam lambung. Ini sehat banget.

Bukan hanya puasa saja sik, tapi disarankan pagi hari saat sarapan, seharusnya makan buah dulu baru makan makanan yang berat. _Doakan saya berhasil menerapkan ini ya.. Semangat Chayaaaa!!!_

3. Lalapan/Sayur
Lalapan dari sayur kacang panjang, toge, timun, dan kol.
Menu ini kaya serat yang bisa memperlancar pup atau BAB. Selain itu banyak mengkonsumsi sayuran, lambung dan usus kita jadi bersih lho. Istilahnya sayuran ini kaya detergen yang fungsinya membersihkan noda lho ibu-ibu. hehe  

4. Puding
Puding. (Credit photo to jokka2traveller.com)
Seringkali ini dihidangkan sebagai dessert alias menu penutup untuk pencuci mulut. Rasanya yang manis, kadang ditambah dengan topping buah-buahan sangat menyegarkan di mulut.  

5. Cake
Aneka cake di Swiss-belhote Harbour Bay, Batam. (credit photo to jokka2traveller.com)
Ini neh menu paling favoritku. Pokoknya apa pun bentuk cakenya, saya selalu suka.
Sudah dulu ah, mau berbuka puasa lagi ke kawasan Teluk Nongsa sambil menikmati sunset. Besok kita sambung lagi yaa... bye bye!!! ***



KAWASAN Shin Imamiya malam hari.
BAGI rekan traveler, apa sih pengalaman terbaik yang layak diingat selama  mengadakan perjalanan ke Jepang? Kalau saya banyak, salah satunya adalah pengalaman tidur di kawasan yakuza di Osaka. Ini saya ketahui setelah saya keluar dari Osaka dan akan saya bagikan kepada Anda semua.

Swear!!! saya gak dibayar lho untuk menuliskan ini. Ulasan ini murni pengalaman pribadi tanpa ada tekanan dan ancaman dari pihak yakuza, apalagi tekanan deadline dari pihak advertiser. _Kibas rambut sambil Angel Smile.lol_


Perjalananku ke Jepang saat musim dingin beberapa waktu lalu, diawali dengan perjumpaan menginjakkan kaki di Bandara Internasional Haneda di Tokyo. Dari Tokyo, mengadakan perjalanan darat menggunakan Willer bus ke Osaka, salah satu prefektur di Jepang.
JEMBATAN Dotonburi, Namba di Osaka pada malam hari.
(Baca juga ini: Jepang Ramah Bagi Solo Traveler)

Perjalanan ke Negeri Matahari Terbit ini saya lakukan mandiri. Artinya, beli tiket sendiri, urus visa sendiri (paspor masih reguler), bahkan booking penginapan selama di sana saya urus sendiri ala traveler hemat. Khusus penentuan itinerary penginapan, hanya ada tiga kriteria bagiku:
  1. Murah tidak lebih dari 5000 yen/malam 
  2. Lokasi dekat dengan stasiun. 
  3. Bebas akses ke lokasi wisata.
Bila ketiga syarat tersebut lolos, ya sudah booking. Tanpa melihat kawasannya di mana, kehidupan di sana seperti apa, apakah red light district apa bukan, boro-boro mikirin itu saat booking penginapan untuk urus visa. Hal yang penting bagiku itu dalam setiap perjalanan, kemana pun itu: Tiket dan Penginapan di tangan, ya sudah biarlah alam yang menentukan ke mana arah perjalanan berlangsung.

Maka saat itu terpilihlah tiga penginapan yang terdata di itinerary, baik itinerary sebenarnya maupun itinerary form visa, yakni:

  1. Shin-Imamiya Hotel di Osaka
  2.  Piece Hostel di Kyoto
  3.  Asakusa Hotel Fukudaya di Tokyo,
Meski pun pada akhirnya, bertambah juga tempat penginapan di sana, yakni guest house Shinagawa di Tokyo saat hari pertama dan bus Willer selama perjalanan jauh kala malam hari. haha
LOBI hotel Shin Imamiya Hotel. (credit to Shin Imamiya Hotel)
Nah, di sini, saya mau bahas mengenai Shin-Imamiya Hotel di Osaka. Jadi neh guys, saat booking hotel dari Indonesia, saya tahunya kalau hotel ini lokasinya berada persis membelakangi rel perlintasan kereta jalur Nankai line dan JR Shin Imamiya. "Enak banget lokasinya dekat stasiun," pikirku kala itu.

