Latest Posts
Museum Dinosaurus Fukui.
SEBENARNYA, Fukui tidak masuk dalam daftar catatan itinerary perjalanan finalku saat hendak mengunjungi Jepang. Rencana yang tadinya seminggu hanya dihabiskan di Tokyo, Kyoto, dan Osaka, jadinya bertambah mengunjungi Fukui, setelah ajakan seorang teman yang kini menjadi sahabat, Honoka Nojiri. Dia pernah kami jamu sebagai rekan couchsurfing di Batam, kota tempatku tinggal sekarang.

"Chahaya kakak (begitu dia memanggilku hingga kini, red) kamu harus mengunjungi kampung halamanku, Fukui. Saya akan mengajakmu jalan-jalan dan menikmati soba dan minum teh ditemani kue angko yang lezat," ujarnya usai  memberitahukan bahwa saya akan mengunjungi Jepang.

Perjalanan ini sebenarnya sudah lama, saat musim gugur beberapa waktu lalu, tapi belum basi lah ya? Tempat wisata yang dikunjungi di Fukui itu belum dipugar kok, apalagi berpindah tempat. :)
Menikmati musim gugur di Fukui.
"Manusia berencana tapi Tuhan yang menentukan, dan rencana Tuhan adalah baik buat umatnya", sepertinya analogi ini cocok buatku saat hendak menginjak Fukui ini. Bayangkan saja, disaat saya berencana menginjak tiga prefektur saja, eh Tuhan malah kasih kesempatan lebih, bonus mengunjungi Fukui dengan perantaraan seorang Honoka, mahasiswa jurusan Biologi di Universitas Fukui.

Ok, perjalanan ke Fukui pun dimulai. Pagi sekali, sekitar pukul 06.00, saya sudah kelar mandi dan bersiap meninggalkan penginapan di Piece Hostel Kyoto di Minami Ward. Pagi itu, kami mendadak temu janji di Kyoto Station di kawasan Higashishiokoji Kamadonocho, Shimogyo Ward, yang kalau ditempuh berjalan kaki, hanya sekitar 500 meter. Penginapanku di Kyoto memang sengaja saya pilih dekat dengan Kyoto Station, biar dekat kemana-kemana.

Karena meeting point yang mendadak itu, takut ketinggalan bus mengingat sistem transportasi di Jepang sangat on time sekali, maka saya pun memutuskan naik taksi dan membayar 1.700 Yen supaya tak repot membawa barang bawaan (dua backpack, satu travel bag, dan dua bungkusan oleh-oleh milikku dan milik teman, Eric yang menginap di tempat berbeda karena hostel tempatku menginap full).

Bertemu di depan bangunan futuristik Kyoto Station yang ada tulisan raksasanya itu, kami pun melanjutkan kembali naik taksi menuju stasiun bus Fushimi-ku di Fukakusagotandacho. Kami turun di taman besar, lantas naik tangga menuju pintu  tembok pembatas. Di balik tembok pembatas itulah kami menunggu bus Keifuku yang akan membawa ke Fukui. Stasiunnya tak lebih dari halte kecil diantara jalan lintas yang sepi. Selain kami, sudah ada penumpang yang antri di halte kecil itu. Tertib sekali.
Mau mendaki dulu ke Kuil Eiheiji di kaki pegunungan Tendo.
 Tak sampai menunggu 10 menit, bus Keifuku pun datang. Sangat tepat waktu sesuai jadwal yang tertera di atas tiket. Kami pun berangkat. Dibutuhkan tiga jam perjalanan dari Kyoto menuju Fukui.

Fukui merupakan salah satu prefecture di  Pulau besar Honshu, Jepang. Kota ini, menjadi satu-satunya prefecture di region Chubu yang menghadap langsung ke Laut Jepang. Selain terkenal sebagai kota penghasil beras, Honoka yang seorang warga yang lahir dan besar di Fukui mengatakan, kota ini juga merupakan penghasil ikan laut dengan pedesaan indah (country side) yang masih alami. Belum banyak turis Indonesia yang berwisata khusus ke prefecture ini. Namun ada beberapa kunjungan untuk urusan kerja dan kuliah. Padahal ini kota layak menjadi salah satu destinasi wisata di Jepang yang layak dipertimbangkan juga lho.

Sepanjang perjalanan ke Fukui. Kami melewati pemandangan musim gugur yang indah di perbukitan Jepang saat melewati kawasan Minamizakura, dan Higashiomi. Tak hanya itu, dua jam perjalanan, bus berhenti di rest area di kawasan Taga, di Inukami-gun, di distrik Bimmanji. Pemandangan pedesaan di belakang stasiun sangat kentara sekali. Rumah-rumah tradisional bergerombol dalam satu komplek dikelilingi persawahan yang baru disiangi. Sangat indah dengan pemandangan kontras mommiji yang memerah kala itu.
Musim gugur di Pedesaan Tsuruga. Abaikan modelnya. wkwk
 Saat melewati Tsuruga, Honoka pun mencolekku yang sedang asyik menikmati pemandangan di sebelah kanan dari tempat dudukku. "Chahaya kakak, ini Tsuruga. Lihat di kejauhan sana? itu danau Kitagata," ujarnya sambil menunjuk danau di sebelah kanan yang terlihat dari kejauhan. Bus kami berjalan melewati perbukitan, di kirinya kadang ada perkampungan menyatu dengan ladang dan persawahan, dan di kejauhan di bawah persawahan dan perbukitan itu Danau Kitagata berada. Saya lantas merespon "Waaa.. sugoi, its look like i'm in Lake Toba, one of tectovulcano lake in my home town," ujarku.

Saya yang duduk bersebalahan dengan adek Hono pun lantas berbincang-bincang, sesekali mengabadikan pemandangan indah dan kuil tradisional di Wadanaka, dan tak terasa waktu tiga jam berlalu, kami sudah tiba Teyose, Fukui Station. Di situlah pemberhentian train dan aneka bus dari berbagai kota di Jepang dengan rute Fukui. Termasuk bus Keifuku yang kami naiki.

Makan siang. Sambel ABC dari Indonesia teteup sebagai penambah nafsu makan. haha

Chicken bento dan mie soba dingin.

Foto bareng sehabis makan siang di depan restoran. (Ki-ka) Kouhei, saya, Honoka.
Turun di bus, Honoka mengajak teman kuliahnya, Kouhei Funahasi. Kouheilah yang menjadi supir kami selama di Fukui dengan merental mobil seharga 5.000 yen per hari. Tujuan pertama sesampai di Fukui adalah makan siang. Kouhei membawa kami menuju salah satu restoran di pusat perbelanjaan di Matsumoto. Saya pun langsung memesak chicken bento dan mie soba dingin. Dasar Indonesia yang suka pedas, lantas mengeluarkan saus sambel terasi ABC (bukan iklan), mencampurnya ke nasi bento, lalu makan dengan lahap. Bahkan saus ABC tersebut saya hadiahkan ke Honoka dan rekannya Kouhei. Mereka bilang itu adalah sambel bom karena pedas dan baunya yang tak biasa banget di indra pengecap mereka. :)
Eiheiji di Distrik Yoshida-gun (Desa Yoshida)
Di dalam altar utama kuil Eiheiji.
 Makan siang sudah dijabanin, lantas kemana lagi? The adventure begin. Kuil Eiheiji di distrik Yoshida-gun pun menjadi pilihan wisata pertama. Kuil ini hanya 15 kilometer ke kawasan timur dari tempat kami makan, dan dibutuhkan berkendara selama kurang lebih 40 menit. Kami pun mulai menjelajah taman depan kuil yang sangat asri dan tenang dengan ribuan pohon menjulang tinggi ke langit. Dirasa sayang cuma menikmati bagian luarnya saja, lantas membayar tiket masuk seharga 500 Yen untuk mengeksplorasi bagian dalam kuilnya. (SUDAH PERNAH DIBAHAS DISINI)

Kuil Eiheiji.
Eiheiji Temple ini terdiri dari dua kuil besar yang dijadikan sebagai pusat pengembangan para biksu Buddha Zen. Di luar kuil yang berada di bawah pegunungan Tendo ini, selain menyajikan keindahan dan kedamaian yang tenang, para pengunjung bisa menikmati aneka penganan khas Jepang. Di sana, saya sempat menikmati kue angko atau mochi green tea dengan isi saus kacang merah dan kushidango, atau sate dengan kue bulat hijau campur wijen yang dibakar, dan di atasnya dikasih saus kecap yang wangi. Penjualnya seorang kakek tua penjual aneka oleh-oleh di pertokoan kecil di pertigaan simpang Shihi. Enak dimakan panas-panas lho.
Makan es krim di musim gugur. Masuk angin ga sik kak? lol

Taman kuil Eiheiji
Sebelum meninggalkan kuil Eiheiji, saya dan rekan Eric sempat mencicipi es krim green tea home made. Bayangkan makan es krim di musim gugur yang dingin dengan angin yang semriwing. Masuk angin? Enggak tuh, malah enak dan dingin-dingin empuk gitu di mulut. hehe
Pantai Tojinbo.
Wisata sehari itu pun berlanjut. Kini perjalanan dilanjutkan ke Pantai Tōjinbō (Tojimbo). Dari Kuil Eiheiji di pegunungan Tendo, menuju kawasan pantai Mikhunico Anto di Distrik Sakai. Dari kuil ini menuju Tojinbo jaraknya 43,8 kilometer apabila melewati Awara onsen di Distrik Yumonachi. Jangan harap ketemu pantai dengan pasir putih nan menawan di sini. Pantai ini justru menunjukkan kegarangannya dengan tebing batu jurang yang curam sepanjang 1 kilometer. Kontur cliff andesitnya sangat-sangat keren, namun terkesan misterius dan horor. Pantas saja, temanku Santi kaget saat mengetahui saya ke sana. Kata sahabatku yang kini bermukim di Kota Kawasaki itu, Tojinbo adalah tempat wisata namun sering dijadikan sebagai tempat bunuh diri. ( BACA SELENGKAPNYA DISINI).
Toko ikan segar di kawasan Pantai Tojinbo.
Menikmati semilir angin musim gugur di jam pergantian sore ke malam, sempat juga mencicip cumi bakar yang enak, hasil laut dari Fukui, prefecture penghasil beras, soba, dan ikan laut terbesar di Kepulauan besar Honshu ini.
PARA pengunjung pantai Tojinbo yang sebagian besar orang lokal.

Oleh-oleh sands in the bottle di Tojinbo.
 Kedinginan, lantas berjalan cepat menuju mobil. Honoka yang warga sana saja tak tahan saking dinginnya, sehingga ia membeli minuman hangat rasa jeruk dari box machine. Apalagi kami yang warga tropis yang menghadapi suhu rata-rata 28-32 derajat celcius sepanjang tahun. Di sini, di Fukui, musim gugur dengan angin kencang bersuhu 8 derajat celcius. Siapa yang tahan dek? Bibir dan telinga kakak ampe kering pecah-pecah, apalagi muka. Mengetat keras, memerah kaya kerak nasi yang dijemur.