Dan benar saja, jarak hotel ini hanya 1 menit jalan kaki menuju stasiun Shin Imamiya. Bahkan ngesot sedikit, lokasinya berseberangan dengan Maruhan Plaza.

Willer Bus Station di Umeda Sky Building menjadi perjumpaan pertamaku dengan Osaka. Nyampenya pagi banget, sementara check in hotel baru bisa mulai pukul 14.30. Sembari menunggu rekan si Eric yang busnya transit di Nagoya dan baru tiba di Osaka pukul 11.00, maka jadilah spend time mengeksplorasi Umeda Sky Building bersama kenalan baru yang bertemu di bus, Dan Tranh dari Vietnam.

Masih cukup waktu jalan ke tempat lain sebelum check in, setelah bertemu Eric, kami memutuskan menyimpan tas di penitipan Umeda Sky Building, lalu lanjut mengunjungi Osaka Castle. Berjalan kaki dari Umeda menuju Osaka Station, nah dari sana lanjut naik kereta ke kastil Osaka.

Ya gitulah, jarum jam sudah menunjukkan pukul 15.40, itu artinya kami sudah boleh check in sebenarnya, tapi dirasa tanggung amat menikmati sore cuma sebentar di Osaka Castle, maka jadilah eksplore dulu, foto-foto dulu _apalah gunanya jalan-jalan kalau tak ada foto-foto di era 'pamer' kekinian sekarang ini kak?_, makan okonomiyaki, takoyaki dulu di taman kastil, sampai-sampai si Dan Tranh yang ikut kami agak kesal dan memutuskan berpisah dari Osaka Castle mengejar sunset di Tennoji Park dan supaya tak telat check in ke hotel pilihannya. _Siapa suruh ikut kami? *bhak dilempar banana cake_

Kini, tibalah saatnya kami harus mencari penginapan Shin Imamiya ini. Kembali ke Umeda untuk mengambil tas, lanjut naik kereta menggunakan jalur nankai line. Awalnya, kami agak kesulitan menemukan ini hotel. Setelah tanya seorang ibu yang naik sepeda, dengan bahasa kalbu yang berusaha saling mengerti, ibu itu menggerakkan tangannya sebagai pertanda "Lurus saja jalan, nanti ada Shin Imamiya hotel disitu,". Kami pun melanjutkan perjalanan, dan tadaaaaa ketemulah ini hotel yang lokasinya persis berada di pinggir jalan besar.

AKSES menuju hotel Shin Imamiya.
Saat kami ke sana, tidak ada palang besar sebagai penanda itu hotel. Hanya tanda kecil bertuliskan namanya di dinding. Sepanjang jalan di Nishinari-ku Haginochaya itu memang banyak penginapan pilihan yang harganya murah di beberapa situs penginapan seperti booking, hostelworld, etc.

Kami pun  check in. Menyelesaikan proses pembayaran, kunci kamar 425 pun diserahkan kepadaku. Naik ke lantai empat sambil mengamati, ini hotel bersih banget, meski pun dari luar tampilannya kaya ruko biasa saja dan agak gelap. Melewati lorong cuci muka, maka ketemulah kamarku. Buka pintunya, what? kecil banget ruangannya hanya ukuran 1,5x2 meter lebih seuprit. Baiklah malam itu saya tidur di kapsul kuning pake acara manjat. haha