Awara onsen.
Mengalahkan dingin sepulang dari Tojinbo, Honoka pun mengajak kami untuk berendam air panas ke Awara Onsen (hot spring) di Awara Yunomachi. Bagi penggemar komik Conan, pasti tahu Awara Onsen ini. Di onsen itu, saya dan rekan Eric, dan Kouhei melenturkan otot dengan air mineral panas yang merilekskan dan mampu menghalau dingin. Menikmati fasilitas berendam di sana gratis, cukup membayar handuk seharga 300 Yen. Itu pun kalau kita mau rental handuk di sana. Kalau tak mau ya tak masalah.
Berendam dulu adek di onsen ya bang.
Kelar berendam, lalu menikmati jajanan kecil. Hari saat itu sudah malam, dan parkiran mobil pun agak jauh dari onsen. Ada kali 150 meter jaraknya. Setelah itu, kami pun melanjutkan mengunjungi sekilas Museum Dinosaurus Fukui. Museum ini sangat besar, semua aneka jenis fosil dinosaurus dari berbagai belahan dunia bisa ditemukan di museum ini. Awalnya, museum ini dibuka untuk penelitian mengenai hewan purbakala itu oleh para profesor dan ahli zaman purba Jepang. Bahkan di perempatan depan museum ini ada dua robot dinosaurus yang bisa bergerak dan bersuara dan menjadi hiburan tersendiri saat menyaksikannya. Museum Dinosaurus Fukui ini menjadi museum penelitian hewan purba ke tiga terbesar di dunia. Keren ya.

Tempat beli jajanan di Awara onsen.
Ah masih banyak tempat-tempat wisata yang belum dikunjungi di prefecture Fukui ini. Semoga kelak, if God will, saya berkesempatan lagi menginjakkan kaki di sana. "Come to visit me again Chahaya kakak, saya akan mengendarai mobil sendiri apabila kamu jalan-jalan ke Fukui lagi. I can't wait to see you soon," demikian isi pesan Honoka mengawali 2017 ini. "If God will adek Honoka.. See ya again someday. I miss Fukui somuch," balasku. ***

PS.Menuju kota Fukui: 
  • Bisa menggunakan penerbangan dari Tokyo (Haneda/Narita) ke Bandara Komatsu.
  • Menggunakan train (kalau dari Tokyo) bisa menggunakan JR Tokaido ke Maibara, lanjut transfer atau interchange ke JR Shirasagi menggunakan train express ke Fukui. Atau kalau mau dari Ueno Station, bisa menggunakan Hokuriku train dengan tujuan Kanazawa station. Kereta Hokuriku ini melewati Fukui kok.
  • Nah, kalau mau naik bus, dari Kyoto bisa menggunakan bus Keifuku, atau dari Shinjuku station di Tokyo, bisa naik Willer Bus menuju Fukui Station. Saya sendiri pulang dari Fukui ke Tokyo naik Willber bus kok.
    Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang ingin ke Jepang ya? Mana tahu bosan ke Tokyo, Kyoto, Osaka, Nara ya kan, Fukui bisa jadi bahan pertimbangan to do list kok.
    *_________________*











Danau Toba.
KAMU sering galau? gampang emosi atau mulai malas berangkat ngantor? Itu tandanya kamu kena picnic syndrome kak, atau istilah kecenya KURANG PIKNIK. Obatnya tak ada di dokter, tapi kamu bebas menemukannya di alam semesta dengan cara segeralah angkat ranselmu, bila perlu kopermu, keluar dari rumah, pergi ke tempat baru. Nikmati hawa dan suasana di tempat baru itu, hirup udaranya dalam-dalam. Rentangkan tanganmu dan teriaklah "Saya memang kurang piknik!!!!!!!!.. huh... hah". Habis itu nikmati ritme dari perjalanan itu sendiri hingga kamu siap kembali 'pulang', kembali ke rutinitas dengan semangat baru yang sudah tercharger full.

Oke-oke, jadi mau piknik kemana nih? Apa??? gak tahu?? Issh apalah. Gimana kalau kakak CatatanTraveler mengajak kalian mengunjungi kampung halamannya? Kita mengadakan trip ke Sumatera Utara. Yang setuju ngacung ya?
--------

Perbukitan Hot Spring di Pangururan, Samosir. Disini bisa mandi air panas belerang yang masih natural lho.


Belerang yang sudah membatu di hot spring, kaya salju ya. Enggak licin lho.

Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di bagian pulau besar Sumatera. Beribukota di Medan, dan secara geografis, terletak di antara Selat Malaka dan Samudera Hindia. Juga, berbatasan langsung dengan Aceh, Riau, dan Sumatera Barat.

Berbicara mengenai provinsi ini,  apabila saya berkenalan dengan sesama traveler multinegara, dan mereka menanyakan dari mana asalku, saya pasti menjawab " Dari Medan, North Sumatera, but currently living in Batam, a part of Riau Archipelago,". Sebagian besar diantara mereka akan balik merespon "Oh Sumatera Utara. Danau toba!!! Saya tinggal di sana sebulan dari tiga bulan saya mengelilingi Sumatera. Saya mengelelingi Samosir dengan sepeda. Warganya yang baik, alamnya yang sejuk, dan danau-nya yang sangat- sangat menakjubkan. Wow, itu kampungmu? aaah saya merasa cemburu, tapi setelah saya mengunjunginya, sepertinya Toba sudah menjadi bagian saya," itu respon yang tak pernah terpikir olehku saat berkenalan dengan Lucy dari Jerman. Kami satu penginapan, dan sekamar selama tiga hari kala saya mengadakan perjalanan ke Ho Chi Minh, Vietnam, 2013 lalu.

Tak hanya Lucy, Felix dari Swiss, kenalan yang bertemu saat penerbangan dari Singapura ke Krabi juga mengungkapkan pengetahuannya mengenai Sumatera Utara. "Ah North Sumatera. Saya sudah ke Tangkahan, mendaki gunung di Berastagi, and also round and round in Medan with becak. Saya sudah ke Sulawesi, Lombok, Bali juga," ungkapnya saat menunggu bus di pelataran parkir Bandara Krabi yang akan membawa kami ke Krabi town.

Benar saja sih, lebih banyak para bule yang tahu dan pernah berkunjung ke Sumatera Utara, khususnya Danau Toba dibanding turis lokal dari Indonesia. Mengapa? karena harga tiket penerbangan antar provinsi di negeri ini masih mahal untuk ukuran rata-rata warga Indonesia. Padahal, sama seperti Provinsi lain di Indonesia yang memiliki destinasi wisata alam yang indah-indah, Sumatera Utara juga demikian.

Danau Toba dengan airnya yang jernih berbingkai pegunungan.
Sebut saja, Danau Toba. Ini menjadi salah satu destinasi favorit baik wisatawan manca negara maupun wisatawan lokal apabila berkunjung ke provinsi ini. Danau Toba merupakan kaldera hasil dari ledakan gunung Toba di masa prasejarah yang masih eksis hingga sekarang. Channel National Geographic seringkali membahas mengenai danau tektovulcano terbesar di dunia ini sebagai bagian dari keajaiban zaman purba yang kini menyuguhkan permata keindahan. Namun siapa sangka, ledakan gunung di Toba zaman dulu  ini juga telah turut mempengaruhi iklim di seluruh dunia.

Lalu apa yang bisa dilihat di kawasan Danau Toba selain danaunya? wisata alamnya. Jika memiliki banyak waktu, kamu bisa mengelilingi tiap sudutnya, dan menemukan berbagai ciri khas di sana. Tak hanya itu, saat dari Bandara Kuala Namu menuju danau ini, di sepanjang jalan mulai dari Siantar menuju Parapat, kamu akan berkendara di tengah Tebing Batu, dimana bagian kirinya menyuguhkan hutan hijau dengan bebatuan raksasa, di sebelah kanannya kawasan danau yang indah, yang di kejauhan kamu bisa menyaksikan Pulau Samosir di tengah danau.

Kakak pose di hot spring alias aek rangat Pangururan dek. Dingin disana tau. :)

Oh ya, menuju Pulau Samosir, dari Parapat, biasanya saya dan para pengunjung lainnya bisa naik kapal kayu bertingkat atau kapal ferry. Bagi yang membawa kendaraan, disarankan naik kapal ferry. Kapal ada setiap jam, setiap hari. Di Pulau ini, konon katanya marga-marga klan Batak lahir, yakni di Pusuk Buhit. Nah, dari Pusuk Buhit ini, kita bisa menikmati alam Samosir secara keseluruhan. Turun ke bawah, kita bisa menikmati pemandian Hot Spring atau Aek Rangat di Pangururan. Di sini, kita bisa berendam di aek rangat yang masih natural sambil menikmati danau sejauh mata memandang. Keren pokoknya. ( LIHAT DISINI )

Lalu, selain Danau Toba, apalagi yang bisa dilakukan di Sumatera Utara? Pergilah ke Berastagi di Tanah Karo. Masih menyajikan wisata alam, namun disuguhkan dengan pemandangan yang tak kalah cetar. Kalau di Danau Toba kita menikmati wisata alam, di Berastagi kita bisa menikmati wisata alam sekaligus wisata agro. Mengunjungi kebun aneka buah, mulai dari buah strawberry, buah apel, hingga buah jeruk.

Pasar buah Berastagi.

Pose bersama sepupu di peternakan di Pasteurisasi susu sapi Gundaling, Berastagi, yang di sekelilingnya kebun buah milik warga.
Jika kamu beruntung, pas musim jeruk, kunjungilah kebun warga di sana. Cuma bayar Rp 20 ribu, kita bisa makan jeruk sepuasnya, atau bisa juga beli buat dibawa pulang dengan harga murah. Jika tak sempat mengunjungi perkebunan warga, kamu bisa membeli aneka buah lokal tersebut di Pasar Buah Berastagi atau mengunjungi Pasteurisasi susu sapi di perbukitan Gundaling. Di sana, kita juga bisa naik delman. Bayar Rp 20 ribu, maka delman istimewa yang dikendarai kuda dengan arahan pak kusir itu akan membawa kita keliling Berastagi Kota, menikmati sejuknya udara Dataran Tinggi.

Atau ada yang mau wisata lebih menantang? jungle tracking atau menginap di hutan gitu? Sumatera Utara juga ada. Pergilah ke Bukit Lawang, atau ke Sibolangit dan Tangkahan. Tiga kawasan itu merupakan bagian dari hutan hujan tropis di kaki Bukit Barisan yang menawarkan wajah yang berbeda. Kalau di Bukit Lawang bisa menyatu dengan spesies monyet, di Sibolangit bisa berkemah sambil tracking dan repling, nah di Tangkahan, kita bisa bermain-main dan mandiin gajah di sungai. Anti mainstream banget kan? Kapan lagi coba begitu. :)
Pasar wisata Berastagi.
Lelah menjadi adventurer, kini saatnya menjadi penikmat kuliner. Medan sungguh menjadi salah satu surga bagi pemburu makanan di Indonesia. Mau cari makanan dan minuman apa? Adaaaaaaa.. semua ada. Sudah pernah icip pancake durian? Nelayan ada. Atau mau borong bika ambon dan lapis legit tanpa takut harga mahal? Jalan Gajah Mada dan Jalan Majapahit di Medan jawabannya. Atau mau tersesat sedikit ke Jalan Kruing? kamu bisa menemukan rollcake Meranti yang fenomenal disana. Bagaimana kalau mau beli manisan jambu segar? Arrrgh di berbagai sudut Kota Medan ada, pergi saja ke Pasar Ramai, Pasar Petisah atau ke Simpang Kuala. hehe.

Lantas, selain kuliner apa dong yang bisa sightseeing di Medan? Banyak banget. Kalau mau wisata religi dan budaya, bisa mengunjungi Istana Kesultanan Deli atau yang dikenal dengan Istana Maimun di pusat kota Medan. Tak hanya itu, ada juga gereja yang bangunannya unik seperti pura Hindu, yaitu Annai Velangkani di Tanjung Selamat, Medan Tuntungan dan masih banyak lagi tempat yang indah dan unik-unik untuk dikunjungi.