BED kapsul tempatku menginap di Shin Imamiya Hotel. Bergeser sedikit, jatuh. haha
KAMARNYA cuma seluas ini.
MARKITID.
Meski ruangannya kecil, tapi di sana terdapat lemari pakaian yang mampu menampung backpack, satu meja kecil dan kursi, jendela dan kapsul bed itu sendiri. Di kapsul berbentuk kotak kuning itu, bukan cuma terdapat bed dan bantal saja, melainkan ada tv tabung kecil tergantung, penghangat,dan lampu beserta saklarnya. Efisien sekali. Unik menurutku juga. _Btw, bagi kamu yang fobia ruang sempit, mending jangan pilih kapsul bed deh, pilih saja kamar futon atau kamar single bed tipe lainnya di hotel ini_
KAMAR mandi.
Istirahat sejenak meluruskan kaki, lantas pergi mandi. Di hotel ini kamar mandi dan ruang rias tamu terpisah. Lengkap juga amenities mulai dari sabun, sampo, kondisioner, air panas dan air dingin. Kamar mandinya imut banget, kalau mandi antri. Antrinya tertib banget duduk di sofa di sebelah kamar mandi. Jepang ini memang unik dan serba teratur di segala lini deh.
RUANG RIAS persis di lorong. Jadi kalau ada tamu yang lewat, cuek saja sambil make up-an.
Hotel ini sangat bersih sekali, dapurnya pun sangat lengkap. Jadi, setelah mandi itu, saya niatnya tidur-tiduran aja dulu, sembari urut kaki yang sakit banget karena kecapean dan luka efek pemakaian boot docmart seharian. Tiba-tiba mas Eric dari kamar sebelah ngetuk pintu ajak makan malam.
DAPUR di Shin Imamiya Hotel. (credit to Shin Imamiya Hotel)
"Chay ga makan? masak mie instant yuk," ajak Eric sambil mengetuk pintu kamarku. Maka jadilah Eric masak mie instan yang ia bawa dari Malaysia, sedangkan saya makan mie seduh yang dibawa dari Indonesia. Kami pun makan di dapurnya yang memiliki peralatan dan perlengkapan serba lengkap. Usai makan, kami mencuci peralatan dan membersihkannya seperti sedia kala.
Glico Man yang fenomenal (menurutku biasa aja sik) di Osaka.
Pokoknya ini hotel rekomendasi banget deh. Sudah harganya murah cuma bayar 2.100 yen melalui booking dot com, fasilitasnya juga lengkap, jaringan Wifi lancar jaya, bahkan bisa telpon emak dan sodara ke Indonesia via jaringan WA tanpa ngadat. Dan lokasinya itu lho, strategis kemana-mana.
DUA perempuan asal Sapporo yang minta tolong padaku untuk memotret mereka dengan latar belakang Glico Man di Dotonbori.
Usai makan, kami berencana keluar menikmati malam Osaka ke kawasan Namba dan Dotonburi. Namun sebelum itu, terlebih dahulu kami mencari minimarket lawson atau 7-11 terdekat untuk membeli colokan listrik ala Jepang dan  cari sendal jepit karena sudah tak tahan lagi pake sepatu boot Docmart Airwair yang kurang bersahabat banget apabila dipake berhari-hari. Bagian atas tumit kaki-ku ruam dan luka dibuatnya.
PUSAT perbelanjaan Maruhan dekat hotel Shin Imamiya.
Tak berhasil mendapatkan colokan di minimarket, memilih ke tempat lain, dan saat pencarian itu, bertemulah kami dengan pusat perbelanjaan Maruhan. Masuklah ke sana. Niatnya sih beli colokan listrik dan sandal. Tapi akhirnya? Eric belanja cemilan banyak banget, beli kaus kaki, dan saya yang niatnya beli sendal, ujung-ujungnya malah jadi beli sepatu boot Le qoc sportif yang lagi promo 5600 yen. Dipakainya enak banget, ringan dan gak bikin sakit. _Bukan iklan_
DAISO di Shin Imamiya.
Kelar? belum. Pas mau pulang dari Maruhan, eh di seberangnya terpampang nyata DAISO, surga belanja dengan harga murah. Saat hendak menyeberang, eh kami diperlihatkan dengan empat pria tengah berantem. Dua diantaranya saling gebuk dan teriak, dua-nya lagi berusaha melerai.
TAMPARI bang, iya, tendang mukanya, jambak rambutnya.. wkwkwk..
Menonton dulu _Indonesia banget yak_, eh kok orang-orang sana lihat sekilas lalu berlalu begitu saja sih? ya sudah kami pun ikutan berlalu meninggalkan mereka yang lagi berantem. Sesampai di Daiso, eh Daisonya sudah tutup, dan dengan lesu memilih kembali ke hotel dulu antar barang belanjaan, baru lanjut ke Dotonburi.
OSAKA tower di Shinkekai, kawasan Shin Imamiya.
Di perjalanan pulang dari Dotonburi, tepatnya kawasan pinggir jalan menuju hotel berubah menjadi tempat ngumpul-ngumpul anak muda. Dan anehnya, ada yang tergeletak di pinggir jalan karena mabuk, ada yang pipis dekat parkiran sepeda, dan bahkan ada yang dipapah keluar warung kecil sembari yang dipapah itu teriak-teriak tak jelas. _Wow banget, is it Japan?_