Annai Velangkani di Medan.

Ruang altar utama di gereja Annai Velangkani Medan.
Bagi penikmat kongkow, bisa nongkrong di Merdeka walk sambil menikmati gedung tua khas peninggalan Belanda dan Inggris di sekelilingnya, yang kini masih dirawat dan dijaga keberadaannya di kawasan Putri Hijau.

"Oh ya kak, bagaimana untuk menjangkau itu semua mulai dari mengunjungi Danau Toba hingga menikmati Kota Medan dalam beberapa hari tanpa perlu ribet. Sempat gak sih?" Oh sempat banget, bisa. Bagi kamu-kamu para calon pelancong yang mau mengunjungi berbagai tempat wisata di Sumatera Utara, yuk cus, dipastikan kamu akan takjub. Kalau mau tancap gas, langsung jalan-jalan ke sini, ini saya beri solusi deh: Sebaiknya pilih govakansi, penyedia trip yang terpercaya, dan sudah banyak berpengalaman dalam mengantarkan para tamunya ke berbagai destinasi terbaik di Indonesia.

INI pemetaan paket wisata Govakansi di seluruh Indonesia. keren yak guys.
Di govakansi ini, kita bebas memilih sendiri destinasi tujuan kita dengan harga yang terjangkau. Ke Sumatera Utara ini misalnya, mereka baru saja membuka trip privat dengan objek-objek tujuan yang kece.

Lantas gimana caranya menghubungi govakansi dan mengetahui itinerary pilihan kita? Gampang. Kunjungi saja websitenya di www.govakansi.com. 

Govakansi.
Di sini, calon pelanggan akan diberi kemudahan untuk memilih trip yang diinginkan, pilih tanggal trip, lokasi trip, setelah itu hubungi customer service-nya. Deal paket perjalannya, lalu bayar, dan selanjutnya tinggal angkat tasmu dan nikmati perjalanan seru tanpa ribet di Sumatera Utara deh. Enjoy Sumatera Utara Yaaaaaaaa... *dadah -dadah ala Putri Indonesia. :) ***
  Kualleangi Tallanga Natowalia, peribahasa Makassar yang berarti Sekali Layar Terbentang Surut Kita Berpantang, pas sekali menggambarkan para peserta lomba kategori Yacht dalam gelaran tahunan 2nd Wonderful Indonesia Nongsa Regatta 2017 yang ditaja Nongsa Point Marina and Resort (NPM) didukung Kementerian Pariwisata Indonesia di Perairan Nongsa, 20- 22 Januari lalu.

Team work dari para yachter.
PAGI di Hari Minggu itu, saya beserta rekan dari Blogger Kepri: mas Danan, Ira, Roy, dan yang lainnya dijemput di Morning Bakery, Kepri Mall. Saya memutuskan tidak beribadah dan ganti jadwal kerja hanya untuk menghadiri tiga kategori lomba, yakni yacht, dinghyes, dan radio control di hari terakhir event tersebut, setelah dua hari sebelumnya, tidak bisa hadir karena urusan pekerjaan. Maklum, saya masih karyawan yang belum sanggup menjadi full blogger. Manajemen NPM sendiri, sama seperti kegiatan perdana 2016 lalu ( Reportase kegiatan tahun lalu bisa baca DISINI ), juga menyediakan antar jemputan mini van di hari terakhir kegiatan Nongsa Regatta buat para blogger.

Kami berangkat menuju Nongsa sekitar pukul 09.05 WIB dengan jarak tempuh 40 menit karena harus menjemput dulu bang Ahmadi dan rekannya Yahya asal Perancis di kawasan Botania. Tiba di kawasan resort, langsung disambut ramah Junior Marketing Communications and Public Relations Executive, Yossie Christy Thenu yang akrab saya sapa dengan panggilan mbak Ochie.
Kapal bersandar di Nongsa Point Marina.
Dia pun lantas mengajak kami menuju marina, bersiap naik kapal yang akan membawa kami ke tengah Perairan Nongsa di Selat Singapura melewati Teluk Babi. Namun, karena masing-masing yacht masih dalam persiapan dan pengecekan, mengisi waktu sebelum naik kapal, terlebih dahulu saya mengabadikan foto kapal Vega Vessel yang bentuknya seperti mini pinisi yang sudah beberapa hari, terparkir di Marina, lalu berkenalan sekilas ke pemiliknya, Meggi. Oh ya, informasi mengenai kapal ini, saya ketahui dari author buku traveling, bang Edi Sutrisno dan dari Marina & Watersport Manager, Mr Prakash Reddy, saat tea time usai media rilis 2nd Wonderful Indonesia Nongsa Regatta 2017 di lantai dua ruang pertemuan NPM, Rabu (18/1) lalu.
Tim SMU bersiap mengikuti lomba yacht menuju garis start.

Tim Quarterdeck bersiap mengikuti lomba yacht menuju garis start, 2 mill dari marina.
Melihat ke-9 yacht itu bersiap meninggalkan marina, saya pun minta izin meninggalkan Meggi dan berjanji menemuinya usai berlayar. Saya menuju kapal, melepas sepatu dan naik ke lantai dua, membaur dengan rekan blogger dan fotografer. Kapal pada perlombaan 2nd Wonderful Indonesia Nongsa Regatta 2017 ini lebih besar dibandingkan kapal yang membawa kami ke tengah lautan di 2016 lalu. Mantap!!! ada perbaikan pelayanan dari manajemen untuk menghindari para pengunjung dan tamu undangan dari mabuk laut. Tapi itu pun, masih ada rekan yang mabuk laut, muntah-muntah. Kasihan. :)

Satu- persatu yacht mulai menjauh menuju lokasi lomba. Dimulai dari grup SMU dari Singapura, disusul grup Quarterdeck dan yang lainnya. Sambil berlayar, masing-masing mereka berjibaku memasang layar, membaca pergerakan angin, dan bekerjasama supaya yacht tetap seimbang ditengah angin kencang dan ombak yang lumayan membuat perut mual. Perlombaan ini sendiri digelar dengan memanfaatkan pergerakan angin munson ( musim angin utara).

"Mereka akan menuju ke tengah laut. Nanti start dan finish-nya ditandai di garis merah dan kuning. Kita akan ke sana," ujar mbak Ochie.
Yacht yang meramaikan Perairan Nongsa.
Minggu itu, Perairan Nongsa diramaikan berbagai yacht dengan layar-layar unik yang menggambarkan grup dari para yachter yang berlomba. Membelah lautan sejauh dua mill dari marina, saya bersama rekan pun menjadi saksi betapa serunya lomba perahu layar yang digerakkan angin tersebut.

Cuaca dari panas, mendadak mendung dan hujan. Para yachter tetap semangat mengikuti lomba. Meski didera ombak, dengan sportif mereka berbaris di garis start. peluit panjang pun berbunyi. Mereka memulai perlombaan.
Yachter berjuang adu cepat menuju garis finish.

Menerjang ombak.
Awalnya, para yachter tersebut terlihat santai menggerakkan kapal mereka, menata letak sambil membaca pergerakan angin. Angin kuat ke kiri, mereka bergerak ke kanan sambil menarik tali layar supaya seimbang, demikian sebaliknya. Terjangan ombak kadang membuat yacht mereka oleng, bahkan miring hingga 90 derajat. "Oh no!!!! aduh-aduh tenggelam dong itu," teriakku sambil mengabadikan foto dari lantai dua kapal. Namun, meski begitu, para yachter itu dengan sigap membuat kapal seimbang kembali, menghidari deru ombak dengan cara bermanuver. Pokoknya para yachter itu keren sekali. Pantang mengalah pada keadaan di tengah laut sebelum sampai garis finish seperti peribahasa pada kalimat pembuka di atas tadi.
Saling koordinasi dan team work.
Satu persatu yacht tersebut menyentuh garis finish. Namun ternyata, ukuran juara bukan dari siapa cepat, melainkan penilaiannya berlangsung dengan sistem akumulasi poin. "Sistem pemilihan pemenang ditentukan hasil akhir akumulasi poin. Penilaiannya, jumlah poin dikalikan nilai handicap, itulah yang menjadi net score. Jadi siapa net score-nya tertinggi, itulah pemenangnya," jelas mbak Ochie.
Menuju garis finish.

Saling mendahului.
Pertandingan yacht yang diikuti para peserta dari Singapura, Selandia Baru, Amerika, dan Italia itu pun berakhir. Kami kembali menuju marina, untuk selanjutnya menyaksikan pertandingan Dinghyes yang sudah berlangsung. Di zona aman marina yang menyajikan pemandangan resort ala Monaco, para peserta lomba dinghyes sudah saling adu unjuk. Sebanyak 20 peserta yang terdiri dari laser dan optimist yang rata-rata masih remaja saling memamerkan kemampuan mereka beradu dinghy. Para peserta ini keseluruhan dari Indonesia, yakni dari Banten dan Kepulauan Riau. Khusus atlet dinghy Kepri, mereka adalah atlet binaan langsung Citramas Grup yang bernaung dalam Riau Yacht Club.
Lomba Dinghy di zona aman marina, NPM.
Sementara itu, saat lomba Dinghyes berlangsung, enam peserta Radio Control Sailboat yang diikuti para ekspatriat dari Australia, Belanda, dan Inggris juga tampak bersiap-siap mengikuti lomba yang digelar satu jam lebih lambat dari jadwal, pukul 3.15 WIB.
Peserta lomba radio control sailboat.
Para peserta tampak duduk asyik di pinggir marina, menggerakkan sailboat mini dengan remot control. Mereka didukung para keluarga masing-masing. Perlombaan remote control ini diwarnai juga dengan para pengunjung anak-anak yang tampak asyik bermain di tepi pantai sambil mendukung ayah mereka.
Daftar Pemenang
Pengumuman pun tiba. Setelah bertanding selama tiga hari dengan panduan Chief Race Officer, Choi Yi Hong, maka para juri dari Singapura dan Indonesia, Lock Hong Kit, Tan Tee Suan, dan Iwan Ngantung pun memutuskan kategori Yacht ini dimenangkan oleh Discover Sailing Asia Getaway Ichi pada juara pertama, menggeser pemenang tahun lalu, Waka Tere dari Selandia Baru yang pada kesempatan ini harus puas di posisi ke tiga. Sementara posisi kedua dimenangkan grup Quarterdeck.

Sementara kategori Dinghyes, daftar pemenang dibagi kembali menjadi sub kategori, yakni Optimist Putra, Optimist Putri, dan Laser. Pemenang Optimis Putra yaitu Jerry, Optimist Putri oleh Dilla Safitri, dan Laser dimenangkan oleh Andini Setya. Ketiganya adalah atlet Kepri binaan Riau Yacht Club, Nongsa. Sedangkan di kategori Radio Control Sailboat, posisi pertama dimenangkan Geoff Shepherd, disusul Bart Ouwerling sebagai juara kedua, dan posisi ketiga diraih Mark Biggs.

Jadi Event Calendar Pariwisata Kepri
(Ki-Ka) General Manager NPM, Erhard M Rueber dan Ketua Panitia Nongsa Regatta, Prakash Reddy.
Jauh sebelum diambil alih menjadi gelaran perlombaan bahari dengan tuan rumah mutlak dari Indonesia. Kegiatan regatta ini sendiri telah berlangsung sejak 20 tahun lalu oleh Singapura, Malaysia, dan Thailand, dengan Nongsa Point Marina and Resort sebagai tempat penyelenggaraannya.