And you know guys? usut punya usut setelah kami meninggalkan Osaka menuju Kyoto. Oleh teman yang tinggal di Fukui, Ia cerita ternyata kawasan Shin Imamiya, tempatku menginap di Osaka adalah kawasan yakuza, dan sarang para mafia. Tak hanya itu saja, kawasan ini juga merupakan area malam alias red light district di Osaka. What? pantesan saja malamnya di sana itu agak mencekam dibanding kawasan Dotonburi yang ramai tapi friendly sekali. Ah tapi santai waelah, buktinya kami aman, nyaman, tenteram gemah ripah loh jinawi kok selama di sana. Meskipun tidur di kawasan yakuza, baik saya dan mas Eric malah tak bertemu ama yakuza-nya, cuma agak terganggu tidur doang karena suara kereta yang lewat dan beberapa kali tremor akibat gesekan rel yang berdampak ke hotel dan gedung-gedung lainnya di kawasan itu. 

Ah coba tahu tidur di kawasan Yakuza saat masih di Osaka, kan bisa say hello dulu ama babang Yaku (za).. hehe. ***


INFORMATION:
Hotel Shin-Imamiya
557-0004, Osaka, Nishinari-ku Haginochaya 1-2-20
(557-0004, 大阪市, 西成区萩之茶屋1-2-20)
Phone: +81666473777
LUTI gendang, makanan khas Tarempah, Anambas.Kepulauan Riau.
INI Sudah hari ke lima puasa Ramadan. Kamu buka puasa dimana? Saya ada rekomendasi neh, yakni buka puasa dengan menu nusantara di da Vienna Boutique Hotel, Nagoya.

Kenapa saya merekomendasikan hotel ini? Karena mereka menyajikan menu dari tujuh kota di Indonesia, yakni menu nusantara dengan mengangkat tema Gallery Ramadan 2.  Tiap menu nusantara itu akan disajikan berbeda setiap harinya.
DERETAN menu utama, termasuk patin asam pedas.
SAYUR lodeh.
SAMBEL teri kacang.
Aneka menu makanan dan minuman yang disajikan ada lebih dari 50-an menu. Saya suka menu jajanan pasar dan gorengannya. Apalagi martabak Mesirnya. Rasanya juara. Saya suka-saya suka. _Ala Upin-Ipin_

Namun, ada neh menu spesial yang saya suka banget sampai tambu-tambu. Yakni menu khas Melayu, patin asam pedas. Ikannya gak amis, kuahnya gurih, wangi, dan segar.

Jadi guys, selama Ramadan ini,da Vienna Boutique Hotel menghadirkan aneka menu nusantara dari tujuh kota, yakni dari Betawi, Melayu, Sunda, Sumatera, Jawa, Bali, dan juga dari Sulawesi dengan cita rasa otentik.

ANEKA sambal.
PILIHAN kerupuk.
ANEKA sambel.
 Aneka menunya banyak pilihan, ada luti gendang dan asam pedas khas kepri, aneka jenis sambal berbagai kota, aneka kerupuk, pecal, lalapan, pisang goreng coklat, aneka dessert bolu, kurma, puding, aneka kolak dan bubur, es buah, dan masih banyak menu lainnya.