"Dulu namanya Singapore Strait Regatta," ujar Prakash Reddy, yang juga dipercaya kembali menjabat sebagai Ketua Panitia Pelaksana Nongsa Regatta 2017 tahun ini.

Sebelumnya, Prakash yang didampingi General Manager NPM, Erhard M Rueber mengatakan, setelah sebelumnya sukses ditaja Singapura, namun saatnya Indonesia menjadi tuan rumah pertandingan Regatta, khususnya Batam sebagai bagian dari Kepri, provinsi kepulauan yang memang menjual kegiatan bahari sebagai bagian dari pemasaran pariwisatanya. Dan itu dibuktikan sudah dua tahun terakhir acara ini sukses digelar.

Bahkan, menjadi acara tahunan yang masuk ke event calendar pariwisata Kepri yang mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. "Ini menjadi kebanggaan dan tantangan tersendiri bagi saya untuk mempersiapkannya. Dibutuhkan waktu dan persiapan khusus supaya event ini semua terselenggara dengan sukses dan rapi seperti sekarang ini. Apalagi kan harus melibatkan banyak pihak, banyak peserta, dan harus berskala internasional," ujar Prakash.

Kesuksesan ini, menurut Prakash tak lepas dari dukungan dan kerjasama banyak pihak, khususnya dari Mike Wiluan selaku Presiden Direktur Nongsa Resort dan dari Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Kementerian Pariwisata RI, Indroyono Soesilo dan timnya di provinsi dan kota. "Ini semua untuk memajukan wisata bahari di Kepri sehingga lebih dikenal di dunia internasional," ujarnya. ***

PS: Cuplikan video kegiatan perlombaan yacht bisa diclick: DISINI

Oke deh!!! thankyou somuch for amazing experienced with you guys!!! i hope we'll meet again in the 3rd event next year. Good luck!!!
Kapal berusia 125 tahun, Vega Valetta Malta atau Historic Vessel Vega saat parkir di Nongsa Point Marina.
KAPAL itu menarik perhatian karena bentuknya berbeda dari puluhan kapal modern bercat putih yang terparkir di waterfront marina tersebut. Keseluruhan body-nya terbuat dari kayu seperti sampan besar, dan penuh dengan ikatan tali layar yang membentang.
 
Senada dengan bentuknya yang masih tradisional, usia kapal ini sudah sangat tua, 125 tahun. Dinamai Vega Valetta Malta atau Vessel Vega. Sudah hampir seminggu terparkir di waterfront Nongsa Point Marina & Resort di kawasan Nongsa, Batam.

Sejauh mata memandang dari lobi hotel, dari puluhan tali layar yang membentang mulai dari haluan hingga buritan kapal, di antara dua tiang kayu besar yang berfungsi sebagai kompartemen penahan utama, ada satu tali dengan lebih dari 40 bendera dari berbagai negara di dunia terpasang di sana, termasuk bendera Indonesia, sang Merah Putih. Bendera itu terlihat berkibar akibat angin kencang siang itu.
Captain Shane Granger.
Melihat dari dekat, lambung kapal ini baru saja dicat liris tiga warna, yakni hijau, putih, dan kuning sebagai warna yang mendominasi. Tiba-tiba seorang perempuan dari arah buritan kapal, menyapa dengan ramah. "Hello," ujarnya.
Meggi and i. Picture taken by Ahmadi.
Dia adalah Margarete Macoun. "Panggil saya Meggi," ujarnya dengan senyum lepas yang ramah. Saat itu ia tengah berbincang dengan Lukas, sukarelawan mereka yang berasal dari Polandia saat tengah bersiap untuk membersihkan tiang utama kapal.
Lukas membersihkan tiang layar kapal.
Meggi dilahirkan di Praha 1965 lalu dan kuliah di Jerman. Semasa muda, ia sukses sebagai marketing iklan komersial di Eropa. Dengan ramah, ia memperkenalkan suaminya, Shane Granger, pria berkebangsaan Jerman yang pada masa mudanya juga sukses sebagai fotografer iklan, pilot, dan juga ahli perkapalan. Mereka berdua inilah yang kini menjadi pemilik kapal tua Vega Vessel bersejarah ini.
 
Foto bersama dengan kami para member Blogger Kepri usai berbincang di atas kapalnya.
Dalam kesempatan face to face, mengobrol bersama mereka di atas kapal, Shane mengungkapkan, kapal yang kini dinamai Vega Historic Vessel ini dibangun oleh seorang berkebangsaan Norwegia, Ola A Nerhus pada 1892 di Nerhuson Shipyard di Hardanger, salah satu distrik kecil di timur Norwegia.

Dalam awal perjalanannya sejak dibuat, kapal ini digunakan sebagai kapal kargo untuk mengirim berbagai barang antar lintas negara. Kapal ini sudah mengelilingi hampir seluruh dunia, mulai kawasan Mediterania, Afrika, Karibia, bahkan pernah menjadi kapal dagang di Cile, dan sempat membawa para imigran Eropa berlayar ke Amerika Utara.
Meggi duduk di pinggir lambung kapal miliknya, Vega Vessel.

Aneka karang  dan kerang dengan warna dan bentuk unik yang berhasil mereka kumpulkan saat mengarungi samudera.
"Hingga suatu hari pada 2001, bersama Meggi, kapal ini saya beli dan gunakan sebagai kapal pribadi untuk berlayar, mencari ketenangan dan menjauh dari hiruk pikuk kota besar," ujarnya.
Tangga menuju bagian dalam kapal.