Menikmati aneka menu ini, kamu cukup membayar Rp 110 ribu nett. "Hanya membayar harga sebesar itu, para penikmat kuliner bebas menikmati lebih dari 50 menu yang kami sajikan secara buffee di berbagai stand di Ken Yang Restaurant dan Barletta Dining and Lounge hotel di lantai 2," ujar Marketing and Communication da Vienna Boutique Hotel, Adi.
MARTABAK.
BUAH potong.
Dessert.
 Soal rasa, jangan ragu deh guys, dijamin enak dan puas. Percaya deh. hehe

Btw, khusus bulan puasa ini,  memberikan promo kebaikan bagi para customer,yakni pemesanan 10 pax menu buka puasa, maka akan mendapatkan gratis 1 pax.
Selain itu, bagi pengunjung yang membawa anak di bawah usia 6 tahun gratis menu berbuka. Sedangkan anak usia 6-10 tahun akan mendapatkan diskon 50 persen.



Nih ada lagi, pemesanan 20 pax, akan diberi bonus 3 pax, pesan 50 pax, bonus 8 pax, dan pesan 100 pax  bonus 15 pax. Wow luar biasa bukan? Gimana? tertarik buka puasa di da Vienna Boutique Hotel kan? Langsung reservasi saja di bawah ya? Atau lihat-lihat foto disini dulu sebelum reservasi juga tak apa, siapa tahu khilaf jadi pesen banyak ya kan.. hahaa ***


INFORMATION:
da Vienna Boutique Hotel
Jalan Pembangunan Nagoya, Batam- Indonesia
Telp 0778- 422300
email reservation: reservation@davienna.com
Spaghetti ink squid.
 "HI Fitri eh Shireen, Saya Chaycya. Salam kenal ya. By the way Mau tanya dong,  menu spaghetti ink squid dan minuman shireen maximess itu apa ide murni dari Shireen sendiri atau gimana?"

Iya bener, itu pertanyaan saya lontarkan buat Shireen. Beneran buat Shireen Sungkar? Iyaaaa, itu lho Shireen Sungkar artis sinetron Indonesia yang terkenal itu. Masa? Iyaaa! duuuh, iya bener, si Fitri pasangannya Varel di Sinetron Cinta Fitri season satu hingga season maratus mapuluh rebu. Nggak percayaan amat sik.
Shireen Sungkar (tengah) saat temu fans dan berbincang dengan tiga owner Tea Box Cafe Batam.
Shireen dengan menu rekomendasinya, Shireen Maximess.
 Jadi, pertanyaan itu saya lontarkan saat Grand Opening salah satu cafe baru di Batam, Tea Box, Selasa (16/5) lalu. Shireen Sungkar dan Tengku Wisnu, suaminya menjadi tamu spesial di acara pembukaan cafe yang terletak di ruko Khazanah Plaza, Kawasan Sukajadi itu.
 
 Cafe ini menghadirkan aneka menu western dengan citarasa Indonesia. Dua diantara menu yang mereka suguhkan tersebut menjadi signature, yakni spaghetti ink squid atau spaghetti hitam yang dimasak menggunakan tinta cumi resep khas Kepulauan Riau dan disajikan dengan calamary fritters yang crunchy. Menu lainnya yakni minuman shireen maximess. Minuman ini lebih tepatnya milkshake yang dibuat dengan campuran pisang, coklat dan mocca. Nah, dua menu inilah yang saya tanyakan kepada Shireen.

Sambil kaget lalu senyum sambil menutup mulut, Shireen mencoba menjawab pertanyaanku. "Kalau dibilang ide pribadi sik, tidak. Ini menu yang saya rekomendasikan untuk dihadirkan di Tea Box, dan  disempurnakan oleh chef-nya. Ya rasanya, ya penyajiannya. Jadi lebih enak gitu," jawab ibu dua anak ini dengan ramah.
Cicip canelloni dulu kakak.
Canelloni ala Tea Box Cafe Batam.
Selain dua menu yang saya tanyakan tersebut, ternyata Shireen juga merekomendasikan satu menu makanan lagi, yakni canellonni. Apa sik Canellonni itu? ini menu makaroni gulung berbentuk silidernya yang di dalamnya diisi satu sosis utuh. Dimasak dengan campuran saus tomat dengan topping mozarella. Rasanya cihuiiii banget saat lumer di mulut. Paduan asam saus tomat dengan asin gurihnya mozarella menjadi cita sempurna menyatu dengan canellonni tersebut.