Salah satu properti dalam kapal.
Pria berusia 68 tahun ini, sambil mengambil sisa rokoknya dari atas laci kapal mengungkapkan, ketika pertama sekali menemukan kapal ini, banyak hal yang harus diperbaiki. "Not at all like she is now. Kami harus bekerja keras memperbaikinya supaya layak berlayar kembali. Memperbaiki semua sisi dalam tanpa menghilangkan wujud asli kapal ini dibuat, hingga layak dan nyaman untuk ditinggali sebagai rumah sekaligus tempat bekerja," ungkapnya.

Shane dan sang istri mengungkapkan, sudah lebih dari 12 tahun mereka tinggal di atas kapal tersebut dengan bekerja untuk misi kemanusiaan. Lambung kapal disulap menjadi ruangan yang layak. Ada dapur, kamar, dan beberapa ruang yang digunakan sebagai ruangan serbaguna saat mereka berlayar. Sayang, tak sempat menuruni anak tangga menuju lambung kapal untuk melihat seisi ruangan. "Kamu boleh masuk, tapi saya tak yakin kamu bisa menikmatinya saat melihat seisi ruangan, karena (ruangannya) sangat berantakan saat ini. Melihat versi rapinya, kamu bisa mengunjungi website kami di www.sailvega.com," ujar Shane.

Lantas, bagaimana akhirnya kapal kargo ini berubah menjadi kapal misi kemanusiaan? Sambil mengisap rokoknya, pria yang mengenakan kaus kerah hitam dan celana pendek ini mengungkapkan, hal ini bermula di siang hari, saat mereka tengah berlayar, mereka dikagetkan dengan berita tsunami yang terjadi di Aceh pada 2004 lalu.

Kapal Vega Vessel dibuat tahun 1892.
"Kami tengah tidur siang, hingga mendengar kabar ada bencana tsunami di Indonesia, di Aceh. Saya berpikir, apa yang harus kuperbuat untuk membantu mereka," ujar pria yang juga pernah bekerja sebagai pilot di Afrika Timur ini.

Bersama sang istri dan kru sukarelawan yang bekerja padanya, mereka memutuskan untuk berlayar menuju Aceh. Melewati samudera sejauh 7 ribu mill untuk mengumpulkan bantuan untuk selanjutnya dibagikan kepada para korban di Aceh. "Saat itu, kami berhasil mengumpulkan sekitar 15 hingga 20 ton barang untuk kebutuhan pendidikan dan perlengkapan medis serta obat-obatan," ujarnya.

Hidupnya berubah saat itu, dan langsung memutuskan pelayaran yang mereka lakukan dengan Vessel Vega ini selanjutnya harus menjadi misi pelayaran kemanusiaan hingga akhir hayat mereka. Hingga saat ini sejak kejadian tsunami Aceh, mereka fokus dalam misi pendidikan dan pengobatan medis ke berbagai pulau-pulau terpencil di kawasan Asia Tenggara, seperti Thailand, Singapura, Malaysia, Timor Leste, dan juga Indonesia. Mereka jatuh cinta dengan pulau-pulau kecil di Indonesia.
 
What do you feel when you read the book next to the author? ya gini deh ekspresinya. hahaha. Picture taken by Ahmadi.
Mereka membantu pendidikan dan kesehatan masyarakat lokal di sana dengan cara terjun langsung. "Kami sudah mengunjungi berbagai kawasan di Indonesia, mulai dari Aceh, Sulawesi, Ambon, Jawa, Papua dan akan mengunjungi banyak pulau-pulau lain. Ada 17.500 pulau di Indonesia, dan kamu tahu pulau-pulau itu sangat indah tapi sayang sangat terisolasi. Kami mencintainya. Kami telah membagikan berbagai kebutuhan yang kami kumpulkan dari para supporter Vega, seperti dari Australia," ujar Shane.

Tidak lama sebelum berlayar menggunakan Vega, Shane juga sudah aktif di misi kemanusiaan. Ia pernah bekerja untuk WHO, UNICEF, BBC World Service Trust, dan WWF untuk mengembangkan dan menghasilkan perubahan perilaku dan materi pendidikan masyarakat di seluruh dunia.

Bersama istrinya Meggi, termasuk pasangan yang sukses di usia muda, namun mengisi hari tua dengan kegiatan menantang badai di lautan namun bermanfaat untuk kemanusiaan. "Be who you want to be. Ada banyak tekanan yang kamu alami di kota, kamu harus menjalaninya. Tapi ada kalanya kamu memikirkan menjauh dari itu semua, mencari ketenangan, hingga akhirnya kamu memutuskan untuk menghilang dari itu semua, menghindari drama dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat untuk orang-orang di sekelilingmu. Dan saya menemukan jawaban itu semua dengan kapal ini," ujarnya.

Lebih dari 12 tahun menjalani misi kemanusiaan, baik Shane dan Meggi belum memutuskan untuk berhenti. Mereka kini memiliki sukarelawan, salah satu di antaranya Lukas dari Polandia. Kini, mereka juga membutuhkan sukarelawan asal Indonesia yang bisa bekerjasama tim di kapal selama mengarungi lautan untuk singgah di pulau-pulau terpencil di Indonesia.
A part of members Blogger Kepri foto bersama Shane dan Meggi.
Petualangan mereka berlayar menggunakan kapal tua Vega Vessel ini juga telah didokumentasikan lewat sebuah buku perjalanan yang diterbitkan di Jakarta, berjudul The Vega Adventures. Shane sendiri yang menulis buku tersebut, sedangkan istrinya Meggi mendesain covernya yang menggambarkan kapal Vega Vessel tengah berlayar di lautan dengan sinar matahari terbenam sebagai background. Buku ini juga bisa dibeli di situs amazon seharga 16,75 dolar Amerika. ***
 

PS. Tulisan ini juga sudah diterbitkan di Batam Pos, edisi Selasa, 24 Januari 2017.