Mencicip tiga menu rekomendasi Shireen Sungkar di Tea Box Cafe Batam ini menjadi salah satu hal yang menyenangkan buatku. Apalagi harganya yang terjangkau tidak akan membuat dompet bolong. Beneran deh. Seporsi canellonni hanya Rp 35 ribu saja. Salah satu menu itu saya nikmati sambil nongkrong gaul di ruangannya yang eye catching dan instagramable banget untuk foto-foto kekinian.
Pengunjung di meja barista Tea Box Cafe.

Penampilan Shireen Sungkar saat Grand Opening Tea Box Cafe.

Waiters menyuguhkan menu rekomendasi buat Shireen Sungkar.
 Selain menu western, di cafe ini juga para pengunjung bisa mencicip aneka pilihan pizza, pasta, steak dan juga menu tradisional seperti nasi lemak, gado gado, ayam bakar taliwang, dan nasi rendang. Pokoknya semu ada deh mulai dari menu sarapan pagi, makan siang, hingga makan malam.

Apa sik kelebihan cafe ini dibanding cafe lainnya? chef-nya mengklaim, semua menu yang mereka sajikan kepada pelanggan, semuanya dibuat home made dan sudah bersertifikasi halal.

Tak hanya itu, selain menyajikan main course, cafe ini juga menyajikan aneka cemilan. Sebut saja waffle, pancake, banana fritter, roti jala dan juga cemilan asal Mexico, nachos. Khusus minuman, ya sama seperti cafe lainnya, menyajikan aneka teh, kopi, jus dan juga aneka pilihan mocktail.
Didirikan 11 Ibu-Ibu

Shireen dan dua owner Tea Box Cafe.
Tahu nggak guys, kalau Tea Box Cafe Batam ini pemiliknya bukan cuma satu orang saja. Melainkan 11. Yap, kesebelasan dan semuanya ibu-ibu. _Standing ovation_ Keren banget ya.

Awalnya kesebelasan eh para ibu ini merupakan kelompok pengajian di Majelis Taklim di salah satu komplek mewah di Batam, Sukajadi. Memiliki hobi yang sama, yakni sama-sama suka cicip-cicip alias kulineran, maka mereka pun membentuk grup Tour and Wiskul.
Can you add caption to this photo?
Sesuai namanya, para ibu ini demen banget tur alias jalan-jalan dan kulineran bersama. Tak hanya di Batam saja, melainkan tur bareng ke berbagai kota di Indonesia. Saat tur itu, sambil rumpi, tiba-tiba seseorang melontarkan ide, kenapa mereka tak membuat cafe saja, menghadirkan menu-menu favorit dari berbagai daerah yang bisa dinikmati kapan saja tanpa harus mengunjungi kota asal dari makanan tersebut. Semuanya pun setuju.

Sudah setuju neh, lalu diribetkan dengan penentuan nama cafe. Awalnya muncul ide menamakan Big Box, lalu Dream Box karena ini mimpi mereka bersama yang akhirnya menjadi kenyataan. Eh tapi kok, susah banget nyebut drimboks ( dream box) ?. "Trus ada yang mengajukan Tea Box Cafe More Than Just a Tea, ya sudah maka jadilah pilihan Tea Box Cafe Batam," ujar salah satu owner, Yosi Marlinda.
Shireen diserbu penggemar saat grand opening.
Memberikan pilihan berbeda, para ibu ini pun menjadikan cafe ini dengan sentuhan modern dan nyaman untuk kumpul-kumpul keluarga. Desain interiornya sangat kece, mulai dari pilihan keramik lantai, mural, furniture padu padan dari antik dan modern, sehingga memberi kesan elegan namun tetap nyaman dan hangat untuk bagi pengunjung.

Information
Lokasi: Ruko Khazanah Plaza, Sukajadi, Batam-Indonesia
Operation Hours: 07.00 am - 21.00 pm
Phone: +62 778 4080149